
Mengubah Nasib Dengan Mata Langit
Mia Van Halen|Bersambung
- Jumlah kata
- 143.2K
- Popular
- 4.9K
- Subscribe
- 359
- Jumlah kata
- 143.2K
- Popular
- 4.9K
- Subscribe
- 359
Sinopsis
Raka Wirasena berpikir ajalnya sudah dekat saat kecelakaan sepulang kerja. Cahaya keemasan dan rasa panas terus menusuk ke kelopak matanya. Saat ia terbangun, Raka sadar kalau semuanya tak lagi sama. Kedua matanya bisa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, dan membawanya pada kekayaan. ‘Penglihatan yang aku punya bisa mengubah nasib seseorang, ini artinya aku juga bisa mengubah nasib sendiri!’
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Kecelakaan
Raka menghembuskan napas panjang kemudian merenggangkan otot-otot punggungnya yang terasa kaku.
Hari ini ia libur kuliah dan sudah seharusnya beristirahat di rumah. Namun ia tetap memaksakan diri untuk mengambil dobel shift sebagai pelayan di cafe Luminous demi menyenangkan hati Devi, gadis yang sudah dipacarinya selama setahun.
Bara pun merogoh kantungnya, sebuah kotak kecil berisi kalung emas 10 karat hasil kerja lemburnya selama dua bulan.
"Akhirnya, bisa juga aku kasih hadiah ulang tahun buat Devi. Tahun lalu aku cuma bisa kasih tas diskonan dari mangga dua, dan bikin dia malu di depan temen-temennya. Tahun ini aku nggak akan bikin dia malu lagi,' batin Raka sambil mengingat bagaimana ekspresi Devi kala itu.
Membayangkan senyuman di wajah Devi saat menerima hadiah darinya, membuat Raka jadi bersemangat kembali dan segera menuju dapur dan mengambil pesanan untuk diantarkannya.
"Ini buat tamu di meja VIP. Jangan sampai salah ya Ka!" seru Pak Andi, supervisor yang bertugas.
Raka hanya tersenyum dan mengacungkan jempol. Tak perlu menunda, ia langsung mengantarkan pesanan ke ruang VIP yang terletak di sisi sebelah kanan.
Raka berdiri di depan pintu dan mendengarkan nyanyian selamat ulang tahun. Setelah mengetuk, ia pun masuk untuk mengantarkan pesanan tamu.
Tepat saat ia selesai meletakkan piring di atas meja, matanya tak sengaja beradu pandang dengan seorang gadis cantik yang mengenakan dress merah tanpa lengan yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Gadis itu adalah Devi, perempuan yang sangat ia cintai.
"De … Devi!" panggil Raka terkejut.
Bukan pertemuannya dengan Devi yang membuat dirinya terkejut, tapi seorang pemuda sedang merangkul pinggang gadis yang dicintainya itu. Terlebih lagi, Devi tampak tidak keberatan dan bersikap begitu manja.
Sekarang ini Devi sedang bersama Kevin Idola kampus, anak dari salah satu pengusaha properti terbesar di ibukota, sekaligus orang yang paling sering merundung Raka di kampus.
Mata Devi pun terbelalak saat melihat Raka. Namun, tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Ia justru menunjukkan ekspresi jijik saat melihat Raka ada di ruangan ini.
"Oh ternyata kamu Ka? Semua pesenan kita lengkap semua? Kalau udah mending kamu pergi sana. Kamu bukan tamu undangan di pesta ulang tahunku!" seru Devi sini sambil kembali menyandarkan kepalanya pada bahu Kevin.
Raka yang dirundung emosi pun berjalan mendekat, mengabaikan tatapan sinis dari teman-teman Devi yang lain.
"Dev ... apa yang sudah kamu lakukan sama dia? Kenapa kalian berdua harus peluk-pelukan seperti itu?" tanya Raka sambil menunjuk ke arah Kevin.
Raka ingat selama ia bersama Devi, tak sekalipun pernah menyentuhnya, bahkan sekedar menggandeng tangan pun hanya bisa dihitung dengan jari.
Kevin yang ditunjuk pun merasa tersinggung, ia mengepalkan tangan dan bermaksud untuk meninju Raka. Namun Devi menahannya dan berkata dengan manja, "Sayang, masalah ini biar aku yang urus. Kamu nggak perlu ngotorin tanganmu untuk orang seperti dia. Aku khawatir kalau aura miskinnya bakal nular!"
Kevin tertawa mendengar hal ini dan diikuti oleh teman-teman Devi yang ada di dalam ruangan.
Dengan langkah yang anggun, Devi pun berjalan mendekati Raka.
"Raka, mending kita realistis aja. Aku ini cewek modis, cantik dan butuh maintanance. Dengan statusmu yang cuma anak TKW, dan kerja paruh waktu jadi pelayan cafe apa bisa kamu memenuhi kebutuhanku? Sementara Kevin? Dia bikinin pesta ini buat aku tanpa perlu aku minta, nggak cuma itu, dia juga kasih kado mewah untukku." Devi pun mengangkat paper bag bertuliskan gucci ke depan Raka.
