
- Jumlah kata
- 58.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 14
Sinopsis
Seorang Ilmuan bernama jaka memilih Mati dan berpindah dunia setelah mengalami penghianatan yang merenggut segalanya, pacar, keluarga, bahkan karekternya dimatikkan. Nusa jagat sebuah dunia lain dengan sitem tabu yang mengatur dunia menjadi dunia ke dua dia untuk memulai dan balas dendam ke dunia lamanya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
DIHIANATI DUNIA
“Tidak! Itu penemuanku! Hasil pemikiranku! Kau mencuri semuanya dariku!”
teriak seorang pria di tengah konferensi pers pameran teknologi.
“Jaka, aku tahu kamu sedang frustrasi. Tapi jangan mengada ada seperti ini. Memalukan,” balas pria di depannya dengan nada dingin.
“Joko! Bajingan kau! Kau mencuri semua data risetku! Aku punya bukti kuat untuk menjebloskanmu ke penjara atas pencurian ini!”
Tiba tiba, beberapa petugas keamanan muncul, diiringi seorang pria paruh baya berwibawa. Sorotan lampu dan kamera media menyorot tajam ke arah mereka.
Jaka: “Pak, ini bukti yang Anda minta. Semua datanya ada di sini!”
Jaka menyerahkan berkas ke pria itu.
“Lihatlah, Joko. Riwayatmu selesai hari ini!”
Joko hanya tersenyum tenang, seakan tak tergoyahkan.
Jaka naik pitam melihat sikapnya.
“Pak! Apa lagi yang ditunggu? Segera tangkap orang tak tahu malu itu!” Namun pria paruh baya itu malah memberi isyarat kepada petugas untuk menangkap... Jaka.
“Pak?! Apa maksudnya ini?! Lepaskan saya! Dia yang seharusnya ditindak, bukan saya!”
Jaka melawan saat tangannya ditahan.
“Bukkk!” Sebuah pukulan telak menghantam perut Jaka.
“Arghh…”
Ia terjatuh dan meringis kesakitan.
Keributan itu langsung menyedot perhatian. Para wartawan dan undangan memusatkan perhatian ke Jaka. Lampu kamera menyala serentak.
“Kau membuat kekacauan di sini. Dan kau pikir kami akan percaya pada seseorang yang bahkan ijazahnya palsu?”
Jaka terpaku. “Palsu ndasmu! Ijazahku asli! Cek saja ke universitas!”
“Sudah kami cek. Namamu tidak terdaftar.”
Jaka menoleh ke Joko yang kini menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. Saat itu juga, Jaka sadar: ia telah dijebak.
“Bawa dia keluar. Jangan biarkan dia mengganggu acara lagi,” ucap si pria paruh baya. Jaka diseret keluar oleh dua pria berbadan kekar. Namun, ia terus memberontak.
“Silakan teruskan acara ini! Tapi ketahuilah… semua rancangan itu belum sempurna. Dan hanya aku yang tahu cara menyempurnakannya!”
Teriakannya terhenti ketika matanya menangkap sosok wanita yang masuk dari arah pintu keluar.
“Kinanti! Syukurlah kau di sini. Tolong… bantu aku buktikan siapa yang sebenarnya penipu!” Tapi wanita itu hanya menatapnya sebentar… lalu berjalan melewatinya tanpa berkata apa apa. Jaka terdiam, hatinya retak. Ia pasrah diseret keluar, lalu dilempar ke luar gedung seperti sampah.
Ia mencoba kembali masuk, namun lagi lagi dihajar. Tendangan dan pukulan menghujani tubuhnya hingga ia kehilangan kesadaran.
[Kilasan Kenangan]
“Jaka, sayang… Sayang… ih!” Suara manja membangunkannya. Seorang perempuan menggoyang goyangkan tubuhnya yang masih terlelap.
Perlahan matanya terbuka.
“Iya, Kinanti sayang. Ada apa?” Ia tersenyum.
“Jaka, aku akan selalu bersamamu. Sampai kapan pun,” bisik Kinanti.
“Haha, serius? Yakin nggak bakal ninggalin aku?”
Kinanti memeluknya erat. “Yakinlah. Kamu itu... orang yang paling aku sayang di dunia ini.”
