
Dengan Sistem Pilihan, Aku Yang Memilih!
MYLIHU|Bersambung
- Jumlah kata
- 112.8K
- Popular
- 3.8K
- Subscribe
- 267
- Jumlah kata
- 112.8K
- Popular
- 3.8K
- Subscribe
- 267
Sinopsis
Dihina karena miskin dan selalu dianggap pecundang, hidup Reno berubah setelah membangkitkan Sistem Pilihan. Berbeda dari sistem lain yang memaksa menjalankan misi, sistem ini hanya menawarkan berbagai pilihan beserta hadiahnya. Setiap keputusan ada di tangannya. Dengan memilih jalan terbaik, Reno perlahan meraih kekuatan, kekayaan, dan status yang tak pernah ia bayangkan. Kali ini, bukan takdir yang menentukan hidupnya. Akulah yang memilih!
Ulasan
2 ulasan
Aennbordeau
1/8/26 10:33
Izin promosi ya kak.. Judulnya : Impossible Menceritakan seorang anak yang sebatang kara.. Dijamin seru guyss
Decade
30/7/26 14:28
Di lihat dari sinopsis nya keren & bagus, jadi Cukup 100bab, baru aku mula baca ya. Semangat ya... 😊😉
Sistem Pilihan 1
Pukul tujuh lewat dua belas menit, Reno sudah mengangkat karung semen keempat puluh tiga.
Bahunya bergetar, keringat dingin mengalir dari pelipis hingga ke rahangnya, bercampur dengan debu semen yang menempel di kulitnya.
"Reno!"
Suara tawa meledak dari belakang.
"Karung semen doang, kayak bawa sekarung besi aja! Cepetan!"
Reno berhenti seperkian detik saat mendengar perkataan itu. Ia menoleh, dan melihat Bimo yang berdiri di atas tumpukan material, tertawa bersama tiga pekerja lainnya.
Reno tidak membalas. Bukan karena dia tidak punya jawaban atau tidak berani, tapi hanya karena dia sudah tahu bahwa apapun yang dikatakannya, itu hanya akan jadi alasan baru buat mereka menertawakannya lebih lama.
Dua tahun dia bekerja di proyek ini. Dua tahun juga dia jadi bahan bercandaan oleh pekerja di sana.
Mereka memanggilnya Reno si kuli lambat, Reno yang kerjanya nggak becus, dan Reno yang gajinya paling kecil karena 'kerjanya juga paling kecil hasilnya.'
Tapi sebenarnya Reno tidak seburuk yang mereka kira. Dia tahu cara mengikat besi, membawa ukuran material dan mengoperasikan alat sederhana.
Masalah Reno hanya satu, yaitu tubuhnya memang tidak sekuat pekerja lain. Karena semenjak orang tuanya meninggal dan dia terus hidup sederhana, membuat stamina Reno jauh tertinggal dari mereka.
Saat jam istirahat siang, Reno duduk sendirian di bawah bayangan tembok setengah jadi, membuka bekal nasi dengan lauk seadanya.
Ponselnya bergetar. Satu pesan dari Sari, wanita yang sudah menjadi kekasihnya sejak tiga tahun lalu.
"Ren, nanti malem jangan ke kosan aku ya, aku ada urusan keluarga."
Membaca pesan itu, Reno hanya membalas dengan singkat, "Oke, hati-hati, ya, Sayang."
"Iyaa ... Kamu nanti pulang jangan lupa makan, yaaa."
Reno tersenyum, pesan sederhana seperti itu selalu berhasil membuat hari buruknya terasa sedikit lebih ringan.
Selama tiga tahun terakhir, sari adalah satu-satunya orang yang masih menunggunya pulang. Dan ketika dia tidak punya uang, sari pernah berbagi makanan dengannya.
Setidaknya, Reno selalu percaya begitu.
Sampai sore itu ternyata Reno lupa mengambil charger ponselnya yang tertinggal di kosan Sari.
Jadi Reno mampir sebentar ke kos kekasihnya itu untuk mengambilnya lagi.
Reno sekarang sudah berdiri di depan pintu kamar Sari. Tangannya sudah terangkat, hendak mengetuk ketika matanya menangkap sesuatu.
Itu adalah sepasang sepatu boots proyek. Sepatu boots hitam dengan goresan putih di bagian samping.
Reno mengenalnya. Itu adalah sepatu Bimo. Dan tiba-tiba, Reno merasa dadanya sesak.
Mungkin ini cuma kebetulan, dan ia mencoba mencari alasan. Mungkin Bimo sedang mengantar sesuatu, atau ada urusan.
Mungkin ...
Tapi belum selesai Reno memikirkan berbagai alasan yang masuk akal, Reno mendengar suara tawa laki-laki. Seketika, Reno membeku dan semua alasan yang baru saja dia pikirkan langsung runtuh.
"Sari! Buka pintunya!" teriak Reno kemudian.
Dan butuh beberapa lama Reno menggedor pintu tersebut sebelum terbuka dari dalam.
