
Murid Sampah Jadi Tabib Sakti
Author_Receh|Bersambung
- Jumlah kata
- 72.9K
- Popular
- 285
- Subscribe
- 82
- Jumlah kata
- 72.9K
- Popular
- 285
- Subscribe
- 82
Sinopsis
Semua orang memanggilnya murid sampah.Arven Kaelor hanya memiliki akar spiritual kelas rendah, tak berbakat dalam bertarung, dan selalu menjadi bahan hinaan di Akademi Arcavion. Dikhianati rekan seperguruan, dipukuli hingga nyaris tewas, lalu dibuang ke Jurang Noxara , semua orang mengira hidupnya telah berakhir.Namun takdir berkata lain.Di dasar lembah, Arven Kaelor menemukan warisan kuno milik Tabib Abadi—sebuah kitab yang mampu menyembuhkan segala penyakit, memurnikan racun, membangkitkan kehidupan, bahkan mengendalikan kekuatan yang telah lama dianggap legenda. Sejak hari itu, jalan hidupnya berubah.Dengan ilmu pengobatan yang melampaui zamannya, Arven Kaelor tidak hanya menyelamatkan para pendekar, tetapi juga menaklukkan monster buas, mematahkan konspirasi sekte-sekte besar, dan membuat para ahli bela diri rela berlutut demi memohon bantuannya.Saat musuh-musuh lama mulai menyadari siapa tabib misterius yang mengguncang dunia kultivasi, penyesalan mereka sudah terlambat.Karena murid yang dulu mereka hina... kini telah menjadi Tabib Sakti yang mampu menentukan hidup dan mati siapa pun.Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, mampukah seorang tabib membuktikan bahwa sepasang tangan penyembuh juga bisa menjadi senjata paling mematikan?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Hinaan dan Fitnah
"Hahaha! Lihat dia! Murid sampah itu masih mencoba berdiri!"
"Ejek saja sesukamu. Toh setelah hari ini, dia tidak akan pernah kembali ke sekte."
Suara tawa memenuhi Arena Astralion. Ratusan murid Akademi Arcavion berdiri mengelilingi panggung latihan dengan wajah penuh cemoohan. Tak seorang pun menunjukkan belas kasihan kepada pemuda yang kini berlutut di tengah arena.
Darah menetes dari sudut bibir Arven Kaelor membasahi jubah lusuhnya yang sudah dipenuhi bekas sayatan pedang. Napasnya berat. Kedua tangannya gemetar menahan tubuh yang nyaris roboh, tetapi sorot matanya tetap menyala, enggan mengakui kekalahan.
Di hadapannya berdiri seorang pemuda berjubah biru dengan pedang mengilap di tangan. Wajahnya tampan, tetapi senyumnya dipenuhi penghinaan.
Darian Voss.
Murid inti yang selama ini menjadi kebanggaan sekte.
"Arven Kaelor," ucap Darian Voss sambil mengangkat dagunya. "Kau benar-benar keras kepala. Sudah kubilang berkali-kali, orang sepertimu tidak pantas menjadi murid Akademi Arcavion.
Arven Kaelor menyeka darah di bibirnya.
"Aku diterima secara resmi oleh tetua akademi."
"Dan itu kesalahan terbesar yang pernah mereka buat."
Tawa kembali pecah.
Seorang murid perempuan menutup mulutnya sambil terkikik.
"Dia bahkan belum mampu mengumpulkan energi spiritual tingkat pertama. Apa gunanya tetap hidup?"
"Mungkin dia berharap keajaiban turun dari langit."
"Kalau aku jadi dia, lebih baik bunuh diri daripada terus mempermalukan diri."
Ucapan-ucapan itu menusuk lebih tajam daripada pedang.
Arven Kaelor mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.
Sejak memasuki akademi tiga tahun lalu, hidupnya tak pernah lepas dari hinaan. Setiap hari ia menjadi sasaran ejekan karena akar spiritualnya dianggap paling buruk. Saat murid lain mampu menerobos tingkat kultivasi demi tingkat kultivasi, dirinya tetap terjebak di alam pemurnian energi paling rendah.
Ia bekerja dua kali lebih keras.
Bangun sebelum fajar.
Mengangkut air gunung.
Membersihkan halaman.
Berlatih hingga kedua telapak tangannya robek.
Namun hasilnya tetap sama.
Lemah.
Tak berbakat.
Murid sampah.
Label itu menempel seperti kutukan.
"Tuan Darian!"
Seorang murid berlari menghampiri sambil membawa sebuah kotak giok.
"Eliksir Vitalis yang hilang sudah ditemukan."
Darian Voss menerima kotak itu, lalu tiba-tiba menoleh kepada Arven Kaelor.
"Sekarang semuanya sudah jelas."
Arven Kaelor mengernyit.
