
Bangsawan Tak Berguna
Tekkoemas|Bersambung
- Jumlah kata
- 65.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 4
- Jumlah kata
- 65.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 4
Sinopsis
Di Kerajaan Arthenia, nama Edmund Valeroy hampir selalu diikuti oleh satu julukan. "Bangsawan Tak Berguna". Ia tidak pandai berpolitik, tidak mahir berpedang, tidak tertarik mengejar prestasi, dan lebih sering terlihat bermalas-malasan daripada mengurus wilayah keluarganya. Bagi para bangsawan, Edmund adalah aib keluarga Valeroy. Bagi rakyat, ia hanyalah tuan muda yang beruntung terlahir dengan gelar bangsawan. Dan sejujurnya, Edmund tidak terlalu peduli. Selama masih bisa hidup tenang, tidur nyenyak, dan menjauh dari segala macam masalah, ia sudah merasa cukup puas. Namun ketika berbagai masalah mulai muncul di seluruh penjuru kerajaan, keputusan-keputusan kecil yang ia ambil demi mencari jalan termudah justru membawa perubahan yang tak pernah ia bayangkan. Sementara Edmund berusaha menghindari perhatian, perlahan-lahan seluruh kerajaan mulai memperhatikannya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Pagi hari di wilayah Valeroy seharusnya dimulai dengan kesibukan. Para petani berangkat ke ladang. Pedagang membuka toko. Para pelayan mulai membersihkan kediaman keluarga bangsawan. Prajurit berjaga di gerbang dan berlatih di halaman. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Kecuali satu orang. Edmund Valeroy masih tidur.
Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sinar matahari menembus celah tirai dan jatuh tepat di wajahnya. Edmund mengerutkan dahi, menarik selimut hingga menutupi kepalanya, lalu kembali memejamkan mata. Beberapa detik kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok. Tidak ada jawaban. Tok. Tok. Tok. Masih tidak ada jawaban. Ketukan itu akhirnya berubah menjadi gedoran. Brak! Brak! Brak!
[Edmund Valeroy] "Kalau rumahnya terbakar, tolong padamkan dulu. Aku masih mengantuk."
Suara dari balik pintu langsung terdengar.
[Albert] "Tuan Edmund, rumah ini tidak terbakar."
Edmund membuka sedikit matanya.
[Edmund Valeroy] "Bagus."
[Albert] "Tetapi Anda sudah terlambat menghadiri pertemuan dengan para pengurus wilayah."
Edmund kembali memejamkan mata.
[Edmund Valeroy] "Kalau begitu batalkan saja."
[Albert] "Tidak bisa."
[Edmund Valeroy] "Kenapa?"
[Albert] "Karena pertemuan itu membahas pajak wilayah."
Edmund terdiam. Untuk pertama kalinya sejak tadi, matanya terbuka sedikit lebih lebar.
[Edmund Valeroy] "Pajak?"
[Albert] "Benar."
Edmund menarik selimut lebih tinggi.
[Edmund Valeroy] "Kalau begitu aku semakin tidak mau datang."
Albert, kepala pelayan keluarga Valeroy, menghela napas panjang di balik pintu. Sudah tiga bulan sejak Edmund mewarisi gelar bangsawan dan kediaman keluarga Valeroy. Selama tiga bulan itu pula Albert perlahan memahami satu hal penting. Kelakuan tuan mudanya ini bukan karena sedang mengalami masa sulit. DIA MEMANG MALAS. Tidak ada alasan tersembunyi, tidak ada rencana rahasia, tidak ada ambisi besar. Edmund hanya menyukai kehidupan yang tenang. Sayangnya, menjadi bangsawan tidak pernah memberikan kehidupan seperti itu.
[Albert] "Tuan Edmund, Anda harus menghadiri pertemuan tersebut."
[Edmund Valeroy] "Kenapa?"
[Albert] "Karena Anda adalah kepala keluarga Valeroy."
[Edmund Valeroy] "Itu terdengar seperti masalah yang cukup besar."
[Albert] "Memang."
[Edmund Valeroy] "Kalau begitu sebaiknya orang lain yang mengurusnya."
[Albert] "Tidak ada orang lain."
[Edmund Valeroy] "Kalau begitu kita perlu mencari orang lain."
Albert menutup mata. Kesabarannya sedang diuji.
[Albert] "Tuan."
[Edmund Valeroy] "Hm?"
[Albert] "Jika Anda tidak keluar dalam lima menit, saya akan membuka pintunya."
Edmund langsung bangkit dari tempat tidur.
[Edmund Valeroy] "Lima menit terlalu cepat."
