
ALMIRA YANG TAK PERNAH PULANG
vallan miracle|Bersambung
- Jumlah kata
- 110.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 6
- Jumlah kata
- 110.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 6
Sinopsis
SinopsisAlmira, gadis kecil berusia sembilan tahun, masih tinggal di rumah tua yang dipenuhi kesunyian. Setiap hari ia menunggu ibunya pulang dan berusaha menjalani hidup seperti biasa. Namun, hal-hal aneh mulai terjadi. Tetangga tak pernah menyapanya, bayangannya menghilang dari cermin, dan suara ketukan misterius terdengar dari bawah lantai setiap tengah malam. Saat arwah-arwah lain mulai muncul, Almira perlahan menemukan kebenaran yang mengerikan: dirinya telah lama meninggal, sementara jiwanya terjebak di rumah yang menyimpan banyak rahasia kelam. Dalam pencarian jawaban tentang masa lalunya, Almira harus menghadapi teror supranatural, luka keluarga, dan misteri yang menghubungkannya dengan arwah-arwah yang belum menemukan kedamaian.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: GADIS YANG MENUNGGU
Hujan turun sejak sore.
Rintiknya membasahi halaman rumah tua yang berdiri sendirian di ujung desa. Cat dinding rumah itu telah mengelupas di banyak tempat. Atapnya berderit setiap kali angin bertiup. Dari kejauhan, rumah itu terlihat seperti bangunan yang sudah lama ditinggalkan.
Namun bagi Almira, rumah itu masih terasa hidup.
Gadis kecil berusia sembilan tahun itu duduk di dekat jendela kamarnya sambil memeluk boneka kelinci berwarna merah muda yang bulunya mulai kusam. Ia menatap jalan setapak yang membelah kebun liar di depan rumah.
Matanya tidak pernah lepas dari sana.
Ia sedang menunggu seseorang.
"Ibu pasti pulang hari ini."
Kalimat itu ia ucapkan hampir setiap hari.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia melihat ibunya. Almira tidak tahu berapa lama tepatnya. Hari-hari di rumah itu terasa berjalan aneh. Kadang satu hari terasa sangat panjang, kadang seminggu terasa seperti semalam.
Yang ia tahu, ibunya pernah berjanji.
"Tunggu Ibu ya, Almira."
Dan Almira masih menunggu.
Langit semakin gelap.
Kabut mulai turun perlahan dari arah hutan kecil di belakang rumah. Suasana menjadi sunyi. Bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar malam itu.
Almira turun dari tempat tidurnya.
Perutnya terasa lapar.
Atau mungkin ia hanya mengira dirinya lapar.
Belakangan ini ia sering merasa aneh. Ia tidak pernah benar-benar makan, tetapi juga tidak pernah merasa lemas. Kadang ia lupa kapan terakhir kali minum air.
Namun semua itu tidak terlalu ia pikirkan.
Ia berjalan menuju dapur.
Langkah kakinya hampir tidak menimbulkan suara.
Dapur terlihat kosong seperti biasa. Di atas meja hanya ada beberapa piring tua yang berdebu. Almira membuka lemari makanan.
Kosong.
Tidak ada apa pun.
Ia menghela napas pelan.
"Nanti kalau Ibu pulang pasti masak sup kesukaanku."
Ia tersenyum sendiri.
Bayangan tentang ibunya selalu membuat hatinya sedikit hangat.
Meski wajah ibunya mulai terasa samar dalam ingatannya.
Meski suara ibunya mulai sulit diingat.
Meski terkadang Almira takut bahwa suatu hari nanti ia akan lupa semuanya.
Angin dingin tiba-tiba berembus dari arah lorong rumah.
Almira menoleh.
Lorong itu panjang dan gelap.
Lampu di ujung lorong sudah lama mati. Hanya ada bayangan hitam yang memenuhi bagian dalam rumah.
Gadis kecil itu memeluk bonekanya lebih erat.
Entah kenapa, lorong itu selalu membuatnya tidak nyaman.
Seolah ada seseorang yang berdiri di sana.
Mengawasinya.
Menunggu.
Almira menggeleng cepat.
"Aku tidak takut."
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Lalu ia kembali ke ruang tamu.
Jam dinding tua yang tergantung di atas lemari menunjukkan pukul tujuh malam.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Suaranya terdengar lebih keras daripada biasanya.
Almira duduk di sofa tua yang mulai robek.
Ia kembali menatap pintu depan.
Menunggu.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit.
Satu jam.
Tidak ada yang datang.
Hanya suara hujan dan jam dinding yang menemaninya.
Sampai akhirnya terdengar suara pintu pagar berderit.
Kreeeek...
Mata Almira langsung berbinar.
"Ibu?"
Ia berdiri dan berlari menuju jendela.
Namun bukan ibunya yang datang.
Seorang pria berjalan masuk ke halaman rumah.
Ayahnya.
Tubuh pria itu terlihat lebih kurus dibanding biasanya. Wajahnya pucat. Rambutnya berantakan. Ia berjalan dengan langkah berat seolah memikul sesuatu yang tidak terlihat.
"Ayah!"
Almira berlari menuju pintu.
Namun saat pintu terbuka, ayahnya melewatinya begitu saja.
Pria itu masuk tanpa menoleh sedikit pun.
Tanpa menyapa.
Tanpa melihat keberadaannya.
Senyum Almira perlahan menghilang.
"Ayah?"
Ia mengikuti pria itu.
Ayahnya berjalan menuju ruang tengah lalu berhenti.
Tubuhnya gemetar.
Matanya menatap ke satu sudut ruangan.
Ke arah yang kosong.
Atau setidaknya kosong menurut Almira.
