
- Jumlah kata
- 101.8K
- Popular
- 106
- Subscribe
- 56
Sinopsis
Namaku BAYU ANGKASA aku dipindah tugaskan di kota yang berbeda dimana keluargaku kecilku tinggal dan aku menempati rumah dinas yang disediakan oleh kantor disitulah awal mula keluarga kecilku mendapat sebuah kisah tentang pemilik rumah tua itu yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas.
Ulasan
2 ulasan
@sky_blue
11/8/26 10:59
keren kak kisah nyata🙄...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
akuadalahaku
10/7/26 08:56
ceritanya menarik, dengan gaya bahasa yang mudah di pahami dan mengalir, walaupun bukan penyuka genre horor, tpi menurutku lumayan spoky, apalagi based on true story..siip kak..semangat terus ya kak..🙏
RUMAH TUA ITU
Langit sore berwarna jingga ketika sebuah mobil bak terbuka melaju perlahan memasuki Desa Sumberrejo. Jalan beraspal yang semula mulus berubah menjadi jalan berbatu yang diapit hamparan sawah hijau. Angin membawa aroma tanah basah dan dedaunan, menghadirkan kesejukan yang sudah lama tidak dirasakan Bayu sejak tinggal di kota.
Di balik kemudi, Bayu mengusap keringat di dahinya. Perjalanan hampir enam jam cukup melelahkan, tetapi keputusan yang diambilnya beberapa minggu lalu tidak pernah disesalinya. Kehidupan di kota semakin sulit. Biaya hidup terus meningkat, sementara pekerjaannya sebagai penulis lepas memungkinkan dirinya bekerja dari mana saja. Ketika seorang teman memperkenalkannya kepada kepala desa yang sedang mencari penghuni untuk sebuah rumah kosong, Bayu menganggap itu sebagai kesempatan untuk memulai hidup baru.
Di kursi sebelah, Tiara memangku Dafa yang masih tertidur lelap. Bayi laki-laki berusia delapan bulan itu sesekali menggerakkan jemarinya, lalu kembali memeluk dada ibunya.
"Sebentar lagi sampai," ucap Bayu sambil tersenyum.
Tiara mengangguk pelan. Tatapannya keluar jendela dipenuhi rasa penasaran.
"Semoga Dafa cepat betah."
Bayu melirik putranya melalui kaca spion.
"Kalau kita nyaman, dia pasti ikut nyaman."
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah tua yang berdiri di ujung desa.
Rumah itu tidak semewah bangunan-bangunan baru di kota, tetapi memiliki pesona yang sulit dijelaskan. Dindingnya bercat putih gading yang mulai memudar dimakan usia. Atap gentengnya masih utuh. Halaman depannya luas, ditumbuhi pohon mangga tua yang menaungi sebagian beranda.
Rumah itu tampak sepi.
Namun tidak terasa kosong.
Bayu turun lebih dulu, lalu berdiri beberapa saat memperhatikan bangunan itu.
Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa hangat.
Bukan rasa takut.
Melainkan perasaan seperti seseorang sedang menyambut kedatangannya.
"Mas..."
Suara Tiara membuyarkan lamunannya.
"Ada apa?"
Bayu menggeleng.
"Entahlah. Rumah ini... rasanya berbeda."
Tiara ikut memperhatikan rumah itu.
"Aku malah merasa tenang."
Mereka mulai menurunkan barang-barang dari mobil. Tidak banyak yang mereka bawa. Beberapa kardus pakaian, perlengkapan bayi, sebuah meja lipat, rak buku kecil, dan beberapa peralatan dapur.
Ketika Tiara menggendong Dafa melewati gerbang, bayi itu perlahan membuka mata.
Tatapannya langsung mengarah ke teras rumah.
Dafa tidak menangis.
Ia justru tersenyum kecil.
Tangannya yang mungil terangkat ke udara seolah ingin menggapai seseorang.
Tiara tertawa pelan.
"Lihat, Mas. Dafa seperti senang."
Bayu menoleh sambil mengangkat sebuah kardus.
"Baguslah."
Mereka menganggap itu hal biasa.
