
- Jumlah kata
- 169.2K

Selama enam belas tahun, Ren Arkan hidup sebagai pecundang di dalam keluarganya sendiri.Tidak mampu membangkitkan tenaga dalam, tidak memiliki kemampuan bertarung, dan selalu menjadi bahan hinaan, Ren bahkan kehilangan haknya sebagai anggota keluarga utama. Orang yang selama ini dijodohkan dengannya pun memilih meninggalkannya karena menganggap Ren tidak memiliki masa depan.Namun tidak seorang pun mengetahui bahwa kelemahan Ren bukanlah karena dirinya tidak berbakat.Melainkan karena kekuatan luar biasa di dalam tubuhnya telah disegel sejak ia dilahirkan.Pada hari ketika semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, segel tersebut akhirnya mulai retak.Ren kemudian menemukan sebuah warisan kuno yang mengubah seluruh pemahamannya tentang dunia. Tubuhnya memiliki bakat yang bahkan belum pernah muncul selama ratusan tahun. Dengan kemampuan itu, Ren mulai menapaki jalan sebagai seorang pendekar dan kultivator.Namun kekuatan besar selalu membawa bahaya yang lebih besar.Rahasia tentang kelahirannya perlahan terungkap.Pengkhianatan keluarganya ternyata bukan sebuah kebetulan. Kematian ibunya menyimpan misteri. Orang-orang yang selama ini menganggap Ren sebagai pecundang ternyata memiliki alasan untuk takut kepadanya.Ren pun meninggalkan kehidupan lamanya.Ia memasuki dunia yang penuh perguruan bela diri, kerajaan, kelompok rahasia, monster buas, peninggalan kuno, harta karun, dan para pendekar yang sanggup mengguncang gunung hanya dengan satu serangan.Di perjalanan, Ren bertemu dengan berbagai orang yang akan mengubah hidupnya—sebagian menjadi sahabat, sebagian menjadi musuh, dan beberapa di antaranya perlahan menjadi orang yang sangat berarti baginya.Namun Ren tidak lagi menjadi pemuda yang mudah dipermainkan.Di balik wajah tenangnya, ia mulai menyembunyikan kekuatannya.Ia membiarkan musuh meremehkannya.Membiarkan mereka merasa menang.Membiarkan mereka percaya bahwa Ren masih seorang pecundang.Padahal...Sang jenius telah lahir.Ketika waktunya tiba, Ren akan melakukan serangan balik.Satu demi satu penghinaan akan dibayar.Satu demi satu pengkhianatan akan dibongkar.Dan mereka yang dahulu menertawakannya akan menyaksikan sendiri perubahan seorang pecundang menjadi sosok yang namanya mengguncang seluruh negeri.Dari seorang pemuda yang tidak dianggap siapa pun...menjadi pendekar yang ditakuti seluruh dunia.Inilah kisah Ren Arkan.Inilah kisah seorang jenius yang akhirnya terlahir.
Pagi menyelimuti Kota Arjapura.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika lonceng besar di halaman Keluarga Arkan berdentang tiga kali.
GONG!
GONG!
GONG!
Suara itu menggema ke seluruh penjuru kediaman keluarga.
Hari ini merupakan hari yang sangat penting.
Seluruh anak muda keluarga akan menjalani Ujian Pembukaan Jalur Tenaga, sebuah ujian yang menentukan apakah seseorang memiliki kemampuan untuk menempuh jalan menjadi seorang pendekar tenaga dalam.
Bagi keluarga besar seperti Keluarga Arkan, ujian itu bukan sekadar ritual biasa.
Itu adalah penentu masa depan.
Masa depan pemuda pemudi.
Masa depan Keluarga Arkan.
Mereka yang memiliki bakat tinggi akan mendapatkan tempat terhormat, makanan terbaik, guru terbaik, serta sumber daya untuk memperkuat diri.
Itu merupakan idaman para anggota keluarga.
Sedangkan mereka yang gagal...
Akan dianggap sebagai beban.
Di antara ratusan anak muda yang berkumpul di halaman, seorang pemuda berdiri sendirian di bagian paling belakang.
