
Sihir yang Diremehkan Ternyata Overpower
vibekata|Bersambung
- Jumlah kata
- 50.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 26
- Jumlah kata
- 50.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 26
Sinopsis
Saka terlempar ke dunia sihir dalam tubuh seorang gelandangan, dengan kekuatan yang dicap paling hina di Aethera: Creation, sihir yang bisa menciptakan apa saja, tapi menguras stamina hingga nyaris membunuhnya sendiri. Semua orang meremehkannya, sampai dia sadar bahwa kekuatan ini sangat overpower, jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan siapa pun di dunia itu. Bagaimana kelanjutan cerita Saka?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Bab 1: Kehidupan Baru
"Woaaah... ini di mana? Kepalaku pusing sekali..."
Saka meringis sambil memegangi pelipisnya yang berdenyut hebat. Kelopak matanya terasa berat saat mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya redup di sekitarnya. Bau lembap tanah dan lorong tua langsung menyengat indra penciumannya.
Sebelum ia sempat memahami situasinya, sebuah layar transparan bertuliskan teks biru yang berkilau mendadak mengapung tepat di depan wajahnya.
[ SYSTEM ]
Selamat Datang di Dunia Sihir Aethera.
Tingkat Kesulitan: Level Hell
Atribut Sihir: Creation (Level 1)
Stamina: 0.5 / 10 bar
Catatan:
Tingkatkan stamina untuk menaikkan level dengan cara membantu seorang wanita.
Saka mengucek matanya berulang kali. "A-apa ini? Tiba-tiba ada teks melayang kaya di game RPG?"
Ingatannya perlahan memutar kejadian terakhir sebelum ia terbangun di tempat asing ini. Hujan deras, kilatan petir yang menyambar tiang listrik di luar kamarnya, dan dentuman keras saat ia sedang asyik bermain game di komputer.
"Aku ingat... aku tersambar petir pas main game. Jangan-jangan aku masuk ke dunia game? Isekai beneran?" gumam Saka, masih belum percaya penuh.
"Tolong... saya lapar, Tuan... Saya cuma minta sepotong roti..."
Suara bisikan serak dan bergetar memutus lamunan Saka.
Saka menoleh ke sumber suara. Di sudut gang sempit yang diapit tembok batu berlumut, seorang wanita tampak duduk memeluk lututnya rapat-rapat. Pakaiannya berupa gaun panjang yang sudah sobek di beberapa bagian, justru memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat indah.
Meskipun gaunnya compang-camping dan ternoda debu, potongan kain yang terkoyak di bagian bahu dan paha justru makin mempertegas kulit mulusnya yang seputih porselen. Bentuk tubuhnya memiliki proporsi yang luar biasa ideal, dengan pinggang ramping dan lekuk dada yang terangkat pasrah tiap kali ia menghela napas berat. Bahkan dalam kondisi yang acak-acakan, siluet tubuhnya tetap memancarkan daya tarik yang sangat kuat.
Ketika wanita itu sedikit mendongak, Saka dibuat terpana. Di balik kesan mengenaskan itu, paras wajahnya luar biasa jelita. Bibirnya tipis sedikit kering namun tetap merona alami, dipadukan dengan mata besar yang penuh kepasrahan. Jari-jemari tangannya lentik dan halus, sama sekali bukan jemari seorang pekerja kasar atau gelandangan biasa.
Dia ini... jelas bukan gelandangan biasa, batin Saka, sedikit salah fokus sebelum akhirnya menggelengkan kepala untuk menguasai diri.
Saka celingukan memantau situasi sekitar. Gang itu sepi. Perutnya sendiri sebenarnya terasa melilit karena lapar, tetapi rasa penasaran dan iba membuatnya melangkah mendekat. Ia berjongkok di depan wanita itu dengan jarak yang sopan.
"Kamu... kenapa bisa sampai kaya gini?" tanya Saka pelan.
Wanita itu sedikit tersentak dan mundur ketakutan. Namun, setelah mengamati Saka yang penampilannya ternyata tak kalah lusuh dan kumal darinya, ia perlahan merilekskan bahunya.
"Aku... aku tak ingat banyak, Tuan," jawab wanita itu lirih. "Yang aku ingat, aku mendadak dikejar oleh orang-orang berjubah hitam. Aku lari tanpa henti sampai tersesat di sini. Sudah dua hari aku tak menyentuh makanan..."
Saka mengerutkan kening. Dikejar orang berjubah hitam? Kedengarannya seperti plot standar cerita fantasi. Namun, mengingat keberadaan panel sistem di depannya, Saka sadar tempat ini bukan tempat main-main.
Ia melirik ke udara kosong di sampingnya dan berbisik pelan, "System, muncul dong."
Wush! Panel transparan itu kembali muncul secara instan.
[ SYSTEM ]
Target Terdeteksi: Wanita Tak Dikenal
Status: Membutuhkan Bantuan
Misi: Membantu target akan menambah bar Stamina.
Petunjuk: Gunakan sihir [Creation] untuk menciptakan sesuatu yang dibutuhkan target.
Creation... berarti aku bisa menciptakan apa saja? Coba deh, pikir Saka.
Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kotor. Seumur hidupnya sebagai mahasiswa, ia belum pernah "menciptakan" apa pun selain alasan untuk menunda tugas kuliah. Namun, ketika ia membayangkan sepotong roti hangat yang baru matang dari oven, lengkap dengan aroma gandum dan teksturnya yang lembut, perasaan hangat mendadak menjalar dari dada menuju telapak tangannya.
