
- Jumlah kata
- 114.7K
- Popular
- 4.8K
- Subscribe
- 502
Sinopsis
Gevan Geodero. remaja SMA yang terkenal ganteng dan punya reputasi sebagai playboy. Buat Gevan, hidup itu simpel: nongkrong, ngebut naik motor, ngerokok, dan gonta-ganti gebetan. Nggak ada yang nyangka kalau di balik sifat badboy-nya, Gevan sebenarnya anak dari seorang pemilik pondok pesantren yang cukup disegani. Sejak kecil, hidupnya dipenuhi aturan dan pelajaran agama. Tapi semua itu justru bikin dia ngerasa terkekang. "Kenapa semua orang selalu maksa gue jadi orang yang mereka mau? Emang gue nggak boleh milih jalan hidup gue sendiri?" Dengan tekad nekat, Gevan kabur dari lingkungan pesantren dan memilih merantau ke ibu kota. Ia masuk SMA umum, tinggal sendiri, lalu tenggelam dalam pergaulan bebas yang menurutnya adalah arti kebebasan. Di sekolah barunya, Gevan memiliki pesona yang luar biasa, gadis manapun bisa dengan mudah ia taklukan, kecuali Nayla. siapa sosok Nayla sebenarnya? kenapa gadis itu justru sama sekali tidak tertarik pada pesona Gevan?
Ulasan
11 ulasan
Coklat Matcha
28/8/26 02:49
awal yang seru, Gevan bikin klepek klepek dengan tingkahnya yang berandalan tapi konyol . semangat buat penulis
Black Rider
7/8/26 05:05
Semangat Gevan, jadilah pribadi yang baik, apapun masa lalumu, tuhan akan tetap menilai mu dimasa sekarang, nakalnya jangan kelamaan ya, abimu pemilik pondok pesantren, kalau bukan kamu yang lanjutin, lantas siapa lagi?
BAB 1- Club Malam
Dentuman musik EDM mengguncang seluruh ruangan. Lampu disko berputar liar, memantulkan warna merah, biru, dan ungu ke wajah para pengunjung yang larut dalam pesta malam itu.
Di sudut VIP, seorang remaja berwajah tampan tengah duduk sambil memegang sebuah gelas Cocktail Dengan rambut gaya comma hair yang sedikit berantakan, jaket hitam, dan tatapan mata yang memerah membuatnya menjadi pusat perhatian.
Namanya Gevan Geodero.
Meski ia masih duduk di bangku kelas sebelas SMA, kehidupan dunia malam sudah menjadi hal lumrah baginya.
Di sampingnya berdiri Alyona,seorang mahasiswi yang terkenal nakal dan menjadi primadona di kampusnya. Ia menatap Gevan yang sudah setengah mabuk itu sambil tersenyum tipis.
"Gev... lo tuh udah kebanyakan minum." Alyona mendekat.
Gevan terkekeh pelan.
"Yona... gu-gue cinta sama lo..."
Ucapannya mulai ngelantur di bawah pengaruh minuman keras. Ia berdiri sempoyongan lalu memeluk Alyona di bawah gemerlap lampu disko.
Alyona menghela napas kecil.
"Dasar bocah... kalau mabuk pasti jadi lebay."
" Cium.."
" Ih Gevan.. udah mabuk, masih aja mikirin ciuman."
Belum sempat Gevan mengatakan apa pun lagi, tiba tiba datang sesosok lelaki kekar menghampiri ke arah Gevan yang masih setengah sadar.
PRAK!
Sebuah pecahan gelas menghantam dahinya.Darah langsung mengucur deras membasahi pelipis remaja SMA itu.
Musik disko masih terus berdentum keras, tetapi beberapa pengunjung mulai berteriak panik.
"Sial!"
Gevan memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Pandangannya mulai berkunang-kunang.
"Anjing! Siapa yang berani mukul kepala gua?!" Amuk Gevan saat mengetahui dahinya berdarah.
Di tengah kerumunan, seorang pria bertubuh kekar mulai melangkah maju. Lehernya dipenuhi tato mawar hitam yang menyatu dengan gambar tengkorak. Tatapannya dingin, penuh amarah.
"Jadi Lo yang namanya Gevan?" Teriak pria bertato itu.
Gevan menyeringai meski darah terus menetes. "Iya. Emang kenapa? Mau cari perkara Lo sama gua, hah? Maju Lo, nyet!"
Pria itu mengepalkan tangan.
" Kurang ajar! Gede juga nyali Lo,"
Darah mengalir tipis dari pelipis Gevan tidak membuatnya mundur begitu saja. Ia mengusapnya dengan punggung tangan, lalu menyeringai menatap Seno dengan luapan amarah yang siap meledak.
"Lo siapa, berani banget nyari gara-gara sama gua?" Teriak Gevan kasar.
Pria bertato mawar hitam itu melangkah mendekat. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya sibuk mengepal.
" Berani Lo macem macem sama Alyona, gue habisin Lo malam ini juga,"
Gevan mengernyit. " Sebelum Lo bunuh gua, gua duluan yang bakal kirim Lo ke neraka, anjing!"
Suasana di dalam ruangan diskotik semakin tegang. Alyona yang berdiri tak jauh dari mereka tampak panik.
"Udah... kalian jangan ribut di sini! Seno.. kita kan udah putus! Mau apa lagi Lo datang kesini?"
" Jadi, Lo putusin gue demi bocah ingusan ini? Setelah apa yang udah gue kasih?"
" Kita udah gak ada hubungan apa apa lagi, sen.. lebih baik Lo pulang." Teriak Alyona.
