

Melalui kaca spion, Razka melihat Ulfa yang duduk di kursi belakang, hatinya dipenuhi kebingungan.
Direktur wanita yang biasanya sangat dingin itu, malah bertingkah tidak biasanya hari ini. Dia duduk menyamping di kursi belakang, wajahnya memerah dan pandangannya kacau. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri, sementara tangannya terus meraba lehernya.
Melihat keadaan Ulfa yang seperti itu, Razka merasa ada yang tidak beres.
Razka adalah seorang dokter magang di Rumah Sakit Prima. Untuk membelikan pacarnya yang bernama Amora sebuah iPhone terbaru, dia memanfaatkan waktu di luar jam kerja untuk menjadi pengemudi ojek online demi menabung.
Siapa sangka, hari ini dia malah mendapatkan direkturnya sendiri sebagai penumpang.
Ulfa memiliki tinggi sekitar 160 cm, kulit putih, wajah cantik, dan kaki jenjang. Penampilannya sangat menawan, hanya saja sifatnya sangat dingin. Meskipun Razka sudah setengah tahun berada di Rumah Sakit Prima, dia belum pernah benar-benar berbicara dengan Ulfa.
"Bu Ulfa, apakah kamu merasa tidak enak badan? Bagaimana kalau aku antar kamu ke rumah sakit?" Akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Kamu ... kamu kenal aku?" Napas Ulfa terdengar sedikit terengah.
"Aku dokter magang di Rumah Sakit Prima, aku sering lihat ibu waktu rapat."
"Aku tidak sakit, antar aku pulang sesuai alamat."
Ketika Razka kembali melihat ke kaca spion, tangan wanita itu sudah masuk ke dalam pakaiannya sendiri. Dia menggigit bibirnya yang merah dan kedua matanya setengah terpejam, tampak seperti menahan sesuatu yang sulit dikendalikan.
Meskipun hanya seorang dokter magang, dari kondisi yang ditunjukkan Ulfa, Razka merasa wanita itu kemungkinan mabuk atau tanpa sengaja mengonsumsi sesuatu seperti obat perangsang.
"Bu Ulfa, menurutku kamu tetap perlu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa."
"Apa maksudmu? Kamu tidak mengerti kata-kataku? Aku bilang antar aku pulang, secepat mungkin. Kalau terjadi sesuatu, kamu yang tanggung jawab."
Razka tidak berani menunda, dia segera menginjak pedal gas dan mempercepat laju mobilnya. Lima atau enam menit kemudian, mobil itu berhenti di depan Vila nomor 65, Jalan Champ.
Mobil baru saja berhenti, Ulfa buru-buru membuka pintu dan turun. Namun belum sempat berjalan beberapa langkah, tubuhnya sudah oleng lalu terjatuh ke tanah.
Razka segera turun dan menahan tubuh wanita itu. "Bu Ulfa, aku tekan saja belnya supaya keluargamu keluar jemput kamu."
Saat Razka baru saja menopangnya berdiri, tiba-tiba Ulfa memeluk lengannya dengan erat. Dengan suara gemetar dia berkata, "Cuma aku yang tinggal di sini. Kata sandinya 030319, tolong bukakan pintunya dan antar aku masuk."
Setelah masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di sofa, Razka berbalik untuk mengambilkan segelas air. Ketika dia kembali sambil membawa air putih dan berdiri di depan wanita itu, jantung Razka tiba-tiba berdegup keras.
Entah sejak kapan, Ulfa sudah menarik resleting gaun panjang berwarna merah anggurnya. Bahu putihnya yang mulus, bra hitamnya, serta lekuk tubuhnya yang indah kini setengah terlihat. Tatapannya kacau dan kosong, lidahnya menyapu bibirnya perlahan.
"Bu Ulfa, kamu lagi ngapain? Cepat minum air ini. Aku ... aku harus pergi."
Walaupun Razka sudah punya pacar, hubungan dia dengan pacarnya hanya sebatas berpegangan tangan dan berpelukan.
Saat melihat pemandangan yang begitu menggoda di depannya, jantungnya berdegup sangat kencang. Ulfa tidak menerima gelas air itu. Sebaliknya, dia tiba-tiba memeluk Razka dengan erat.
"Tolong bantu aku, suamiku memberiku obat perangsang. Kalau kamu tidak menolongku, malam ini mungkin aku tidak akan bisa bertahan."
Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher Razka, sorot matanya tampak lembut dan menggoda.
Razka benar-benar panik. Dia sama sekali tidak menyangka, direktur wanita yang biasanya dingin itu hari ini malah memeluknya dengan sukarela.
Sejujurnya, dia sangat ingin mengikuti arus dan menidurinya saat ini juga. Namun, Razka adalah orang yang setia pada perasaannya. Pacarnya masih menunggu di rumah, dia tidak ingin mengkhianati pacarnya.
