
ALKEMIS TERHEBAT TELAH LAHIR
rizxia|Bersambung
- Jumlah kata
- 246.9K
- Popular
- 102
- Subscribe
- 18
- Jumlah kata
- 246.9K
- Popular
- 102
- Subscribe
- 18
Sinopsis
Di Bumi, Wahyu Adiwijaya adalah seorang mahasiswa jenius di bidang kimia yang terobsesi meneliti rahasia kehidupan. Suatu malam, sebuah ledakan misterius di laboratorium membuatnya kehilangan nyawa. Namun kematian bukanlah akhir. Ketika membuka mata, Wahyu mendapati dirinya telah bereinkarnasi ke dunia kultivasi yang dipenuhi para pendekar, binatang roh, pil ajaib, dan sekte-sekte besar. Ia terlahir kembali dalam tubuh seorang pemuda yang memiliki nama sama, tetapi dikenal sebagai sampah keluarga karena bakat kultivasinya yang nyaris tidak ada. Di saat semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah warisan kuno terbangun di dalam jiwanya—Kitab Alkemi Abadi, peninggalan Alkemis Agung yang telah menghilang puluhan ribu tahun lalu. Dengan menggabungkan ilmu kimia modern dari kehidupan sebelumnya dan teknik alkemi dunia kultivasi, Wahyu mulai menciptakan pil-pil yang bahkan tidak mampu dibuat para Grandmaster. Namun ia memilih menyembunyikan seluruh kemampuannya. Di depan orang lain, ia hanyalah pemuda biasa yang sering mengalah dan tampak lemah. Di balik layar, ia perlahan membangun kekuatan, mengumpulkan sekutu, menciptakan pasukan, serta mengendalikan jalannya dunia dari balik bayangan. Semakin tinggi ia melangkah, semakin banyak rahasia dunia yang terbuka. Ternyata perpindahannya ke dunia ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari rencana besar yang telah disusun sejak ribuan tahun lalu.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 - Takdir Kedua
Hujan mengguyur Kota Jakarta sejak sore.
Di sebuah gedung penelitian yang berdiri di kawasan industri, sebagian besar ruangan sudah gelap. Namun di lantai paling atas, sebuah laboratorium masih dipenuhi cahaya lampu.
Seorang pemuda berusia dua puluh tujuh tahun berdiri di depan meja penelitian.
Namanya Wahyu Adiwijaya.
Rambutnya sedikit berantakan, kemeja putih yang dikenakannya sudah penuh noda, dan sepasang matanya terlihat lelah. Namun tatapannya tetap tajam ketika memperhatikan cairan berwarna keemasan di dalam tabung kaca.
"Kalau teori ini benar..."
Wahyu memperbesar tampilan data pada layar komputer.
"Berarti energi yang dihasilkan bukan sekadar reaksi kimia."
Jarinya bergerak cepat mengetik beberapa persamaan.
Sejak kecil, Wahyu memiliki rasa ingin tahu yang sulit dipuaskan. Ia tidak pernah puas menerima sesuatu hanya karena orang lain mengatakan bahwa hal tersebut mustahil.
Baginya, kata mustahil hanyalah nama lain dari sesuatu yang belum dipahami.
Malam itu, ia sedang menguji sebuah metode penyimpanan energi baru.
Penelitian tersebut telah menghabiskan waktu bertahun-tahun.
Berkali-kali gagal.
Berkali-kali pula Wahyu mengulanginya.
Namun malam ini berbeda.
Angka pada layar mulai berubah.
Energi meningkat.
Wahyu menahan napas.
"Berhasil?"
Ia mendekat ke tabung kaca.
Cairan keemasan di dalamnya perlahan berputar.
Awalnya hanya seperti pusaran kecil.
Kemudian semakin cepat.
Wajah Wahyu berubah serius.
"Kenapa energinya terus naik?"
Alarm berbunyi.
BEEP! BEEP! BEEP!
Lampu laboratorium berubah merah.
Sistem keamanan otomatis aktif.
«Peringatan. Stabilitas energi mencapai batas kritis.»
Wahyu segera berdiri.
"Matikan reaktor!"
Ia menekan tombol penghentian.
Tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa tidak merespons?"
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak berhasil.
Retakan tipis muncul pada tabung kaca.
Wahyu mundur selangkah.
"Jangan..."
KRAK!
Retakan itu semakin panjang.
Cahaya keemasan menyembur dari dalam tabung.
Anehnya, di tengah cahaya tersebut, Wahyu melihat sesuatu yang tidak mungkin ada di sana.
Sebuah kitab tua.
Kitab itu melayang di udara, terbungkus cahaya keemasan.
