
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Raka kembali ke masa lalu dan bertekad mengubah hidupnya. Jika dulu ia berpura-pura kaya demi terlihat keren, kini ia memilih hidup apa adanya karena tahu kepalsuan itu hanya melelahkan dan akan menyeretnya ke dalam intrik kekuasaan bersama teman-temannya yang haus ambisi.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Aura
Raka merebahkan punggungnya ke sandaran kursi sambil memainkan bolpoin di sela jarinya. Ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara tawa, obrolan, dan keributan kecil kini terasa berbeda. Hanya tersisa beberapa orang yang masih duduk di tempat masing-masing, menikmati sisa waktu sebelum benar-benar meninggalkan masa SMA. Sebagian besar siswa sudah pulang bersama keluarga mereka setelah acara kelulusan selesai, meninggalkan ruangan yang perlahan terasa asing.
Tapi mereka tetap berada di sana.
Orang-orang yang sejak awal selalu terlihat berbeda dari yang lain. Cara mereka berpakaian, cara berbicara, bahkan cara mereka melihat dunia seakan menunjukkan bahwa mereka berada di tingkat yang berbeda. Mereka bukan hanya sekadar siswa biasa. Mereka tumbuh di lingkungan yang penuh koneksi, nama besar, dan keluarga yang memiliki pengaruh.
Raka menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum kecil. Ia mencoba mengabaikan perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya dan memilih membuka percakapan seperti biasa.
"Kalian lanjut kuliah di mana?"
Nada suaranya terdengar santai, bahkan sedikit bercanda. Seolah pertanyaan itu hanya obrolan ringan untuk menghabiskan waktu sebelum mereka berpisah.
Beberapa orang tertawa kecil.
Arga yang duduk di depan langsung menoleh. Ia menarik dasinya sedikit longgar, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan ekspresi penuh percaya diri. Tatapannya mengarah pada Raka, seolah pertanyaan itu terdengar cukup menghibur baginya.
"Seriously, Rak?"
Raka mengerutkan kening. "Apa?"
Arga tersenyum miring sambil memainkan cincin yang melingkar di jarinya.
"Lo nanya seolah-olah pilihan kampus itu cuma masalah milih jurusan." Ia berhenti sebentar, membiarkan kalimatnya menggantung.
"Di dunia kita, semuanya sudah ada planning-nya. Universitas, koneksi, bahkan future career."
Beberapa orang di kelas mengangguk kecil, seakan memahami maksud Arga tanpa perlu dijelaskan lebih jauh.
"Buat kita, kuliah bukan cuma soal dapat gelar."
Arga menatap Raka lurus.
"It's about legacy."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah kenapa Raka bisa merasakan ada maksud lain di baliknya.
Naura yang duduk dekat jendela ikut tersenyum. Gadis itu mengambil ponselnya, melihat layar sebentar, lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan gerakan santai. Kakinya disilangkan, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari Raka.
"Lucu ya."
Raka menoleh padanya. "Apa yang lucu?"
Naura tersenyum tipis.
"Lo masih mencoba mempertahankan image itu."
Suasana kelas perlahan berubah.
Senyum Raka tidak langsung hilang, tetapi tatapannya mulai lebih waspada.
"Padahal dari awal kita sudah tahu."
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada yang tertawa lagi.
Naura melanjutkan dengan nada tenang, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sudah lama ia ketahui.
"Lo pikir orang seperti kita cuma lihat dari apa yang kelihatan?" Ia mengarahkan pandangan pada pakaian Raka.
"Brand, jam tangan, cara bicara, tempat nongkrong... semua itu gampang ditiru."
Naura mengambil ponselnya lagi, memutarnya perlahan di tangan.
"But background? Connection? Lifestyle?"
Ia mengangkat bahu kecil.
"That's different."
Arga tertawa pelan dari tempatnya, "jujur aja, Rak. Gue malah penasaran berapa lama lo pikir lo bisa keep this act."
Raka menatap mereka tanpa ekspresi. Selama beberapa detik, ia tidak mengatakan apa pun.
"Jadi selama ini kalian tahu?" Pertanyaan itu keluar lebih pelan dari yang ia kira.
Mahesa yang sejak tadi diam akhirnya bergerak. Ia berdiri dari tempatnya di dekat pintu kelas dan berjalan mendekat dengan langkah tenang. Suara sepatunya terdengar jelas di lantai yang sunyi, membuat percakapan yang tersisa langsung berhenti.