Dada Raka terasa sakit seperti dihantam palu. "Tapi, Dev. Aku serius sayang sama loe. Aku bener-bener tulus dan selalu menghormati dan menjagamu. Sementara Kevin, bukannya kamu udah sering denger kalau dia …"
"Dia kenapa? Playboy? Suka ajak cewek ke hotel?"
Devi tersenyum sinis dan berkata lagi, "Gimana Kevin, aku yang paling tahu. Karena sebenarnya aku dan Kevin udah pacaran hampir dua tahun. Alasanku mau nerimamu karena aku lihat kamu itu bucin banget dan kamu berguna buat kuliahku!"
Kevin kini melangkah mendekati Raka sambil merogoh dompetnya. Ia mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu melemparnya tepat ke wajah Raka.
"Oh ya ngomong-ngomong aku harus berterima kasih sama kamu, karena selama ini tugas kuliah yang loe bikinin buat Devi itu sebenernya buat aku. Sebagai apresiasi, nih tip buat kamu. Aku denger kamu hampir di DO gara-gara belum bayar uang semesteran kan? Kamu jangan DO dulu, ntar siapa yang mau buatin tugas dan skripsiku?" ejek Kevin diikuti tawa yang lainnya.
Wajah Raka memerah, amarah dan kekecewaan bercampur jadi satu.
"Nggak usah berterima kasih. Anggap aja aku sedang beramal ke fakir miskin!" tambah Kevin semakin merendahkan Raka.
"Ambil Ka!
"Ambil, kamu kan butuh duit!" teriak yang lain.
Raka mendongak dan menatap Kevin dengan tatapan tajam, tangannya mengepal penuh kemarahan. 'Sialan kamu Devi, jadi selama ini kamu sudah memperalatku? Aku bener-bener nggak bisa terima perlakuanmu!'
"Aku nggak butuh dui kotormu!" teriak Raka sambil menendang uang yang tadi dilempar Kevin.
Raka kemudian menoleh ke arah Devi yang sekarang memegangi lengan Kevin manja. "Sampah dan tong sampah memang nggak bisa dipisahkan!"
"Brengsek! Kamu ngomong apa barusan?" tanya Kevin emosi.
"Aku bilang sampah cocoknya sama tempat sampah!" balas Raka yang makin menyulut emosi Kevin.
Kevin kembali mengepalkan tangannya dan bersiap memukul Raka, tapi lagi-lagi ditahan oleh Devi. "Udah sayang. Orang kayak dia nggak usah dipeduliin. Kalau mau kasih pelajaran buat dia, kamu jangan sampai ngotorin tangan sendiri!"
Kevin melirik ke arah Devi dan tersenyum. "Kamu bener sayang. Sekarang kita minum yuk!"
"Ayok!" Devi pun tersenyum manja.
Sementara itu Raka tampak berusaha menyembunyikan sakit hatinya dan menyelesaikan shiftnya hari itu.
"Sialan, ternyata selama ini aku bener-bener bego!Aku benar-benar menyia-nyiakan waktu dan tenagaku untuk perempuan tidak tahu diri!" runtuk Raka sambil menyalakan motor maticnya menuju ke rumah.
Kini kesedihannya sudah tidak bisa ditahan lagi, kedua matanya memerah, patah hati tentu saja. Namun perasaan marah karena harga dirinya terinjak-injak lebih besar daripada patah hatinya.
Motor Raka pun melewati perempatan jalan yang sepi, kendaraan bermotor yang lewat pun bisa dihitung dengan jari. Di saat yang sama, dari arah tikungan, sebuah mobil SUV melaju kencang dengan ugal-ugalan, kehilangan kendali akibat jalanan yang licin.
Ciiiiiiit!
Kedua mata Raka terbelalak, ia seperti terpaku.
Raka tidak bisa menghindar. Mobil SUV itu menghantam bagian samping motornya dengan keras. Bara masih berusaha memegang kemudi motor, tapi naas, motornya menghantam bahu jalan.
"Aaa … tolong!" teriak Raka.
Bugh!
Kini Raka terpental sejauh dua meter dari motornya. Suara mesin mobil yang tadi menabraknya perlahan menjauh. Kepala Raka berdenyut dan pandangannya perlahan kabur sampai akhrinya benar-benar gelap gulita.
Splash!
Kilatan cahaya pun muncul membelah langit malam. Raka merasakan sensasi panas di wajah terutama pada kedua matanya. Pandangan yang tadi gelap gulita, kini berubah menjadi jingga kemerahan dan sangat menyilaukan seakan menusuk kedua matanya.
'Apa ini? Kenapa … kenapa ini sakit sekali? Apa mungkin aku mati dan masuk neraka?'
Daftar bab
127 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
127 bab








