
Wanita Pujaan Mantan Murid
Dewa Pencipta|Bersambung
- Jumlah kata
- 148.4K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 499
- Jumlah kata
- 148.4K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 499
Sinopsis
Bertahun-tahun setelah lulus, Deva yang kini sudah bekerja tak sengaja bertemu kembali dengan Ibu Sandra, mantan guru SMA-nya yang dulu selalu jadi fantasinya. Ibu Sandra yang kini berstatus single terkejut melihat perubahan Deva yang makin maskulin dan dewasa. Pertemuan singkat di sebuah bar berlanjut ke malam yang dipenuhi luapan hasrat yang dulu sempat tertunda.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Dentang Es dan Kenangan Lama
Lampu remang-remang bernuansa keemasan membias di atas permukaan meja kayu jati yang mengilap. Suara denting gelas bermaterial kristal, dipadu dengan alunan musik jazz bertempo lambat yang mengalun dari sudut ruangan, menciptakan atmosfer santai namun pekat di dalam lounge malam itu.
Deva merenggangkan ikatan dasinya sedikit, melonggarkan kancing teratas kemeja kerjanya yang berwarna abu-abu gelap. Bahunya yang kini tegap dan bidang bersandar pada sandaran kursi kulit. Setelah bertahun-tahun meniti karier di dunia korporat yang keras, perubahan fisik Deva memang tak bisa dimungkiri. Wajahnya tak lagi polos seperti masa remaja; rahangnya kian tegas, ditumbuhi bayangan janggut tipis yang terawat, memberikan kesan maskulin dan matang.
Ia baru saja hendak menyesap whisky di gelasnya ketika matanya menangkap sosok wanita yang baru saja duduk di bar stool, beberapa meter di sebelahnya.
Deva tertegun. Gelas di tangannya berhenti beberapa sentimeter dari bibir.
Wanita itu mengenakan dress dipress tubuh berwarna merah marun berbahan sutra yang jatuh dengan sempurna, membingkai lekuk tubuhnya yang sangat berisi namun tetap kencang. Rambut hitam bergelombangnya dibiarkan terurai menutupi sebagian punggungnya yang terbuka. Dari samping, profil wajah wanita itu begitu familier—alis ramping, hidung mancung, dan bibir dengan gincu merah menyala.
Ibu Sandra.
Nama itu seketika menggema di kepala Deva, membawa kembali gelombang ingatan dari sepuluh tahun lalu. Masa-masa SMA, di mana Deva muda kerap duduk di barisan belakang kelas, pura-pura mencatat padahal matanya tak bisa berpaling dari sosok guru Bahasa Indonesia tersebut. Ibu Sandra dulu adalah definisi sempurna dari fantasi pubertasnya—anggun, cerdas, berwibawa, dan memiliki aura keanggunan yang selalu berhasil membuat jantung Deva berdegup kencang setiap kali beliau berdiri dekat mejanya.
Namun kini, sosok di depannya tampak berbeda. Ada kepedihan tersirat yang tersembunyi halus di balik ketenangannya. Terakhir kali Deva mendengar kabar dari alumni, Ibu Sandra sudah bercerai beberapa tahun lalu dan kini memilih hidup sendiri di kota ini.
Deva menghela napas pelan, merapikan lengan kemejanya yang digulung hingga siku, lalu berdiri. Langkah kakinya mantap, menepuk pelan meja di samping wanita itu.
"Pesanan cocktail-nya biar saya yang bayar, Bu," suara Deva terdengar berat, dalam, dan tenang.
Sandra menoleh, sedikit terkejut karena disapa dengan sebutan "Bu" di tempat seperti ini. Ia menatap pria di sampingnya dari bawah ke atas—sepatu kulit mahal, celana bahan yang pas, hingga kemeja abu-abu yang tercetak menonjolkan dada bidang dan lengan kokoh. Ketika pandangannya bertemu dengan mata Deva, pupil matanya melebar seketika.
"Deva?" bisik Sandra, suara seraknya terdengar tertahan. Senyum tipis perlahan terukir di bibirnya. "Kamu... Deva murid yang dulu selalu terlambat dikumpul tugasnya?"