"Jelas apa?"
"Kamulah pencurinya."
Arena mendadak sunyi.
Arven Kaelor membelalakkan mata.
"Apa?"
Darin Voss membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah pil berwarna keemasan.
"Pil ini ditemukan di pondokmu."
"Itu tidak mungkin!"
"Masih ingin menyangkal?"
"Aku bahkan tidak pernah melihat pil itu!"
"Kalau begitu, mengapa ada di tempat tinggalmu?"
Arven Kaelor terdiam.
Ia baru sadar.
Kemarin malam pondoknya memang dimasuki seseorang. Saat itu ia mengira hanya angin yang membuka pintu bambu.
Jadi...
Semua ini telah direncanakan.
"Tuan Tetua!"
Darian Voss membungkuk ke arah tribun kehormatan.
"Murid Arven Kaelor telah mencuri harta sekte. Mohon hukum dia sesuai aturan."
Seorang tetua berjanggut putih membuka mata perlahan. Tatapannya dingin tanpa sedikit pun rasa iba.
"Arven Kaelor."
"Saya tidak mencurinya."
"Bukti sudah cukup."
"Saya dijebak!"
"Diam!"
Ledakan tekanan spiritual menghantam tubuh Arven Kaelor.
Brak!
Tubuhnya terhempas beberapa meter hingga menghancurkan lantai batu. Darah segar muncrat dari mulutnya.
Ia berusaha bangkit, tetapi lututnya kembali menghantam tanah.
"Keadilan..." bisiknya lirih.
Tetua itu berdiri.
"Sejak awal kau memang tidak memiliki masa depan. Sekte kami tidak membutuhkan sampah."
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada luka di tubuhnya.
Arven Kaelor memandang wajah-wajah di sekelilingnya.
Tak satu pun membelanya.
Orang-orang yang pernah ia bantu mengangkut air.
Orang-orang yang pernah ia obati dengan ramuan sederhana ketika terluka.
Semuanya memilih diam.
Sebagian bahkan ikut tersenyum.
Darian Voss melangkah mendekat hingga ujung pedangnya menyentuh dagu Arven Kaelor.
"Dunia ini memang kejam."
"Yang lemah hanya pantas diinjak."
"Tapi ingat baik-baik..."
Ia menekan pedangnya lebih dalam hingga darah menetes.
"Tak akan ada seorang pun yang mengingat nama seorang murid sampah."
Tatapan Arven Kaelor berubah dingin.
Ia tidak memohon.
Tidak menangis.
Tidak pula menundukkan kepala.
Kalau dunia memang hanya menghormati kekuatan...
Suatu hari nanti, ia akan kembali.
Bukan sebagai murid yang dihina.
Melainkan sebagai seseorang yang akan membuat seluruh dunia kultivasi berlutut di hadapannya.
Namun sebelum sumpah itu sempat terucap, seorang tetua mengayunkan lengan.
"Buang dia ke Jurang Noxara."
Empat murid penegak hukum segera menyeret tubuh Arven Kaelor yang berlumuran darah menuju tebing terlarang di belakang sekte.
Tak seorang pun menyadari bahwa jauh di dasar lembah yang selama ribuan tahun tak pernah dijamah manusia...
Ada sesuatu yang telah terbangun.
Dan sedang menunggu kedatangan pewarisnya.
Angin malam meraung di antara dinding-dinding batu yang menjulang tinggi. Kabut hitam memenuhi Jurang Noxara, menutupi dasar jurang yang tak pernah berhasil dijangkau cahaya matahari. Konon, siapa pun yang jatuh ke tempat itu tak akan pernah kembali hidup.
"Buang saja!"
Empat murid penegak hukum melempar tubuh Arven Kaelor ke bibir tebing tanpa sedikit pun keraguan.
Bruk!
Tubuhnya menghantam batu tajam.
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh, namun sebelum ia sempat mengerang, salah seorang murid menendang punggungnya sekuat tenaga.
"Aaaagh!"
Tubuh Arven Kaelor melayang keluar dari bibir jurang.
Angin menerpa wajahnya dengan keras. Tebing-tebing curam berputar di depan matanya. Batu-batu tajam bergesekan dengan tubuhnya, merobek jubah dan kulitnya. Darah memercik ke mana-mana, sementara rasa sakit membuat kesadarannya perlahan memudar.
Di atas sana, suara tawa masih terdengar samar.
"Selamat tinggal, murid sampah!"
"Semoga monster di bawah menikmati santapannya!"
Suara itu semakin jauh hingga akhirnya lenyap ditelan pekatnya kabut.
Tubuh Arven Kaelor terus jatuh.
Satu tarikan napas...
Dua tarikan napas...
Sepuluh...
Entah sudah berapa lama.
Yang ia rasakan hanyalah dingin yang menusuk tulang.
