Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Tajir Sejak Bayi

Sistem Tajir Sejak Bayi

GEELANG | Bersambung
Jumlah kata
79.1K
Popular
141
Subscribe
26
Novel / Sistem Tajir Sejak Bayi
Sistem Tajir Sejak Bayi

Sistem Tajir Sejak Bayi

GEELANG| Bersambung
Jumlah Kata
79.1K
Popular
141
Subscribe
26
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalSistemMengubah NasibMiliarder
Mati sebagai pria miskin. Lahir kembali sebagai bayi. Sebuah sistem memberinya misi, hadiah, dan kekayaan tanpa batas. Saat orang lain belajar merangkak, ia sudah membangun kerajaan bisnis yang akan mengguncang dunia.
BAB 1 - Tangisan Pertama di Garis Bintang

Adit menghembuskan napas panjang, menatap bayangannya di kaca jendela kamar kontrakan yang buram dan berdebu. Kerutan di ujung matanya semakin dalam, merayap hingga ke pipi dan dahi. Rambut putihnya sudah mendominasi, menandakan enam puluh tahun perjalanan hidup yang rasanya sia-sia jika dilihat dari sudut pandang angka di layar melayang di depan matanya.

Layar transparan berwarna kebiruan itu masih setia menggantung di udara, hanya bisa dilihat oleh dirinya seorang.

Pahala Terkumpul: 847.230 / 1.000.000.000.000 Poin.

Status Sistem: Terkunci.

Adit terkekeh sumbang, suara batuknya yang serak menyusul setelahnya. Sejak lahir di sebuah rumah sederhana di sudut kota Jakarta, sistem ajaib yang berniat menjadikannya manusia terkaya di muka bumi ini sudah ada. Namun, syaratnya terlampau gila. Satu triliun poin pahala untuk mengaktifkan Fitur Kekayaan Tanpa Batas.

Enam puluh tahun Adit hidup prihatin. Dia menyeberangkan ribuan lansia, memberi makan puluhan ribu kucing liar, menyumbang setiap rupiah sisa uang makannya ke panti asuhan, hingga bekerja keras sebagai relawan bencana di berbagai belakangan wilayah. Namun, angka satu triliun itu tetap berdiri tegak bak gunung tinggi yang mustahil didaki oleh manusia biasa.

"Satu triliun," gumam Adit pelan. Tangannya mengelus dadanya yang terasa agak sesak dan menegang. "Bahkan sampai ajalku tiba, angka ini tidak akan pernah tersentuh sedikit pun."

Dia merapikan jaket lusuhnya yang mulai mengelupas, lalu melangkah keluar dari kontrakan sempitnya. Hari ini udara Jakarta terasa makin menyengat kulit. Suara klakson kendaraan saling bersahutan di jalan raya utama yang berjarak beberapa meter dari lorong rumahnya. Adit butuh udara segar untuk sekadar menenangkan pikirannya yang kian lelah.

Langkah kaki Adit membawanya ke tepi persimpangan jalan yang padat merayap. Mobil dan sepeda motor melaju kencang, memburu waktu dan memanfaatkan lampu hijau yang sebentar lagi berganti merah. Adit berdiri menunggu di trotoar, memandangi kerumunan orang yang lalu lalang, sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Di seberang jalan, seorang anak kecil perempuan berbaju merah muda memegang sebuah balon gas berwarna biru cerah. Tali balon itu mendadak terlepas dari genggamannya yang mungil akibat terpaan angin. Tanpa berpikir panjang dan tanpa melihat sekitar, anak kecil itu langsung berlari menyeberang jalan, mengejar balonnya yang melayang rendah.

Suara rem mobil menjerit memecah kebisingan lalu lintas.

Sebuah truk bermuatan berat melaju amat kencang dari arah tikungan, mencoba mengejar sisa lampu hijau. Sopirnya melotot panik, membunyikan klakson panjang yang memekakkan telinga. Jarak truk dengan anak kecil itu hanya tinggal belasan meter. Anak itu terdiam kaku di tengah jalan, terperangkap rasa takut yang luar biasa hingga tak sanggup melangkah.

Mata Adit membelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang secara instan, memompa darah hingga telinganya berdenging hebat.

Tanpa ragu sedikit pun, Adit membuang seluruh rasa lelah yang menumpuk di tubuh tuanya. Tubuhnya bergerak spontan, mendorong kakinya sekuat tenaga membelah aspal dingin. Setiap detik terasa melambat secara drastis. Dia melihat ketakutan yang mendalam di mata anak kecil itu, melihat bayangan moncong truk yang makin membesar di depannya, dan merasakan hembusan angin keras yang membawa maut.

"Awas, Nak!" teriak Adit sekuat tenaga.

Adit meloncat dengan sisa tenaga terakhirnya. Tangannya berhasil menggapai punggung anak itu, lalu mendorongnya dengan seluruh kekuatan yang dia miliki ke arah trotoar seberang. Anak kecil itu jatuh terguling di atas rumput tepi jalan dengan selamat, meski menangis terkejut.

Tubuh Adit berputar di udara. Di sudut penglihatannya, cahaya lampu depan truk menyilaukan seluruh pandangannya.

Benturan keras meletup hebat. Rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya, meremukkan tulang dan menjalar ke seluruh saraf dalam sekejap mata. Suara dentuman besi dan teriakan histeris warga sekitar menjadi suara terakhir yang tertangkap oleh indra pendengarannya. Tubuh tua Adit terhempas keras ke aspal, berguling beberapa meter sebelum akhirnya terkulai tak berdaya.