Wahyu terpaku.
"Kitab?"
Sampulnya tampak terbuat dari bahan yang tidak dikenalnya. Di atasnya terdapat simbol seperti nyala api yang dikelilingi lingkaran.
Kemudian sesuatu yang lebih aneh terjadi.
Kitab itu perlahan terbuka.
Halaman pertamanya kosong.
Namun beberapa detik kemudian, muncul tulisan bercahaya.
PEWARIS TELAH DITEMUKAN.
Jantung Wahyu berdetak keras.
"Apa-apaan ini?"
Tiba-tiba seluruh laboratorium bergetar hebat.
BOOOM!
Ledakan dahsyat menghancurkan ruangan.
Tubuh Wahyu terlempar.
Suara alarm menghilang.
Suara hujan menghilang.
Bahkan rasa sakit pun perlahan menghilang.
Sebelum kesadarannya benar-benar lenyap, Wahyu melihat kitab itu terbang ke arahnya.
Cahaya emas menyelimuti tubuhnya.
Lalu sebuah suara asing terdengar di dalam pikirannya.
«"Perjalananmu baru saja dimulai."»
Semuanya menjadi gelap.
Namun Wahyu tidak tahu...
Kematian yang seharusnya menjadi akhir hidupnya ternyata hanyalah awal dari takdir yang jauh lebih besar.
Karena ketika ia membuka mata kembali nanti, ia tidak akan lagi berada di Bumi.
Ia akan terbangun di sebuah dunia tempat manusia mampu mengendalikan energi, binatang dapat berubah menjadi monster mengerikan, dan para kultivator mengejar satu tujuan:
keabadian.
Kesadaran Wahyu perlahan kembali.
Hal pertama yang ia rasakan adalah dingin.
Bukan dingin dari pendingin ruangan laboratorium, melainkan hawa alami yang menyentuh kulitnya. Ada aroma tanah basah, kayu, dan dedaunan memenuhi udara.
Wahyu mengerutkan kening.
Di mana aku?
Ia mencoba menggerakkan tangan.
Berhasil.
Kemudian kakinya.
Berhasil juga.
Akan tetapi, tubuhnya terasa sangat lemah.
Perlahan ia membuka mata.
Yang terlihat bukanlah langit-langit laboratorium.
Melainkan atap rumah kayu.
Wahyu terdiam.
Ia berkedip beberapa kali.
Atap itu tetap ada.
Dinding rumah terbuat dari papan kayu. Sebuah jendela kecil berada di sisi kanan ruangan. Dari luar terdengar suara burung dan gemericik air.
"Ini..."
Wahyu mencoba bangun.
"Kakak!"
Suara seorang gadis terdengar dari samping.
Sebuah tangan segera menahan bahunya.
"Jangan bangun dulu!"
Wahyu menoleh.
Seorang gadis sekitar enam belas tahun duduk di samping tempat tidurnya. Rambut hitam panjangnya diikat sederhana. Matanya terlihat sembap seperti baru saja menangis.
Wahyu menatapnya beberapa detik.
Ia tidak mengenal gadis itu.
"Siapa kamu?"
Gadis itu membeku.
"Kak Wahyu?"
Wahyu semakin bingung.
"Namaku memang Wahyu, tetapi..."
Kalimatnya terhenti.
Tiba-tiba kepalanya terasa seperti dihantam palu.
"Ah!"
Ia memegangi kepala.
Gadis itu panik.
"Kakak!"
Seketika berbagai gambaran muncul dalam pikirannya.
Seorang anak laki-laki berlari di halaman rumah.
Seorang pria paruh baya sedang mengajarinya memegang pedang kayu.
Seorang wanita tersenyum sambil memberikan semangkuk sup.
Kemudian gambar itu berubah.
Pegunungan.
Hutan.
Darah.
Sebuah rumah yang sepi.
Dan dua makam di bawah pohon besar.
Wahyu menggertakkan gigi.
Ingatan yang bukan miliknya terus berdatangan.
Nama pria itu Bram Adiwijaya.
Wanita itu Larasati.
Mereka adalah orang tua dari pemilik tubuh ini.
Keduanya telah meninggal ketika anak mereka masih kecil setelah pergi dalam sebuah ekspedisi ke Pegunungan Aruna.
Ingatan lain muncul.
Keluarga Adiwijaya.
Kota Batu Hijau.
Energi Roh.
Kultivator.
Binatang Roh.
Pil Roh.
Alkemis.
Semuanya bercampur menjadi satu.
Wahyu terdiam lama.
Gadis di sampingnya menatap dengan cemas.
"Kakak..."
Wahyu perlahan menatap kedua tangannya.
