
Tournament Academy Roh
Aksara Jo|Bersambung
- Jumlah kata
- 57.7K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 117
- Jumlah kata
- 57.7K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 117
Sinopsis
Di sebuah desa terpencil, seorang remaja laki laki tumbuh besar tanpa pernah mengetahui siapa orang tuanya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki adalah sang kakek, seorang tabib kampung sederhana yang mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Namun, kedamaian itu tidak mengubur impiannya. Ia bertekad untuk menembus Academy Roh Elpida, sekolah megah tempat para elit melatih kekuatan demi menjadi petarung tak tertandingi. Saat hari kebangkitan tiba, harapan besar itu seketika runtuh. Roh yang bersemayam di dalam dirinya hanyalah Roh Air, elemen yang dianggap paling lemah dan tidak memiliki daya hancur dalam pertempuran. Cemoohan dan tatapan merendahkan dari para elit langsung mengiringi langkah awalnya. Namun, dunia tidak tahu bahwa takdir sedang mempermainkan mereka. Di balik telapak tangan satunya yang selalu ia sembunyikan, mengalir aliran energi purba yang dahsyat. Tanpa disadari oleh siapa pun, bahkan dirinya sendiri, ia memiliki roh ganda (Twin Spirits). Pasangan dari roh air lemah itu adalah entitas mitologi penguasa samudra yang melegenda. Roh Mitologi Kadita. Dengan memegang takdir tersembunyi ini, ia harus bertahan di tengah kerasnya kompetisi, menghadapi intrik politik sekolah para elit, dan membuktikan di arena turnamen bahwa air yang tenang mampu menenggelamkan apa saja.
Ulasan
2 ulasan
Juneachneun89
10/7/26 13:44
ide ceritanya bagus alurnya menarik. 👍👍👍Semangat terus nulisnya, jangan lupa mampir ke karyaku. pena kematian, thank u ♥️
Ranger Merah
10/7/26 13:23
keren cerita nya, jangan lupa mampir di tempatku ya judul: The Writers of Fate Terinspirasi dari Novel Tensura, Mushoku Tensei dan ORV. Di dunia yang dipenuhi pedang, sihir, naga, dan reruntuhan peradaban kuno, empat sosok dengan takdir yang berbeda memulai perjalanan yang akan mengubah sejarah. Sang Transmigrator, pengembara dari dunia lain yang membawa pengetahuan yang tak seharusnya ada. Sang Regresor, jiwa yang kembali ke masa lalu demi mencegah masa depan yang penuh kehancuran. Sang Reinkarnator, seseorang yang terlahir kembali dengan kehidupan kedua serta kesempatan untuk menebus penyesalan masa lalunya. Dan Manusia Pertama, sosok misterius yang menjadi titik awal dari seluruh sejarah umat manusia. Mereka berasal dari jalan yang berbeda, mengejar tujuan yang berbeda, dan memikul beban yang berbeda pula. Namun, ketika takdir mempertemukan keempatnya, rahasia terbesar dunia perlahan mulai terungkap. Inilah kisah empat petualang yang akan menantang para dewa, mengguncang kerajaan, dan mengukir legenda yang kelak dikenang sepanjang zaman.
Bab. 1
Fajar belum sepenuhnya pecah di Desa Zephyrus, sebuah permukiman terpencil yang dipeluk oleh kabut tebal dan hutan pinus purba.
Di halaman belakang sebuah gubuk kayu yang dipenuhi aroma menyengat akar-akar obat, seorang remaja laki-laki sedang bergelut dengan rasa sakit.
Kaelen Vance menarik napas dalam-dalam. Keringat mengucur deras dari pelipisnya, membasahi tanah kering di bawah kakinya.
Kedua lengannya gemetar hebat saat ia menahan posisi horse stance kuda-kuda rendah sambil memikul dua ember penuh air di ujung sebuah bilah bambu yang melintang di pundaknya.
"Fokus, Kaelen. Air tidak pernah melawan wadahnya, ia menyesuaikan diri. Begitu juga tubuhmu terhadap beban," sebuah suara tua yang serak namun berwibawa memecah keheningan.
Seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan jubah kain rami abu-abu berjalan mendekat. Ia adalah Eldrin Vance, satu satunya keluarga yang Kaelen miliki.