" Pulang? Yaudah Ayo.. kita pulang bareng Yon," pria berotot itu menarik lengan Alyona dengan kasar.
" Lepasin!" Berontak Alyona, mencoba melepaskan diri dari genggaman kasar itu.
Tiba tiba sebuah pukulan keras mendarat di pipi Seno, hingga tubuhnya terhuyung menghantam meja.
BUUK!
Botol-botol ikut berjatuhan.
PRANG!
Gevan meludah ke lantai, lalu mengusap sudut bibirnya yang sejak tadi mengeluarkan darah.
"Lo budeg ya? Alyona itu sekarang pacar gua! Jadi, mending Lo pergi dari sini, sebelum gua habisin!" Gevan merebut Alyona dari sisi Seno.
" Kurang ajar!"
Pria bertato itu langsung meninju keras perut Gevan.
BUGH!
" Gue bakal bikin elo mampus! Dasar bocah ingusan!" Seno terus menghantam perut Gevan berulang kali sampai ia jatuh tersungkur.
" GEVAN!" Teriak Alyona langsung pasang badan melindungi sang kekasih.
"Cukup Seno! Dia bisa mati!"
" Siapapun tolong!! Tolong panggilkan petugas medis!! Kalian jangan cuma bisa diam dan nonton doang!! Cepat panggil ambulans kesini!" Alyona terlihat sangat panik dan khawatir.
Suara musik yang tadinya menggelegar perlahan mulai mereda, digantikan keributan dan teriakan penonton yang semakin ramai, namun tak ada satu pun yang berani maju menghadapi Seno yang masih meledak-ledak amarahnya.
Gevan merasakan sakit yang luar biasa menyelimuti seluruh tubuhnya. Pandangannya semakin kabur, warna-warni kerlip lampu disko di atas kepalanya seolah berputar tak menentu arah. Darah dari dahi dan sudut bibirnya terus mengalir deras, membasahi lantai yang lengket. Ia mencoba mengangkat kepalanya, berusaha menatap wajah Alyona yang terlihat samar-samar di hadapannya.
Tangannya gemetar menggenggam lengan gadis itu, namun kekuatannya seakan tersedot habis.
"Yona..." suaranya hanya gumaman pelan, nyaris tak terdengar. "Jangan... takut... gua... gak apa-apa kok.."
Kata-kata itu terputus. Berat sekali rasanya membuka mata. Suara teriakan Alyona, suara kemarahan Seno, dan keributan di sekelilingnya perlahan menjauh, meredup bagaikan suara samar dari kejauhan.
Napasnya tersengal pendek, hingga akhirnya genggaman tangan itu terlepas secara perlahan.
Kepalanya terkulai ke samping, mata terbuka namun tak lagi memandang apa-apa. Gevan akhirnya terjatuh dalam kegelapan yang pekat, kehilangan kesadaran sepenuhnya.
"Gevan?! Gevan! Bangun! Sadar Gev!" Alyona mengguncang bahu remaja SMA itu dengan panik, tangannya gemetar saat merasakan detak jantungnya yang kian melemah. Ia menatap Seno dengan tatapan penuh ketakutan sekaligus kemarahan.
" PUAS LO, SENO? ANJING KAU YA! kalau sampe nyawa Gevan gak tertolong, gue sendiri yang bakal seret Lo ke penjara!"
Namun bukannya minta maaf, Seno justru semakin menantang sang mantan kekasih.
" Baguslah kalau dia mampus, gue bisa leluasa ngedeketin Lo lagi.."
" Jangan mimpi! Gak Sudi gue balikan sama Lo!"
Ucapan Alyona memantik kemarahan Seno, Seno langsung menampar sang primadona kampus itu dengan kasar.
PLAK!
" Gue udah banyak berkorban demi lo, Yona! Jadi.. Lo gak bisa lepas gitu aja dari gue!" Seno langsung menarik paksa lengan sang mantan kekasih dengan sangat kasar, kali ini ia bahkan sampai menyeret tubuhnya ke suatu tempat di lantai dua ruangan club.
" Lepasin, Seno...sakit...!"
Namun beberapa kali Alyona berontak, genggaman itu justru semakin kuat. Seno membawa Alyona ke salah satu kamar ruangan di dalam diskotik.
" Kosongkan ruangan kamar ini! Saya mau pakai!"
Seno menghambur uang selembaran berjumlah 10 juta pada si pegawai yang sedang berjaga.
" Ta-tapi tuan, maaf di dalam sedang ada tamu, memakai layanan kamar ini."
" Gue gak perduli! Cepat kosongkan ruangan itu sekarang juga!" Bentak Seno.
Si pegawai tidak berani membantah, ia segera melaksanakan perintah seno dengan gemetar.
" B-baik tuan,"
Lepas menyuruh tamu yang sedang bermesraan keluar dari di dalam kamar, Seno langsung menyeret kembali dan membanting tubuh Alyona di atas ranjang.
" Se-seno...Lo mau ngapain?"
Tubuh Alyona sudah bergetar hebat.
sedangkan Gevan yang masih terbaring setengah sadar di lantai diskotik, di biarkan begitu saja, banyak pengunjung club malam memilih untuk tidak mau ikut campur.
" Malam ini, Lo jadi milik gue seutuhnya Yona..." Ucap Seno penuh hasrat.
Seno sudah melepas sabuk pinggangnya, melepas ikatan kancing dan mulai menjelajahi tubuh Alyona.
" Lo mau ngapain Seno?"
Daftar bab
99 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








