

"Rama, kamu udah ngunci pintu depan belum?"
Suara Sarah terdengar mendayu dari arah meja kasir, memecah kesunyian salon yang baru saja tutup sepuluh menit yang lalu. Rama yang sedang menyapu sisa-sisa potongan rambut refleks bergidik. Bau sampo lavender bercampur minyak aromaterapi yang menenangkan mendadak terasa mencekik lehernya.
"Su... sudah, Tante," sahut Rama cepat. Suaranya sedikit pecah, khas anak muda yang ketakutan setengah mati padahal tidak ada hantu di sekitar mereka.
Sarah berjalan mendekat, tumit sepatu hak tingginya berklak-klik nyaring di atas lantai keramik yang berkilau. Di usianya yang ke-39, Tante Sarah bukan cuma matang, tapi terlewat matang. Tubuhnya yang berisi dengan lekukan yang tegas seperti gitar Spanyol selalu berhasil membuyarkan fokus Rama. Malam ini, entah karena pendingin udara salon rusak atau memang sengaja, Sarah hanya mengenakan gaun tidur bahan sutra tipis berwarna merah marun di balik apron salonnya. Saat apron itu dilepas dan dilemparkan begitu saja ke atas kursi, napas Rama mendadak tertahan.
Gaun itu begitu ketat melilit pinggulnya yang padat, dan belahan dadanya yang rendah sama sekali tidak menyisakan ruang untuk imajinasi. Rama menelan ludah dengan susah payah. Matanya secara refleks melirik ke bawah, mencari garis celana dalam di balik kain sutra yang mengikuti setiap lekuk tubuh Tantenya itu. Nihil. Tidak ada garis sama sekali. Astaga, Tante Sarah beneran gak pakai celana dalam lagi?! batinnya menjerit.
Pikiran itu langsung menyetrum saraf di celana jins Rama. Sesuatu di sana yang biasanya 'tidur tenang' mulai menggeliat, menegang, dan memanjang dengan sangat agresif. Aset berukuran 18 sentimeter yang tebal milik Rama memprotes ruang sempit di dalam jinsnya, membentuk tonjolan keras yang sangat mencolok di bagian depan.
"Kenapa bengong gitu, Ram?" Sarah menyipitkan mata, bibirnya yang dipoles lipstik merah menyunggingkan senyum usil. "Mukamu merah banget. Salonnya panas, ya?"
"E-enggak, Tante. Cuma... capek aja habis keramasin lima pelanggan berturut-turut," alibi Rama sambil buru-buru mengarahkan gagang sapu ke depan selangkangannya untuk menutupi 'tenda' yang sudah berdiri tegak sempurna.
Sarah tertawa kecil, suara tawa yang begitu renyah dan menggoda. Ia berjalan mendekati Rama, lalu tanpa aba-aba merampas gagang sapu dari tangan keponakannya itu. Rama spontan mundur satu langkah, tapi punggungnya justru menabrak cermin besar salon. Tangannya bergerak liar mencoba mencari pegangan, bingung harus menaruh tangannya di mana.
"Masa capek baru gitu aja?" goda Sarah. Ia melangkah makin rapat, menatap Rama dari bawah ke atas. Pandangan matanya dengan sengaja berhenti persis di celana jins Rama yang menegang hebat. Sarah tertawa makin bermakna. "Wah, ada yang tegang tapi bukan senar gitar, nih."
"Ta-Tante... jangan bercanda ah. Rama mau beresin handuk kotor di belakang," bisik Rama penuh ketakutan, tapi matanya sama sekali tidak bisa berpaling dari belahan dada Sarah yang meliuk tepat di depan matanya. Aroma parfum mawar bercampur aroma tubuh alami Sarah yang hangat menyerbu indra penciumannya.
"Nanti dulu beresin handuknya. Tante ngerasa pegal-pegal di leher. Kamu kan jago mijit," kata Sarah santai. Tanpa menunggu persetujuan, Sarah berbalik dan duduk di atas kursi salon tempat pelanggan biasa memotong rambut.
Gaya duduk Sarah sama sekali tidak membantu kesehatan jantung Rama. Ia menyilangkan kakinya yang mulus dan jenjang, membuat gaun sutra tipis itu terangkat naik sampai ke pangkal paha. Rama yang berdiri tepat di sampingnya hampir saja menjatuhkan botol semprotan air. Dari sudut pandang atas tempatnya berdiri, Rama bisa melihat dengan jelas paha dalam Sarah yang putih bersih—dan benar saja, tidak ada selembar benang pun yang menutupi organ intim Tantenya yang matang itu.
