

Tap.. Tap.. Tap..
Suara keyboard menggema ke seluruh ruangan, memecahkan kesunyian malam. Cahaya komputer yang bersinar sendirian di tengah ruangan yang gelap membuatnya menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu.
“Ah... Revisi lagi revisi lagi!”
Seorang pria dengan mata cekung yang menghitam, ia ngedumel karena naskahnya terus-terusan ditolak oleh Editor. Sebagai seorang penggiat literasi alias penulis novel, pria itu harus memerah isi otaknya sampai tetes terakhir.
“Argh! Mau pensiun dini!” Pria itu membenturkan kepalanya pada keyboard PC nya. Ia mengerang karena merasa putus asa.
Pria itu adalah Agung yang sudah jenuh dengan kehidupan duniawi. Setiap hari ia hanya berurusan dengan imajinasi liar editornya yang memaksanya untuk terus-terusan mengupload bab-bab baru novel yang sedang on trending di berbagai platform digital.
Tring! Tring! Tring!
Dering ponsel yang nyaring, memaksa Agung untuk mengangkatnya, “Apa lagi sih yang salah?”
“Agung, bab 435 ini harus direvisi. Kasih Maharatu budak buat disiksa tiap harinya! Kalo kayak gini mah gak ada serunya.” Suara yang cukup keras terdengar di telinga Agung sebagai perintah yang harus dituruti.
Ingin rasanya Agung menghantam kepala si editornya, Rian.
‘Seenak jidat aja nyuruh-nyuruh! Minimal tanya kondisi pinggangku encok atau enggak!’ pikir Agung.
Agung mengernyitkan dahinya, “Lo mau bikin gue mati muda?! Gak mungkin dong gue ganti seluruh plot yang gue bikin?”
“Lah? Lo niat gak sih jadi penulis? Udah sono ganti aja! Gue tunggu sampek besok pagi, kudu udah siap upload!”
Rian mematikan telepon Agung tanpa menunggu keputusan keluar dari mulut Agung. Dia langsung menggerutu kesal meratapi nasib dirinya yang terkurung di depan komputer bertahun-tahun yang bahkan tidak sempat menikmati masa mudanya yang bergairah.
Krek.. krek.. krek...
Kue ulang tahun dengan lilin angka ‘35’ yang berada di sebelah keyboardnya menjadi satu-satunya motivasi Agung untuk bangkit dan meneruskan hidup. Ia menghidupkan lilin itu, dengan sedikit harapan yang ia punya di dalam hatinya ia berdoa,
“Kalo ada kehidupan kedua, gue gak mau ribet sibuk kerja! Gue mau jadi rawatan sugar mommy aja, please!”
Agung meniup lilin itu, membuatnya mati. Meski doanya terkesan sangat tidak mungkin untuk terkabul tapi ia tetap membayangkan memiliki sugar mommy yang merawatnya.
“Gak masalah gue diperes sampek abis, yang penting kerjaan gue cuman rebahan doang!”
Agung menarik napasnya panjang, menghentikan pikiran gilanya untuk menjadi sugar baby. Ia melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai, menyeruput kopi hitamnya untuk menambah inspirasi.
“Oke, mari kita tambahin budak buat jadi ‘mainan’ Maharatu Tiran kita!”
Agung mulai mengetik dengan gila-gilaan, bahkan sang waktu pun mungkin tidak akan bisa menghentikan kegilaannya. Tangan-tangannya yang luwes menekan setiap kotak huruf dan angka di keyboard itu, pupil mtanya menyatu menandakan inspirasi yang tanpa batas disana.
“Hahahahahaha,” tawa puas Agung mengisi kekosongan di malam itu.
Ditengah kebrutalan Agung menulis naskah novel itu, tiba-tiba urat-urat di lehernya terasa mulai menegang, sedikit demi sedikit menjalar di kepalanya. Tangan nya mulai menopang kepalanya yang mulai merasakan sakit yang hebat. Lambungnya terasa terkocok sehingga menyebabkan mual.
“Kepala gue, aduuuh... Vertigo gue kayaknya kambuh lagi deh…” gerutu Agung.
Agung mencoba berjalan mengambil obatnya di seberang meja, ia berjalan dengan tertatih-tatih karena tidak bisa membuka matanya takut rasa sakit kepalanya semakin mencekat. Bukannya ia berhasil meraih obat, ia malah terjungkal dan mengenai pucuk meja kecil di sisi yang berlawanan.
Akibatnya mata Agung mulai berkunang-kunang, telinganya menciung, kepalanya semakin memberat, perutnya yang semakin mual tidak karuan, keseimbangan badannya mulai berkurang, ia merasakan sedikit demi sedikit kesadarannya memudar hingga akhirnya ia tidak mendengar apapun.
***
“Dhawuhingsun! Tumpesa sedaya para duraka lan cidra punika! (Ini perintahku! Tumpaslah semua para durhaka dan pengkhianat itu!)”
Suara jeritan para manusia yang terhunus oleh pedang yang menembus tubuhnya, ceceran darah terlihat dimana-dimana.
Para prajurit hanya mendengar satu perintah yaitu Sang Maha Ratu Maheswari, Sang Ratu Tiran dari Kerajaan Andhakara, pecahan dari Kerajaan Blambangan yang sudah runtuh akibat perang saudara. Kerajaan yang pernah menguasai hampir seluruh Benua Mandala Dwipantara.