“Kenalin nih, dia Joko. Mahasiswa baru pindahan dari Universitas S,” ujar Jaka kepada Kinanti.
“Kinanti,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Saya Joko.” Mereka berjabat tangan.
“Wah, wah… kelamaan tuh salaman. Udah, udah. Kinanti punyaku!” celetuk Jaka sambil tertawa.
“Oh, maaf, Jak,” ucap Joko malu.
“Hahaha, bercanda, Jok. Wajar pacarku cantik, pasti banyak yang suka. Tapi ingat, dia punyaku.”
Kinanti mencubit pinggang Jaka. “Awww, sakit, Sayang!”
“Malu maluin,” balas Kinanti, tersipu.
“Kinanti sayang… aku mau ngomong sesuatu.”
“Ngomong apa?” tanyanya datar.
“Kita nikah, yuk.”
Kinanti terdiam sejenak.
“Gimana? Mau, kan?”
“Yang… mikir dulu dong. Kita lagi gimana keadaannya? Aku masih sibuk tugas akhir. Kamu baru lulus dan belum kerja. Aku mau makan apa? Cinta?”
“Ih, kok jawabnya gitu…”
Jaka pun mulai menceritakan rencana besarnya tentang proyek yang ia yakin akan mengubah hidup mereka.
“Data penelitianku… hilang,” ucap Jaka dengan wajah pucat.
“Hilang gimana maksudnya?” tanya Joko.
“Semua file risetku lenyap. Nggak ada satu pun yang tersisa.”
“Jangan bercanda, Jak. Ini proyek penting!” seru Joko.
“Kamu nggak punya backup?” tanya salah satu rekan.
“Kinanti, cuma kamu yang aku percaya…”
Jaka menceritakan semuanya kepada Kinanti, termasuk kecurigaannya terhadap timnya sendiri.
[Kembali ke Saat Ini]
Tiba tiba, air hujan membasahi wajah Jaka. Ia terbangun. Langit sudah gelap. Gerimis yang semula turun perlahan kini berubah menjadi hujan lebat.
Tubuhnya tergeletak basah di pinggir jalan, di dekat tumpukan sampah.
Dengan tubuh yang masih nyeri, ia bangkit perlahan. Langkahnya terseok, tapi ia terus berjalan menuju rumah.
Sesampainya di rumah, ia mengeringkan badan, mengompres luka dengan es, lalu mengisi daya ponselnya yang mati. Ia berbaring di ranjang, menatap kosong ke langit langit.
Segala peristiwa hari itu berputar kembali dalam pikirannya. Pengkhianatan. Rasa sakit. Keterpurukan.
Perlahan, matanya menutup. Ia pun tertidur dalam sunyi.
Keesokan harinya,
Jaka menyalakan ponselnya. Hanya butuh beberapa detik sebelum ribuan notifikasi membanjiri layar: pesan pribadi, komentar di media sosial, notifikasi grup semuanya penuh hujatan, cacian, dan makian. Ia hanya bisa terpaku, bingung.
“Apa yang sebenarnya terjadi…?” gumamnya lirih.
Ia mematikan ponsel dan buru buru menyalakan laptop. Begitu membuka browser, ia langsung menemukan jawabannya.
Sebuah video tengah trending cuplikan dari konferensi pers kemarin.
Dalam video itu, seorang perempuan seorang peneliti bercerita di hadapan publik. Wajahnya penuh kesedihan, suaranya gemetar.
“Saya dipaksa oleh pasangan saya untuk mencuri data penelitian milik Joko, terkait proyek energi baru yang katanya bisa mengubah masa depan negeri ini.”
Ia menarik napas berat, menahan tangis.
“Kalau saya menolak... dia mengancam akan menyebarkan hal hal tidak senonoh tentang saya. Bahkan video yang... yang... saya sendiri tak tahu dia merekamnya...”
“Sialan!” bentak Jaka.
“Menciumnya pun aku tak pernah! Bagaimana aku bisa melecehkannya? Kenapa dia berbohong seperti itu?!”
Belum sempat emosinya reda, muncul video lain. Kali ini, rekaman saat ia diseret dan dibuang ke dekat tong sampah. Dalam video itu terdengar seseorang berkata:
“Sampah kayak lu, emang cocoknya di tong sampah!”
