

BRAAAAAK!
"Siapkan lima puluh juta dalam tiga hari!" Petugas lapas itu menghantam meja.
"Kalau tidak, ayahmu akan membusuk di penjara!" Petugas lapas itu melotot. Tatapannya jatuh pada seorang pria muda berahang tegas dengan sepasang mata kebiruan yang kontras dengan pakaian lusuhnya.
"Ta-tapi, Pak, Bapakku tidak—" rengek pria muda di hadapannya yang bernama Dejan Cougan.
"Pergi sana! Jangan buang-buang waktuku!" potong petugas itu dengan nada tinggi.
Ucapan tersebut sontak membuat Dejan terhenyak dan gemetar. Tangannya yang mencengkeram loket besi memutih. Di balik kaca, polisi itu bahkan tidak sudi menatapnya; matanya terpaku pada layar ponsel.
"Ayah saya dijebak! Beliau tidak pernah mencuri sepeser pun dari Arkana Nexus Logistics!" jelas Dejan setengah merengek.
Polisi itu tertawa sinis. "Mana ada maling yang mau mengaku? Kalau ada, penjara pasti penuh!" ucapnya ketus.
BRAKK!
Jendela loket ditutup kasar, menyisakan Dejan yang mematung dalam kebingungan. Dadanya yang bidang sesak oleh amarah yang tertahan. Dengan langkah gontai, ia menyeret kakinya keluar.
Di luar, hujan gerimis menyambut wajahnya yang kusut. Dejan tidak peduli; ia terus berjalan menembus gerimis menuju area parkir. Dua hari lalu, ayahnya, Asep Saepulloh, masihlah pria yang ia anggap jujur dan bertanggung jawab. Asep adalah sosok yang sibuk bekerja, bermain catur dengan tetangga, dan memperbaiki pagar bambu. Dejan menatap bayangannya di kaca spion motor. Namanya, Dejan Cougan, terdengar megah dan asing, tidak cocok dengan nasibnya yang miskin. Ia tidak pernah tahu siapa ibunya, dan sang ayah selalu menutup rapat rahasia itu.
"Namaku terlalu keren untuk aku yang hanya seorang OB dengan hidup semiskin dan senasib ini," keluh Dejan di dalam hatinya.
Ia mencoba menyalakan motornya. Ckreek. Tetap mati. Ckreek. Percobaan kedua, tetap nihil. CEKREK! Percobaan ketiga sama saja.
"Sial, mogok lagi!" teriak Dejan frustrasi sambil memukul jok motornya dengan kesal.
Tangannya merogoh saku jaket untuk mencari kunci busi, namun jemarinya justru menyentuh permukaan halus yang terasa hangat. Ia menarik keluar sebuah batu merah gelap dengan belahan di tengahnya. Batu merah combong itu ia temukan kemarin saat menyapu sudut ruang arsip, terselip di balik tumpukan dokumen tua.
Batu ini tampak biasa, namun setiap kali bersentuhan dengan kulitnya, muncul dorongan aneh. Ia menggenggamnya erat. Meski belum tahu asal-usul dan khasiatnya.
Dejan mencengkeram setang motor hingga buku-buku jarinya memutih. "Hari ini benar-benar sial!" umpatnya lirih.
Setelah mendorong motor ke tepi jalan, Dejan membuka aplikasi ojek daring di ponselnya yang retak. Saldo rekeningnya hanya tersisa 182 rupiah.
Tak sampai lima menit, seorang pengemudi berhenti. Pria itu tampak berusia sekitar lima puluh tahun. Jaket hijaunya pudar dimakan panas dan hujan; wajahnya memancarkan kelelahan yang nyata.
"Mas Dejan? Pesan ojek, ya?" tanya pengemudi itu dengan sopan sambil melihat aplikasi driver di ponselnya.
"Iya, Pak," jawab Dejan singkat sambil tersenyum ramah.
"Tujuannya sesuai aplikasi, ya?" tanya pengemudi itu sambil mengamati sosok Dejan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia harus berhati-hati karena pesanan malam begini rawan begal.
Dejan tersenyum kecil. "Iya, Pak. Ke rumah saya. Bisa antar saya sekarang?" jawab Dejan.
Sepanjang perjalanan, tak banyak percakapan. Entah karena lelah atau beban hidup yang sama beratnya. Baru beberapa kilometer kemudian, Dejan bersuara, "Pak, boleh mampir sebentar ke warung kopi?" pinta Dejan sambil mendekatkan mulutnya ke bagian samping kepala sang pengemudi.