Sang Ratu mengibarkan bendera kematian, merampas kepemilikan wilayah Besuki Timur, membantai seluruh keluarga kerajaan, tangisan-tangisan anak kecil dan para wanita yang ketakutan melihat suami atau ayahnya diseret ke dalam gubuk tahanan karena memberontak tidak bisa mengalahkan derap langkah penuh tawa Sang Ratu.
“Wiwit dinten punika, kisanak sedaya dados kawula ingsun! Sinten ingkang wani nglawan dhawuhingsun, sirahipun badhe dakgantung dados rerenggan ing pasareyaningsun! Punapa sampun cetha? (Mulai sekarang kalian menjadi rakyatku, siapapun yang berani menentangku, maka kepala kalian akan menjadi aksesoris di kamar tidurku! Kalian mengerti)?”
Sang ratu menghunuskan pedanganya ke tanah, menandai wilayah itu dengan darahnya sendiri. Membuat semua orang yang lemah semakin tunduk ketakutan kepadanya. Ia meludahi mayat Patih perang yang mati di depannya, menginjaknya, dan menendangnya. Entah dendam seperti apa yang membuat sang ratu menjadi membabi buta meskipun sang Patih telah menjadi mayat sekalipun.
Setelah puas mencompang-campingkan mayat Sang Patih, ia melirik ke arah pemuda di sebelah mayat Patih, senyuman jahat ia sunggingkan,
“Dhawuhingsun! Gelandhang wong lanang punika dhateng kadhatoningsun. Kurungana ing salebeting kurungan ageng. Belenggua asta lan sukune kanthi ranté waja, aja nganti bisa uwal! (Bawa laki-laki ini ke istanaku, taruh di dalam sangkar besar dengan rantai di tangan dan kakinya!)”
Maheswari memerintah ajudannya yang langsung mengangguk dan mengangkat tubuh laki-laki dengan baju zirah perang.
Maheswari pun menaiki kuda perangnya dengan gagah, meskipun ia seorang wanita, kegagahannya tidak bisa dipungkiri lagi. Ia meninggalkan daerah yang masih carut marut itu, menyisakan trauma bagi mereka yang masih memilih tinggal di sana.
Entah berapa lama Agung tak sadarkan diri, ia memegang kepalanya yang berat akibat sakit kepala yang menghantam pucuk meja tadi. Ia melemaskan kepalanya yang kaku hingga berbunyi ‘krek’ setiap kali bergerak.
“Sialan, badan gue sakit banget gilak kayak abis tarung aja!”
Badannya benar-benar terasa lebam sana-sini ketika disentuh, Agung masih belum berani membuka matanya takut vertigonya makin menjadi, tetapi perasaan aneh mencuat di dalam dirinya. Ia meraba tubuhnya, tidak ada sehelai kain yang melekat di tubuhnya, apalagi ketika ia menggerakkan tangannya, gemeronceng suara besi yang bertabrakan terdengar. Wangi ruangannya berubah menjadi wangi dupa melati.
“Sira wus tangi? Satuhu lelap anggonira sare (Kamu sudah bangun? Lelap sekali rasanya kamu tidur),” suara wanita yang lembut dan tajam memecahkan suasana. Agung langsung membuka matanya, semula pandanganya terasa gelap hingga mulai terang sedikit demi sedikit, ia melihat cahaya kekuningan dari lilin-lilin aromaterapi.
‘Dimana gue njir?! Ini gue lagi mimpi, kan?’
Agung mencari arah suara yang tadi di dengarnya. Di depan sana, ada sebuah ranjang tidur yang menjulang ke atas bagai singasana, semuanya terlihat berkilau seperti terbuat dari emas. Ia bahkan terkejut bahwa ia benar-benar tidak menggunakan atasan, hanya kain jarit keemasan yang mengitari tubuh bagian bawah, tangan dan kakinya pun di rantai bak tahanan.
“Sira satuhu kumawani meneng ing ngarsaningsun. Apa sira kepengin dijatuhi paukuman pecut? (Berani sekali tidak menjawab pertanyaanku! Kamu mau dihukum cambuk kah?)” bentak seorang wanita di atas ranjang itu, Agung terperanjat kaget, ia menoleh ke kelilingnya tidak ada orang di sana hanya ia di dalam sangkar emas raksasa.
‘Nih cewek ngomong ama gue?’ batin Agung.
Agung menggaruk belakang kepalanya bingung. Selain dia masih mencerna keadaan, dia juga tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh si wanita di depannya.
Ctas!
Cambuk rotan menghantam keras sangkar tempat Agung terkurung, membuat badannya yang sakit makin tambah sakit.
“Arrghh...,” rintihnya. Ia tersungkur ke belakang, menghantam arah lain dari sangkar itu, kesakitannya telah kalah dengan rasa kebingunganya. Jika mimpi tidak bisa merasakan sakit, maka kejadian di hadapannya itu nyata.
Wanita itu menuruni tangga megah ranjangnya, setiap kerincingan pada gelang kakinya, membuat nyali Agung menciut, ia tidak bisa bergerak bebas karena rantai di tangan dan kakinya.
Krenceng…
Krenceng…
Langkah kaki itu semakin mendekat, hingga tangan lentik memegang jeruji sangkar itu dan terlihat Sang Maheswari menyunggingkan senyumnya, mata coklatnya menatap tajam, memburu Agung yang tercekat mencoba memberi jarak.
“Sira wiwit sapunika dados abdiingsun. Mangka pepakna karsaningsun! (Kamu sekarang adalah budakku, maka puaskan aku)”