Tidak seorang pun menyadari bahwa di beranda rumah, dua sosok tak kasatmata sedang memperhatikan mereka.
Pak Surya berdiri dengan wajah teduh.
Di sampingnya, Bu Rahayu tersenyum haru melihat Dafa.
"Dia masih bisa merasakan keberadaan kita," bisik Bu Rahayu.
Pak Surya mengangguk pelan.
"Hati bayi masih bersih."
Mereka tidak berniat menampakkan diri.
Bagi keduanya, kehadiran keluarga baru itu justru menghidupkan kembali rumah yang selama beberapa bulan terakhir dipenuhi kesunyian.
Pak Surya memandang Bayu yang sibuk mengangkat barang.
"Lelaki itu tampak bertanggung jawab."
"Semoga dia menjaga rumah ini seperti janjinya."
Beberapa menit kemudian, seorang pria tua datang dari arah jalan desa sambil membawa keranjang anyaman berisi pisang dan singkong.
"Assalamu'alaikum."
Bayu segera menghampiri.
"Wa'alaikumsalam."
Pria itu tersenyum ramah.
"Saya Pak Darto. Rumah saya di seberang jalan."
Bayu menjabat tangannya dengan hormat.
"Saya Bayu, Pak. Terima kasih sudah datang."
Pak Darto menyerahkan keranjang yang dibawanya.
"Ini hasil kebun. Anggap saja ucapan selamat datang."
"Terima kasih banyak."
Pak Darto memandang rumah tua itu beberapa saat.
Tatapannya terlihat penuh kenangan.
"Rumah ini sudah lama sepi."
Bayu mengangguk.
"Kami akan berusaha merawatnya sebaik mungkin."
"Itu yang paling penting."
Pak Darto tersenyum tipis, tetapi dalam hatinya tersimpan harapan yang tidak diucapkannya.
Ia mengenal Pak Surya sejak muda.
Ia tahu betul betapa besar rasa sayang pemilik rumah itu terhadap tempat yang dibangunnya bersama Bu Rahayu.
Kini, melihat rumah itu kembali dihuni, ada rasa lega yang sulit dijelaskan.
Menjelang petang, semua barang telah dipindahkan ke dalam rumah.
Tiara mulai membersihkan ruang tengah, sementara Bayu memeriksa beberapa bagian bangunan yang tampak sudah tua.
Tidak ada kerusakan berarti.
Rumah itu justru terasa dirawat dengan baik sebelum ditinggalkan.
Di ruang tamu, sebuah foto keluarga tergantung rapi di dinding.
Foto itu memperlihatkan Pak Surya dan Bu Rahayu berdiri mengapit seorang pemuda yang tersenyum cerah.
Bayu memperhatikan foto tersebut.
"Itu pasti Arga."
Tiara ikut mendekat.
"Anak mereka yang bekerja di luar negeri?"
"Iya."
Bayu teringat penjelasan kepala desa beberapa hari sebelumnya.
Rumah ini kini secara sah menjadi milik Arga.
Namun karena pekerjaannya membuatnya belum bisa pulang ke Indonesia, rumah tersebut untuk sementara ditempati Bayu dan keluarganya agar tidak kosong.
Bayu merapikan bingkai foto yang sedikit miring.
Tanpa disadarinya, Pak Surya tersenyum.
"Terima kasih..."
Kalimat itu tidak terdengar oleh siapa pun.
Namun sesaat kemudian, embusan angin sore masuk melalui jendela yang terbuka, membuat tirai putih bergoyang pelan.
Di luar rumah, matahari mulai tenggelam di balik bukit.
Sementara ribuan kilometer dari desa itu, Arga baru saja menyelesaikan pekerjaannya di luar negeri. Ia sama sekali belum mengetahui bahwa rumah masa kecilnya telah kembali dihuni, dan bahwa kedua orang tuanya kini hanya dapat menyaksikan semuanya dari dunia yang berbeda.
Malam pertama bagi keluarga Bayu baru akan segera dimulai.
Dan tanpa mereka sadari, rumah tua itu telah lama menunggu kedatangan mereka.