Darah hangat mengalir deras dari kepalanya, membasahi jalanan yang berdebu. Matanya yang makin samar menatap langit Jakarta yang mendung.

Layar biru transparan di depan matanya mendadak berkedip cepat, memunculkan warna merah menyala yang belum pernah dia lihat sepanjang hidupnya.

Pengorbanan Nyawa Demi Jiwa Inosens Terdeteksi.

Poin Pahala Mutlak Diperoleh: 1.000.000.000.000 Poin.

Syarat Terpenuhi. Memulai Proses Akses Sistem Tajir Sejak Bayi.

Adit tersenyum tipis di antara rasa sakit yang perlahan menghilang. Lucu sekali. Mengorbankan nyawa justru menjadi kunci penyelesaian tugas sepanjang hidupnya. Namun, kesadarannya tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Kegelapan pekat datang menerjang dari segala arah, menelan seluruh rasa sakit, suara teriakan warga yang mengerubunginya, dan pandangannya yang kian meredup.

Adit tidak lagi merasakan dinginnya aspal jalanan. Segalanya berubah menjadi sunyi seketika.

Apakah ini yang dinamakan kematian? pikir Adit di dalam kegelapan yang tak bertepi.

Tidak ada rasa sakit lagi. Tidak ada suara ketakutan. Hanya ada kesunyian yang amat dalam dan tenang. Namun, perlahan-lahan, kesunyian itu tidak terasa dingin maupun menakutkan. Rasa hangat yang nyaman mulai menyelimuti seluruh badannya secara menyeluruh. Kehangatan yang membuaian, seperti berada di dalam dekapan yang sangat aman dan terhindar dari bahaya apa pun.

Tiba-tiba, suasana menenang itu terganggu oleh dorongan hebat.

Guncangan meluas merambat di sekitarnya. Kegelapan pekat itu bergerak secara aneh, seolah-olah ruang di sekelilingnya menyempit dan menekan tubuhnya dari segala arah tanpa ampun. Adit mencoba menggerakkan tangan dan kakinya untuk membebaskan diri, tetapi seluruh anggota tubuhnya terasa sangat pendek, mungil, dan lemah.

Dari tengah kegelapan yang pekat, sebuah bentuk samar membesar. Sebuah tangan raksasa dengan ukuran yang amat masif muncul melintasi kegelapan dimensi tersebut. Tangan itu meluncur turun, lalu jari-jemarinya yang jembar menggenggam erat seluruh tubuh Adit.

Tolong, apa ini! Ada apa sebenarnya! Adit menjerit keras dalam hatinya. Dia mencoba berontak sekuat tenaga, tetapi tubuhnya sama sekali tidak bertenaga. Rasanya seperti ditarik paksa keluar dari ruang yang hangat dan aman menuju ke sebuah pusaran energi yang tak dikenal.

Tekanan makin melingkupi seluruh fisiknya. Tangan raksasa itu menariknya kian cepat melintasi lorong waktu. Rasa sesak menghantam dadanya dengan amat kuat, memaksa Adit untuk membuka mulut dan meraup udara secara spontan.

Secercah cahaya putih yang sangat menyilaukan mendadak menyengat dan menusuk pandangannya. Cahaya itu begitu terang hingga membakar rasa gelap yang membungkusnya selama ini. Bersamaan dengan cahaya tersebut, suara-suara samar mulai terdengar makin jelas, menggantikan dengungan di telinganya.

"Pusat pernapasannya sudah bagus! Ayo dorong sedikit lagi, Bu! Kepalanya sudah kelihatan!" suara seorang wanita berteriak tegas di tengah kesibukan.

"Ayo sayang, kamu pasti bisa! Bertahanlah!" suara pria yang bergetar menahan tangis menimpalinya dari sisi lain.

Adit merasakan dorongan terakhir yang sangat kuat memeras seluruh tubuhnya. Udara dingin yang menusuk kulit langsung menyergap seluruh fisiknya yang tak seberapa. Paru-parunya yang sempit terisi udara segar untuk pertama kali dalam wujud baru ini, menimbulkan rasa perih dan terbakar yang teramat sangat.

"Selamat, Bu! Bayi Anda lahir dengan selamat! Anak laki-laki yang sangat sehat dan menggemaskan!"

Adit tersentak kaget bukan main. Suara itu terasa sangat dekat dan nyata. Dia berusaha membuka matanya yang masih terasa sangat berat, basah, dan kabur. Di atasnya, tampak langit-langit ruangan berwarna putih terang dengan lampu medis yang menyala menyilaukan. Beberapa sosok manusia dengan masker dan penutup kepala tampak tersenyum lega memandangnya.

Adit berusaha bersuara, ingin menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dan di mana dia berada saat ini. Namun, yang keluar dari tenggorokannya yang mungil hanyalah suara tangisan melengking khas seorang bayi baru lahir.

Owe! Owe! Owe!

Di sudut penglihatannya yang masih belum fokus penuh, layar transparan yang dulunya berwarna biru kini berganti menjadi warna emas berkilau. Layar itu mendadak mengembang luas, memancarkan cahaya yang jauh lebih megah dan megah dari apa pun yang pernah dia saksikan.

Sistem Tajir Sejak Bayi Resmi Aktif.

Selamat Datang Kembali di Dunia, Tuan Adit.

Saldo Awal Poin Keberuntungan dan Kekayaan: Tidak Terbatas.

Fitur Konversi Harta Langsung Terhubung ke Akun Keluarga Baru Anda.

Lanjut membaca
Lanjut membaca