
MANDOR ITU SUDAH MATI
skala zeya|Bersambung
- Jumlah kata
- 42.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 6
- Jumlah kata
- 42.0K

skala zeya|Bersambung
MANDOR ITU SUDAH MATI 7 TAHUN LALU Kalimantan, 2012. Suyatno, seorang lelaki berusia tiga puluh dua tahun, meninggalkan kampung halamannya demi mencari penghasilan di sebuah perkebunan sawit terpencil di pedalaman Kalimantan. Di sana, ia tinggal bersama para pekerja lain di sebuah barak tua yang dikelilingi ribuan pohon sawit. Hari-hari pertama berjalan biasa. Sampai Suyatno mengetahui satu aturan aneh yang tidak pernah tertulis di papan mana pun. Jangan bekerja di Blok 17 setelah matahari terbenam. Tidak ada yang mau menjelaskan alasannya. Para pekerja hanya mengatakan bahwa sejak tujuh tahun lalu, beberapa orang pernah hilang di sana. Suyatno menganggap cerita itu hanya takhayul. Sampai suatu malam, Karno, salah seorang pekerja, belum kembali ke barak. Pencarian dilakukan keesokan paginya. Mereka hanya menemukan cangkul, sepatu, dan bekas telapak kaki berlumpur di tengah Blok 17. Anehnya, jejak kaki itu bukan menuju hutan. Jejak tersebut justru mengarah kembali ke barak. Sejak saat itu, berbagai kejadian aneh mulai terjadi. Suara orang mencangkul terdengar dari bawah lantai kamar Suyatno. Pelepah sawit sering jatuh sendiri meskipun tidak ada angin. Dan setiap kali hujan turun pada malam hari, seseorang selalu berdiri di ujung kebun. Seorang lelaki tua dengan pakaian mandor. Wajahnya selalu tertutup bayangan. Suyatno kemudian bertanya kepada Marto, pekerja paling senior di perkebunan itu. Jawaban Marto membuat darahnya terasa dingin. “Jangan pernah panggil namanya.” “Siapa?” “Sukardi.” Suyatno baru mengetahui bahwa Sukardi adalah mandor perkebunan yang meninggal pada tahun 2005. Namun beberapa pekerja mengaku masih melihatnya berkeliling kebun setelah kematiannya. Tujuh tahun telah berlalu. Tetapi setiap malam, seolah-olah Sukardi masih menjalankan tugasnya. Dan yang paling mengerikan… setiap pekerja yang melihat sosok Sukardi mulai mengalami kejadian yang sama. Mereka mendengar suara cangkul. Mereka menemukan tanah basah di dalam kamar. Lalu suatu malam, nama mereka muncul tertulis di batang pohon sawit. Suyatno sadar bahwa Sukardi bukan sekadar arwah penasaran. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh orang-orang lama di perkebunan itu. Sesuatu yang berkaitan dengan kematian Sukardi. Dan ketika Suyatno mulai menggali masa lalu perkebunan tersebut, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: Sukardi tidak mati karena kecelakaan. Ia dibunuh. Jasadnya disembunyikan di tempat yang bahkan para pekerja sekarang tidak mengetahui keberadaannya. Selama tujuh tahun, arwah Sukardi menunggu seseorang menemukan kebenaran. Namun sekarang, Sukardi tidak hanya ingin kebenaran itu terbongkar. Ia ingin semua orang yang terlibat membayar dosa mereka. Dan Suyatno mungkin menjadi orang terakhir yang bisa menghentikan dendam itu… atau justru menjadi orang berikutnya yang namanya ditulis di batang pohon sawit.
BAB 1
Kalimantan, 2012.
Hujan baru saja berhenti ketika truk tua yang membawa Suyatno memasuki jalan tanah menuju perkebunan sawit.
Roda belakang truk berkali-kali tergelincir.
Tanah merah yang bercampur air menempel tebal pada ban, sementara ranting-ranting pohon di kedua sisi jalan menggores bak kendaraan.
Suyatno duduk sendirian di bagian belakang.