[Albert] "Sepuluh menit."
[Edmund Valeroy] "Aku butuh lima belas."
[Albert] "Sepuluh."
[Edmund Valeroy] "Dua belas."
[Albert] "Sepuluh."
[Edmund Valeroy] "Baiklah."
Albert menghela napas lega. Setidaknya hari ini dia berhasil.
Dua puluh menit kemudian, Edmund akhirnya keluar dari kamarnya. Rambutnya masih berantakan, kemejanya belum dikancing dengan benar, dan ia bahkan masih menguap ketika berjalan menuju ruang makan. Albert yang sudah menunggu di lorong hanya bisa menatapnya.
[Albert] "Tuan Edmund."
[Edmund Valeroy] "Ya?"
[Albert] "Pertemuan Anda dimulai dua puluh menit yang lalu."
[Edmund Valeroy] "Berarti aku tidak terlambat."
Albert mengernyit.
[Albert] "Bagaimana kesimpulannya bisa seperti itu?"
[Edmund Valeroy] "Aku sudah melewatkan dua puluh menit. Kalau aku datang sekarang, berarti aku tidak mungkin terlambat untuk bagian yang sudah terlewat."
Albert menatap Edmund dalam diam. Edmund balas menatapnya.
[Albert] "Saya tidak tahu harus menjawab apa."
[Edmund Valeroy] "Tidak perlu. Aku juga tidak yakin dengan jawabanku." Mereka melanjutkan perjalanan.
Kediaman keluarga Valeroy berdiri di atas bukit kecil yang menghadap ke kota. Bangunan itu tidak sebesar istana kerajaan di ibu kota Arthenia, tetapi tetap cukup megah untuk menunjukkan status keluarga tersebut. Lambang keluarga Valeroy—seekor serigala perak dengan mahkota kecil di atas kepalanya—terpampang di berbagai sudut bangunan.
Keluarga Valeroy bukan keluarga bangsawan paling berkuasa di Arthenia. Namun mereka juga bukan keluarga sembarangan. Selama beberapa generasi, keluarga tersebut mengelola wilayah yang cukup luas di bagian barat kerajaan. Sayangnya, nama besar itu tidak banyak membantu Edmund. Setidaknya menurut orang-orang di sekitarnya.
Ketika Edmund memasuki ruang makan, dua pelayan yang sedang menyiapkan meja langsung menundukkan kepala.
[Pelayan 1] "Selamat pagi, Tuan."
[Pelayan 2] "Selamat pagi, Tuan Edmund."
[Edmund Valeroy] "Pagi."
Edmund duduk. Seorang pelayan segera menyajikan sarapan. Roti hangat, telur, daging asap, buah-buahan, dan secangkir teh. Edmund menatap meja dengan penuh kebahagiaan.
[Edmund Valeroy] "Nah."
Albert berdiri beberapa langkah di belakangnya.
[Albert] "Apa?"
[Edmund Valeroy] "Ini baru pertemuan yang penting."
[Albert] "Tuan, Anda harus pergi ke ruang administrasi."
[Edmund Valeroy] "Aku sedang rapat."
[Albert] "Dengan siapa?"
Edmund menunjuk piringnya.
[Edmund Valeroy] "Dengan sarapan."
Albert kembali diam. Seorang pelayan di sudut ruangan hampir tersenyum, tetapi buru-buru menundukkan kepala. Edmund mulai makan dengan tenang. Ia tidak merasa bersalah. Sejak kecil, Edmund tidak pernah memiliki ambisi menjadi seorang bangsawan hebat. Ayahnya pernah berharap Edmund masuk akademi militer. Edmund menolak. Ibunya pernah menyarankan agar ia mempelajari administrasi wilayah. Edmund tertidur saat pelajaran pertama. Seorang kerabat bahkan pernah menyarankan agar Edmund belajar diplomasi. Setelah mendengar bahwa pelajaran diplomasi melibatkan membaca banyak dokumen, Edmund langsung mengatakan tidak.
Bagi Edmund, kehidupan ideal sangat sederhana. Rumah yang nyaman, makanan yang enak, tempat tidur yang empuk. Dan tidak ada orang yang menyuruhnya melakukan sesuatu. Masalahnya, setelah kematian ayahnya, semua orang berharap Edmund berubah. Tetapi tidak ada yang terjadi. Edmund tetap Edmund.
