

Pintu kaca minimarket berdenting saat Kardo melangkah keluar. Senyum tipis terukir di wajahnya begitu melihat notifikasi di layar ponsel.
“Mantap. Diamond cair. Nanti malam fix gacha skin limited,” gumamnya puas.
Di Akademi Karensi, Kardo Ander Wijaya dikenal sebagai siswa biasa yang datar. Pakaiannya selalu sederhana: kaus polos dan jaket kasual. Sebenarnya, Kardo adalah anak tunggal keluarga konglomerat yang memilih menyembunyikan status mewahnya demi kebebasan. Namun, alasan utama dia bersikap biasa saja di sekolah bukan cuma karena menyembunyikan identitas, melainkan karena isi kepalanya memang cuma game dan game. Pacaran? Sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya.
Bagi Kardo, hidup tenang tanpa drama dan fokus main game adalah jalan terbaik.
Namun, ketenangan itu hancur saat ia baru berjalan tiga langkah menuju motornya. Seseorang menarik ujung jaketnya dari belakang.
"Papa!"
Kardo menunduk. Seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun sedang memeluk kakinya erat-erat. Baju yang dipakai anak itu terlihat aneh dan sangat modern.
"Dek, salah orang kali," kata Kardo santai sambil mencoba melepaskan cengkeraman anak itu. "Saya masih pelajar. Jangankan nikah, pacar aja nggak punya."
Anak kecil itu malah makin kencang memeluknya. "Nggak salah! Papa itu Kardo Ander Wijaya, kan? Cia nggak mungkin salah kenal Papa!"
Kardo berkedip. Dari mana anak asing ini tahu nama lengkapnya?
"Dengarkan Cia, Pa," lanjut anak itu sambil mendongak teguh. "Nama Cia itu Gracia Angel Wijaya. Cia tadi lagi main di laboratorium Papa, terus ada lingkaran cahaya aneh yang kemerlip. Cia cuma mau ambil mainan Cia yang jatuh, eh... tiba-tiba Cia masuk ke situ terus muncul di sini!"
Kardo menaikkan sebelah alisnya. Portal? Laboratorium? Halu nih anak.
"Iya, terus Cia ketemu Papa di sini!" seru anak itu polos. "Berarti Mama Deasy juga ada di sekitar sini, kan?"
Mendengar nama itu, langkah Kardo terhenti.
"Siapa? Mama siapa tadi?!"
"Mama Deasy! Deasy Fang Angelcy!" jawab Cia polos.
"Hush! Pelan-pelan!" Kardo buru-buru menepis ucapan anak itu sambil melihat sekeliling.
Deasy Fang Angelcy. Sang primadona Akademi Karensi yang terkenal dingin bak dewi es. Kardo tahu sosok Deasy, tapi selama ini dia biasa saja dan tak pernah ambil pusing karena pikirannya cuma diisi game.
Gimana bisa Dewi Es itu jadi istri gua? Ada-ada aja, batin Kardo sambil menggelengkan kepala.
"Kamu bercanda ya, Dek?" Kardo menghela napas. "Gua sama Deasy itu nggak saling kenal. Mending kamu cari orang tua kamu gih."
"Cia nggak bercanda! Kata Papa di masa depan, waktu zaman sekolah Papa itu nggak mikirin cewek sama sekali! Cuma mikirin game di pojokan, padahal Papa sebenarnya anak orang kaya raya!"
Mata Kardo membelalak. Kok anak ini tahu rahasia paling kelam gua?! Rahasia kalau gua anak orang kaya aja nggak ada yang tahu di akademi!
Tapi, dasar Kardo. Karena tidak mau ambil pusing dengan hal aneh yang tidak masuk akal, Kardo memilih untuk tidak memercayainya.
"Udah ah, halusinasi kamu kebanyakan main game," ujar Kardo santai. Ia melepaskan cengkeraman Cia, memakai helmnya, lalu berjalan mengabaikan anak itu begitu saja menuju motornya.
Namun, baru beberapa langkah Kardo berjalan, suara isakan kecil mulai terdengar dari belakang.
"Huwaaaa... Papa... Cia takut! Cia mau pulang... Cia lapar..."
Kardo menghentikan langkahnya. Isak tangis Cia makin kencang hingga membuat beberapa orang yang lewat mulai menengok curiga ke arah Kardo. Kardo menepuk jidatnya sendiri. Rasa tidak tegangnya mendadak muncul melihat anak kecil menangis sendirian di parkiran.
"Aduh... ya udah, ya udah! Jangan menangis!" Kardo buru-buru balik badan dan berlutut di depan Cia. Ia mengusap air mata di pipi anak itu sambil menghela napas pasrah.
"Ikut gua pulang dulu. Nanti di rumah gua interogasi kamu sampai tuntas."
Kehidupan santai yang hanya diisi game oleh Kardo resmi berantakan sore itu.
Motor matic Kardo membelah jalanan sore menuju sebuah kompleks apartemen kelas menengah. Ia sengaja menyewa unit sederhana di sana menggunakan uang tabungannya sendiri demi menghindari kejaran orang tua dan kehidupan mewahnya.