Sebuah tas kain berwarna hitam tergeletak di samping kakinya. Isinya tidak banyak. Dua pasang pakaian, sarung, beberapa bungkus rokok, handuk, dan sebuah foto istrinya yang ia simpan di dalam dompet.
Sudah hampir dua jam tidak ada rumah.
Tidak ada warung.
Tidak ada suara kendaraan lain.
Hanya deretan pohon sawit yang seolah tidak pernah berakhir.
Suyatno mengangkat wajah ketika truk melewati tikungan tajam.
“Masih jauh, Pak?” teriaknya.
Sopir yang duduk di depan tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian terdengar suara berat dari balik kaca depan.
“Sebentar lagi.”
Sebentar lagi.
Kalimat itu sudah didengar Suyatno sejak satu jam yang lalu.
Ia mengembuskan napas panjang.
Sebenarnya ia tidak terlalu peduli seberapa jauh tempat itu.
Yang penting pekerjaan sudah menunggunya.
Gajinya lebih besar daripada pekerjaan serabutan yang selama ini ia lakukan di kampung.
Kalau ia bisa bertahan beberapa tahun, utang keluarganya bisa dilunasi.
Ia bahkan sudah membayangkan pulang membawa uang yang cukup untuk memperbaiki rumah orang tuanya.
Suyatno tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia merasa hidupnya mungkin akan berubah.
Namun senyum itu perlahan menghilang ketika ia melihat sesuatu di antara pohon-pohon sawit.
Seorang lelaki.
Berdiri di pinggir jalan.
Suyatno spontan menoleh.
Lelaki itu mengenakan pakaian berwarna gelap.
Kepalanya tertutup topi.
Diam.
Tidak bergerak.
Suyatno memperhatikan selama beberapa detik.
Ketika truk semakin dekat, lelaki itu tetap berdiri di tempatnya.
Suyatno mengira dia pekerja kebun.
Ia bahkan sempat mengangkat tangan.
Tidak ada balasan.
Truk terus melaju.
Suyatno menoleh ke belakang.
Lelaki itu sudah tidak ada.
“Pak!”
Sopir mendengar teriakannya.
“Ada apa?”
“Tadi ada orang.”
“Orang?”
“Iya. Berdiri di pinggir jalan.”
Sopir diam.
Suyatno menunggu jawaban.
Namun pria itu justru mempercepat kendaraan.
“Orang kebun mungkin,” katanya pendek.
Suyatno mengangguk.
Ia tidak memikirkannya lagi.
Belum.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai di perkebunan.
Dari kejauhan terlihat beberapa bangunan beratap seng.
Asap tipis keluar dari salah satu cerobong.
Beberapa pekerja berjalan membawa alat panen.
Di belakang bangunan terdapat barisan panjang rumah kayu yang berdiri berdekatan.
Barak pekerja.
Truk berhenti.
Suyatno turun sambil membawa tasnya.
Kakinya langsung terbenam sedikit ke tanah yang masih basah.
“Ini baraknya.”
Sopir menunjuk bangunan paling ujung.
Suyatno mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
Ia mengambil tas kemudian berjalan menuju barak.
Baru beberapa langkah, seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun keluar dari salah satu pintu.
Tubuhnya kurus.
Kulitnya gelap karena bertahun-tahun bekerja di bawah matahari.
“Orang baru?”
Suyatno berhenti.
“Iya, Pak.”
“Nama?”
“Suyatno.”
Lelaki itu mengangguk.
“Marto.”
Tangannya terulur.
Suyatno menjabatnya.
Tangan Marto kasar dan penuh bekas luka kecil.
“Kau dari Jawa?”
“Iya.”
“Lamongan.”
Marto mengangguk kecil.
“Masuk. Nanti saya kenalkan sama yang lain.”
Suyatno mengikuti Marto.
Barak itu lebih panjang daripada yang terlihat dari luar.
Lantainya terbuat dari papan kayu yang sudah tua.
Setiap kali diinjak terdengar bunyi berderit.
Di dalam terdapat beberapa kamar kecil yang hanya dipisahkan oleh dinding tripleks.