Jaka tak kuasa menahan rasa marah, kecewa, dan sedih yang membuncah di dadanya. Ia melempar laptopnya hingga terjatuh dan retak.
Dengan tangan gemetar, ia kembali membuka ponsel. Ia mencoba menghubungi Kinanti namun sia sia. Semua aksesnya telah diblokir. Tak ada jalan untuk menghubunginya.
Putus asa, Jaka membuat video klarifikasi dan mengunggahnya. Ia mencoba menjelaskan semuanya: siapa dia sebenarnya, kebenaran tentang penelitian itu, dan kebohongan yang menyudutkannya.
Videonya sempat viral. Ia bahkan diundang ke beberapa podcast dan acara televisi.
Namun, seperti biasa, di negeri ini sensasi lebih penting daripada kebenaran.
Alih alih dipercaya, ia terus dihujani pertanyaan menyudutkan.
Tuduhan demi tuduhan, olokan demi olokan, terus berdatangan. Sudah delapan bulan berlalu, tapi nama Jaka masih jadi bahan pergunjingan di dunia maya dan nyata.
Hari itu, Jaka melihat sebuah berita pernikahan yang membuatnya membeku.
“Pernikahan Peneliti Energi Nasional dengan Putra Menteri”
Dan di bawahnya terpampang jelas: pengantin pria adalah Joko, dan pengantin wanita... Kinanti.
Jaka hanya bisa menatap layar itu dengan mata basah.
“Pantas saja…” bisiknya, air mata jatuh di pipinya.
Tiba tiba, seseorang menggedor pintu apartemennya dengan kasar.
Tok! Tok! Tok! Tok!
Jaka membuka pintu perlahan.
“Ada apa, Pak? Kenapa gedor gedor?” tanyanya dengan suara lemah.
Seorang pria tua berdiri di sana, pemilik apartemen.
“Ini uangmu, dan segera angkat kaki dari sini! Saya tak peduli, cepat pergi!”
“Tapi kenapa, Pak?”
“Nggak usah banyak tanya! Kau pembawa sial. Orang orang sini resah karena kamu. Cepat bereskan barang barangmu dan keluar!”
Tak ada yang bisa Jaka lakukan. Ia hanya mengambil barang barangnya yang sedikit memang selama ini ia hidup minimalis, tak punya banyak harta. Ia melangkah di lorong apartemen, dan mendapati para penghuni keluar dari unit mereka, menatapnya sinis.
“Untung dia keluar. Jadi kita nggak perlu pindah,” celetuk salah satu dari mereka dengan nada meremehkan.
Jaka memutuskan pulang ke rumah orang tuanya di desa. Namun sambutan hangat yang ia harapkan tak pernah datang. Video klarifikasi dari kampus sudah lebih dulu menyebar: Jaka hanya kuliah satu semester lalu menghilang.
Orang tuanya kecewa. Harapan mereka hancur. Mereka telah menjual tanah dan berutang demi pendidikan Jaka yang ternyata dianggap pembohong besar.
Segala penjelasan tak mampu menembus dinding ketidakpercayaan mereka. Ia telah dicoret dari kartu keluarga. Dianggap mati.
Adik yang dulu menghormatinya, kini terang terangan menghina.
“Malu aku punya kakak kayak kamu,” katanya dingin.
Dengan pikiran kosong, Jaka berjalan ke luar rumah. Kakinya membawa ia menuju gunung di pinggir desa. Ia melewati rumah rumah tetangga yang menatap dengan jijik.
“Dasar nggak tahu diri. Anak petani sok sokan kuliah, ujung ujungnya nipu juga,” sindir seseorang.
Jaka hanya diam. Kepalanya penuh bisikan:
“Mati saja... mati saja... mati saja...”
Ia terus berjalan. Sampai akhirnya, ia berdiri di tepi tebing curam.
Angin menerpa wajahnya. Langit mulai berubah, berwarna merah tembaga. Dari kejauhan, tampak cahaya putih terang perlahan mengarah padanya.
Jaka menatap langit. Air matanya mengalir.
“Gara gara aku... semua ini terjadi. Maaf, Ibu. Maaf, Bapak. Maaf, Dek... Aku pamit.”
Daftar bab
50 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