Deva terkekeh pelan, duduk di kursi sebelah Sandra. "Ternyata ingatan Ibu masih tajam. Tapi soal tugas, saya punya alasan kenapa dulu sering terlambat."
"Oh ya? Apa alasannya?" Sandra memiringkan kepala, memutar gelas di tangannya. Tatapannya meneliti perubahan fisik mantan muridnya itu tanpa rasa canggung berlebih. Di mata Sandra, Deva bukan lagi bocah berseragam putih-abu yang canggung dan pemalu. Pria di depannya ini memancarkan percaya diri yang amat kuat.
"Saya terlalu sibuk memperhatikan gurunya daripada mendengarkan materi," ujar Deva lugas, menatap langsung ke dalam manik mata Sandra tanpa ragu.
Sandra tertawa kecil, suara tawa yang halus namun sanggup membuat darah Deva berdesir hangat. "Dasar. Sudah makin pandai bicara ya sekarang. Kamu beda sekali, Deva. Makin... dewasa."
"Waktu mengubah banyak hal, Bu. Termasuk status kita yang bukan lagi guru dan murid," Deva memberi sinyal pada bartender untuk menambah minuman mereka.
Malam semakin larut, dan percakapan di antara mereka mengalir tanpa hambatan. Batasan formalitas masa lalu perlahan mengikis, tergantikan oleh rasa penasaran dan ketertarikan antar dua orang dewasa. Sandra menceritakan sedikit tentang hidupnya—tentang kebebasan barunya setelah keluar dari pernikahan yang hampa, sementara Deva mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menyelipkan humor ramah yang membuat Sandra merasa nyaman dan dihargai.
Setiap kali Sandra tertawa, jemarinya secara tidak sengaja menyentuh lengan Deva. Sentuhan kulit bertemu kulit itu menyebarkan arus listrik halus yang membuat atmosfer di antara mereka terasa semakin padat dan penuh ketegangan seksual yang terpendam.
"Aku tidak menyangka akan bertemu kamu di sini, Deva," ucap Sandra lirih, tatapannya sedikit sayu karena pengaruh alkohol yang mulai bekerja lambat. "Jujur, malam ini aku sedang merasa sangat sepi."
Deva mendekatkan posisinya, aroma parfum kayu bernuansa musk miliknya kini menyatu dengan wewangian melati dari tubuh Sandra. "Kalau begitu, biarkan saya menemani Ibu malam ini. Jangan biarkan sepi itu bertahan."
Sandra menatap Deva lama, seolah mencari kepastian atau mungkin menyerahkan diri pada desakan hasrat yang sudah lama ia padamkan. Ia menyibak rambutnya ke belakang, memperlihatkan jenjang lehernya yang mulus. "Jangan panggil aku 'Bu' lagi kalau kita cuma berdua, Deva."
Satu jam kemudian, pintu kamar unit apartemen mewah milik Sandra tertutup rapat dengan bunyi klik yang menggema di koridor yang sunyi.
Belum sempat Sandra menyalakan lampu utama, Deva sudah meraih pinggangnya dari belakang. Tubuh Sandra yang hangat membelakangi dada bidang Deva. Desah napas Deva yang hangat menyapu tengkuk Sandra, membuat wanita itu meremang seketika.
"Deva..." bisik Sandra pasrah saat jemari Deva yang kekar dan hangat mulai merayap di sekitar pinggangnya, menarik tubuhnya agar menempel rapat pada bagian depan tubuh Deva yang tegap.
"Maafkan saya, Sandra. Tapi saya sudah menunggu momen ini sejak sepuluh tahun yang lalu," gumam Deva di dekat telinga Sandra, memanggil namanya langsung untuk pertama kalinya.
Sandra membalikkan badannya, menatap Deva dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya remang kota dari balik jendela kaca besar. Tanpa banyak kata lagi, Sandra menarik kerah kemeja Deva, mengikis jarak di antara mereka dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Deva.
