
SISTEM LEGENDARIS DAN DEWI PENJAGAKU
vallan miracle|Bersambung
- Jumlah kata
- 99.9K
- Popular
- 212
- Subscribe
- 39
- Jumlah kata
- 99.9K
- Popular
- 212
- Subscribe
- 39
Sinopsis
SinopsisVallan Ardeon hanyalah pemburu Rank F yang selalu diremehkan. Setelah dikhianati oleh timnya dan terjatuh ke dalam reruntuhan kuno di bawah dungeon, ia menemukan Altar Para Dewa dan membangkitkan Sistem Legendaris, kekuatan yang telah hilang selama ribuan tahun. Bersama Luna, Dewi Cahaya yang menjadi penjaga pertamanya, Vallan memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat dan mengungkap rahasia dunia. Namun setiap kekuatan baru yang ia peroleh akan membangkitkan Dewi Penjaga lainnya serta mendekatkannya pada takdir sebagai pewaris Raja Bayangan. Di tengah perang monster, dewa, dan kehancuran dunia, Vallan harus memilih jalan yang akan menentukan nasib seluruh umat manusia.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: Vallan hidup sebagai Pemburu Lemah
Matahari pagi baru saja muncul di balik tembok raksasa Kota Arkania ketika Vallan Ardeon membuka matanya. Langit berwarna jingga terang terlihat dari jendela kecil kamar sewaannya yang sempit. Ruangan itu bahkan tidak lebih besar dari gudang penyimpanan biasa. Sebuah kasur tipis tergeletak di sudut ruangan, sementara meja kayu tua berdiri miring karena salah satu kakinya telah retak sejak lama.
Vallan menghela napas panjang sebelum bangkit dari tempat tidurnya.
Hari baru.
Masalah yang sama.
Ia mengambil dompet lusuh yang berada di atas meja lalu menghitung uang yang tersisa.
Tidak banyak.
Bahkan tidak cukup untuk membayar sewa kamar bulan depan.
"Kalau hari ini gagal lagi, pemilik penginapan pasti mengusirku."
Ia tertawa kecil meskipun tidak ada yang lucu.
Sebagai seorang pemburu, hidupnya jauh dari kata nyaman.
Setelah dunia berubah dua puluh tahun lalu dan Gerbang Kegelapan mulai bermunculan di berbagai wilayah, manusia yang mampu menggunakan mana disebut sebagai Pemburu.
Mereka menjadi harapan umat manusia.
Pahlawan yang melawan monster dari dunia lain.
Mereka yang kuat dihormati.
Mereka yang berbakat dipuja.
Mereka yang berada di puncak mendapatkan kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan.
Namun semua itu tidak berlaku bagi Vallan.
Karena ia hanyalah seorang Pemburu Rank F.
Rank terendah.
Rank yang bahkan sering dianggap tidak layak disebut pemburu.
Banyak orang beranggapan bahwa lebih baik menjadi pekerja biasa dibanding menjadi pemburu Rank F.
Setidaknya pekerjaan biasa tidak mengancam nyawa setiap hari.
Setelah mengenakan pakaian tempur sederhananya, Vallan meninggalkan kamar sewaan.
Jalanan kota mulai ramai.
Pedagang membuka toko.
Anak-anak berangkat ke sekolah.
Kendaraan berlalu lalang seperti biasa.
Di kejauhan berdiri menara guild para pemburu yang menjulang tinggi hingga menusuk langit.
Bangunan megah itu terlihat seperti simbol perbedaan antara orang kuat dan orang lemah.
Vallan berjalan menuju pusat kota.
Di sana terdapat papan informasi pekerjaan bagi pemburu lepas.
Biasanya pekerjaan yang tersisa hanyalah pekerjaan berbahaya yang ditolak oleh pemburu lain.
Dan benar saja.
Saat ia tiba, sebagian besar misi sudah diambil.
Yang tersisa hanyalah tugas membasmi monster kecil di pinggiran kota serta patroli wilayah berbahaya dengan bayaran rendah.
"Aku ambil yang ini."
Vallan menyerahkan kartu identitas pemburunya kepada petugas.
Petugas wanita itu membaca data di kartu lalu mengangkat alis.
"Rank F lagi?"
Vallan tersenyum canggung.
"Ya."
Wanita itu menghela napas.
"Semoga berhasil."
Kalimat itu terdengar lebih seperti rasa kasihan daripada dukungan.
Beberapa pemburu yang berdiri di dekat sana bahkan tertawa kecil.
"Masih hidup ternyata."
"Aku kira dia sudah mati dimakan goblin."
"Kalau aku jadi dia, lebih baik berhenti menjadi pemburu."
Vallan mendengar semuanya.
Namun ia memilih diam.
Sudah bertahun-tahun dirinya menerima perlakuan seperti itu.
Membalas hanya akan membuat keadaan semakin buruk.
Setelah menerima dokumen misi, Vallan menuju gerbang timur kota.
Targetnya adalah kelompok Goblin yang sering mengganggu para pedagang.
Perjalanan memakan waktu hampir satu jam.
Ketika tiba di hutan kecil dekat jalan perdagangan, Vallan segera menemukan jejak monster.
Bekas kaki kecil.
Ranting patah.
Dan sisa makanan yang berceceran.
Ia menarik belati pendek miliknya.
Senjata murah yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun.
Tidak lama kemudian suara aneh terdengar dari balik semak.
"Kiiiik!"
Seekor Goblin melompat keluar.
Tubuhnya kecil.
Kulitnya hijau.
Mata kuningnya dipenuhi niat membunuh.