Pria itu terlihat ketakutan.
Sangat ketakutan.
Lalu tiba-tiba ia berlari menuju kamarnya dan membanting pintu keras-keras.
BRAK!
Almira terkejut.
Ia berdiri mematung di depan kamar ayahnya.
Beberapa detik kemudian terdengar suara tangisan.
Tangisan seorang pria dewasa.
Pelan.
Lalu semakin keras.
Seolah sedang menyesali sesuatu.
Almira menunduk.
Ia tidak mengerti.
Belakangan ini ayahnya sering seperti itu.
Sering menangis.
Sering berbicara sendiri.
Sering menatap sudut-sudut rumah dengan wajah ketakutan.
Kadang bahkan berteriak saat tengah malam.
Seakan melihat sesuatu yang mengerikan.
Padahal tidak ada siapa-siapa di sana.
"Kenapa Ayah selalu sedih ya?"
bisik Almira.
Tentu saja tidak ada yang menjawab.
Malam semakin larut.
Hujan masih turun.
Angin berembus melalui celah-celah jendela tua.
Almira kembali ke kamarnya.
Ia duduk di atas tempat tidur sambil memeluk bonekanya.
Kamar itu sederhana.
Ada lemari tua.
Meja kecil.
Dan foto keluarga yang tergantung di dinding.
Almira memandang foto itu.
Foto yang selalu membuatnya merasa tenang.
Ia, Ayah, dan Ibu berdiri berdampingan.
Tersenyum.
Bahagia.
Seperti keluarga normal.
Namun malam itu sesuatu terlihat berbeda.
Almira mengerutkan kening.
Ia mendekati foto tersebut.
Lalu membeku.
Senyumnya perlahan menghilang.
"Eh?"
Gadis kecil itu berkedip beberapa kali.
Dalam foto tersebut, wajahnya terlihat samar.
Sangat samar.
Seolah memudar sedikit demi sedikit.
Padahal kemarin masih jelas.
Almira mengusap bingkai foto itu.
Mungkin hanya debu.
Namun setelah debu hilang, wajahnya tetap terlihat kabur.
Jantung kecilnya mulai berdebar.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa takut.
Benar-benar takut.
Angin dingin kembali berembus.
Kali ini jauh lebih dingin.
Bulu kuduk Almira meremang.
Perlahan ia menoleh ke arah pintu kamar.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun ia merasa ada seseorang yang berdiri di sana.
Mengawasinya.
Almira menggenggam bonekanya erat-erat.
"Ibu?"
Tidak ada jawaban.
Sunyi.
Sangat sunyi.
Lalu terdengar suara langkah kaki.
Tok.
Tok.
Tok.
Dari luar kamar.
Perlahan.
Menyeret.
Seperti seseorang berjalan tanpa tenaga.
Almira menahan napas.
Langkah itu semakin dekat.
Tok.
Tok.
Tok.
Berhenti tepat di depan pintunya.
Jantung Almira berdegup sangat kencang.
Ia ingin memanggil ayahnya.
Namun suara itu tidak keluar.
Beberapa detik berlalu.
Tidak terjadi apa-apa.
Lalu suara langkah itu kembali menjauh.
Semakin jauh.
Hingga akhirnya menghilang.
Almira masih duduk membeku.
Tubuhnya terasa dingin.
Sangat dingin.
Malam itu ia tidak bisa tidur.
Ia terus memandangi pintu kamar sambil memeluk bonekanya.
Sampai akhirnya jam dinding menunjukkan pukul dua belas tepat.
Dung...
Dung...
Dung...
Suara lonceng tua menggema ke seluruh rumah.
Dan tepat setelah dentangan terakhir.
Terdengar suara lain.
Tok.
Tok.
Tok.
Almira langsung menegakkan tubuh.
Suara itu bukan berasal dari lorong.
Bukan dari jendela.
Bukan dari atap.
Suara itu berasal dari bawah lantai kamarnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Seolah ada seseorang yang mengetuk dari bawah.
Dari dalam tanah.
Almira membeku.
Suara itu terdengar lagi.
Lebih keras.
Tok!
Tok!
Tok!
Gadis kecil itu perlahan turun dari tempat tidur.
Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin.
Suara ketukan berhenti.
Ia menunduk.
Memandangi lantai tepat di bawah kakinya.
Sunyi.
Lalu sebuah bisikan terdengar.
Sangat pelan.
Hampir seperti suara angin.
Namun cukup jelas untuk didengar.
"Almira..."
Tubuh gadis kecil itu langsung kaku.
Matanya membesar.
Boneka di tangannya hampir terjatuh.
Suara itu kembali terdengar.
Lebih dekat.
Lebih jelas.
"Almira..."
Air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Kemudian suara itu terdengar untuk ketiga kalinya.
Lembut.
Sedih.
Dan entah kenapa terasa sangat familiar.
"Temukan aku..."
Seketika seluruh lampu rumah padam.
Gelap.
Pekat.
Hanya suara hujan yang masih terdengar dari luar.
Almira berdiri sendirian di tengah kegelapan.
Dengan jantung berdebar kencang.
Tanpa mengetahui bahwa malam itu adalah awal dari sebuah kebenaran mengerikan yang selama ini tersembunyi.
Kebenaran tentang rumah tua itu.
Tentang ibunya yang tak kunjung pulang.
Tentang ayahnya yang hidup dalam ketakutan.
Dan tentang dirinya sendiri.
Karena jauh di bawah lantai rumah tersebut, sesuatu telah lama menunggu Almira untuk mengingat.
Dan sesuatu itu akhirnya mulai memanggil namanya.
Daftar bab
83 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








