
ASMARA Sang DUDA
Kaisar Dewa|Bersambung
- Jumlah kata
- 43.1K
- Popular
- 16.0K
- Subscribe
- 1.4K
- Jumlah kata
- 43.1K
- Popular
- 16.0K
- Subscribe
- 1.4K
Sinopsis
"Ohh, mantap, Sandro! Kemarin sama suamiku nggak seenak ini." Sandro hanyalah pria miskin pekerja serabutan yang diselingkuh Istrinya, kemudian mendapatkan ilmu warisan leluhur.
Ulasan
1 ulasan
Pengunjung
12/10/26 14:44
orang uang terhina dan termisjkin didaerahnya saya suks alur cerita dan menarik petualangan cinta dengan orang wanita yang baru dia jumpai berkat bisikan gaib yang ada didalam tubuhnya
PILIHAN
Bab 1. Memergoki Perselingkuhan
Sandro berdiri tertegun menatap istri yang sangat dia sayangi, dalam keadaan tubuh tanpa mengenakan sehelai benangpun, tengah berada di bawah kungkungan pria paruh baya 40 an tahun.
Bungkusan hadiah ulang tahun yang berada di tangannya jatuh begitu saja di lantai.
“Wulan?!” ucap Sandro dengan suara bergetar.
Dua insan yang tengah mengadu kasih di atas terkesiap dan segara melepaskan satu sama lain.
“M-Mas, kamu kenapa kesini?” Wulan buru-buru memakai kembali pakaian menutupi tubuh polosnya.
Raut wajah Wulan tampak biasa saja, seolah tidak merasa bersalah.
Sandro berkaca-kaca, dia menatap ke arah istrinya dengan penuh ketidak percayaan atas apa yang dilihatnya.
“Wulan, tolong jelaskan sama Mas apa yang udah kamu lakuin?” ucap Sandro berharap apa yang dilihatnya ini tidak nyata.
Kemudian Sandro beralih ke arah pria berkumis berusia 40 an tahun, yang sudah memakai kemeja.
“Anda sudah apakan istri saya? Pasti anda yang sudah memaksa Wulan ‘kan?” Sandro menatap ke arah pria yang baru saja bermain api dengan Wulan.
Pria paruh baya dengan usia sekitar 40 an tahun itu tidak lain adalah Bos Heru, penguasa toko perhiasan tempat istri Sandro bekerja selama hampir dua tahun ini.
Pak Heru yang tidak lain adalah Bos Perhiasan yang menjadi toko perhiasan kata di Desa Melati. Dia adalah satu-satunya pemilik toko perhiasan di Desa Melati.
Semua warga Desa Melati Dari berbagai Dusun, kalau membeli atau menjual perhiasan pasti ke tempatnya. Tidak ada satupun warga Desa Melati Yang tidak mengenalnya.
Heru tersenyum. “Oh, jadi kamu suaminya? Hehe, pas sekali kamu disini.”
“Sangat disayangkan Wanita secantik Wulan menjadi istri dari laki-laki nggak berguna dan miskin sepertimu,” ejek Pak Heri. “Pantas saja dia nggak betah sama kamu.”
Sandro tersentak dengan omongan Heru. “Pak Heru, jaga pembicara anda. Istri saya ini perempuan baik-baik dan saya sangat mencintainya, Anda pasti yang sudah memaksanya ‘kan?”
Heru tersenyum. “Asal kamu tahu saja, istrimu sendiri yang menyerahkan dirinya padaku.”
Sandro menatap ke arah istrinya. “Wulan, katakan itu nggak benar. Mas yakin kamu pasti dipaksa sama orang ini ‘kan?”
Sandro berbalik ke arah Heru. “Aku minta sama Pak Heru jangan dekati Wulan lagi, dia istriku dan kami saling mencintai….”
Belum selesai ucapan Sandro, sebuah tamparan mendarat tepat di wajahnya.
PLAK!!!
Sandro berdiri tertegun, tamparan ini berasal dari Wulan.
“Cukup, Mas! Cukup sudah aku menderita hidup miskin sama kamu! Sebenarnya selama ini aku udah capek hidup sama kamu,” ucap Wulan.
Wulan tiba-tiba mengambil sebuah surat dari atas meja, lalu memberikannya kepada Sandro. “Ini surat perceraian kita!”
Sandro tidak percaya, Dengan segera dibuka surat itu, ternyata suara panggilan sidang perceraian yang diajukan oleh Wulan.
Saat itu dari arah pintu masuk, ibunya Wulan muncul dari arah pintu masuk, seperti baru saja dari pasar
“Heh Sandro, ngapain kamu kesini? Kamu itu cuma suami melarat nggak berguna, ngapain kamu nyusul anak perempuanku kemari?” teriak ibunya Wulan dengan mata melotot sambil berjalan ke arah Sandro.
Wanita berusia sekitar 45 tahun itu bernama Bu Susi yang tidak lain adalah ibunya Wulan.
Melihat ibu mertuanya datang, Sandro berniat melaporkan kalau dia baru saja memergoki Heru yang memaksa Wulan berbuat hal tidak senonoh, dan membuat Wulan meminta bercerita dengannya.
“Bu, pas banget Ibu sudah pulang. Aku baru saja datang kemari, namun malah menemukan Wulan sedang sama Pak Heru. Aku yakin Wulan pasti dipaksa sama dia,” ucap Sandro.
Bukannya membela Sandro, Bu Susi malah langsung mendekati Heru sambil tersenyum ramah, berbeda saat berbicara dengan Sandro.
“Lhoh, ada Pak Heru ternyata? Kenapa nggak bilang-bilang kalau kesini?” sapa Bu Susi.
Heru tersenyum. “Aku kebetulan saja kesini karena ada masalah pekerjaan dengan Wulan.”