Dan Sari berdiri di sana, dengan wajah pucat, dan di belakangnya, berdiri dengan santai dan tanpa rasa bersalah sedikit pun, Bimo.
"Loh, Reno? Ngapain lo ke sini?" Bimo menyeringai menatap Reno, ia tidak terkejut sedikit pun, seolah sudah menunggu momen ini.
"Sari... kenapa dia ada di sini?" Reno menatap kekasihnya itu dengan tubuh bergetar.
Mendengar pertanyaan Reno, Sari membuang muka. "Ren, sebenernya... aku udah lama mau ngomong. Aku sama Bimo—"
"Udahan, dia mau udahan sama lo!" potong Bimo, dia melangkah maju, mendorong bahu Reno hingga dia terhuyung ke belakang. "Lo denger sendiri kan? Dia udah nggak butuh lo."
"Lepasin—" Reno mencoba membalas, tapi dorongan kedua Bimo di bahunya terasa lebih keras, membuatnya jatuh membentur dinding lorong kos.
Setelah itu semuanya terjadi dengan begitu cepat. Bimo memang sudah lama membenci Reno. Dan itu semua bukan karena Reno pernah melakukan sesuatu padanya. Tapi itu semua karena Reno yang tidak pernah melawannya.
Dan sekarang, ketika Sari memilih dirinya, Bimo merasa akhirnya dia punya sesuatu yang bisa digunakan untuk menginjak Reno lebih jauh.
Bimo melayangkan pukulan demi pukulan, dan Reno yang selama ini terbiasa diam menerima hinaan verbal dan karena tubuhnya tak sekuat Bimo, membuatnya tak bisa melakukan apa-apa selain meringkuk melindungi kepalanya.
"Rasain. Makanya jangan sok jadi orang," desis Bimo, sebelum melayangkan tendangan terakhir ke tubuh Reno.
Dan Sari tidak menolongnya. Dia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Reno yang tersungkur di lantai lorong, lalu menutup pintu kamarnya dengan kasar, tanpa sepatah kata pun.
Reno terbaring sendirian di lorong itu cukup lama sebelum akhirnya ia memaksa tubuhnya bangkit. Wajahnya bengkak, sudut bibirnya berdarah, tulang rusuknya nyeri setiap kali dia bernapas. Tidak ada satu pun tetangga yang keluar untuk membantunya.
Reno memaksakan dirinya pulang ke kamar kosnya yang sempit. Sebuah kamar yang berukuran tiga kali empat meter, tanpa ada jendela yang benar-benar bisa dibuka, dengan cat dinding yang mengelupas di beberapa sudut.
Wajahnya bengkak, langkahnya pincang karena menahan nyeri.
Tiba di depan kamar kosnya, ternyata Ibu kos sudah menunggu di depan pintu dengan tangan yang bersedekap.
"Ren ..." Saat akan mengucapkan kata-katanya, ibu kos memandang wajah Reno yang lebam. Untuk sesaat, ekspresinya melunak. Tapi ketika dia teringat tunggakan kosnya selama dua bulan, wajahnya kembali serius.
"Kamu kenapa?"
Reno menggeleng pelan. "Cuma masalah di tempat kerja, Bu," jawabnya.
"Ya sudah ... tapi soal kos ...." Ia menghela napas berat. "Saya juga punya tagihan yang harus dibayar. Kamu sudah dua bulan belum bayar, Ren."
Reno menunduk mendengarnya, "Saya usahakan besok, Bu," jawabnya.
"Saya kasih waktu sampai akhir minggu." Nada bicara ibu kos masih keras, tapi tidak kejam. "Kalau kamu memang kesulitan, bilang. Jangan menghilang!"
Reno mengangguk pelan. "Iya, Bu."
Setelahnya, Reno duduk di lantai, punggungnya bersandar ke dinding yang dingin. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dia tidak menangis. Dia hanya diam, dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba saja setitik air membasahi pipinya. Dia tidak punya siapapun lagi yang bisa diajak bicara. Orang tuanya sudah lama tiada, tidak punya sanak saudara, dan Sari satu-satunya orang yang selama ini ia anggap sebagai keluarga, dan kini menorehkan luka yang sangat dalam di hatinya.
Dihina, dihajar dan dikhianati oleh orang yang paling dia percaya. Rasa sakitnya tak tergambarkan.
'Untuk apa semua ini,' pikir Reno. 'Untuk siapa aku bertahan?'
Malam itu, entah bagaimana kakinya membawanya ke atas atap bangunan kosong. Angin malam menerpa wajahnya.
Di bawah sana, lampu kendaraan terus bergera. Semua orang tampak memiliki tujuan. Sementara Reno tidak tahu ke mana dia harus pergi.
Ia memejamkan matanya.
'Aku capek.'
Hanya dua kata itu yang tersisa di kepalanya.
Saat pikirannya hampir mengambil keputusan yang tidak bisa ditarik kembali ....
[SISTEM TERDETEKSI.]
[INISIALISASI DARURAT.]
Daftar bab
110 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
110 bab