Ciuman itu tidak dimulai dengan lembut. Itu adalah letupan hasrat yang ditahan bertahun-tahun. Sandra mencium Deva dengan lapar, menyalurkan kerinduan akan kehangatan yang meluap-luap, sementara Deva membalasnya dengan dominasi penuh. Jemari Deva menyusup ke sela-sela rambut Sandra, menahan kepala wanita itu agar ciuman mereka semakin dalam dan pekat.
Suara kecupan basah dan napas yang memburu memenuhi ruangan yang sunyi. Deva mendorong Sandra pelan hingga punggung wanita itu menyentuh dinding dingin, menciptakan kontras yang membakar dengan suhu tubuh mereka yang kian memanas.
Tangan Deva bergerak ke belakang tubuh Sandra, mencari ritsleting dress merah tersebut. Dengan satu tarikan perlahan namun pasti, gaun sutra itu meluncur turun, menyingkap kulit mulus Sandra yang eksotis di bawah remang cahaya malam. Sandra hanya mengenakan pakaian dalam berenda hitam yang membingkai bentuk tubuhnya yang begitu matang dan menggiurkan.
"Kamu sungguh luar biasa, Sandra," bisik Deva dengan suara serak menahan gairah, matanya menyapu setiap lekuk tubuh mantan gurunya yang kini pasrah di bawah kendalinya.
Sandra mendongak, matanya pejam-melek menikmati setiap sentuhan telapak tangan Deva yang hangat dan kasar menyusuri pinggul hingga paha bagian dalam. "Jangan cuma bicara, Deva..." desahnya lirih, dadanya naik turun dengan cepat akibat napas yang tak teratur.
Deva melepas kemejanya secara kasar, membiarkan tubuh bagian atasnya yang atletis terpampang jelas. Ia melangkah maju, kembali menghimpit Sandra ke dinding. Sandra menyambutnya dengan merangkulkan kedua lengannya ke leher Deva, merapatkan dada mereka hingga detak jantung keduanya saling bertumbukan.
Tangan Deva bergerak cepat melepaskan sisa kain yang menempel di tubuh mereka berdua, menyisakan ketelanjangan utuh tanpa ada selembar benang pun yang membatasi kulit mereka.
Di atas ranjang berukuran besar dengan sprei putih tebal, Deva menindih tubuh Sandra secara perlahan. Sandra mendongak saat merasakan ujung kejantanan Deva—yang berukuran terbilang besar, tebal, dan sudah mengeras sempurna—menekan di antara paha bagian dalamnya yang basah oleh pelumas alami.
"Deva... ahh..." Sandra mendesah pelan saat jemari Deva membuka celah pahanya lebih lebar. "Kamu... besar sekali..."
Deva tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menatap dalam ke mata Sandra, memegang pinggul wanita itu dengan kedua tangannya yang kokoh, lalu secara perlahan mulai menekan kejantungannya masuk ke dalam tubuh Sandra.
Plop.
Gesekan hangat dan ketat menyambut puncaknya. Dinding kewanitaan Sandra yang sangat hangat melingkupi kejantanan Deva yang membesar penuh. Sandra membusungkan dadanya saat merasakan kerapatan yang luar biasa, kepalanya tertengadah ke belakang dengan mata terpejam rapat.
"Nghh... De-Deva... penuh... ahhh!" jerit Sandra tertahan, tangannya mencengkeram erat bahu tegap Deva, kuku-kukunya menancap halus di kulit pria itu.
Deva menahan napas sejenak, memberikan waktu bagi tubuh Sandra untuk menyesuaikan diri dengan ukurannya. Kejantanannya yang lumayan besar itu kini sudah terbenam sepenuhnya, masuk tanpa celah hingga membuai bagian terdalam Sandra.
"Kamu ketat sekali, Sandra... hangat..." bisik Deva dengan geraman rendah di tenggorokannya.
Ketika rasa penuh itu berubah menjadi sensasi kenikmatan yang membakar, Deva mulai menarik pinggulnya sedikit ke belakang, lalu menghantamkannya kembali ke depan.
Jlep... Sluck...