"Ayah... Ibu..."
Suara lirih itu lolos dari bibirnya.
Sejak kecil ia hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya meninggal akibat wabah misterius yang tak mampu diobati tabib mana pun. Karena itulah ia bercita-cita menjadi tabib hebat, berharap tak ada lagi anak yang kehilangan keluarganya seperti dirinya.
Namun impian itu kini terasa begitu jauh.
"Apa... hidupku berakhir seperti ini?"
Matanya mulai terpejam.
Tiba-tiba...
Blaar!
Ledakan keras mengguncang lembah.
Seekor burung raksasa bersayap hitam menerobos kabut sambil mengeluarkan pekikan memekakkan telinga. Matanya merah menyala, cakarnya sebesar pohon tua.
Burung iblis itu menyambar tubuh Arven Kaelor
Buk!
Namun sebelum cakarnya berhasil mencengkeram, dari balik kabut muncul seekor ular bersisik emas sepanjang puluhan meter. Sisiknya berkilau seperti logam, sementara sepasang tanduk kecil tumbuh di kepalanya.
Sreet!
Ular itu menggigit sayap burung hingga robek.
"Kraaaaak!"
Burung hitam mengamuk. Kedua monster itu langsung bertarung di udara.
Ledakan demi ledakan memenuhi lembah.
Batu-batu raksasa hancur.
Pohon-pohon purba tercabut dari akarnya.
Gelombang tekanan spiritual membuat tubuh Arven Kaelor terombang-ambing seperti daun kering.
"Ini..."
Walau kesadarannya hampir hilang, ia masih bisa merasakan aura mengerikan dari kedua makhluk tersebut.
Masing-masing memiliki kekuatan yang cukup untuk memusnahkan sebuah kota hanya dengan satu serangan.
Di tengah pertarungan sengit itu, tubuh Arven Kaelor menghantam dinding tebing.
Brak!
Retakan besar muncul.
Anehnya, salah satu retakan memancarkan cahaya hijau redup.
Tubuh Arven Kaelor terpental masuk ke dalamnya.
Sesaat kemudian...
Batu-batu besar berjatuhan dan menutup kembali celah tersebut, seolah lorong itu tak pernah ada.
Gelap.
Sunyi.
Yang terdengar hanya tetesan air.
Arven Kaelor membuka mata perlahan.
"Di... mana aku?"
Ia memaksakan diri duduk meski seluruh tulangnya seperti remuk. Anehnya, luka-luka di tubuhnya tak lagi mengeluarkan darah sebanyak sebelumnya.
Di hadapannya terbentang sebuah gua luas yang dipenuhi kristal hijau bercahaya. Aroma tanaman obat memenuhi udara, begitu pekat hingga setiap tarikan napas terasa menyegarkan.
Di sisi kiri tumbuh ribuan tanaman spiritual yang belum pernah ia lihat.
Rumput berwarna emas.
Bunga berkelopak ungu yang mengeluarkan cahaya.
Jamur kristal yang tumbuh di dinding batu.
Bahkan ada buah merah seukuran kepala manusia yang memancarkan energi spiritual murni.
"Semua ini..."
Arven Kaelor membelalakkan mata.
Sebagai murid bagian ramuan, ia pernah membaca banyak kitab pengobatan. Beberapa tanaman di hadapannya bahkan telah dinyatakan punah ribuan tahun lalu.
"Mustahil..."
Saat ia masih terpaku, tanah di bawah kakinya mendadak bergetar.
Duum...
Duum...
Duum...
Suara langkah kaki bergema dari kedalaman gua.
Aura kuno yang sangat besar perlahan memenuhi seluruh ruangan.
Arven Kaelor refleks meraih sepotong batu tajam sebagai senjata, meski ia tahu benda itu tak ada artinya jika harus menghadapi makhluk yang mampu hidup di tempat seperti ini.
Tak lama kemudian, dari balik kegelapan muncul sebuah singgasana batu giok.
Di atasnya duduk sesosok kerangka berjubah putih yang masih utuh meski telah melewati entah berapa ribu tahun.
Di depan kerangka itu tertancap sebuah tongkat kayu tua berhiaskan ukiran naga dan burung phoenix.
Sementara di pangkuannya terdapat sebuah kitab hitam berlapis emas yang perlahan memancarkan cahaya, seolah menyambut kedatangan seseorang yang telah lama dinantikannya.
Belum sempat Arven Kaelor memahami apa yang sedang terjadi, sepasang mata bercahaya hijau tiba-tiba menyala di rongga tengkorak kerangka tersebut.
"Lima ribu tahun..."
Suara tua yang menggema memenuhi seluruh gua membuat bulu kuduk Arven Kaelor berdiri.
"Akhirnya... pewaris yang kutunggu telah datang."
Daftar bab
61 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








