

Langkah kaki Satya terasa sedikit lebih ringan sore itu, kontras dengan bayangan buram yang mulai mengaburkan papan penunjuk jalan di sepanjang trotoar yang dilaluinya. Di dalam saku jaketnya yang sedikit koyak di bagian keliman bawah, ada sebuah amplop cokelat tebal yang terasa berat. Bonus tahunan dari perusahaan logistik tempatnya membanting tulang selama lima tahun terakhir akhirnya cair juga.
Bagi Satya, amplop itu bukan sekadar tumpukan kertas bernilai nominal tinggi. Itu adalah tiketnya untuk melihat dunia dengan jelas lagi. Sudah enam bulan ini, mata kanannya seolah tertutup kabut tipis yang tak kunjung hilang, dan mata kirinya sering kali berdenjut nyeri jika dipaksakan melihat layar monitor manifes barang terlalu lama. Dokter spesialis di rumah sakit daerah bulan lalu sudah memberikan peringatan keras yang terus terngiang di kepalanya: *“Harus segera operasi saraf mata, Satya. Kalau terlambat, risikonya permanen. Kamu bisa kehilangan penglihatanmu.”*
Hari ini, Satya merasa Tuhan mendengarkan doa-doa malamnya yang sunyi. Bonusnya cair, bahkan jumlahnya sedikit lebih besar dari yang dia duga karena performa kerjanya yang dinilai luar biasa oleh kepala gudang.
“Bulan depan, aku bisa melihat wajah Ibu dengan jelas lagi. Tidak ada lagi bayangan ganda, tidak ada lagi sakit kepala yang menyiksa setiap pulang kerja,” batin Satya. Dia menyunggingkan senyum tipis seraya memegang erat saku jaketnya sepanjang perjalanan pulang, seolah takut angin malam akan merenggut harapan satu-satunya itu.
Namun, kehangatan harapan itu mendadak menguap begitu kakinya melangkah melewati pagar besi rumahnya yang sudah berkarat. Pintu depan langsung terbuka dengan kasar sebelum Satya sempat mengetuknya. Bukan sambutan hangat atau segelas air putih yang menerimanya, melainkan sosok Bu Sarah yang berdiri tegak dengan melipat kedua tangan di dada. Tatapannya tajam, menelisik setiap jengkal tubuh Satya yang tampak kelelahan.
Di ruang tamu yang temaram, tampak Rika, kakak perempuan Satya, sedang asyik meluruskan kakinya di atas sofa. Matanya tak lepas dari layar ponsel barunya yang berkilat, sementara mulutnya sibuk mengunyah camilan keripik tanpa memedulikan kehadiran adiknya.
"Lama sekali kamu pulang, Satya? Ibu sudah tunggu dari tadi di depan pintu," tegur Bu Sarah, suaranya terdengar menuntut. Matanya yang jeli langsung tertuju pada bagian saku jaket Satya yang tampak menyembul tebal. Berita tentang cairnya bonus tahunan di perusahaan logistik tempat Satya bekerja rupanya sudah sampai lebih dulu ke telinga wanita itu melalui tetangga sebelah rumah yang suaminya juga bekerja di sana sebagai sopir truk.
Satya memaksakan sebuah senyum, mencoba meraih tangan ibunya untuk menciumnya sebagai tanda hormat. "Iya, Bu. Maaf, tadi jalanan agak macet karena ada kecelakaan di dekat persimpangan. Terus Satya juga harus antre agak lama di bagian keuangan untuk urusan administrasi"
Belum sempat Satya menyelesaikan kalimat penjelasannya, jemari kurus namun kuat milik Bu Sarah dengan gerakan secepat kilat langsung merogoh paksa saku jaket Satya. Satya yang tidak siap sama sekali terhuyung mundur satu langkah. Dengan satu sentakan cepat, amplop cokelat tebal itu sudah berpindah tangan.
"Eh, Bu! Tunggu dulu, Bu... jangan diambil!" Satya terkejut setengah mati. Jantungnya mencosos seolah lepas dari tempatnya. Tangannya refleks terulur ke depan, berusaha merebut kembali amplop yang menjadi penyambung hidupnya itu.
Bu Sarah sama sekali mengabaikan seruan panik anaknya. Dengan punggung membelakangi Satya, ia merobek ujung amplop dengan kasar. Matanya seketika berbinar cerah, memancarkan keserakahan saat melihat lembaran-lembaran uang berwarna merah yang tersusun sangat rapi di dalamnya. "Wah, banyak sekali ini. Pas sekali kalau begitu, pas dengan hitungan Ibu."