Sang pengemudi itu mengangguk.
Motor pun berhenti di sebuah warung sederhana. Mereka duduk berhadapan. Aroma kopi hitam mengepul dari dapur kecil. "Pak, kopi dua sama mi rebus dua," pinta Dejan kepada pemilik warung.
"Waduh, jangan, Mas," sambar sang pengemudi.
"Enggak apa-apa, biar saya yang bayar," timpal Dejan.
Mereka menikmati kopi dalam diam. Dejan menyeruput kopinya, lalu bertanya pelan, "Bapak sudah menikah?"
Pengemudi itu tersenyum tipis. "Sudah. Anak dua. Yang kecil baru tiga tahun." Ia menunduk, menjepit kedua tangannya di paha. Tatapannya mendadak kosong.
"Lagi punya masalah, ya, Pak?" tanya Dejan hati-hati.
Pria itu terkekeh pelan. "Kalau tidak susah, mungkin saya tidak narik sampai malam begini. Sejujurnya, saya sudah memutar dari subuh, tapi hasilnya belum cukup buat beli beras. Tadi sempat mau pinjam uang ke saudara, tapi malu."
Dejan terdiam. Ia membuka dompet lusuhnya. Tersisa satu lembar uang seratus ribu rupiah; uang terakhirnya yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki motor. Jemarinya berhenti sejenak, lalu ia menarik uang tersebut.
"Pak," ucap Dejan.
Pengemudi itu mendongak.
"Tolong diterima." Dejan menyodorkan uang itu dengan senyum tulus.
Pria itu menggeleng, wajahnya memerah. "Jangan, Mas. Mas juga kelihatannya sedang banyak masalah."
"Iya, saya memang sedang banyak masalah," jawab Dejan tenang. "Tapi anak-anak Bapak jangan sampai tidur dalam rasa lapar." Dejan menyisipkan uang itu ke tangan pengemudi tersebut.
Mata pria itu berkaca-kaca. "Mas... saya tidak tahu harus bilang apa."
"Doakan saja bapak saya," ucap Dejan pelan.
Pengemudi itu menggenggam tangan Dejan erat. "Semoga Allah memudahkan semua urusan Mas." Ia memasukkan uang itu ke dompet yang hanya berisi foto kedua anak perempuannya.
Setelah membayar pesanannya, mereka lantas melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan, Dejan memandangi lampu kota di balik rintik hujan. Dompetnya kosong, namun dadanya terasa bergetar hebat.
Tak lama kemudian, sampai juga di tempat tujuan. Rumah semipermanen dari papan tua dengan cat yang sudah mengelupas dan atap-atap lapuk yang terlihat berlubang karena sisa-sisa kebocoran.
Dejan berdiri di depan rumahnya yang sunyi. Ia membuka pintu kayu tua itu. Ruangan gelap. Klik. Lampu lima watt menyala redup. Saat melangkah, pandangannya tertuju pada cermin kusam di dekat pintu. Meski hidup kejam, ia memiliki paras yang nyaris sempurna dengan rahang tegas dan mata kebiruan. Namun hari ini, ketampanan itu tampak kehilangan cahaya.
"Maaf, Pak..." gumamnya lirih. "Sampai hari ini saya masih belum bisa membanggakan Bapak."
Di atas tikar, papan catur masih tergeletak. Dejan berjongkok, menggeser satu pion putih. "Pak..."
Tak ada jawaban.
Dejan menghempaskan napasnya dan memungut sandal ayahnya yang masih menghadap ke pintu, membersihkan debunya, lalu meletakkannya kembali dengan rapi.
Ia duduk di meja makan, menatap gelas kopi bapaknya yang telah menghitam. Dompetnya kini benar-benar kosong. Ia menatap saldo bank di ponselnya yang hanya berisi 182 rupiah.
"Besok saya pasti dapat jalan, Pak. Saya janji... saya akan bawa Bapak pulang," tekad Dejan di dalam hatinya.
Dejan bersiap untuk tidur. Besok pagi, ia harus kembali bertarung.
Keesokan paginya, Dejan sudah berdiri di lobi kantor Arkana Nexus Logistics. Jas hujan murahan yang ia lepas masih meneteskan air ke lantai marmer. Lobi itu semegah biasanya, kontras dengan hidupnya.
"Aku harus bertemu Bu Vobi," gumam Dejan dengan mata menyala penuh tekad.