Kemudian Bu Susi berbalik ke arah Sandro dengan raut wajah yang buruk. “Sandro, asal kamu tahu saja, Pak Heru itu jauh lebih baik berkali-kali lipat dari kamu. Kamu itu udah kurus, dekil, miskin pula. Mau jadi apa anakku kalau hidup sama kamu!”
“Kalau bukan suamiku sudah pikun, anakku pasti sudah nikah sama Pak Heru dan hidup bahagia sama dia sejak dulu,” ucap Bu Susi.
“Sebentar lagi Wulan bakal menikah sama Bos Heru dan pisah sama kamu, jangan sekali-kali datangi anak perempuanku lagi!” Ancam ibunya Wulan.
Sandro tidak menyangka kalau ternyata Bu Susi akan membela anaknya yang jelas-jelas telah melakukan hal berdosa dengan berselingkuh dengan Heru.
Sandro meninggalkan tempat itu, pulang menuju rumahnya dengan wajah menahan kesedihan, sambil membawa surat gugatan perceraian dari istrinya - Wulan Suyono.
Sandro tidak pernah menyangka bahwa pernikahannya dengan Wulan akan berakhir dalam tiga tahun.
Di ulang tahun ketiga, Sandro yang sudah menyiapkan kado ulang tahun dan pergi ke rumah mertuanya yang berada di desa sebelah, justru malah menemukan istrinya sedang berhubungan dengan pria lain.
Tidak pernah terpikirkan oleh Sandro, bahwa pernikahannya dengan Wulan, anaknya Pak Suyono akan berakhir setelah tiga tahun, lantaran karena dia hanyalah pria dusun miskin.
Sandro Dewangga, dia hanyalah pria yang lahir di dusun Randu, dan dibesarkan oleh kakek neneknya. Sejak kecil Sandro anak yatim piatu, ibunya meninggal setelah melahirkannya, sementara ayahnya dikabarkan meninggal saat ibunya mengandung.
Sejak kecil Sandro dirawat oleh kakek dan neneknya, diusianya remaja dia membantu kakek dan neneknya mencari nafkah mencari kayu bakar dan mencari rumput di hutan.
Sepanjang sekolah sampai tamat SMA, Sandro selalu mendapatkan peringkat satu, bahkan setiap semester selalu memenangkan olimpiade. Dia digadang-gadang masuk universitas terbaik
Namun ….
Tuhan berkata lain ….
Kakeknya yang bernama Mbah Seno meninggal dunia satu minggu setelah hari kelulusan Sandro.
Walaupun universitas menghubunginya, namun Sandro memilih memutuskan untuk mengurungkan niatnya melanjutkan kuliah, demi membantu neneknya mencari nafkah.
Semenjak Mbah Seno meninggal dunia, Mbah Sumi yang tidak lain adalah sang nenek, mulai sakit-sakitan. Demi membiayai pengobatan neneknya, satu-satunya sertifikat rumah digadaikan.
Tepat satu tahun setelah Mbah Seno meninggalkan, Mbah Sumi menyusul dipanggil yang maha kuasa.
Semenjak ditinggal kakek dan neneknya, Sandro hidup sebatang kara.
Hingga suatu ketika, Sandro menolong Pak Suyono, seorang kepala dusun dari Dusun sebelah - Dusun Kakap yang terkena serangan jantung, lalu mengantarnya ke rumah sakit.
Pak Suyono melihat Sandro sebagai pria dusun sebatang kara yang baik, kemudian menjodohkan dengan anak perempuannya, yang berstatus hamil diluar nikah.
Wulan Suyoto, itulah nama anak perempuan satu-satunya Pak Suyoto dan Bu Susi, yang saat itu hamil muda entah anak siapa. Pak Suyoto ingin anak perempuannya jadi wanita baik, makanya menjodohkan dengan Sandro.
Sebulan setelah pernikahan, Pak Suyoto meninggal dunia. Semenjak saat itu Wulan sibuk kerja berangkat pagi dan pulang sampai larut malam.
Sandro sudah memperingati demi kesehatan anak yang dikandung, namun sifatnya mulai berubah dan akhirnya Wulan keguguran. Semenjak saat itu Wulan semakin berubah dan jarang pulang.
Hari ini, Sandro berniat memberikan hadiah ulang tahun ke tiga pernikahan mereka, namun ternyata istrinya malah berselingkuh dengan Heru, bos tempat kerja Wulan di toko perhiasan.
Sampai di rumah, Sandro segera masuk. Sungguh runtuh hati Sandro setelah memergoki istrinya berselingkuh dengan pria lain.
Baru saja sampai rumah, tiba-tiba pintu diketuk, ternyata rombongan Jamal yang datang untuk menagih hutang.
Seperti biasa, surat resmi berisi tagihan yang makin tahun makin menumpuk bunganya. Bunganya dihitung perbulan. Sekarang nilainya mencapai 100 juta.
Sebelumnya, Sandro selalu menyicil hutang, namun semenjak menikah dia sampai tidak membayar demi mencukupi biaya rumah tangganya. Dan kini sudah numpuk 100 juta.
Tak lama kemudian, muncul kurir yang mengantar surat tagihan dari rumah sakit senilai lima ratus ribu. Sebulan lalu, Sandro terkena tipes, hingga berobat ke rumah sakit dan meninggalkan ktp sebagai jaminan sampai sekarang.
Dalam keterpurukannya, tiba-tiba terdengar suara yang entah darimana datangnya.
“Sandro, kamu adalah pewaris keturunan ke tujuh Prabu Dewangga. Hari ini diumurmu yang ke 25 tahun, semua ilmu kekuatan dan keberuntungan telah diwariskan kepadamu!”
Daftar bab
41 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