Ini bukan tangan yang sama.
Lebih muda.
Lebih kurus.
Ia menyentuh wajahnya sendiri.
Tubuh ini juga bukan tubuhnya.
"Berapa umurku?"
Gadis itu tampak bingung.
"Delapan belas tahun."
Wahyu menarik napas dalam.
"Delapan belas..."
Ia mencoba mengingat kejadian terakhir di laboratorium.
Ledakan.
Kitab.
Cahaya emas.
Kemudian semuanya gelap.
Wahyu menatap gadis di depannya.
"Siapa namamu?"
Gadis itu semakin khawatir.
"Ini aku, Sekar."
"Adikmu."
Wahyu terdiam.
Adik?
Beberapa ingatan kembali muncul.
Sekar memang tumbuh bersamanya sejak kecil. Bukan saudara kandung, tetapi bagi pemilik tubuh ini, gadis tersebut sudah dianggap seperti adik sendiri.
Wahyu mengangguk perlahan.
"Maaf. Kepalaku masih sedikit kacau."
Sekar menghela napas lega.
"Syukurlah..."
Namun sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari luar.
Seseorang membuka pintu.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun masuk sambil membawa mangkuk obat.
Wajahnya langsung berubah ketika melihat Wahyu sudah duduk.
"Wahyu?"
"Surya..."
Nama itu muncul begitu saja dari ingatan pemilik tubuh.
Surya Adiwijaya.
Paman sekaligus orang yang selama ini merawat tubuh asli Wahyu.
Surya mendekat dan memeriksa kondisi tubuhnya.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Masih lemah."
Surya mengangguk.
"Itu wajar. Tubuhmu mengalami luka yang cukup parah."
Wahyu menatapnya.
"Luka?"
Ekspresi Surya berubah muram.
"Arga."
Satu nama.
Namun begitu nama itu disebut, ingatan lain langsung muncul.
Seorang pemuda berdiri di halaman keluarga.
Pukulan.
Tendangan.
Tawa orang-orang.
Wahyu muda terjatuh dengan darah mengalir dari sudut bibirnya.
Arga Adiwijaya.
Sepupu yang jauh lebih kuat dan selalu merendahkan dirinya.
Wahyu mengepalkan tangan.
Namun kali ini bukan kemarahan yang muncul.
Melainkan ketenangan.
Ia bukan Wahyu yang lama.
Ia memiliki kesempatan kedua.
Tetapi sebelum memikirkan Arga, ada sesuatu yang jauh lebih penting.
Dunia ini.
Energi Roh.
Kultivasi.
Dan...
Kitab misterius yang ia lihat sebelum kematiannya.
Wahyu memejamkan mata.
Ia mencoba berkonsentrasi.
Dalam kegelapan kesadarannya, sesuatu perlahan muncul.
Sebuah cahaya keemasan.
Wahyu membeku.
Kitab itu masih ada.
Namun sebelum ia sempat menyentuhnya, suara misterius kembali terdengar.
«"Pewarisan dimulai."»
Mata Wahyu terbuka.
Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia baru, senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia mulai menyadari bahwa ledakan di laboratorium bukanlah kecelakaan biasa.
Dan jika kitab itu benar-benar memilihnya...
Maka kehidupan keduanya mungkin memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar bertahan hidup.
Wahyu kembali memejamkan mata.
Suara Surya dan Sekar perlahan menghilang dari pendengarannya. Kesadarannya tenggelam ke dalam ruang gelap yang tidak memiliki batas.
Di hadapannya melayang sebuah kitab berwarna hitam keemasan.
Kitab yang sama.
Kitab yang ia lihat sesaat sebelum laboratorium meledak.
Wahyu berjalan mendekat.
"Apa sebenarnya dirimu?"
Tidak ada jawaban.
Ia mengulurkan tangan.
Saat ujung jarinya menyentuh sampul kitab, cahaya keemasan meledak.
WUSSS!
Ribuan simbol muncul di udara.
Wahyu mundur setengah langkah.
Kemudian halaman pertama terbuka.
Tulisan perlahan muncul.
«KITAB ALKEMI ABADI»
Di bawahnya terdapat kalimat lain.
«"Alkemi bukan sekadar menciptakan pil. Alkemi adalah seni memahami perubahan."»
Wahyu membaca kalimat tersebut dengan serius.
Sebagai seorang ilmuwan, ia langsung tertarik.
"Memahami perubahan..."
Ia membalik halaman.
Muncul gambar tanaman, akar, bunga, batu, mineral, dan berbagai makhluk yang belum pernah ia lihat.