Namanya Ren Arkan.
Usianya baru enam belas tahun.
Tubuhnya tidak besar, wajahnya sederhana, dan pakaian yang dikenakannya terlihat jauh lebih lusuh dibandingkan pemuda lain.
Namun yang paling membuatnya menjadi bahan pembicaraan adalah satu hal.
Selama enam belas tahun hidupnya...
Ren tidak pernah mampu membangkitkan tenaga dalam sedikit pun.
"Dia datang."
"Si pecundang itu."
"Untuk apa masih ikut ujian?"
Beberapa pemuda tertawa.
Ren mendengar semuanya.
Namun dia tidak membalas.
Ia hanya menundukkan kepala dan berjalan menuju tempat yang telah disediakan.
Seorang pemuda bertubuh tegap menghadangnya.
Namanya Raka Arkan.
Raka merupakan salah satu pemuda berbakat dalam keluarga.
Ia sudah mencapai tingkat Tenaga Dalam Tingkat Empat pada usia tujuh belas tahun.
Raka menyeringai.
"Ren, bukankah kau seharusnya berada di dapur?"
Beberapa orang langsung tertawa.
"Benar!"
"Seorang pecundang sepertimu tidak pantas ikut ujian!"
Ren menatap Raka.
"Aku dipanggil untuk mengikuti ujian."
"Itu saja."
Raka tertawa.
"Masih keras kepala."
Ia mendekat dan berbisik.
"Setelah hari ini, kau bahkan tidak akan memiliki hak untuk tinggal di rumah utama."
Ren tidak menjawab.
Raka kemudian mendorong bahunya.
Ren mundur dua langkah.
Beberapa orang tertawa semakin keras.
Tetapi tidak ada yang menyadari bahwa tangan Ren mengepal sangat erat.
Bukan karena takut.
Melainkan karena ia sedang menahan amarah.
Selama enam belas tahun...
Ia sudah terbiasa dianggap tidak berguna.
Namun hari ini terasa berbeda.
Entah mengapa sejak bangun tidur, dadanya terasa hangat.
Seolah sesuatu di dalam tubuhnya sedang menunggu untuk bangun.
---
Di atas panggung kayu, seorang lelaki tua berdiri.
Namanya Mahesa Arkan, tetua tertinggi keluarga.
Wajahnya keras dan penuh wibawa.
Di hadapannya terdapat sebuah batu hitam sebesar kepala manusia.
Batu itu disebut Batu Pengukur Tenaga.
"Ujian dimulai!"
Anak muda pertama maju.
"Bagas Arkan!"
Seorang pemuda berusia lima belas tahun melangkah ke depan.
Ia meletakkan telapak tangan di atas batu.
Beberapa detik kemudian...
WUUUNG!
Batu itu menyala merah.
Mahesa mengangguk.
"Jalur tenaga tingkat menengah."
Tepuk tangan terdengar.
Bagas tersenyum bangga dan kembali ke barisan.
Nama demi nama dipanggil.
Beberapa memiliki bakat rendah.
Beberapa memiliki bakat menengah.
Namun kemudian...
"Raka Arkan!"
Raka melangkah maju dengan percaya diri.
Ia menempelkan telapak tangannya pada batu.
WUUUUNG!
Cahaya keemasan langsung menyala.
Mahesa bahkan sedikit terkejut.
"Jalur tenaga tingkat tinggi!"
Halaman langsung riuh.
"Hebat!"
"Raka memang jenius!"
"Dia pasti akan diterima Perguruan Bukit Garuda!"
Raka mengangkat dagu dengan bangga.
Sebelum kembali ke tempatnya, ia sengaja menoleh kepada Ren.
Tatapan mengejek terpancar dari matanya.
Ren tetap diam.
Satu demi satu peserta selesai.
Hingga akhirnya...
Mahesa membuka daftar terakhir.
"Ren Arkan."
Suasana langsung berubah.
Tawa kecil terdengar di berbagai tempat.
Ren menarik napas panjang.
Kemudian melangkah ke depan.
