

Tes.
Tes.
Sebuah tetesan air jatuh tepat di kelopak mata kiri Arga Mahardika, memaksa matanya mengerjap kaget sebelum benar-benar terbangun. Dengan malas, ia menyeka wajahnya menggunakan lengan kaus partai yang lehernya sudah melar parah. Matanya mendongak, menatap langit-langit kamar kalau tempat ini masih layak disebut begitu.
Bercak coklat besar menghiasi plafon triplek yang menggelembung mirip perut orang bengkak. Dari tengah bercak itu, air menetes dengan ritme teratur. Seolah-olah jam dinding alam sedang sengaja mengejek nasibnya.
Arga menghela napas, lalu bangkit duduk. Ia menggeser ember plastik bekas cat yang semalam sengaja diletakkan tepat di bawah titik bocor, lalu merebahkan badannya lagi ke atas kasur tipis yang lebih mirip alas yoga.
Kamar kosnya cuma berukuran dua kali tiga meter. Hanya cukup untuk satu kasur, satu lemari plastik, dan tumpukan mimpi-mimpinya yang tak pernah sempat dirapikan. Bau lembap bercampur aroma cat tembok yang mengelupas sudah jadi wewangian khas yang akrab di hidungnya selama tiga tahun terakhir.
Ironisnya, kalau ada satu hal yang paling dikuasai Arga di dnia ini, itu adalah cara membetulkan atap bocor.
Ia bisa menambal genteng pecah cuma bermodal semen instan dan potongan seng bekas. Ia bisa bikin atap yang tadinya bocor parah jadi kering total dalam waktu kurang dari dua jam. Tapi untuk kamarnya sendiri? Mana ada uang untuk beli bahan, apalagi bayar upah untuk dirinya sendiri.
Tukang yang jago menambal rumah orang, tapi rumhnya sendiri dibiarkan berkarat pelan-pelan. Kalau ini lelucon, Arga sudah tertawa getir setiap kali hujan turun di malam hari.
Ia meraih dompet lusuhnya dari atas lemari plastik. Membukanya pelan-pelan dan ekstra hati-hati bukan karena sayang, tapi karena resletingnya sudah setengah copot. Di dalamnya cuma tersisa tiga lembar uang dua puluh ribuan dan recehan lima ratusan yang menumpuk di sudut dompet layaknya debu yang menolak disapu.
Enam puluh lima ribu rupiah, plus recehan. Itulah seluruh keayaan cair seorang Arga Mahardika pagi ini.
"Buat makan tiga hari kalau hemat," gumamnya pelan sambil menghitung ulang, seolah dengan menghitungnya dua kali uang itu bisa beranak-pinak.
Arga bangkit dan merenggangkan tubuhnya yang kurus kering sampai tulang punggungnya berbunyi krek. Bayangannya di cermin retak yang bersndar di dinding menampilkan sosok cowok kering kerontang dengan tulang selangka menonjol dan punggung agak membungkuk. hasil bertahun-tahun memanggul semen dan tangga lipat sendirian.
Tapi jangan salah. Di balik tubuh yang kelihatannya gampang roboh itu, tersimpan tenaga yang jauh melampaui ukurannya. Ia pernah bikin dua tukang bangunan lain melongo heran waktu dengan santainya mengangkat dua sak semen sekaligus ke pundak, padahal badannya cuma setipis tiang jemuran berjalan.
"Tenaga kuli sejati itu bukan soal otot kelihatan," katanya duu ke seorang mandor proyek yang sempat meremehkannya. "Tapi soal berapa kali kamu terpaksa angkat beban berat biar bisa makan besok."
Drt...drt...
Ponselnya yang layarnya sudah retak membentuk pola sarang laba-laba di pojok kiri atas, bergetar di atas lemari. Arga bergegas mengambilnya, hampir saja menjauhkannya karena tangannya masih basah bekas cuci muka seadanya dari galon air.
"Halo, dengan jasa panggilan, betul?" suara di ujung telepon terdengar tegas. Khas tipe orang yang biasa menyuruh-nyuruh.
"Iya, Bu, btul. Ada yang bisa dibantu?"
"Keran dapur saya bocor dari semalam, airnya netes terus nggak berhenti. Bisa langsung ke sini sekarang?"
