
Baskara dan Buku Resep Rahasia
Nebula Lala|Bersambung
- Jumlah kata
- 113.9K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 211
- Jumlah kata
- 113.9K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 211
Sinopsis
Setelah di-PHK dari kota, Baskara pulang kampung dalam kondisi stress berat. Cemoohan tetangga akibat pengangguran dan hobinya yang suka masak membuatnya ada di titik terendah. Namun buku resep rahasia warisan kakeknya yang ia temukan mampu kenuntunnya ke arah yang lebih baik. Banyak hambatan yang harus Baskara hadapi, tapi buku dan resep-resepnya berhasil membalikkan keadaan. Akhirnya, ia akan kembali bertarung pada kenyataan apakah dia bisa tanpa buku reseo tersebut.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Pulang yang Tak Diharap
Kondisi dapur restoran malam ini cukup kacau. Piring kotor berserakan di bak cuci, gelas pecah berserakan di lantai, dan wajah penghuni dapur yang tidak bisa menutupi kekesalan.
“Kamu kalau gini terus, saya gak bisa pertahanin kamu, Bas. Mau sampai kapan bikin kita rugi terus?” ucap manager restoran tempat Baskara bekerja.
“Maaf, Pak. Janji ini yang terakhir. Saya akan lebih berhati-hati,” kata Baskara sambil berusaha memohon.
“Tidak ada yang bisa saya pertahankan dari kamu. Mohon maaf, tapi saya harus selesaikan kamu di sini saja. Besok tidak usah masuk ya, Bas. Sekarang kamu pulang saja.”
“Pak, saya mohon. Saya belum ada pekerjaan pengganti.”
“Itu bukan urusan saya, Bas!” ucap manager itu sambil membentak. “Memangnya kamu bisa ganti semua pecahan ini dan yang kemarin-kemarin? Potong gaji juga sudah gak bisa!”
Sambil menunduk, akhirnya Baskara memutuskan untuk menyerah. Dia pulang sambil berjalan ke arah seberang jalan. Hujan rintik membasahi tubuh Baskara. Lalu tanpa dia sadari, lubang di tepi jalan membuatnya terjerembab. Sekarang sekujur tubuhnya yang basah, ditambah lecet di tulang keringnya.
Baskara merintih, tapi kemudian dia berdiri dan berjalan dengan sedikit tertatih sampai ke kos. Malam ini, Baskara tidak bisa sepenuhnya tidur, pikirannya dipenuhi ketakutan, penyesalan, dan ibunya di rumah.
Sampai pagi, Baskara tidak bisa benar-benar terlelap. Ia bergegas mengemasi baju serta barang-barangnya yang hanya tersisa satu tas saja. Dompet lusuhnya dia buka, kemudian menghitung sisa uang untuk perjalanan pulang. Untungnya masih ada sisa. Ia berjalan ke arah terminal yang tidak terlalu jauh, lalu membeli tiket pulang.
Perjalanan ke desa tempat kelahirannya memakan waktu sekitar 4 jam. Sepanjang itu juga, Baskara masih tidak bisa tidur. Tangannya sibuk merangkul tas, kepalanya ia sandarkan ke jendela.
Setelah perjalanan panjang, Baskara sampai di pertigaan pasar terdekat dari rumahnya. Baskara turun dari bus antar kota dengan lesu. Bersamaan dengan itu, ponsel di sakunya berdering. Baskara menepi sambil mengecek isi pesan itu. Ternyata sebuah email dari restoran tempatnya bekerja, berisi surat PHK resmi. Baskara menghela napas panjang, lalu menatap jalanan panjang yang harus ia lalui untuk sampai ke rumah.
Kakinya seperti remuk. Sudah lama ia tidak berjalan selama ini, apalagi di jalanan desa yang penuh batu. Desa Sukmo, tempat kelahiran dan tempat tinggalnya sampai usia 22 tahun. Baskara ingat bagaimana ia dan ibunya diremehkan karena Baskara hanya seorang pengangguran. Sekarang ketakutan itu muncul lagi sejalan dengan langkahnya yang terus mendekat.
Saat sudah masuk desa, Baskara melihat pos ronda yang semakin tua. Hanya satu tahun sekali Baskara pulang ke rumah meski tempat kerjanya tidak terlalu jauh. Alasannya hanya satu, hemat.
Semakin dia mendekat ke arah pos ronda, semakin jelas juga suara orang-orang bercengkrama. Suara tawa lepas juga Baskara dengar, dan ia tahu itu suara siapa.
“Loh, Baskara? Tumben pulangnya bukan pas lebaran?” tanya Doni, tetangga yang seumuran dengan Baskara.
Tak langsung menjawab, Baskara sempat menggaruk belakang kepalanya sesaat. “Iya, Don. Sudah gak kerja,” jawab Baskara sambil tersenyum ramah.