Ia berhenti tepat di depan meja Raka.
"Of course."
Suara Mahesa rendah dan datar.
"Kita bukan orang yang gampang percaya." Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, "di lingkungan kita, trust itu mahal."
Tatapan dinginnya turun pada Raka.
"Dan orang yang datang membawa cerita terlalu sempurna biasanya punya sesuatu yang disembunyikan."
Raka mengepalkan jarinya perlahan di bawah meja.
Mahesa tersenyum tipis.
"Lo punya taste yang bagus. Lo tahu cara berpakaian. Lo tahu cara masuk ke lingkungan kita."
Ia berhenti sejenak.
"But you forgot one thing."
Raka menatapnya.
"Apa?"
Mahesa menatap lurus ke matanya.
"Aura."
Ruangan kembali sunyi.
"Orang bisa fake everything, Rak. Tapi mereka enggak bisa fake who they really are."
Tidak ada yang berbicara setelah itu.
Raka hanya duduk diam di tempatnya. Bolpoin yang sejak tadi berputar di tangannya kini berhenti.
Selama ini ia pikir dirinya berhasil.
Ia pikir dengan memainkan peran sebagai anak kaya, tidak akan ada yang melihat kebenaran di balik semua kebohongan yang ia bangun.
Tapi ternyata...
Mereka sudah tahu sejak awal.
Mereka hanya membiarkannya terus bermain dalam cerita yang ia ciptakan sendiri. Melainkan sedang menjadi bahan permainan mereka.
***
Raka mengemudikan mobilnya menembus jalanan yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan, sementara jarum speedometer terus bergerak naik tanpa ia sadari. Tangannya menggenggam setir cukup erat, tetapi pikirannya sama sekali tidak fokus pada jalan di depan. Semua ucapan Arga, Naura, dan Mahesa terus terngiang di kepalanya, seolah diputar berulang kali tanpa henti.
Ia mengembuskan napas panjang. Dadanya terasa sesak, bukan karena lelah, melainkan karena untuk pertama kalinya ia mempertanyakan semua yang telah ia lakukan selama ini. Bertahun-tahun ia menghabiskan waktu, tenaga, dan harga dirinya hanya untuk diterima di lingkungan yang bahkan tidak pernah benar-benar menganggapnya ada.
"Apa sih yang sebenarnya gue cari?" gumamnya lirih.
Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalanya. Pengakuan? Status? Atau hanya ingin membuktikan bahwa dirinya juga pantas berdiri di antara mereka? Semakin dipikirkan, semakin ia tidak menemukan jawabannya.
"Nyebelin."
Raka memukul pelan setir dengan telapak tangannya. Rahangnya mengeras, sementara kakinya tanpa sadar semakin dalam menginjak pedal gas. Deru mesin terdengar semakin keras, membelah keheningan malam.
Angin dari pendingin udara berembus ke wajahnya, tetapi tidak mampu menenangkan pikirannya. Pandangannya mulai kosong. Ia hanya terus melaju, seolah berharap semua kebisingan di kepalanya ikut tertinggal di belakang.
Sorot lampu dari arah berlawanan memenuhi pandangannya. Mata Raka membelalak.
Refleks, ia memutar setir dan menginjak rem sekuat tenaga. Ban berdecit keras menggesek aspal, tetapi jarak mereka sudah terlalu dekat.
Brak!
Benturan keras mengguncang seluruh tubuhnya. Airbag mengembang dalam sekejap, menghantam dada dan wajahnya. Suara kaca pecah bercampur dengan ringseknya bodi mobil memenuhi udara. Kendaraan yang dikemudikan Raka kehilangan keseimbangan, berputar beberapa kali sebelum akhirnya terbalik di tengah jalan.
Semuanya mendadak sunyi.
Yang terdengar hanya suara mesin yang masih menyala pelan dan napas Raka yang mulai melemah. Darah hangat mengalir dari pelipisnya, menetes perlahan ke kursi yang kini berada di atas kepalanya. Pandangannya semakin buram, sementara kesadarannya perlahan memudar.
Di detik-detik terakhir sebelum matanya benar-benar tertutup, hanya ada satu penyesalan yang tersisa di benaknya.
"Andai aja... gue diberi satu kesempatan lagi."
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