Gila. Ini beneran gila, ceracau Rama dalam hati. Kepalanya mendadak pusing akibat aliran darah yang menumpuk di area bawah. 'Joni'-nya terasa makin tegang, berdenyut-denyut menagih pelepasan, menekan kain jins hingga rasanya mau robek.
"Kok malah diam? Sini mijitnya," titah Sarah sambil mengibaskan rambut panjangnya ke depan, memamerkan leher jenjang dan pundaknya yang mulus.
Rama melangkah maju dengan gemetar. Tangannya yang besar dan hangat mendarat di bahu Sarah.
Sentuhan pertama.
Sarah mendesah pelan, "Ah... enak banget, Ram. Jarimu kuat ya..."
Ibu jari Rama mulai menekan otot-otot leher Sarah dengan lembut. Sensasi kulit Sarah yang begitu halus di bawah telapak tangannya membuat Rama makin tak terkendali. Setiap kali Sarah mendesah, bahunya naik turun, dan dada indahnya ikut membal lembut. Rama harus mengangkang sedikit agar tonjolan keras di celananya tidak secara tidak sengaja menabrak sandaran kursi Sarah.
"Rama... lebih turun sikit mijitnya..." gumam Sarah. Matanya terpejam memikmati pijatan itu, namun tangannya bergerilya ke belakang, menyentuh paha Rama yang berdiri tepat di samping kursinya.
Tangan Sarah yang dingin membelai paha luar Rama, lalu secara perlahan dan sengaja merayap ke arah dalam, hingga telapak tangannya menyentuh bagian keras yang menegang keras di dalam jins Rama.
Rama tersentak. Tangannya yang sedang mijit mendadak berhenti total. "Ta-Tante..."
"Sshh... terus mijitnya, Ram. Jangan berhenti," bisik Sarah dengan suara serak yang sangat basah. Tangannya kini meremas lembut tonjolan tebal sepanjang 18 sentimeter itu dari luar celana. "Kamu makin gede aja ya sekarang..."
Sensasi remasan tangan Sarah di 'aset' berharganya membuat lutut Rama terasa lemas. Kepalanya menengadah ke atas, matanya merem melek menahan nikmat dan tegang yang menjadi satu. Bunyi gesekan kain jins dan desahan napas mereka berdua yang makin memburu memenuhi ruangan salon yang sunyi itu.
Sarah mendadak berdiri dan membalikkan badannya. Posisi mereka kini berhadapan sangat dekat. Dada lunak Sarah menempel pas di dada Rama, dan gaun sutranya yang tipis sama sekali tidak menghalangi Rama merasakan kehangatan tubuh Tantenya. Sarah menatap mata Rama yang panik namun penuh gairah, lalu tangannya bergerak cepat menyusup ke balik pinggang jins Rama, menurunkannya bersama celana dalamnya hingga aset raksasa milik Rama terlempar keluar, berdiri megah dan tegang sempurna di udara terbuka salon.
"Tante... kita... kita gak boleh begini..." kata Rama gagap, meski tubuhnya sama sekali tidak menolak saat Sarah berlutut di depannya.
Sarah hanya tersenyum menggoda, menatap 'Joni' Rama yang tebal dan berurat itu dengan mata berbinar-binar. "Kamu diam aja, biar Tante yang urus."
"Tante, serius, kalau ada orang lewat gimana?!"
"Mana ada orang lewat jam segini, Ram? Kan kacanya tertutup tirai tebal," bisik Sarah santai, suaranya terdengar makin berat dan penuh hasrat.
Tangan mulus Sarah bergerak dengan sangat terampil. Jari-jarinya melingkari batang tebal sepanjang 18 sentimeter milik Rama, meremasnya lembut sebelum membelainya naik turun. Sensasi kehangatan jemari Sarah yang halus mengusap kulit sensitifnya membuat seluruh bulu kuduk Rama berdiri. Tubuh Rama menegang hebat; ia terpaksa bersandar pada cermin salon yang dingin agar kakinya yang gemetar tidak lemas dan roboh ke lantai.