Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dulu Dibully dan Miskin, Kini Aku Menjadi Peramu Obat Terkuat

Dulu Dibully dan Miskin, Kini Aku Menjadi Peramu Obat Terkuat

safrinafebrianti | Bersambung
Jumlah kata
47.8K
Popular
444
Subscribe
79
Novel / Dulu Dibully dan Miskin, Kini Aku Menjadi Peramu Obat Terkuat
Dulu Dibully dan Miskin, Kini Aku Menjadi Peramu Obat Terkuat

Dulu Dibully dan Miskin, Kini Aku Menjadi Peramu Obat Terkuat

safrinafebrianti| Bersambung
Jumlah Kata
47.8K
Popular
444
Subscribe
79
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurDokter Genius21+Mengubah Nasib
Dulu dipuja karena tampan dan pintar, hidup Rian hancur berantakan sejak masuk Fakultas Kedokteran. Tekanan berat membuat penampilannya rusak, dan hobinya membaca manga serta bermain game VCR peramu obat 21+ terbongkar menjadikannya bahan ejekan, miskin, dan dibully hingga akhir hayatnya. Namun, kematian bukanlah akhir. Rian bertransmigrasi ke dunia asing dan terbangun dalam tubuh seorang peramu obat pemula. Bermodalkan ingatan mendalam dari game VCR dan peta misi misterius, ia bertekad menguasai ilmu ramuan obat dari bawah. Berkelana dari tempat berbahaya hingga konflik skala besar, sang peramu obat yang dulu terbuang kini bangkit menjadi yang terkuat dihormati dunia dan dikelilingi para wanita cantik!
Bab 1 - Sebelum Segalanya Berubah

Rumah mungil berdinding krem di ujung gang itu nggak pernah sepi dari tawa. Setiap sore, aroma masakan Ibu menyelinap keluar dari dapur, beradu dengan suara televisi yang disetel Ayah sembari menunggu anak tunggal mereka pulang. Di rumah sederhana itulah Rian tumbuhbukan dalam kemewahan, melainkan bergelimang kehangatan yang bikin siapa pun betah berlama-lama di sana.

"Rian! Cepat cuci tangan, makan malam sudah siap!" seru Ibu dari arah dapur, suaranya melengking riang seperti biasa.

"Iya, Bu, sebentar!" Rian kecil berlari dari halaman. Wajah mungilnya berkeringat, tapi matanya berbinar usai puas bermain.

Sejak kecil, Rian memang punya aura yang beda. Matanya bulat dan jernih, senyumnya luwes, dan tutur katanya santun ke siapa saja. Tetangga-tetangga bahkan sering berseloroh ke Ibu, "Awas ya, Bu, kalau besar nanti Rian pasti jadi rebutan!"

Ibu cuma bisa tertawa tiap kali mendengarnya. Tapi jauh di lubuk hati, Ibu tahu ucapan itu bukan sekadar basa-basi angin lalu.

Guru-guru di sekolah dasar pun merasakan hal yang sama. Bu Retno, wali kelas Rian waktu kelas tiga, bahkan pernah menuliskannya secara khusus di kolom catatan rapor.

"Rian adalah murid yang sopan, cerdas, dan sangat disukai teman-temannya. Ia memiliki bakat memimpin yang jarang ditemukan pada anak seusianya."

Tiap ada tugas kelompok, teman-teman sekelas pasti saling sikut demi bisa satu tim dengannya. Bukan cuma karena Rian pintar, tapi karena Rian selalu tahu cara membuat orang lain merasa dihargai.

Masa kecil Rian mengalir begitu tenang bagai air sungai penuh kasih, dipenuhi tawa, dan nyaris tanpa celah.

Memasuki jenjang SMP, sosok Rian yang tadinya cuma dikenal sebagai "anak baik dan pintar" mulai bertransformasi. Badannya makin tinggi pesat, garis wajahnya makin tegas, dan senyum yang sama sejak kecil itu. kini mendadak punya efek beda bagi orang-orang di sekitarnya. Terutama para cewek.

Di SMA, nama Rian sudah berubah jadi semacam legenda hidup. Dialah sang kapten tim basket yang berhasil membawa sekolah meraih piala juara antarkota dua tahun berturut-turut. Bukan cuma itu, namanya juga langganan bertengger di papan pengumuman sebagai juara umum kelas. Perpaduan otak encer dan fisik atletis bikin Rian tampak... yah, terlalu sempurna untuk remaja seusianya.

"Woy, Rian! Habis ini latihan jam berapa?" teriak Doni, sahabatnya sejak kelas satu, dari pinggir lapangan.

"Jam empat, kayak biasa!" balas Rian santai sambil menyeka keringat. Bola basket di jarinya berputar pelan sebelum terlempar mulus melintasi udara swish! Masuk sempurna tanpa menyentuh besi ring sedikit pun.

Sorak-sorai langsung pecah dari bangku tribun. Dan bisa ditebak, mayoritas jeritan heboh itu berasal dari kerumunan siswi yang tak pernah absen menonton latihan tim basket setiap sore.

Popularitas setinggi itu tentu membawa konsekuensinya sendiri yang bagi Rian, jujur saja, lebih sering terasa merepotkan ketimbang membanggakan.

Setiap tanggal 14 Februari, loker Rian mendadak berubah fungsi jadi kotak pos raksasa. Cokelat berbagai bentuk dari yang dibungkus plastik biasa sampai yang dihias pita emas megah. menumpuk sampai pintunya nyaris tak bisa dikunci. Belum lagi deretan surat cinta beraroma wangi yang diselipkan di sela-sela buku pelajaran, di sadel sepeda, atau bahkan entah bagaimana caranya bisa nyasar ke dalam tas olahraganya.