Bunyi benturan tubuh mereka yang saling bertabrakan mulai terdengar teratur di dalam kamar. Tempo benturan yang awalnya pelan dan dalam perlahan berubah menjadi makin cepat dan liar. Deva memompa pinggulnya dengan ketukan yang bertenaga, memanfaatkan stamina mudanya untuk memberikan dorongan bertubi-tubi yang menghantam titik-titik peka di dalam tubuh Sandra.
Plak! Plak! Sluck!
Suara kebasahan dan benturan pinggul Deva yang tegap bertemu dengan bokong padat Sandra bertabrak bergantian, menciptakan simfoni gairah yang memenuhi ruangan. Sandra tak mampu lagi menahan diri. Rasa nikmat yang meluar biasa menyerang kesadarannya, mengalahkan seluruh keanggungan yang biasa ia tampilkan sehari-hari.
"Ahhh! Ya Tuhan... Devahh!! Terus... ahh! Lebih dalamm!" jerit Sandra pasrah, matanya terpejam rapat sementara tubuhnya berguncang hebat mengikuti setiap sentakan keras dari Deva.
Deva makin kalap mendengar jeritan dan desahan wanita yang dulu hanya bisa ia impikan dalam mimpinya. Ia meraih kedua paha Sandra, mengangkatnya ke atas bahunya agar penetrasi yang ia lakukan bisa menembus lebih dalam lagi. Setiap kali kejantanannya menghantam dasar kewanitaan Sandra, wanita itu menyentuh sprei dengan kencang, meliukkan tubuhnya ke atas karena nikmat yang tak tertahankan.
"Nghh... Sandra... kamu milik saya malam ini..." geram Deva serak sambil makin mempercepat tempo gerakannya.
Plak! Sluck! Plak!
Gerakan mereka makin liar dan tak beraturan. Keringat dingin melumuri tubuh kedua insan yang tenggelam dalam luapan hasrat terpendam itu. Tempat tidur berderit kencang seiring irama dorongan Deva yang bertubi-tubi, menghantam kehangatan Sandra tanpa ampun namun penuh presisi kenikmatan.
"Deva! Ahhh! Aku mau... aku mau keluar, Deva! Ahhh-nghh!" Sandra menjerit lebih keras, dadanya membusung naik, jemari kakinya mencengkeram udara saat puncak kenikmatan mulai mencengkeram seluruh sel sarafnya.
Deva merasakan pencerapan dinding kewanitaan Sandra yang makin memeras kencang kejantungannya yang terbenam di dalam. Ia mempercepat genjotannya di detik-detik terakhir, menghantamkan pinggulnya dengan tenaga penuh secara berturut-turut.
Plak! Plak! Plak!
"Ahhhhhh Devaaaa!!" Sandra menjerit panjang saat gelombang orgasme yang dahsyat meledak di dalam tubuhnya, membuat Dinding sensitifnya memeluk dan memeras kejantanan Deva dengan sangat ketat.
Merasa remasan hangat yang begitu cengkeram di dalam sana, Deva tak mampu lagi menahannya. Dengan geraman keras dari dadanya, Deva menekankan pinggulnya seawal mungkin ke dalam tubuh Sandra, membiarkan kejantungannya tenggelam se dalam-dalamnya sebelum menyemburkan lahar hangatnya bertubi-tubi di dasar rahim Sandra.
"Nghhh... Sandra..." Deva merintih serak, tubuhnya bergetar pelan saat menikmati pelepasan dahsyat yang menyelimuti mereka berdua.
Hening sejenak menyelimuti kamar tersebut setelah badai gairah itu mereda. Hanya terdengar suara helaan napas memburu dari Deva dan desah napas Sandra yang tersengal-sengal. Deva merebahkan tubuhnya di samping Sandra, merangkul pinggang wanita itu dan menariknya ke dalam pelukan hangatnya.
Sandra menyandarkan kepalanya di dada bidang Deva yang masih naik turun, mendengarkan detak jantung pria muda itu yang berdegup kencang. Ia mengusap sisa keringat di pelipis Deva dengan jemarinya yang masih agak gemetar.
"Kamu benar-benar gila, Deva..." bisik Sandra lirih dengan tawa kecil yang terdengar sangat puas dan lemas.
Daftar bab
104 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
104 bab