Di desa ini, Eldrin hanya dikenal sebagai tabib kampung tua yang ramah, pria yang menghabiskan waktunya menumbuk tanaman herbal untuk menyembuhkan demam atau luka para petani
Bagi Kaelen, Eldrin adalah misteri sekaligus jangkar hidupnya. Kaelen tidak pernah tahu siapa ayah atau ibunya. Setiap kali ia bertanya, Eldrin hanya menatap langit malam dengan pandangan sendu yang sarat akan rahasia, lalu mengalihkan pembicaraan.
Brak!
Kaelen terjatuh. Ember di pundaknya terguling, menumpahkan isinya ke tanah. Remaja itu terengah-engah, memijat otot pahanya yang kram.
"Fisikmu sudah jauh lebih kuat dari remaja seumurannmu di desa ini," ujar Eldrin sambil menyerahkan sebotol kecil cairan hijau minyak gosok racikannya sendiri.
"Tapi mengapa kau begitu memaksakan diri akhir-akhir ini?"
Kaelen mendongak, matanya yang sebiru laut jernih memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
"Pendaftaran Academy Roh Elpida akan dibuka dalam tiga bulan, Kakek. Aku harus siap. Aku tidak ingin selamanya menjadi pemuda desa yang tidak tahu dari mana asal-usulnya. Aku ingin menjadi kuat, menemukan jawaban tentang orang tuaku, dan... aku ingin melindungi Kakek."
Eldrin terdiam sesaat. Ada kilatan emosi yang rumit di mata tuanya, seolah-olah apa yang paling ia takuti perlahan mulai terjadi. Namun, ia hanya menghela napas panjang.
"Dunia para petarung roh di Elpida sangat kejam, Kaelen. Di sana, manusia dinilai dari bakat bawaan mereka sejak lahir. Apakah kau siap menghadapi badai itu?"
"Aku siap," jawab Kaelen tanpa ragu.
Sejak hari itu, latihan fisik Kaelen menjadi dua kali lipat lebih keras. Tanpa adanya manual bela diri tingkat tinggi atau guru bela diri dari kota, Kaelen melatih dirinya dengan cara-cara sederhana yang diajarkan Eldrin.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia berlari mendaki bukit terjal di belakang desa dengan tas rajutan berisi batu-batu berat. Di puncak bukit, ia akan berlatih pukulan dan tendangan dasar ratusan kali ke arah batang pohon ek yang keras, hingga buku-buku jarinya mengeras dan kapalan.
Sore harinya, Eldrin melatih kelincahan Kaelen dengan cara yang unik. Kaelen diminta berdiri di tengah aliran sungai yang deras, mencoba menangkap ikan dengan tangan kosong atau menghindari lemparan kerikil yang dilemparkan oleh sang kakek dengan kecepatan tinggi.
Latihan di dalam air ini diam-diam membuat kepekaan indra Kaelen meningkat tajam. Tubuhnya menjadi sangat fleksibel, mengalir luwes menghindari serangan seperti sifat air itu sendiri.
Malam harinya, setelah tubuhnya remuk redam oleh latihan fisik, Kaelen tidak langsung tidur. Di bawah cahaya lilin yang temaram, ia membantu kakeknya memilah tanaman obat, menghafal anatomi tubuh manusia, dan mempelajari titik-titik meridian tempat aliran energi mengalir.
Kaelen tidak sadar bahwa pengetahuan medis ini kelak akan menjadi senjata terbesarnya dalam menganalisis kelemahan musuh.Dua bulan berlalu dengan cepat.
Tubuh Kaelen yang dulunya kurus kini tampak tegap, dengan otot-otot kering yang terlatih dan gerakan yang luar biasa tangkas. Namun, sebuah kecemasan mulai merayap di hatinya.
Setiap orang yang ingin masuk ke Academy Roh harus menjalani upacara kebangkitan roh di balai kota bulan depan. Hingga saat ini, Kaelen belum bisa merasakan manifestasi energi roh apa pun di dalam tubuhnya. Ia hanya merasakan sensasi dingin yang aneh, yang terkadang menggelitik telapak tangan kanan dan kirinya secara bergantian ketika ia bermeditasi di malam hari.
Kaelen menatap langit malam dari jendela kamarnya, mengepalkan kedua tangannya yang penuh luka latihan.