"Anu... i...ini titipan dari kelas sebelah," cicit seorang siswi kelas satu. Wajahnya merah padam saat menyodorkan kotak berpita biru dengan kedua tangan yang gemetar hebat.

Rian menerimanya lembut seraya menyunggingkan senyum kikuk. Ia membungkuk sedikit. "Terima kasih banyak, ya. Maaf banget aku nggak bisa balas perasaannya, tapi aku seneng banget kamu udah repot-repot bikin ini."

Kejadian seperti itu terus berulang nyaris setiap minggu. Sampai-sampai Doni pernah menggerutu iri saat membantu Rian membawakan setumpuk cokelat yang tak muat di tas.

"Enak betul jadi kamu, Yan. Aku aja kalau ngasih PR ke cewek udah untung nggak diusir."

"Nggak enak juga, tahu," balas Rian menghela napas, meski sudut bibirnya tetap terangkat geli. "Aku sampai bingung mau nolak pakai cara sesopan apa lagi biar nggak bikin mereka sakit hati."

Di situlah letak serba-salah yang paling sering dirasakan Rian. Bukan soal diterima atau menolak, melainkan bagaimana cara menolak secara tulus tanpa sedikit pun merendahkan. Rian selalu mengusahakan untuk membungkuk dalam-dalam, memilih kalimat paling halus, bahkan terkadang menyiapkan balasan tertulis agar tidak ada hati yang terluka.

Tapi anehnya, ketulusan dan kesopanannya itu justru bikin dia makin dipuja. Di mata mereka, kesopanan Rian adalah bukti nyata betapa "sempurna"-nya seorang Rian.

Namun, di balik riuhnya popularitas itu, Rian punya satu kompas yang membuat pijakannya tetap membumi,cita-citanya menjadi seorang dokter.

Semua berawal dari kejadian sederhana saat ia duduk di kelas dua SMP. Neneknya sempat jatuh sakit cukup parah. Di rumah sakit daerah, seorang dokter muda merawat neneknya dengan begitu sabar. Dokter itu menjelaskan detail penyakit menggunakan bahasa yang menenangkan, bahkan sempat menepuk bahu Rian kecil yang sedang ketakutan melihat sang nenek terbaring lemah.

"Aku mau kayak dokter itu, Bu," cetus Rian kala itu dengan mata berbinar-binar. "Yang bisa bikin orang lain nggak takut lagi."

Sejak hari itu, niat Rian tak pernah goyah sejengkal pun. Ayah dan Ibu menyambut impian itu dengan rasa bangga yang meletup-letup. Tiap kali kumpul keluarga, Ayah tak pernah absen memamerkan sang putra. "Anak saya ini cita-citanya mau jadi dokter. Nilai IPAnya aja selalu di atas sembilan."

Ibu bahkan sudah membeli dan menyiapkan pigura kosong di dinding ruang tamu, khusus dipajang untuk menanti lembar ijazah kedokteran milik Rian kelak.

Ekspektasi tinggi itu tumbuh subur. Tapi bagi Rian, itu bukan beban. Itu adalah bahan bakar utama yang memacunya untuk belajar lebih giat, lebih disiplin, dan lebih gigih ketimbang siapa pun di angkatannya.

Malam kelulusan SMA tiba di sebuah bulan Juni yang cerah. Aula sekolah dihias penuh warna balon-balon bergelantung indah di langit-langit, dan spanduk besar bertuliskan "Selamat Jalan, Angkatan Terbaik" membentang gagah di atas panggung.

Dipilih sebagai lulusan terbaik sekaligus ketua angkatan, Rian ditunjuk untuk menyampaikan pidato perpisahan. Mengenakan jas almamater untuk terakhir kalinya, ia berdiri di atas podium, menatap ratusan pasang mata teman-teman, guru, dan para orang tua yang memandangnya penuh kebanggaan.

"Masa-masa sekolah ini bukan cuma soal nilai atau piala," tutur Rian. Suaranya tenang namun bergema mantap ke seluruh penjuru aula. "Tapi tentang bagaimana kita saling merangkul untuk jadi versi terbaik dari diri kita masing-masing. Aku nggak akan pernah melupakan kalian."

Tepuk tangan langsung membahana riuh. Di barisan orang tua, Ibu menyapu air matanya sambil meremas jemari Ayah dengan erat. Doni bersiul heboh dari barisan belakang sampai disikut guru piket. Sementara itu, beberapa siswi yang dulu pernah menyelipkan surat di lokernya kini cuma bisa tersenyum haru dari jauh, melambaikan tangan mengucap perpisahan.

Malam itu, di bawah sorotan lampu panggung dan gemuruh tepuk tangan yang tak kunjung usai, Rian benar-benar merasa sedang berdiri di puncak dunia. Semua mimpinya terasa begitu dekat, begitu nyata seolah masa depan telah membentangkan karpet merah indah khusus untuk langkah kakinya.

Sesampainya di rumah usai pesta kelulusan, Rian duduk menyendiri di dalam kamar. Di atas meja belajar, tergeletak sebuah amplop cokelat besar berlogo Fakultas Kedokteran dari salah satu universitas negeri paling bergengsi. surat penerimaan yang tiba tepat sehari sebelum kelulusan. Sebuah kado penutup yang terlalu sempurna untuk babak hidupnya yang serbaberkilau ini.

Rian menarik napas, membuka amplop itu sekali lagi. Ia menatap lekat kata demi kata di sana walau sudah hafal di luar kepala.

Selamat, Anda dinyatakan diterima sebagai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran...

Lanjut membaca
Lanjut membaca