Senja perlahan menghilang, digantikan langit biru tua yang mulai dipenuhi bintang. Desa Sumberrejo berubah menjadi tempat yang sangat tenang. Tidak terdengar suara kendaraan seperti di kota. Hanya suara jangkrik yang bersahutan dari balik pematang sawah dan sesekali gonggongan anjing dari kejauhan.
Di dalam rumah, Bayu menutup pintu depan setelah seluruh barang selesai dipindahkan.
"Akhirnya selesai juga," katanya sambil mengembuskan napas panjang.
Tiara tersenyum kecil. Meski lelah, wajahnya terlihat lega. Ia membaringkan Dafa di atas kasur tipis yang mereka gelar sementara di ruang tengah.
Bayi itu tertidur nyenyak.
Bayu memandang putranya sejenak.
"Syukurlah dia tidak rewel."
"Perjalanan jauh biasanya membuat Dafa sulit tidur," jawab Tiara pelan. "Aneh, sejak masuk rumah ini dia malah lebih tenang."
Bayu hanya mengangguk. Ia menganggap suasana desa yang sejuk membuat Dafa lebih nyaman.
Namun Pak Surya dan Bu Rahayu mengetahui alasan sebenarnya.
Bu Rahayu duduk di samping Dafa. Wajahnya dipenuhi kasih sayang, seperti ketika dahulu ia menimang Arga saat masih kecil.
"Dia mengingatkanku pada Arga," bisiknya.
Pak Surya tersenyum tipis.
"Semoga anak itu tumbuh sehat."
Keduanya menjaga jarak. Mereka tidak ingin mengganggu keluarga Bayu. Mereka hanya ingin memastikan rumah itu kembali menjadi tempat yang aman.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu depan.
Tok...
Tok...
Tok...
Bayu segera membukanya.
Di depan berdiri seorang perempuan paruh baya dengan senyum ramah. Di tangannya terdapat rantang bertingkat.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Saya Bu Lastri, tetangga sebelah."
Bayu mempersilakannya masuk, tetapi Bu Lastri menggeleng.
"Tidak usah. Saya hanya mengantar makan malam. Pasti belum sempat memasak."
Tiara segera menghampiri.
"Terima kasih banyak, Bu."
"Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan."
Setelah berbincang sebentar, Bu Lastri berpamitan.
Sebelum melangkah pergi, ia sempat menoleh ke arah ruang tamu.
Tatapannya berhenti pada foto keluarga Pak Surya.
Ia tersenyum kecil.
"Pak Surya dan Bu Rahayu pasti senang rumah ini kembali berpenghuni."
Kalimat itu terdengar tulus.
Namun entah mengapa, setelah mengucapkannya, Bu Lastri segera mempercepat langkahnya pulang.
Seolah ada kenangan yang tiba-tiba memenuhi pikirannya.
Malam semakin larut.
Bayu dan Tiara makan malam sederhana sambil duduk di lantai karena meja makan belum sempat dipasang.
Mereka membicarakan banyak hal.
Tentang rencana menata rumah.
Tentang kebun kecil di belakang rumah yang ingin ditanami sayuran.
Tentang harapan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik.
Tidak sekali pun mereka membahas hal-hal yang menyeramkan.
Rumah itu memang belum memberikan alasan untuk ditakuti.
Justru sebaliknya.
Ada ketenangan yang membuat mereka merasa diterima.
Setelah makan, Bayu berjalan mengelilingi rumah untuk memastikan semua pintu dan jendela terkunci.
Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu tua di ujung lorong.
Pintu itu lebih kecil daripada pintu-pintu lainnya.
Daun pintunya tampak tua, tetapi bersih.
Bayu mencoba membuka pegangannya.
Tidak terkunci.
Ketika pintu itu dibuka, ternyata di baliknya hanya terdapat ruang penyimpanan kecil yang berisi sapu, ember, dan beberapa peralatan kebun.
Bayu tersenyum kecil.
"Kirain apa."
Ia menutup kembali pintu itu tanpa curiga.
Pak Surya yang berdiri tidak jauh dari sana mengembuskan napas lega.
"Itu bukan pintunya."