Bau minyak kayu putih, keringat, pakaian basah, dan asap rokok bercampur menjadi satu.
Beberapa lelaki sedang duduk di depan televisi kecil.
Mereka menoleh ketika Suyatno masuk.
“Nih, orang baru,” kata Marto.
Seorang lelaki berkumis tebal mengangkat tangan.
“Jumadi.”
“Karno.”
Lelaki di sebelahnya hanya memperkenalkan diri sambil tersenyum.
Suyatno membalas ramah.
Hari mulai gelap.
Marto menunjukkan kamar yang akan ditempati Suyatno.
Kamar itu kecil.
Hanya ada satu ranjang kayu, kasur tipis, dan lemari tua.
Suyatno meletakkan tas.
“Besok pagi ikut saya.”
“Mulai kerja jam berapa?”
“Setengah enam sudah kumpul.”
Suyatno mengangguk.
Marto hendak pergi.
Namun sebelum keluar, ia berhenti.
“Yatno.”
“Iya?”
“Kalau nanti malam dengar suara apa pun di luar…”
Marto terdiam sebentar.
“Jangan keluar.”
Suyatno mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
Marto menatapnya beberapa detik.
“Di sini banyak binatang.”
Lalu ia pergi.
Suyatno tersenyum kecil.
“Binatang saja ditakuti.”
Ia tidak tahu bahwa Marto sengaja tidak mengatakan alasan sebenarnya.
Malam datang lebih cepat daripada yang ia kira.
Pukul sembilan, hampir semua pekerja sudah masuk kamar.
Suyatno masih duduk di ranjang sambil merokok.
Dari luar terdengar suara jangkrik.
Sesekali suara burung malam.
Angin melewati celah dinding kayu.
Suyatno mematikan rokoknya.
Ia baru saja hendak berbaring ketika terdengar suara dari kejauhan.
Duk.
Suyatno membuka mata.
Diam.
Beberapa detik kemudian.
Duk.
Ia duduk.
Suara itu terdengar seperti seseorang sedang memukul tanah dengan cangkul.
Duk…
Duk…
Suyatno melihat jam.
10.47 malam.
Siapa yang bekerja malam-malam begini?
Ia membuka pintu kamar.
Lorong barak gelap.
Suyatno mengambil senter kecil dari tasnya.
Ia berjalan pelan menuju pintu keluar.
Suara itu semakin jelas.
Duk… duk… duk…
Dari arah perkebunan.
Suyatno membuka pintu utama.
Udara malam langsung menyentuh wajahnya.
Dingin.
Padahal sepanjang hari udara terasa panas.
Ia mengarahkan senter ke kebun.
Barisan pohon sawit terlihat seperti bayangan hitam yang tidak berujung.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun suara cangkul itu masih terdengar.
Duk.
Suyatno melangkah turun dari teras.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian ia melihat sesuatu.
Di kejauhan, di antara pohon-pohon sawit…
ada seseorang berdiri.
Suyatno mengangkat senter.
Cahayanya tidak cukup jauh.
Sosok itu mengenakan pakaian seperti seragam kerja.
Kepalanya tertunduk.
Diam.
Suyatno menyipitkan mata.
“Pak!”
Tidak ada jawaban.
Ia mengangkat suara.
“Pak! Belum tidur?”
Sosok itu perlahan mengangkat kepalanya.
Suyatno membeku.
Jarak mereka terlalu jauh untuk melihat wajah.
Tetapi ia yakin satu hal.
Sosok itu sedang menatap tepat ke arahnya.
Lalu…
Duk.
Suara cangkul terdengar sekali lagi.
Suyatno menyorotkan senter ke tanah.
Ketika cahaya kembali diarahkan ke tempat sosok itu berdiri…
tidak ada siapa-siapa.
Suyatno merasakan tengkuknya meremang.
Ia mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu masuk kembali ke barak dan mengunci pintu.
Ia tidak tidur sampai pagi.
Dan malam itu, tanpa diketahui Suyatno…
adalah malam pertama dari tujuh tahun penantian seseorang yang seharusnya sudah mati.
Sukardi.
44 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.