"Ibu, tolong kembalikan, Bu. Satya benar-benar butuh uang itu untuk ke rumah sakit," pinta Satya dengan suara yang mulai bergetar hebat. Langkah kakinya gemetar saat melangkah maju mendekati ibunya, namun Bu Sarah segera berbalik memutari meja dan berjalan cepat menuju ruang tamu, menghampiri Rika yang kini sudah ikut berdiri dengan wajah penasaran.
"Rika, ini uangnya. Kamu bawa ini semua ke diler besok pagi-pagi sekali. Ambil motor matic yang paling baru, yang modelnya paling disukai anak muda sekarang, buat Deni," kata Bu Sarah tanpa ragu sedikit pun, menyerahkan seluruh amplop cokelat tebal itu ke tangan Rika.
Rika langsung menegakkan duduknya, menyambar amplop itu dari tangan ibunya dengan mata yang berbinar serakah. "Wah, serius, Bu? Asyik! Deni pasti senang banget kalau tahu motor barunya datang besok. Dia sudah ngambek seminggu ini, mogok makan dan tidak mau masuk kuliah karena malu ke kampus naik angkot terus, sementara teman-temannya bawa motor bagus."
Jantung Satya rasanya seperti dihantam godam besar yang sangat berat. Dadanya mendadak terasa sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya habis dalam sekejap. Kabut di matanya yang semula hanya tipis, kini mendadak terasa makin tebal dan pekat, kali ini karena air mata panas yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Deni adalah anak Rika keponakan Satya yang baru menginjak dewasa dan masih sekolah di sma swasta. Demi sebuah gengsi bodoh seorang cucu yang manja, ibunya tega merampas seluruh hasil keringatnya yang dikumpulkan dengan cucuran peluh selama setahun penuh.
Padahal, Rika sendiri adalah seorang janda yang sehat walafiat namun enggan mencari pekerjaan tetap dan selalu menumpang hidup di rumah itu bersama anaknya.
"Bu, Satya mohon... jangan diambil semua uangnya," Satya mendekat ke arah sofa. Suaranya terdengar sangat parau, tercekat di tenggorokan menahan rasa sakit luar biasa yang mendesak di dadanya.
"Satya minta sedikit saja dari uang itu, Bu. Tidak usah setengahnya, sepertiganya saja... secukupnya untuk biaya pendaftaran dan uang muka operasi mata Satya di rumah sakit. Mata Satya sudah semakin buram setiap harinya, Bu. Kadang untuk melihat jalan di depan saja sudah berbayang."
Satya mengedipkan matanya berkali-kali, berusaha menghalau air mata agar bisa menatap wajah ibunya dengan jelas. Namun sia-sia, wajah wanita yang melahirkannya itu hanya terlihat sebagai siluet samar yang kaku, keras, dan sangat dingin di bawah temaram lampu neon ruang tamu.
"Dokter bilang kalau tidak segera dioperasi bulan ini, saraf mata Satya bisa mati dan risikonya Satya bisa buta permanen, Bu. Tolong kasihanilah Satya... Kalau Satya sampai buta dan tidak bisa melihat lagi, bagaimana Satya bisa bekerja di gudang logistik? Bagaimana Satya bisa mencari nafkah dan memberikan uang bulanan lagi buat Ibu dan Kak Rika?" Satya mengiba, bahkan kedua tangannya kini bertangkup di depan dada, memohon belas kasihan dari orang yang mengatasnamakan diri sebagai orang tua.
Rika yang mendengar itu langsung mendengus kesal, menyembunyikan amplop cokelat itu di balik punggungnya seolah takut Satya akan menerkamnya. "Halah, Satya! Kamu itu jangan cari-cari alasan biar uangnya tidak dipakai buat keponakanmu sendiri. Kamu kan masih bisa jalan, masih bisa pakai kacamata hitam kalau silau. Jangan pelit jadi om!"
Bu Sarah berbalik dengan cepat. Ia menatap Satya dengan tatapan menghina, penuh dengan kilat amarah yang berkobar. Alih-alih merasa iba, khawatir, atau tersentuh mendengar kondisi kesehatan putranya yang terancam buta, wajah wanita tua itu justru memerah padam karena merasa otoritasnya ditentang oleh anak bungsunya sendiri.
Dia melangkah maju dua kali, mengikis jarak di antara mereka, lalu berkecak pinggang dengan angkuh. Ditatapnya Satya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan, sebelum akhirnya dia berteriak dengan suara melengking tinggi yang memekakkan telinga, menggema di setiap sudut ruangan rumah yang sunyi itu.
"Mata kabur saja manja! Ibu sudah janji belikan Deni motor, jangan jadi anak egois!"