
CINTA SATU ATAP
Dewa Pencipta|Bersambung
- Jumlah kata
- 126.1K
- Popular
- 3.0K
- Subscribe
- 815
- Jumlah kata
- 126.1K
- Popular
- 3.0K
- Subscribe
- 815
Sinopsis
Ini tentang Radit baru saja menikah dan memutuskan tinggal ditempat mertua atau dirumah orang tua istrinya. Dirumah cuma ada mertuanya yang berumur 40an seorang janda, dan adik iparnya perempuan yang berumur 20th, sedangkan istri Radit umur 21th. Radit kira semuanya akan berjalan normal, akan tetapi semuanya diluar ekspektasi. Setiap kali Mertua dan adik iparnya didalam rumah, mereka cuma mengenakan pakaian terbuka yang membuat iman para lelaki goyah. Bahkan Radit tidak terkecuali. Saat Radit menjalankan hubungan suami istri, terkadang mertua dan adik iparnya suka ngintip dan mendengar kan, pada akhirnya Radit akan mereka goda secara diam diam biar tidak ketahuan istrinya Radit.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Selamat Datang di "Rumah" Baru
Matahari baru saja menyentuh ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca jendela mobil Radit. Pria berusia dua puluh empat tahun itu menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang entah mengapa terasa lebih cepat dari biasanya. Di sampingnya, Siska, istrinya yang baru ia nikahi tiga minggu lalu, tampak tertidur pulas dengan kepala menyandar di bahu Radit. Wajah polos itu benar-benar terlihat damai, kontras sekali dengan apa yang ada di pikiran Radit saat ini.
Mereka baru saja pindah. Bukan ke rumah kontrakan kecil seperti rencana awal, melainkan ke rumah orang tua Siska. Sebuah hunian megah bergaya modern di pinggiran kota yang dihuni oleh Ibu mertuanya—seorang janda anggun bernama Bu Ratna—dan adik iparnya yang baru berusia dua puluh tahun, Rina.
"Mas, sudah sampai?" Siska menggeliat, matanya mengerjap pelan saat mobil berhenti tepat di depan gerbang kayu jati yang menjulang tinggi.
Radit tersenyum kikuk, tangannya yang sedikit berkeringat ia usap ke celana jeans-nya. "Sudah, Sayang. Yuk, bangun. Kita sudah sampai di rumah orang tuamu."
"Rumah kita, Mas," Siska memperbaiki kalimatnya sambil memberikan senyum paling manis yang pernah Radit lihat.
Radit hanya bisa mengangguk pasrah. Sebagai pria yang memiliki sifat sedikit pemalu dan selalu berusaha menjaga etika, ide tinggal serumah dengan mertua sebenarnya membuatnya sedikit cemas. Bayangan tentang aturan-aturan kaku dan rasa sungkan sering kali menghantuinya. Namun, mengingat permintaan Siska yang begitu memohon agar ia menemani ibunya yang kesepian pasca kepergian mendiang ayah Siska dua tahun lalu, Radit tak punya pilihan lain.
Gerbang terbuka otomatis. Halaman rumah itu tertata sangat rapi, dipenuhi dengan tanaman hias yang aromanya menenangkan. Saat mereka melangkah turun dari mobil, pintu utama rumah sudah terbuka lebar. Di sana, Bu Ratna telah berdiri menyambut dengan senyum yang menurut Radit sedikit... terlalu ramah.
Bu Ratna, wanita berusia empat puluh tahun yang masih terlihat seperti wanita berusia tiga puluh awal, mengenakan daster sutra berwarna merah marun dengan potongan dada yang cukup rendah. Kulitnya yang kuning langsat tampak berkilau terkena cahaya lampu teras.
"Selamat datang di rumah, anak-anakku," suara Bu Ratna lembut, namun memiliki intonasi yang membuat Radit tiba-tiba merasa tenggorokannya kering.
"Terima kasih, Ma," Siska mencium tangan ibunya dengan takzim.
Radit segera mengikuti, namun saat ia membungkuk, matanya sempat menangkap pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Sontak, Radit menegakkan tubuh dengan cepat, wajahnya memerah hingga ke telinga. Ia berdeham keras, mencoba menetralkan pikirannya yang mulai melantur.
"Eh, iya, Ma. Terima kasih sudah mengizinkan kami tinggal di sini," kata Radit, suaranya sedikit parau.
"Tentu saja, Radit. Anggap saja rumah sendiri. Kamu kan sekarang sudah jadi bagian dari keluarga ini," Bu Ratna mengedipkan sebelah matanya secara halus, sebuah gerakan yang membuat Radit mematung.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga di dalam rumah. Rina, adik iparnya, muncul dengan hanya mengenakan kaos crop top ketat dan celana pendek yang nyaris tidak terlihat. Rambutnya diikat asal-asalan ke atas, memperlihatkan jenjang lehernya yang putih.