"Tunggu aku, Elpida. Aku akan datang."Ia tidak pernah menduga bahwa apa yang menantinya di akademi nanti bukanlah sekadar ujian masuk biasa, melainkan awal dari terbukanya gerbang takdir mistis yang akan mengguncang seluruh benua.
Keesokan paginya, aroma tanah basah sisa hujan semalam memeluk Hutan Kabut yang terletak di perbatasan desa. Kaelen berjalan membelah semak-semak lebat dengan keranjang rotan yang terikat di punggungnya.
Hari ini, persediaan tanaman obat milik kakeknya terutama Akar Serigala Merah untuk mengobati patah tulang sudah menipis.
Bersenjatakan sebuah belati kecil pengupas herba dan pengetahuan botani dari Eldrin, Kaelen melangkah hati-hati. Semakin dalam ia masuk, suasana hutan menjadi semakin sunyi.
Hanya ada suara langkah kakinya yang menginjak ranting kering.Setelah satu jam mencari, mata sebiru laut milik Kaelen berbinar. Di sela-sela akar pohon tua yang berlumut, tumbuh sekumpulan tanaman berdaun merah darah.
"Akar Serigala Merah. Sempurna," gumamnya.
Namun, tepat saat jemarinya menyentuh kelopak tanaman itu, bulu kuduk Kaelen meremang. Naluri bertarung yang ia asah dari latihan ekstrem di sungai langsung berteriak waspada. Angin di sekitarnya mendadak membawa bau anyir yang pekat.
GRRRRR...
Dari balik kabut tebal, sepasang mata merah menyala menatapnya dengan penuh rasa lapar. Perlahan, seekor binatang buas melangkah keluar. Tingginya menyamai dada Kaelen, dengan bulu sehitam arang yang dilapisi duri-duri tajam di sepanjang punggungnya.
"Babi Hutan Berduri Besi..." bisik Kaelen, tenggorokannya mendadak kering.Itu adalah Binatang Roh tingkat rendah.
Meskipun tergolong kelas bawah, bagi manusia biasa tanpa kekuatan roh seperti Kaelen, makhluk itu adalah mesin pembunuh yang mematikan. Kulitnya sekeras baja dan serudukannya mampu menghancurkan batu karang.
WUSH!
Tanpa aba-aba, binatang roh itu melesat maju. Moncongnya yang dipersenjatai taring panjang mengarah lurus ke perut Kaelen.
Mengandalkan refleks tubuhnya yang lincah, Kaelen melompat ke samping. Tubuhnya berputar di udara, nyaris saja tergores duri besi di punggung hewan tersebut.
Brak!
Babi hutan itu menghantam pohon ek di belakang Kaelen hingga retak.
"Sial, cepat sekali!" Kaelen mendarat dengan posisi siap sedia.
Ia tahu ia tidak bisa melarikan diri begitu saja; binatang itu jauh lebih cepat di medan hutan. Ia harus bertarung untuk bertahan hidup.Babi hutan itu berbalik, menggeram marah karena mangsanya berhasil lolos.
Ia kembali menerjang dengan kecepatan yang lebih gila. Kaelen mencoba menggunakan teknik bela diri sederhananya. Saat binatang itu mendekat, ia melangkah maju dengan gerakan mengalir seperti air, menghindari taringnya, lalu melayangkan pukulan terkuatnya tepat ke arah leher samping makhluk itu.
DUAK!
Tinjunya yang kapalan menghantam telak. Namun, alih-alih terluka, babi hutan itu bahkan tidak bergeming. Tangan Kaelen justru terasa mati rasa, seolah-olah ia baru saja memukul dinding besi raksasa.
Melihat serangannya gagal, binatang roh itu mengibaskan kepalanya dengan keras. Benturan dari moncong kerasnya menghantam dada Kaelen, melempar remaja itu hingga terseret beberapa meter di atas tanah basah.
"Uhuk!"
Kaelen terbatuk, merasakan dadanya sangat sesak. Bajunya robek, dan darah segar mulai merembes dari luka gores di lengannya. Binatang itu kembali bersiap untuk serudukan maut yang ketiga.
Kaelen tahu, jika ia terkena hantaman itu sekali lagi, tulang-tulangnya akan hancur menjadi bubur. Menyerang fisiknya tidak akan berguna. Aku harus memakai otak, pikir Kaelen cepat di tengah kepanikan.
Daftar bab
52 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








