
Tinggal Dirumah Tante Hot
Dewa Pencipta|Bersambung
- Jumlah kata
- 104.6K
- Popular
- 7.9K
- Subscribe
- 1.0K
- Jumlah kata
- 104.6K
- Popular
- 7.9K
- Subscribe
- 1.0K
Sinopsis
Karena urusan kuliah, Rian terpaksa menumpang di rumah mewah milik tantenya, Sarah (40 tahun), yang hidup bersama ketiga anak gadisnya yang merupakan sepupu Rian—masing-masing dengan pesona yang berbeda: sang kakak sulung yang disiplin, anak tengah yang manja, dan si bungsu yang liar. Suasana rumah yang padat berubah menjadi penuh ketegangan menggoda ketika para sepupu dan sang tante secara diam-diam bersaing mendapatkan perhatian penuh Rian di balik pintu kamar yang terkunci.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Kunci Pintu yang Salah dan Senyum Paling Tenang
"Lagipula, kamu kan bisa tidur di kamar tamu lantai atas, Rian. Enggak usah merasa enggak enak begitu," suara Tante Sarah masih terngiang halus dari balik dapur, diiringi denting cangkir keramik yang baru saja diseduhnya.
Rian menyunggingkan senyum tipis, sejajar, elegan—tipe senyum yang sanggup meluluhkan ibu-ibu arisan dalam radius lima meter. Penampilannya rapi, bahunya tegap, dan gesturnya memancarkan aura pemuda matang yang sangat terkontrol.
"Terima kasih banyak, Tante Sarah. Rian sangat menghargai kebaikan Tante. Semoga Rian enggak mengganggu dinamika rumah ini, ya," ucap Rian. Bahasanya tertata rapi, intonasinya lembut dan sejuk.
Ya Tuhan, tolong aku. Aku mau mati rasanya. Kenapa rumah ini gedungnya kayak istana tapi jarak antar pintu kamarnya cuma sejangkauan tangan?! Kenapa AC-nya dingin banget tapi punggungku basah kuyup begini?! jerit Rian habis-habisan, tentu saja cuma di dalam batinnya yang sedang bergolak hebat.
Dari luar, Rian kelihatan bagaikan cowok cool tanpa cela. Sosok idaman yang bersahabat, murah senyum, dan selalu tahu kapan harus mengangguk ramah. Namun di balik tengkorak kepalanya, Rian hanyalah seorang pemuda pemalu tingkat akut yang sedang meratapi nasibnya karena harus menumpang di rumah mewah ini demi berkuliah.
Tepat saat Rian hendak mengangkat koper hitamnya, sesosok bayangan jangkung melangkah keluar dari koridor kanan. Itu Clara, anak sulung Tante Sarah. Kemeja putihnya terkancing rapi hingga ke leher, matanya menatap tajam di balik kacamata bermerek, dan langkah kakinya bertekad bulat. Clara adalah definisi ketertiban.
"Rian," sapa Clara datar, tapi tatapannya menyapu tubuh Rian dari ujung rambut hingga sepatu. "Kamar kamu di sebelah kamarku. Tolong jaga ketenangan setelah jam sembilan malam. Aku butuh fokus untuk analisis berkas kantor."
"Tentu, Mbak Clara. Saya pasti akan menghormati jam istirahat Mbak," jawab Rian ramah, diiringi anggukan santai yang tampak begitu dewasa.
Mbak Clara natapnya tajam banget, ya Tuhan! Apakah ada belek di mataku? Atau resleting celanaku terbuka?! Kenapa dia ngelihatin bahuku kayak mau membedah anatomi tubuh manusia?! batin Rian menjerit ketakutan, sementara wajah fisiknya tetap memancarkan ketenangan tingkat dewa.
Belum sempat Rian melangkah dua tindak, pintu kamar lain terbuka. Sesosok gadis dengan gaun tidur sutra berwarna merah muda melangkah keluar sambil memeluk boneka beruang raksasa. Maya, anak tengah yang terkenal amat manja. Rambutnya terurai berantakan, namun aromanya langsung merebak—wangi vanila manis yang pekat dan pekat sekali.
"Ihh, Kakaaak... kok berisik banget sih?" rengek Maya dengan nada suara manis yang bikin bulu kuduk berdiri. Begitu matanya menatap Rian, matanya berbinar. Ia berjalan mendekat, menyenderkan separuh berat badannya di kusen pintu, membuat gaun sutranya membentuk lekuk tubuhnya dengan sangat jelas di bawah sorotan lampu koridor. "Eh, ada Sepupu Rian... Rian, nanti kalau kamar kamu kemasukan nyamuk, bilang aku ya? Kamarku kasurnya empuk banget, lho..."
"Terima kasih tawaran perhatiannya, Maya. Nanti kalau ada kendala, saya tanyakan," balasan Rian luar biasa diplomatis, matanya tetap menatap lurus ke arah mata Maya, menolak untuk melirik sedikit pun ke arah bagian bawah leher gaun sutra yang agak melorot itu.