Ia berdiri di hadapan Batu Pengukur Tenaga.
Untuk sesaat, ia memejamkan mata.
"Ibu..."
Ia teringat wajah ibunya.
Wanita yang selalu memperlakukannya dengan lembut meski seluruh keluarga menganggap dirinya pecundang.
Sebelum meninggal, ibunya pernah berkata:
"Ren, suatu hari nanti kau akan mengetahui alasan mengapa dirimu berbeda."
Saat itu Ren tidak mengerti.
Sekarang pun ia masih tidak mengerti.
Namun ia percaya kepada ibunya.
Ren membuka mata.
Kemudian meletakkan telapak tangan di atas batu.
Semua orang menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Lima detik.
Tidak ada apa-apa.
Batu itu tetap hitam.
Tawa langsung pecah.
"Hahaha!"
"Aku sudah menduga!"
"Enam belas tahun tetap tidak berubah!"
"Benar-benar pecundang!"
Ren menarik tangannya perlahan.
Mahesa menghela napas.
"Ren Arkan."
"Untuk kesekian kalinya, kau gagal."
Wajah Ren tetap tenang.
Mahesa kemudian mengambil keputusan.
"Mulai hari ini, statusmu sebagai anggota keluarga utama dicabut."
"Seluruh hakmu atas sumber daya keluarga dihentikan."
"Mulai besok, kau akan bekerja sebagai pelayan di kediaman keluarga."
Suasana kembali dipenuhi tawa.
Ren hanya mengangguk.
"Baik."
Namun sebelum ia pergi...
Seorang gadis berdiri.
Namanya Laras Wening.
Gadis yang sejak kecil telah dijodohkan dengan Ren.
Laras berjalan ke depan.
Di tangannya terdapat gelang sederhana yang dahulu menjadi tanda pertunangan mereka.
Ia melepaskannya.
Kemudian meletakkannya di depan Ren.
"Ren."
"Aku juga ingin membatalkan pertunangan kita."
Beberapa orang berseru kegirangan.
Ren menatap Laras.
"Kenapa?"
Laras terdiam sebentar.
Kemudian menjawab dengan suara pelan.
"Aku tidak ingin menghabiskan hidup bersama seseorang yang tidak memiliki masa depan."
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada hinaan mana pun.
Ren memandang gelang tersebut.
Kemudian mengambilnya.
"Boleh."
Laras tampak terkejut.
"Kau tidak marah?"
Ren menggeleng.
"Tidak."
Ia menyimpan gelang itu.
"Benda ini peninggalan keluargaku. Aku akan menyimpannya."
Kemudian Ren berbalik.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada sumpah.
Ia hanya berjalan meninggalkan halaman.
Namun ketika melewati gerbang keluarga...
Ren berhenti.
Ia menoleh sebentar.
Matanya yang selama ini terlihat lemah perlahan berubah tajam.
"Suatu hari..."
"Aku akan kembali."
"Dan ketika hari itu tiba..."
"Tidak seorang pun akan berani menyebutku pecundang lagi."
Ren melanjutkan langkah.
Ia tidak mengetahui bahwa jauh di dalam tubuhnya, sebuah segel kuno mulai retak.
Krek.
Hanya satu retakan kecil.
Namun dari balik retakan itu...
Muncul cahaya keemasan yang belum pernah ada sebelumnya.
Dan jauh di pegunungan yang mengelilingi Kota Arjapura, seekor serigala putih tiba-tiba membuka matanya.
Matanya memancarkan cahaya biru.
Ia mengangkat kepala dan mengendus udara.
"Dia..."
"akhirnya terbangun."
Pada saat yang sama, Ren tiba-tiba memegang dadanya.
Jantungnya berdetak sangat keras.
DUG! DUG! DUG!
Ia menatap langit.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ren tersenyum.
Karena ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia miliki.
Tenaga.
Sangat kecil.
Namun nyata.
Dan tanpa disadari siapa pun...
Hari ketika seorang pecundang dilahirkan kembali sebagai seorang jenius telah dimulai.
105 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
105 bab
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.