Di jok belakang, Cia duduk melingkarkan kedua lengan kecilnya di pinggang Kardo, sesekali bernyanyi kecil tanpa beban—sangat bertolak belakang dengan Kardo yang kepalanya serasa mau pecah.
Begitu pintu unit apartemen terbuka, Cia langsung melompat turun dari motor—maksudnya, berlari masuk ke dalam ruang tamu Kardo yang dipenuhi tumpukan komik, kabel charger, dan dua layar monitor komputer.
"Wah, rumah Papa waktu masih kere lucu banget!" seru Cia polos sambil menyentuh layar monitor Kardo.
Kardo yang baru mengunci pintu hampir saja tersedak napasnya sendiri. "Hey! Itu bukan kere, ya. Ini namanya minimalis estetis."
Kardo menghela napas panjang, melepas jaketnya, lalu menarik satu kursi plastik dan duduk tepat di hadapan Cia yang kini sibuk duduk bersila di atas sofa. Kardo memasang raut wajah seserius mungkin.
"Oke, bocah. Waktunya interogasi," ujar Kardo sambil menunjuk Cia dengan remote TV. "Pertama, siapa nama lengkap kamu?"
"Gracia Angel Wijaya! Panggilannya Cia!" jawab anak itu mantap, sama sekali tidak takut.
"Kedua, dari mana kamu tahu nama lengkap gua, dan rahasia kalau gua anak orang kaya yang nyembunyiin identitas?"
"Kan Cia anak Papa! Di masa depan, Papa sendiri yang cerita ke Cia," jawab Cia jujur. "Papa bilang waktu umur belasan tahun Papa itu pemalas, sukanya cuma main game E-Sports, terus kabur dari Rumah Utama Keluarga Wijaya karena ogah dijodohkan atau disuruh terusin bisnis!"
Kardo membeku. Tangan yang memegang remote TV mendadak gemetar tipis.
Gila. Soal kabur dari rumah utama dan penolakan bisnis itu cuma gua dan pengacara pribadi kakek yang tahu! Nggak mungkin anak lima tahun bisa tahu detail ini kalau bukan dapat info dari masa depan!
"Terus... soal Dewi Es itu?" suara Kardo memelan, menahan napas. "Maksud gua, Deasy Fang Angelcy."
Cia tersenyum lebar hingga memamerkan deretan gigi susunya yang rapi. "Mama Deasy itu istri Papa! Nanti Mama yang ngajarin Papa cara ngelawan Paman Rio biar warisan keluarga Papa nggak direbut!"
"Tunggu, paman siapa? Paman Rio?" Kardo mengerutkan dahi. Paman Rio adalah adik kandung ayahnya yang selama ini memang terkenal sangat ambisius di perusahaan keluarga. "Warisan direbut?"
"Iya! Kata Papa, kalau dulu Mama Deasy nggak bantu Papa, warisan Kakek bakal diakalin sama Paman Rio sampai habis. Tapi gara-gara Mama cerdas banget, Paman Rio bisa dikalahkan!" cerita Cia dengan antusias, meskipun anak itu sendiri sebenarnya tidak paham betul apa arti kata 'warisan' atau 'diakalin'. Dia cuma menirukan cerita yang sering didengarnya di rumah.
Kardo memegangi pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Otaknya yang biasa cuma diisi strategi game battle royale kini terpaksa memproses konspirasi masa depan yang terlewat berat.
"Jadi maksud kamu... gua bakal nikah sama Deasy, cewek paling pintar, paling dingin, dan paling ditakuti satu akademi itu... cuma demi ngalahin Paman Rio?" gumam Kardo pada dirinya sendiri.
"Nggak cuma itu!" Cia memotong cepat. "Kata Papa, Papa jatuh cinta setengah mati sama Mama karena Mama itu cantik banget, walau galak!"
Kardo menatap anak kecil di depannya. Pakaian aneh berbahan serat berkilau yang dipakai Cia, detail rahasia keluarga yang sangat akurat, hingga kemiripan garis wajah anak ini dengan dirinya... semuanya mulai terasa masuk akal secara mengerikan.
"Terus sekarang kamu mau gimana? Nggak bisa balik ke masa depan?" tanya Kardo pasrah.
Cia menggelengkan kepala dengan polos. "Nggak tahu. Lingkaran cahayanya udah hilang pas Cia keluar dari minimarket tadi. Tapi Cia lapar, Pa..."
Kardo menepuk jidatnya. Ia bangkit dari kursi, melangkah ke dapur kecilnya, lalu mengambil dua bungkus mi instan dari dalam lemari.
"Ya sudah. Sekarang kita makan mi dulu," desah Kardo. Ia menatap ke luar jendela apartemennya, membayangkan esok hari di Akademi Karensi.
Selama ini dia berhasil hidup tenang tanpa memikirkan cewek maupun intrik keluarga. Tapi besok... dia terpaksa harus berurusan dengan sang Dewi Es, Deasy Fang Angelcy.
Mati gua, batin Kardo pasrah.