Setelah menghabiskan sarapannya, Edmund akhirnya berjalan menuju ruang administrasi. Bukan karena dia berubah pikiran. Melainkan karena Albert mengatakan bahwa makan siang akan ditunda jika dia tidak datang. Ancaman itu jauh lebih efektif daripada ancaman apa pun tentang tanggung jawab sebagai bangsawan. Ketika pintu ruang administrasi dibuka, enam orang langsung menoleh. Di dalam ruangan duduk para pengurus wilayah Valeroy. Ada kepala keuangan, pengawas pertanian, kepala pengawal, dan beberapa pejabat lainnya. Mereka semua berdiri.
[Edmund Valeroy] "Duduk."
Mereka duduk kembali. Edmund berjalan menuju kursi utama. Ia duduk, lalu menyandarkan tubuhnya.
[Edmund Valeroy] "Jadi?"
Seorang pria tua dengan rambut putih membuka dokumen di hadapannya. Namanya Gerard. Ia sudah bekerja untuk keluarga Valeroy selama lebih dari dua puluh tahun dan pernah menjadi penasihat ayah Edmund.
[Gerard] "Tuan Edmund, kami ingin membicarakan pajak tanah untuk musim ini."
[Edmund Valeroy] "Turunkan."
Gerard berkedip.
[Gerard] "Apa?"
[Edmund Valeroy] "Pajaknya. Turunkan."
Ruangan mendadak hening. Gerard saling pandang dengan pejabat lain.
[Gerard] "Boleh saya tahu alasannya?"
Edmund mengangkat bahu.
[Edmund Valeroy] "Kalau terlalu tinggi, orang akan mengeluh."
[Gerard] "Benar."
[Edmund Valeroy] "Kalau mereka mengeluh, kita akan mendapat masalah."
[Gerard] "Benar."
[Edmund Valeroy] "Kalau kita mendapat masalah, aku yang harus mengurusnya."
Gerard terdiam. Edmund menunjuk dokumen di hadapannya.
[Edmund Valeroy] "Aku tidak suka mengurus masalah."
Tidak ada seorang pun yang menjawab. Namun Gerard perlahan mengangguk.
[Gerard] "Saya mengerti."
Edmund berdiri.
[Edmund Valeroy] "Bagus."
[Gerard] "Tuan Edmund."
Edmund berhenti.
[Gerard] "Apakah ada keputusan lain?"
Edmund berpikir sejenak.
[Edmund Valeroy] "Kalau ada sesuatu yang bisa dibuat lebih sederhana, sederhanakan."
Gerard menatapnya cukup lama. Kemudian ia menundukkan kepala.
[Gerard] "Baik, Tuan."
Edmund keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, salah satu pejabat muda menatap Gerard.
[Pejabat Muda] "Apakah menurut Anda Tuan Edmund serius?"
Gerard masih melihat pintu.
[Gerard] "Entahlah."
[Pejabat Muda] "Menurut saya, dia hanya malas."
Gerard menghela napas.
[Gerard] "Saya juga berpikir begitu."
Di lorong, Edmund yang masih bisa mendengar percakapan itu berhenti sebentar. Ia tersenyum kecil.
[Edmund Valeroy] "Setidaknya ada yang mengerti."
Lalu ia melanjutkan langkah menuju kamarnya. Hari itu berlalu tanpa kejadian penting. Edmund tidur siang. Sore harinya ia membaca buku selama sekitar sepuluh menit sebelum merasa bosan. Malamnya ia makan terlalu banyak. Kemudian tidur lagi. Bagi Edmund, itu adalah hari yang sempurna. Tapi bagi para pengurus wilayah Valeroy, itu adalah hari lain ketika kepala keluarga mereka tidak melakukan apa-apa. Dan bagi seluruh wilayah, Edmund Valeroy perlahan mulai mendapatkan sebuah reputasi. Bukan sebagai bangsawan yang bijaksana. Bukan sebagai pemimpin yang hebat. Bukan pula sebagai pewaris keluarga yang menjanjikan. Melainkan sebagai seorang bangsawan muda yang tidak berguna.
Edmund sendiri tidak keberatan dengan julukan itu. Justru menurutnya, julukan tersebut terdengar cukup bagus. Semakin tidak berguna dirinya di mata orang lain, semakin sedikit pekerjaan yang akan diberikan kepadanya. Setidaknya, itulah yang ia pikirkan. Edmund belum tahu bahwa beberapa keputusan kecil yang ia ambil hari itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang perlahan akan menyeret nama Valeroy ke dalam urusan kerajaan. Dan ketika saat itu tiba, mungkin Edmund akan menyesali satu hal. Bukan karena ia pernah dianggap tidak berguna. Melainkan karena ia pernah berpikir menjadi bangsawan tak berguna adalah cara termudah untuk hidup tenang.
BAB 1 SELESAI
Daftar bab
38 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