"Bu Ulfa, kamu terkena racun perangsang. Aku antar kamu ke rumah sakit untuk infus dan diberi penawar, nanti juga cepat sembuh."
Jari-jari Ulfa meraba tubuh Razka dan napasnya terengah-engah. "Aku direktur Rumah Sakit Prima, semua tenaga medis di Provinsi Sargana mengenalku. Kalau mereka tahu aku terkena racun seperti ini, bagaimana aku bisa menghadapi mereka?"
"Kalau kamu bantu aku dengan tubuhmu untuk menetralisir racunnya hari ini, setelah itu aku akan mengurus agar kamu diangkat menjadi pegawai tetap."
Razka ragu, dia bisa bersama direktur yang cantik dan dingin itu, sekaligus membantu orang. Yang paling penting lagi, dia bisa menjadi pegawai tetap.
Kenapa tidak?
Namun, Razka tetap tidak ingin mengkhianati pacarnya. Saat dia sudah memutuskan untuk pergi, tangan Ulfa malah membuka ikat pinggangnya tanpa ragu.
Razka sudah hampir lima tahun berpacaran dengan kekasihnya, tetapi dia belum pernah mengalami perlakuan seperti ini.
Dalam sekejap, pikirannya seperti meledak. Seluruh dirinya pun terlena begitu saja. Ketika dia benar-benar sadar kembali, mereka sudah berada di tempat tidur di lantai dua.
Entah siapa yang lebih dulu memulai. Yang jelas, semuanya berlangsung begitu intens sampai mereka melupakan segalanya.
***
Satu jam kemudian, keduanya terbaring lemas di atas tempat tidur.
Razka memandang Ulfa yang terbaring lemah disampingnya, lalu bertanya dengan gelisah, "Bu Ulfa, ba-bagaimana perasaanmu sekarang?"
Wajah Ulfa kembali dingin. Dengan susah payah dia berkata, "Racun di tubuhku sudah hilang."
"Bagus kalau begitu. Kalau sudah sembuh, aku juga harus pergi." Razka segera bangkit dari tempat tidur dan buru-buru mengenakan pakaiannya.
"Kamu benar-benar dokter magang di Rumah Sakit Prima? Siapa namamu?"
"Razka, aku memang dokter magang di Rumah Sakit Prima."
"Untuk kejadian malam ini, aku berterima kasih padamu. Tapi, ada dua hal yang harus aku sampaikan. Pertama, kamu harus meninggalkan Rumah Sakit Prima. Kedua, kejadian malam ini tidak boleh kamu ceritakan kepada siapa pun. Kalau kamu sampai membocorkannya, aku akan membuat hidupmu sangat menderita."
Razka telah menempuh lima tahun kuliah di fakultas kedokteran dan akhirnya berhasil magang di Rumah Sakit Prima. Setelah dia menolong direktur wanita itu, kini malah diminta untuk keluar dari Rumah Sakit itu.
Razka langsung merasa kesal. "Bu Ulfa, kamu ini habis manis sepah dibuang. Kalau aku harus keluar dari Rumah Sakit Prima, berarti kuliah kedokteranku selama ini sia-sia?"
"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan merekomendasikanmu ke Rumah Sakit Ferrum. Tidak perlu magang, kamu bisa langsung masuk kerja. Fasilitas dan tunjangannya tidak kalah dari Rumah Sakit Prima."
Razka merasa itu cukup masuk akal. Lagi pula, jika dia bertemu lagi dengan wanita ini di Rumah Sakit Prima, pasti akan terasa canggung.
Namun, dia tetap berkata, "Pacarku juga dokter magang, bisa tidak kamu sekalian bantu dia?"
"Tidak masalah. Ke Rumah Sakit Ferrum, tidak perlu magang, langsung diangkat menjadi pegawai tetap."
Dalam hati Razka merasa bersyukur. "Terima kasih, Bu Ulfa. Istirahat yang baik, aku pamit dulu."
"Kenapa buru-buru? Tinggalkan nomor teleponmu." Ulfa membuka selimut dan meraih ponsel di meja samping tempat tidur.
Sekilas, Razka bisa melihat noda merah di atas sprei yang putih bersih itu.
"Bagaimana bisa? Ulfa adalah wanita yang sudah menikah, kenapa masih ada tanda seperti itu?" batin Razka terkejut.
"Bu Ulfa, kamu ... kamu masih perawan?"
Ulfa meliriknya dengan kesal. "Apa yang aneh? Siapa bilang kalau sudah menikah tidak bisa tetap perawan?"
Razka semakin bingung. Setahunya, direktur cantik berusia 26 tahun itu sudah menikah dua tahun yang lalu. Setelah ratusan hari berlalu, dia ternyata masih menjaga dirinya tetap suci.
"Sebenarnya, apa yang telah terjadi pada wanita ini?"