"Kak Radit! Akhirnya datang juga!" Rina berlari kecil dan hampir saja menabrak Radit jika ia tidak segera menjaga jarak. "Wah, rumah ini bakal jauh lebih seru sekarang," imbuhnya dengan nada menggoda.
Radit tertawa canggung, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Halo, Rina. Apa kabar?"
"Sangat baik, apalagi sekarang ada Kak Radit di sini. Aku bosan sekali kalau cuma berdua sama Mama," Rina sengaja memajukan tubuhnya, menatap Radit tepat di manik mata.
Radit merasa jantungnya seperti baru saja dipacu dalam maraton. "Ehm, Siska, apa aku bisa bantu bawa koper ke kamar?" tanyanya, mencoba mengalihkan pembicaraan karena merasa situasi mulai tidak kondusif bagi imannya.
"Oh, tentu, Mas. Kamarnya di lantai dua, paling ujung sebelah kiri," jawab Siska tanpa curiga sedikit pun.
Setelah membawa koper ke lantai atas, Radit merebahkan diri di tempat tidur. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Ia sempat mengira hidup di rumah mertua akan membosankan, namun melihat cara berpakaian Bu Ratna dan Rina yang terkesan 'santai' di dalam rumah, Radit mulai merasa bahwa ketenangannya akan terusik.
Malam harinya, suasana rumah terasa sangat hening. Siska sudah tertidur lebih dulu karena lelah setelah seharian membereskan barang. Radit, yang tidak bisa tidur karena suasana baru, memutuskan untuk turun ke dapur guna mengambil air minum.
Saat ia melewati ruang tengah yang temaram, ia melihat Bu Ratna sedang duduk di sofa, menonton televisi dengan posisi kaki yang disilangkan secara elegan. Daster yang ia kenakan tadi sudah berganti dengan lingerie sutra tipis yang entah kenapa—menurut logika Radit—tidak cocok untuk sekadar menonton TV.
Radit hampir saja menjatuhkan gelas di tangannya.
"Oh, Radit? Haus?" suara Bu Ratna memecah kesunyian. Ia menoleh, menatap Radit dengan tatapan yang sulit diartikan.
"I-iya, Ma. Cuma ambil air minum," jawab Radit terbata. Ia mencoba berjalan secepat mungkin menuju dapur. Namun, saat melewati sofa, Bu Ratna sengaja menggeser posisi duduknya.
"Siska tidur nyenyak?" tanya Bu Ratna pelan.
"Iya, Ma. Dia capek sekali hari ini."
"Sayang sekali, padahal aku ingin minta tolong Radit sebentar buat betulin lampu di kamar Mama yang mati," Bu Ratna menunjuk ke arah kamarnya dengan jemari lentik.
Radit menelan ludah dengan susah payah. Situasi ini... ini adalah sebuah jebakan, pikirnya. "Mungkin besok pagi saja ya, Ma? Saya... saya merasa agak pusing," alasan Radit, meski sebenarnya ia hanya ingin segera kembali ke kamar.
Bu Ratna tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng yang memikat. Ia berdiri, mendekati Radit hingga aroma parfum bunga mawar yang menyengat tercium jelas oleh indra penciuman Radit. "Baiklah, kalau kamu butuh bantuan apa pun, jangan ragu untuk masuk ke kamar Mama, ya?"
Radit hanya bisa mengangguk kaku, lalu bergegas lari menuju dapur dan kembali ke kamar dengan langkah kaki yang dipercepat. Sesampainya di kamar, ia menutup pintu dengan rapat dan bersandar di sana. Dadanya naik-turun dengan cepat.
"Kenapa, Mas? Kok kelihatan panik?" Siska terbangun, matanya yang setengah terbuka menatap Radit dengan bingung.
"Tidak, Sayang. Cuma... cuma takut ada kecoa di dapur tadi," bohong Radit, mencoba tetap terlihat tenang di depan istrinya.
Siska terkekeh, lalu kembali memeluk guling. "Ada-ada saja Mas ini."
Radit mengembuskan napas panjang. Ia mencoba memejamkan mata, namun bayangan Bu Ratna dan Rina yang berkeliaran di rumah ini terus menari-nari di kepalanya. Ia tahu, tinggal di sini tidak akan pernah menjadi pengalaman yang "normal" seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Ini akan menjadi petualangan yang sangat panjang, melelahkan, dan—jujur saja—sangat menguji iman.
Sambil mencoba memejamkan mata, Radit berdoa dalam hati, berharap besok pagi akan menjadi hari yang lebih tenang. Meskipun di lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa bahwa apa yang ia alami malam ini hanyalah sebuah permulaan kecil dari drama rumah tangga yang tak terduga.
Di luar kamar, dari balik pintu yang sedikit terbuka, sepasang mata tampak memperhatikan pintu kamar mereka. Seseorang sedang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh arti, yang membuat koridor rumah itu terasa jauh lebih panas daripada biasanya.
Daftar bab
99 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