“Dipecat? Kerja jadi tukang cuci piring saja bisa dipecat kamu?” Senyum ramah Baskara tiba-tiba saja memudar mendengar itu.
“Bas, Bas. Lagian badanmu tegap begitu kok kerjanya cuci piring. Jadi satpam gitu, atau apa. Kalau ujung-ujungnya dipecat begini kan mending di desa saja dari dulu sama kita. Ya gak?” kata seorang pemuda yang kemudian diiyakan lainnya.
“Ya mungkin belum rezekiku di situ, hehehe.”
Doni turun dari pos ronda, kemudian mendekat dan merangkul Baskara. “Bas, yang namanya rezeki kalau gak dicari ya gak dapat. Kamu ini mau gini-gini aja apa gimana? Pulang ke sini mau jadi tukang cuci piring juga? Mau di rumahku? Hahahaha!”
Doni dan yang lainnya tertawa lepas. Hanya Baskara yang tidak. Dia kembali merasakan hinaan itu. Tapi di sisi lain, dia sadar tidak bisa melawan.
“Aku lanjut dulu ya. Belum ketemu Ibu,” kata Baskara mencoba pergi.
Seolah tidak ada yang menghiraukan, semua masih menertawakan Baskara. Sedangkan baskara lebih memilih segera pergi. Perjalanannya masih harus menempuh dua belokan lagi, tapi rasa takutnya akan wajah kecewa Ibu sudah besar.
Benar saja. Saat sudah sampai depan rumah, terlihat Ibunya sedang membuat sapu lidi. Sedangkan di sekitar Ibunya ada ibu-ibu lain yang bercengkerama. Kaki Baskara diam sejenak, sampai akhirnya dia memberanikan diri mendekat.
“Bu…”
“Loh, Bas? Kok pulang, Nak?” tanya Ibunya sambil menampilkan raut wajah cemas.
“Iya. Baskara sudah gak kerja di sana.”
“Kenapa, Bas? Kamu berhenti, toh? Mau ngapain terus?” tanya salah satu ibu-ibu tetangganya.
Tidak bisa menjawab, Baskara hanya memberi senyum tipis.
“Ya sudah, Bas. Namanya kerja di kota juga pasti ada gagalnya to. Mungkin kamu gak cocok kerja di kota, cocoknya di sini saja jagain ibumu.” Mendengar ini, Baskara semakin diam karena ada senyuman menghina yang muncul.
Tidak ingin anaknya mendengar hinaan yang lebih banyak, Ibu Baskara segera mengajaknya masuk. Ia tahu betul anaknya sedang tersandung masalah, itu terlihat dari raut wajahnya.
Baskara dan Ibunya masuk ke dapur, lalu mereka duduk di meja makan kuno dari kayu yang sudah lapuk. Tanpa kata panjang, Baskara membuka file surat PHK yang ada di ponselnya. Ibu Baskara menyipitkan mata tanda tak bisa melihat sepenuhnya.
“Ini surat PHK, Bu. Aku sudah tidak bisa kerja di sana lagi.”
Ibunya tak langsung menjawab, tatapan matanya cemas. “Kapan, Bas?”
“Tadi malam, Bu. Aku harus pulang karena besok waktunya bayar kos bulanan. Maaf ya, Bu.”
“Kenapa minta maaf ke Ibu? Kamu kan sudah berusaha, Nak. Kamu sudah benar, pulang ke rumah dulu tidak apa.” Ibunya menjeda sejenak, lalu melanjutkan. “Lalu rencana kamu apa, Bas?”
Baskara menunduk sambil menggeleng ringan. “Belum ada, Bu.”
“Ya sudah. Kamu istirahat di kamar dulu. Ibu masakin sayur bobor bayam, ya. Nanti kalau sudah matang Ibu panggil.”
Baskara hanya mengangguk, kemudian masuk ke kamar dan menutupnya rapat. Sayangnya, Baskara tidak kunjung keluar lagi setelah itu. Ia benar-benar memasukkan badannya ke dalam selimut yang jarang ia pakai ini. Tidak ada suara, tidak ada kata, semua hening. Sedangkan Ibunya sibuk memasak sayur bobor kesukaan Baskara. Hanya butuh waktu 45 menit sampai semuanya matang. Lalu ia bergegas memanggil anaknya keluar.
Sayangnya, Baskara tak kunjung keluar. Bahkan setelah tiga jam sejak kedatangan Baskara, sayur bobor bayam juga sudah dingin, tapi Baskara tidak segera menjawab. Ibunya juga sudah mondar-mandir di depan kamar Baskara dan berkali-kali juga memanggil untuk makan bersama.
“Bas, kamu tidak apa-apa to, Nak?”
Masih tidak ada jawaban. Semua terasa semakin diam.
Daftar bab
102 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
102 bab