"Coba... deh," gumam Saka ragu-ragu.
Sebuah percikan cahaya kuning redup berkedip di atas telapak tangannya, mirip lampu bohlam konsleting. Wanita di depannya membelalak kaget dan refleks mundur.
Namun, alih-alih sepotong roti utuh yang mengepul hangat, percikan cahaya itu padam dan meninggalkan remah-remah roti berukuran sekecil biji jagung yang jatuh pelan ke tanah.
"Eh?" Saka melongo. Ia menatap telapak tangannya, lalu menatap remah roti itu bergantian. "Cuma segini?!"
[ SYSTEM ]
Creation: Level 1 (Kapasitas Rendah)
Peringatan: Stamina tidak cukup untuk menciptakan objek berukuran penuh.
Stamina Terpakai: 0.5 / 0.5 bar
Stamina Saat Ini: 0 / 10 bar (STAMINA HABIS)
Seketika itu juga, pandangan Saka mendadak berkunang-kunang. Seluruh tenaganya seperti ditarik paksa keluar dari tubuhnya. Ia jatuh terduduk dan hampir saja pingsan.
"Menciptakan sepotong roti aja staminanya abis buat bikin remah-remah doang?!" desah Saka sambil memegangi kepalanya yang makin berat. Ini sistem paling ampas yang pernah ada! Di game biasanya player baru dapat starter pack lengkap, ini malah dikasih starter pack remah roti terus langsung tepar!
Di saat Saka sibuk mengutuki nasibnya, wanita di depannya justru menatap remah roti itu dengan mata berkaca-kaca. Dengan tangan yang gemetar, wanita itu memungut remah-remah kecil tersebut dan memakannya sangat pelan, seolah-olah remah itu adalah hidangan termewah di istana.
"Terima kasih, Tuan..." bisik wanita itu tulus, ada genangan air mata di sudut pelupuk matanya. "Walau cuma sedikit, ini... ini sangat berarti bagi saya."
Saka tertegun. Melihat ketulusan wanita itu, ada sensasi hangat yang aneh mengalir di dalam dadanya. Dan tiba-tiba...
PING!
[ SYSTEM ]
Resonansi Terdeteksi! Target merasa terbantu secara tulus.
Stamina Bertambah: +0.7 bar
Stamina Saat Ini: 0.7 / 10 bar
Saka menghela napas lega saat rasa lemas yang melumpuhkan tubuhnya perlahan menyusut. Tenaganya sedikit kembali.
"Tunggu dulu... staminaku balik lagi cuma gara-gara dia makan remah roti?"
[ SYSTEM ]
Pelajaran: Bantuan yang tulus menghasilkan Resonansi energi lebih besar daripada bantuan berlebihan tanpa ketulusan. Perhatikan kebutuhan sesungguhnya dari target, bukan sekadar jumlah.
Saka mengangguk-angguk paham. Oh... jadi kunci sistem ini bukan seberapa besar barang yang gue kasih, tapi seberapa pas barang itu sama yang dibutuhkan si target. Menarik juga.
Saka mengepalkan tangannya, merasakan aliran tenaga kecil yang merayapi otot-ototnya. Ia lalu kembali menatap wanita di depannya yang kini memandangnya dengan kombinasi rasa takjub dan penuh syukur.
"Siapa namamu?" tanya Saka.
"Lira," jawabnya pelan sambil menunduk. "Dan Tuan... yang tadi itu sihir Creation, kan? Aku tak menyangka... masih ada orang yang mau menggunakan sihir itu."
Saka menaikkan sebelah alisnya. "Maksudnya?"
"Di dunia Aethera, Creation dianggap sebagai sihir paling tidak berguna," jelas Lira dengan suara yang masih agak lemah. "Penggunaan staminanya sangat boros hanya untuk membuat benda sepele. Karena itu, orang-orang yang terlahir dengan atribut Creation biasanya memilih untuk tidak pernah menggunakannya sama sekali daripada harus pingsan hanya karena membuat sepotong roti."
Saka menelan ludah. Jadi sihir yang gue dapet ini beneran dicap sihir sampah di dunia ini? Bangsat.
"Ya... aku masih baru belajar," berdalih Saka ragu.
Lira mengangguk paham. Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut lebih jauh, gema suara langkah kaki beratap berat memecah keheningan gang.
Tuk. Tuk. Tuk.
Beberapa pria berbadan tegap dengan jubah hitam panjang melangkah masuk dari mulut gang. Pandangan tajam mereka langsung mengunci ke arah Lira.
"Ketemu juga kau," ucap salah satu dari mereka dengan suara dingin. "Waktunya ikut kami, Nona Lira."
Wajah Lira seketika memucat pasi. Ia bergidik ketakutan dan langsung bersembunyi di belakang punggung Saka, meremas ujung baju Saka yang lusuh. Kontak fisik itu membuat Saka bisa merasakan napas Lira yang memburu serta kehangatan tubuhnya yang gemetar di punggungnya.
Di saat yang bersamaan, layar transparan Saka berkedip merah.
[ SYSTEM ]
PERINGATAN! Ancaman Terdeteksi.
Status: Stamina saat ini (0.7 bar) tidak cukup untuk Creation skala besar.
PILIH TINDAKAN!
Saka menelan ludahnya yang terasa pahit. Baru lima menit ia terdampar di dunia baru dan menyadari dirinya punya sihir, kini ia sudah dihadapkan pada situasi hidup dan mati.
(Bersambung...)
Daftar bab
41 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