Di samping masing-masing gambar terdapat informasi mengenai sifat, kandungan energi, tingkat kemurnian, dan kemungkinan reaksi.
Mata Wahyu membesar.
"Ini..."
Ia hampir tidak percaya.
Informasinya jauh lebih lengkap daripada ensiklopedia apa pun yang pernah ia lihat di Bumi.
Namun kitab tersebut belum selesai menunjukkan isinya.
Sebuah pesan muncul.
«Pewarisan tahap pertama dimulai.»
«Syarat: Pemilik harus membuka Pusat Roh.»
Wahyu mengerutkan kening.
"Pusat Roh?"
Seketika informasi tentang dunia ini muncul dalam pikirannya.
Setiap manusia memiliki Pusat Roh.
Tempat Energi Roh dikumpulkan dan dikendalikan.
Namun tubuh yang ditempatinya memiliki masalah.
Jalur Rohnya rusak.
Itulah alasan pemilik tubuh asli dianggap tidak berbakat.
Wahyu duduk bersila.
"Kalau begitu, aku harus memperbaikinya."
Ia mulai mengikuti metode yang tertulis dalam kitab.
Tarik napas.
Tahan.
Alirkan energi.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Wahyu merasakan sesuatu yang hangat memasuki tubuhnya.
Energi Roh.
Ia hampir tersenyum.
Jadi seperti ini rasanya.
Namun baru beberapa saat berjalan, rasa sakit muncul.
Energi tersebut bertabrakan dengan Jalur Roh yang rusak.
Wahyu menggertakkan gigi.
Keringat mulai membasahi dahinya.
"Jadi ini masalahnya."
Ia tidak menghentikan proses.
Sebaliknya, ia mulai menganalisis.
Energi mengalir terlalu cepat pada satu titik.
Kemudian tersendat.
Ada bagian yang sempit.
Ada bagian yang bahkan hampir tertutup.
Wahyu menggunakan pengetahuan ilmiahnya untuk mengamati pola tersebut.
Kalau alirannya seperti ini... aku tidak boleh memaksanya.
Ia memperlambat pernapasan.
Sedikit demi sedikit.
Energi Roh kembali bergerak.
Rasa sakit mulai berkurang.
Kemudian...
Krek!
Sebuah suara kecil terdengar dari dalam tubuhnya.
Jalur Roh yang tersumbat mulai terbuka.
Wahyu membuka mata.
Cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya selama beberapa detik.
Di dalam ruang kesadaran, halaman kitab kembali bergerak.
«Jalur Roh telah diperbaiki sebesar 1%.»
Wahyu terdiam.
"Hanya satu persen?"
Namun setelah melihat informasi berikutnya, matanya justru berbinar.
«Catatan: Perbaikan dapat dilakukan secara bertahap.»
Wahyu tersenyum.
Satu persen memang kecil.
Tetapi ia tidak membutuhkan keajaiban.
Ia membutuhkan kesempatan.
Dan sekarang ia memilikinya.
Ketika kesadarannya kembali ke tubuh, malam telah semakin larut.
Sekar tertidur di kursi dekat tempat tidur.
Surya sudah meninggalkan ruangan.
Wahyu memandang ke luar jendela.
Di kejauhan terlihat pegunungan yang diterangi cahaya bulan.
Dunia baru.
Kehidupan baru.
Kekuatan baru.
Namun ia tahu satu hal.
Ia tidak boleh terburu-buru.
Tubuh ini lemah.
Kultivasinya rendah.
Dan keluarga Adiwijaya masih menganggapnya sebagai sampah.
Wahyu menarik napas.
"Kalau begitu..."
Tatapannya berubah tajam.
"Aku akan mulai dari bawah."
Ia mengepalkan tangan.
"Aku akan mempelajari dunia ini."
"Aku akan memperbaiki tubuh ini."
"Dan suatu hari nanti..."
Wahyu menatap cahaya bulan.
"...aku akan menemukan alasan mengapa kitab itu memilihku."
Namun di luar rumah, jauh di balik pepohonan, sebuah bayangan berdiri diam.
Sepasang mata mengawasi rumah keluarga Adiwijaya.
Bayangan itu kemudian berbalik.
"Dia sudah sadar."
Suara rendah terdengar.
"Berarti rencana kita harus dipercepat."
Bayangan tersebut menghilang ke dalam kegelapan.
Sementara itu, Wahyu sama sekali tidak menyadari bahwa kebangkitannya telah menarik perhatian seseorang.
Seseorang yang mengetahui rahasia tentang kematian kedua orang tua tubuh ini.
Dan sejak malam itu...
takdir Wahyu Adiwijaya mulai bergerak.
Daftar bab
165 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
165 bab