Ding! Pintu lift di hadapannya seketika terbuka. Seorang wanita keluar dengan aura elegan; setelan kerjanya sederhana namun berwibawa. Dia adalah putri dari Vobi Arkania, manajer utama perusahaan.
"Selamat pagi, Mbak Silvia."
"Selamat pagi, Bu."
Para karyawan mengucapkan salam dengan hormat kepada Silvia Arkania, putri dari Vobi Arkania, Manajer Utama di perusahaan itu.
Silvia membalas semua salam dengan senyum tipis. Namun, langkahnya melambat saat melihat tanda pengenal di dada Dejan.
"...Cougan?" gumam Silvia sambil mengerutkan kening, menatap nama "Cougan" di name tag Dejan.
Silvia mengernyit. Sebagai lulusan luar negeri, nama itu terasa tidak asing, meski ia tidak ingat persis di mana pernah mendengarnya. Silvia berlalu, namun sempat menoleh sekali lagi ke arah Dejan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Cougan...? Bukankah itu nama keluarga yang pernah disebutkan oleh Profesor Ekonomi Internasional?" rutuk Silvia di dalam hatinya.
Dejan akhirnya melangkah menuju lift lantai tujuh. Saat keluar, langkahnya terhenti.
"Dejan!"
Pak Rudi, Kepala HRD, menghampirinya dengan tatapan tajam. "Kamu mau ke mana?" tanya Rudi dengan tegas dan tatapan yang penuh intimidasi.
"Saya mau ketemu Bu Vobi, Pak," jawab Dejan sedikit gugup.
"Bu Vobi?" balas Pak Rudi dengan kening mengerut.
"Lalu ayahmu?" tanya Rudi dengan alis terangkat.
"Beliau tidak bersalah, beliau dijebak, Pak," jawab Dejan sedikit gelagapan.
Rudi tersenyum sinis. "Pengadilan belum memutuskan, tapi kantor ini tidak peduli putusan pengadilan. Reputasi di atas segalanya bagi kami!" Rudi melangkah mendekat, mengetuk dada Dejan dengan telunjuknya. "Mulai hari ini, orang tidak akan mengenalmu sebagai Dejan. Orang akan mengenalmu sebagai... anak koruptor," tegasnya dengan penuh penekanan.
Dejan membeku. Rudi mendorongnya hingga ia nyaris limbung. "Sekarang, jangan terlalu lama menunjukkan wajahmu di perusahaan ini!" pungkas Rudi sambil melotot.
Rudi pun berlalu. Dejan menatap pintu ruangan Vobi Arkania. Hari ini, apa pun yang terjadi, ia harus berhasil demi bapaknya.
Dejan menarik napas tiga kali sebelum mengetuk pintu.
"Masuk."
Suara itu lembut namun terasa mengintimidasi. Di dalam, Vobi Arkania duduk di kursi kebesarannya. Meski berusia 52 tahun, ia masih memancarkan pesona wanita dewasa. Dejan memberanikan diri mengutarakan tujuannya.
"Saya butuh bantuan untuk ayah saya, Bu."
Vobi berdiri, berjalan memutari meja. Ia berhenti tepat di depan Dejan, hingga aroma parfumnya memenuhi indra penciuman pemuda itu. Jemarinya menyentuh dada Dejan, lalu mengelus pundaknya.
"Lima puluh juta itu sangat kecil bagiku, Dejan," bisiknya di telinga Dejan. "Jadilah suamiku! Sebagai balasannya... lima puluh juta itu milikmu," ucap Vobi setengah merayu.
Dejan tertegun. Baru saja ia hendak menjawab, pintu terbuka kasar.
BRAAAK!
Silvia masuk dengan wajah pucat melihat pemandangan itu.
"Ma? Apa-apaan ini?" sentak Silvia.
"Silvia! Sudah berapa kali kubilang, ketuk pintu dulu!" bentak Vobi.
"Aku tidak suka Mama dekat dengan office boy miskin dan anak koruptor seperti dia!" tunjuk Silvia dengan rasa jijik.
"Jaga bicaramu!" Vobi membentak balik. "Sopan sedikit sama Dejan. Dejan Cougan ini calon bapakmu!"
"Panggil dia Ayah!" tegas Vobi setengah melotot sambil menunjuk Dejan.
JLEEBB!
Dejan mengerjap, dunianya terasa berhenti dalam sekejap.
-Bersambung-