Bu Rahayu mengangguk.
"Yang sebenarnya masih tersembunyi."
Mereka tahu masih ada rahasia lain di rumah itu.
Namun belum waktunya Bayu menemukannya.
Sekitar pukul sembilan malam, listrik desa sempat padam selama beberapa menit.
Rumah mendadak gelap.
Tiara menyalakan lampu minyak yang diberikan Pak Darto sore tadi.
Cahayanya redup, tetapi cukup menerangi ruang tengah.
Bayu duduk sambil menggendong Dafa.
Anehnya, bayi itu membuka mata dan menatap ke arah langit-langit rumah.
Ia tersenyum, lalu mengeluarkan tawa kecil.
"Dia kenapa?" tanya Tiara.
"Mungkin melihat bayangan lampu."
Padahal tidak ada bayangan apa pun di sana.
Pak Surya berdiri beberapa langkah dari mereka.
Ia mengangkat tangan seolah melambaikan salam kepada Dafa.
Bayi itu kembali tertawa pelan.
Melihat hal itu, Bu Rahayu ikut tersenyum.
"Dia benar-benar bisa merasakan kita."
Namun beberapa detik kemudian, senyum Bu Rahayu menghilang.
Tatapannya beralih ke arah jendela depan.
Di luar rumah, di balik pagar yang mulai tertutup gelap malam, tampak kabut tipis perlahan bergerak mendekat.
Kabut itu berhenti tepat di depan gerbang.
Tidak masuk.
Hanya diam.
Pak Surya ikut memandang ke arah yang sama.
Raut wajahnya berubah serius.
"Masih di sana..." ucapnya lirih.
"Itu bukan kabut biasa, ya?" tanya Bu Rahayu.
Pak Surya menggeleng pelan.
"Bukan."
Sudah lama mereka mengenali kehadiran itu.
Selama rumah kosong, sosok tak dikenal tersebut hanya mengawasi dari luar pagar.
Ia tidak pernah berhasil melewati batas halaman.
Pak Surya percaya ada sesuatu di rumah itu yang masih melindungi tempat tersebut.
Namun ia juga tahu...
Perlindungan itu tidak akan bertahan selamanya.
Beberapa menit kemudian listrik kembali menyala.
Bayu mematikan lampu minyak.
Rumah kembali terang.
Ia menguap pelan.
"Besok kita lanjut beres-beres."
Tiara mengangguk.
"Iya."
Mereka masuk ke kamar membawa Dafa yang kembali tertidur.
Tak lama kemudian seluruh rumah menjadi sunyi.
Pak Surya berjalan perlahan mengelilingi setiap ruangan.
Kebiasaan itu masih ia lakukan, sama seperti ketika masih hidup.
Memastikan semua pintu tertutup.
Memastikan tidak ada yang membahayakan penghuni rumah.
Saat melewati ruang tamu, ia berhenti di depan foto keluarganya.
Tatapannya tertuju pada wajah Arga.
"Maafkan Ayah..."
Suara itu hampir tak terdengar.
Rasa rindu kepada putra semata wayangnya masih sama besarnya seperti hari terakhir mereka bertemu.
Jauh di negeri lain, Arga sedang duduk di depan komputer menyelesaikan pekerjaannya.
Sesekali ia memandang kalender di meja.
Dalam hati ia berjanji akan segera pulang begitu pekerjaannya selesai.
Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa kedua orang tuanya telah tiada.
Dan tidak mengetahui bahwa setiap malam, mereka masih setia menjaga rumah yang suatu hari akan ia datangi kembali.
Sementara itu, di luar pagar rumah tua, kabut tipis yang sejak tadi menunggu perlahan menghilang ke dalam gelap.
Bukan karena menyerah.
Melainkan seolah sedang menunggu waktu yang tepat.
Malam pertama keluarga Bayu berlalu tanpa gangguan.
Tetapi jauh di balik ketenangan itu, sebuah rahasia lama telah mulai terusik.
Dan rumah tua itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan sepi, kembali memiliki alasan untuk bertahan menjaga setiap penghuninya.
Daftar bab
71 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