Arga melirik jam dinding kosnya yang baterainya sudah lemah. Jarumnya bergerak agak tersendat-sendat, seolah ikut merasakan nasib pemilik kamar. Jam setengah tujuh pagi. Panggilan pertama hari ini, dan itu artinya rezeki pertama juga meski ia sudah punya firasat tentang jenis "rezeki" macam apa yang bakal ia dapat.
"Siap, Bu, dituggu ya. Saya ke sana."
Ia menyambar tas pinggang tua miliknya yang tergantung di paku dinding, benda paling berharga dalam hidupnya selain nyawa itu sendiri. Resletingnya sudah rusak sejak dua bulan lalu, jadi Arga mengikatnya pakai karet gelang supaya isinya tidak berjatuhan tang, obeng plus minus, gulungan isolasi hitam yang sudah menipis, dan beberapa mur baut cadangan yang ia pulung dari sisa-sisa proyek sebelumnya.
Ia menyampirkan tas itu ke pinggang, mengambil kaus kedua yang agak lebih layak. meski tetap saja kaus prmosi produk kopi instan gratisan tiga tahun lalu, lalu bergegas keluar.
Gang tempat kosnya berada masih basah sisa hujan semalam. Genangan air di sana sini memantulkan langit pagi yang mendung, seolah menolak untuk benar-benar terang. Arga melangkah cepat, secara refleks menghindari lubang-lubang yang sudah ia hafal di luar kepala, hafalan yang rasanya jauh lebih berguna daripada rumus matematika yang pernah ia pelajari di sekolah dulu.
Rumah ibu yang menelepon tadi ternyata cuma berjarak sepuluh menit jalan kaki, terletak di kopleks yang sedikit lebih rapi dari gang kosnya. Arga disambut oleh seorang ibu paruh baya berdaster motif bunga, yang berdiri bersedekap dengan wajah sudah menyiratkan komplain sejak awal.
"Ini lho, Mas, keran wastafel dapur. Udah rusak dari kemarin, saya nggak bisa masak-masak."
Arga mengngguk penurut. Ia berlutut di depan wastafel, lalu mengeluarkan tang dari tas pinggangnya.
Lima belas menit kemudian, keran itu sudah tidak lagi menetes. Sederhana banget buat Arga, cuma masalah karet seal yang mengeras dan butuh diganti baru. Kebetulan ia selalu membawa cadangannya.
"Sudah, Bu. Nggak bocor lagi."
Ibu itu memeriksa hasil kerja Arga dengan menyalakan dan mematikan keran berkali-kali, seolah ragu kenapa bisa secepat itu selesai. "Wah, cepet juga ya, Mas. Makasih banyak."
"Sama-sama, Bu. Kalu begitu, untuk jasanya..."
"Oh iya, sebentar." Ibu itu bergegas ke dapur.
Arga sudah bisa menebak apa yang bakal terjadi selanjtnya karena ini bukan kali pertama. Benar saja, wanita itu kembali membawa bungkusan plastik hitam yang mengeluarkan aroma nasi goreng yang mulai dingin.
"Ini buat sarapan Mas ya, lumayan buat ganjel perut. Maaf ya kalau bayarannya belum bisa full, uang saya lagi ketat bulan ini, gajian suami juga belum cair."
Arga tersenyum kikuk sambil menerima bungksan itu dengan kedua tangan. "Nggak apa-apa, Bu, santai aja."
Padahal di dalam hati, Arga sudah mengira bahwa hari ini ia mendapatkan uang dan yang ia dapatkan hanya sebungkus nasi goreng dingin seharga mungkin sepuluh ribu rupiah. Tapi seperti biasa, mulutnya tidak pernah sanggup menagih lebih jauh. Rasa sungkan sudah mendarah daging. Seolah menagih haknya sendiri adalah dosa besar yang bakal bikin dia dicap tukang matre oleh tetangga sekompleks.
"Yang penting halal," bisiknya dalam hati. Kalimat sakti yang selalu ia ulang setiap kali dompetnya menipis, tapi harga dirinya menolak untuk marah.
Arga berjalan pulang sambil menjinjing bungksan nasi goreng. Ia melewati gang-gang sempit yang mulai ramai oleh aktivitas pagi ibu-ibu menjemur pakaian, anak sekolah berlarian, hingga tukang sayur keliling yang berteriak menawarkan dagangan. Dunia berjalan seperti biasa, seolah tidak peduli bahwa ada seorang tukang panggilan kurus kering yang baru saja menyelesaikan pekerjaan tanpa dibayar layak.