Goblin itu langsung menyerang.
Vallan bergerak cepat.
Meskipun lemah dibanding pemburu lain, pengalaman bertarungnya cukup banyak.
Ia memiringkan tubuh lalu menusukkan belati ke leher monster itu.
CRASSH!
Goblin roboh ke tanah.
Namun sebelum sempat bernapas lega, tiga Goblin lainnya muncul dari balik pepohonan.
"Sial."
Vallan menggertakkan gigi.
Pertarungan kembali terjadi.
Belati bertemu cakar.
Tubuhnya beberapa kali hampir terkena serangan.
Satu kesalahan saja bisa berakibat fatal.
Lima menit kemudian seluruh Goblin berhasil dikalahkan.
Vallan terengah-engah.
Lengannya terluka.
Pakaiannya robek.
Namun ia masih hidup.
Ia mengambil inti monster dari tubuh Goblin yang mati lalu memasukkannya ke dalam tas.
Inilah alasan utama para pemburu memburu monster.
Inti monster dapat dijual dengan harga cukup tinggi.
Sayangnya inti dari Goblin hanya bernilai kecil.
Hasil kerja keras setengah hari bahkan tidak cukup untuk membeli perlengkapan baru.
Saat kembali ke kota menjelang sore, Vallan langsung menuju tempat penjualan inti monster.
Pemilik toko memeriksa hasil buruannya.
"Hanya empat?"
Vallan mengangguk.
Pria tua itu meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
"Ini harga terbaik yang bisa kuberikan."
Vallan melihat jumlah uang tersebut lalu tersenyum pahit.
Bayarannya jauh lebih kecil dari yang ia harapkan.
Tetapi ia tidak punya pilihan.
Setelah menjual hasil buruan, Vallan berjalan menuju sebuah warung sederhana.
Ia memesan makanan paling murah yang tersedia.
Sup sayur dan roti keras.
Ketika sedang makan, suara sorakan terdengar dari luar.
Vallan menoleh.
Kerumunan besar sedang berkumpul di depan layar raksasa yang dipasang di pusat kota.
Di layar itu terlihat seorang pemburu Rank S sedang bertarung melawan monster besar.
Setiap serangan menghasilkan ledakan yang mampu menghancurkan bangunan.
Orang-orang bersorak kagum.
"Itu pahlawan sejati."
"Kalau saja aku punya kekuatan seperti itu."
"Dia menghasilkan uang miliaran hanya dari satu dungeon."
Vallan memandang layar tersebut cukup lama.
Ada rasa iri yang muncul di dalam dirinya.
Namun lebih banyak rasa penasaran.
Mengapa perbedaan antara Rank S dan Rank F bisa sebesar itu?
Mereka sama-sama manusia.
Sama-sama pemburu.
Tetapi kehidupan mereka seperti langit dan bumi.
Ia menundukkan kepala lalu melanjutkan makan.
Mimpi tidak akan membayar tagihan.
Saat matahari mulai tenggelam, Vallan kembali ke penginapan.
Namun langkahnya terhenti ketika seseorang memanggil namanya.
"Vallan."
Ia menoleh.
Seorang pria bertubuh besar berdiri di belakangnya.
Brakk.
Pemimpin tim pemburu kecil yang sesekali memberinya pekerjaan.
"Kau terlihat masih hidup."
Vallan mengangkat bahu.
"Seperti yang kau lihat."
Brakk tertawa.
"Lumayan."
Pria itu kemudian menyerahkan sebuah kertas.
"Ada misi besok."
Vallan membaca dokumen tersebut.
Dungeon baru.
Tingkat kesulitan menengah.
Hadiah cukup besar.
Mata Vallan langsung membesar.
"Serius?"
Brakk mengangguk.
"Kami kekurangan anggota."
Vallan tahu maksud sebenarnya.
Bukan karena mereka membutuhkan kemampuannya.
Mereka hanya membutuhkan seseorang untuk membawa barang dan melakukan pekerjaan kasar.
Tetapi tetap saja.
Bayaran misi itu jauh lebih besar dibanding pekerjaan yang ia lakukan hari ini.
"Aku ikut."
Brakk tersenyum tipis.
"Datang pagi-pagi."
Setelah mengatakan itu, pria tersebut pergi.
Vallan memandangi dokumen misi di tangannya.
Entah kenapa ada perasaan aneh yang muncul.
Perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Seolah misi ini akan mengubah hidupnya.
Malam pun tiba.
Vallan berbaring di atas kasur tipisnya.
Hujan mulai turun di luar.
Suara tetesan air memenuhi ruangan.
Ia menatap langit-langit yang kusam sambil memikirkan kehidupannya.
Selama bertahun-tahun dirinya terus berjuang.
Terus mencoba menjadi lebih kuat.
Namun tidak ada hasil yang berarti.
Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah takdir memang sudah menentukan bahwa dirinya akan selamanya menjadi pemburu lemah?
Ataukah suatu hari nanti keberuntungan akhirnya akan datang?
Mata Vallan perlahan tertutup.
Tanpa ia sadari, jauh di bawah dunia tempat manusia hidup, sebuah altar kuno yang telah tertidur selama ribuan tahun mulai memancarkan cahaya ungu redup.
Cahaya itu berdenyut perlahan.
Seperti jantung yang kembali hidup setelah waktu yang sangat lama.
Dan untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, Sistem Legendaris mulai mencari pewaris baru.
Seseorang yang akan mengubah takdir dunia.
Seseorang yang bernama Vallan Ardeon.
Daftar bab
86 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