SETAN APA YANG DIPAKAI MAYA?! WANGINYA BIKIN KEPALAKU PUSING, BENTUKNYA BIKIN MATA MELOTOT! Jangan lirik ke bawah, Rian! Fokus pada bola matanya! Kalau kamu lirik ke bawah, kamu bukan pemuda bersahaja lagi, kamu jadi binatang berdarah dingin! Ya Tuhan, kenapa celanaku mendadak berasa makin sempit begini?! Tolong, kain denim ini memenjarakanku!
Sebelum situasi makin runyam, dari ujung tangga terdengar dentuman keras. Sisy, si bungsu yang liar dan tak bisa berdiam diri, melompat turun dari pegangan tangga kayu jati. Ia cuma mengenakan celana pendek ketat dan crop top yang memamerkan pinggang rampingnya yang mulus. Rambutnya dikuncir kuda, dan wajahnya dipenuhi cengiran jahat.
"Woy, Sepupu Baru!" Sisy melompat tepat di depan Rian, jaraknya hanya berjarak beberapa senti dari dada Rian. Ia menengadah, mengamati wajah Rian dengan tatapan nakal. "Gagah juga lu, ya. Awas aja kalau lu penakut. Nanti malam gue suka jalan-jalan malam tanpa suara, lho."
"Wah, salam kenal Sisy. Saya rasa saya cukup terbiasa dengan suasana malam," kata Rian. Suaranya tidak bergetar sedikit pun. Ia tersenyum sangat manis, tipe senyum kakak sepupu yang pengasih dan penyabar.
Jalan-jalan malam tanpa suara?! Maksudnya apa?! Mau ngagetin aku atau mau menyelinap ke kasurku?! Sisy, tolong pakai baju yang agak panjang sedikit! Itu perut kenapa dibiarin kepanasan begitu?! Suasana rumah ini kenapa bisa bikin suhu badanku naik drastis?! Celanaku sungguh-sungguh sudah tidak aman sekarang!
Tante Sarah berjalan mendekat sambil membawa segelas teh hangat. "Sudah, kalian bertiga jangan mengerumuni Rian begitu. Rian pasti capek habis perjalanan panjang." Tante Sarah tersenyum memikat, membetulkan letak rambutnya yang jatuh di bahu. Usia empat puluhan sama sekali tak mengikis pesonanya; justru aura matang dan aroma parfum mewahnya terasa sangat dominan di ruangan itu. Tante Sarah menepuk pelan bahu Rian, tangannya mengelus lembut bagian atas punggung Rian sedikit lebih lama dari yang seharusnya. "Kamar kamu sudah Tante siapkan ya, Rian. Semuanya bersih. Kalau butuh apa-apa malam ini... pintu kamar Tante selalu tidak dikunci kok."
Rian menerima gelas teh itu dengan kedua tangan yang sangat stabil. "Terima kasih banyak, Tante Sarah. Tante sungguh tuan rumah yang sangat perhatian."
TANTE SARAH! KENAPA PINTU KAMAR TANTE ENGGAK DIKUNCI?! DAN KENAPA TANGAN TANTE NGELUS PUNGGUNGKU SAMPAI KE PINGGANG?! TOLONG, AKU BISA BERDIRI TAPI CELANAKU SUDAH BENAR-BENAR MENGENCANG SANGAT PARAH! KALAU AKU MELANGKAH SEKARANG, MEREKA BISA LIHAT BENTUK YANG SANGAT TIDAK SOPAN INI!
Dengan sisa kekuatan modal cool dan senyum ramah yang terus dipasang di wajahnya, Rian membungkuk sopan. "Kalau begitu, Rian izin masuk kamar dulu untuk berbenah dan mandi, Tante, Mbak Clara, Maya, Sisy."
Rian berbalik dengan gerakan serapi mungkin, berusaha melangkah dengan postur tubuh yang sedikit membusung ke depan demi menyembunyikan tonjolan tak sopan yang mendadak bangkit akibat kepungan aroma dan pesona wanita-wanita di rumah itu.
Ia masuk ke dalam kamar tamu, menutup pintu kayu tebal itu, dan langsung menguncinya. KLIK.
"Haaaah... Haaaah... Ya Tuhan..." Rian bersandar di balik pintu, menyapu keringat dingin di dahinya. Senyum anggunnya langsung hilang berganti dengan wajah panik setengah mati. Matanya melotot menatap langit-langit kamar. "Hampir saja! Hampir saja reputasiku hancur! Kenapa mereka semua bentukannya kayak begitu?! Bagaimana caranya aku bertahan hidup di rumah ini selama empat tahun kuliah?!"
Rian menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang bak drum perang, sekaligus menantikan ketegangan di balik celana jinsnya agar mereda. Ia melempar kopernya ke atas kasur busa yang tebal.
Setelah lima belas menit mengatur napas dan memastikan keadaan aman, Rian memutuskan untuk berganti pakaian dengan kaos santai dan celana kain yang lebih longgar. Namun, tepat ketika ia baru saja melepaskan kemejanya dan menyisakan dada bidangnya yang terekspos, terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
TOK. TOK. TOK.
Rian membeku. Siapa lagi ini?!
Daftar bab
98 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








