
Jagad Kelir: Arloji Pemintal Jiwa
Rafoly|Bersambung
- Jumlah kata
- 98.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 18
- Jumlah kata
- 98.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 18

Rafoly|Bersambung
Saka tidak pernah mengira bahwa warisan dari kakeknya, sebuah arloji saku kuno berbahan kuningan tua, adalah jangkar yang menahan keseimbangan dimensi manusia dengan Jagad Kelir dunia bayangan tempat bersemayamnya makhluk-makhluk mitologi Jawa. Selama arloji itu berdetak, gerbang gaib di berbagai gunung sakral di tanah Jawa akan tetap terkunci. Namun, tepat di malam satu Sura, arloji tersebut berhenti berdetak, dan kabut merah mulai turun menyelimuti lereng Gunung Mahendra. Gerbang Gunung Mahendra dan Pasar Setan Di season pertama, Saka yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba diburu oleh lelembut pelarian dari Pasar Setan. Ia diselamatkan oleh seorang Cantrik (penjaga gerbang kuno) yang mengungkap kutukan darah Saka. Saka adalah seorang Pemintal Jiwa. Untuk membuat arloji itu berdetak kembali selama satu tahun ke depan, Saka harus mendaki ke puncak Mahendra, menembus ilusi Pasar Setan, dan menghadapi Eyang Mahendra sang penguasa wilayah untuk menyerahkan "upeti" spiritual sebelum fajar pertama Sura pecah. Season ini berakhir dengan keberhasilan Saka memutar arloji untuk sementara, namun ia menyadari bahwa retakan di arloji tersebut kian membesar. Benang Merah ke Season Berikutnya Saka menemukan fakta bahwa arloji tersebut memiliki 5 jarum gaib kecil yang masing-masing terhubung dengan 5 gerbang utama di tanah Jawa (Candrageni, Mahendra, Kampud, dll). Setiap season berikutnya adalah perjalanan Saka ke gunung atau wilayah sakral berbeda, karena gerbang-gerbang lain mulai jebol akibat melemahnya arloji tersebut.
Malam itu, langit Pajang seperti ditutupi kain terpal tipis berwarna jelaga. Udara lembap menggantung berat di atas atap rumah kuno di pinggiran kota, membawa aroma tanah basah bercampur wangi bunga kantil. Bagi orang awam, itu hanyalah malam biasa di ambang musim hujan. Namun, bagi masyarakat yang mempercayai kalender Jawa, malam Selasa Kliwon selalu menyimpan napas yang berbeda. Udara terasa bergetar tipis, seolah pembatas antara dunia nyata dan sesuatu yang tak kasatmata menjadi selapis kertas basah yang mudah robek.
Saka duduk di sudut ruang tengah rumah joglo milik kakeknya. Pandangannya kosong, menatap lantai ubin merah tua yang dingin. Di sekelilingnya, bisik-bisik tetangga dan kerabat jauh terdengar bagai dengung lebah yang samar. Mereka berkumpul untuk melayat, tetapi suasana duka itu diselimuti teka-teki yang mengganjal di dada setiap orang. Kakek Mangkusastro meninggal beberapa jam yang lalu, persis ketika lonceng dinding tua berdentang sepuluh kali.
Tidak ada tanda-tanda sakit. Tidak ada riwayat jantung atau stroke. Lelaki tua yang biasanya masih sanggup mencangkul di kebun belakang itu ditemukan tergeletak terlentang di dalam kamar semedinya. Matanya terbelalak menatap langit-langit kamar, sementara tangannya menggenggam dada kiri bukan seperti orang terkena serangan jantung, melainkan seperti seseorang yang berusaha menahan sesuatu agar tidak meledak keluar dari dalam badannya. Yang membuat bulu kuduk warga berdiri adalah bau yang menyengat di dalam kamar tersebut. Bukan bau mayat atau darah, melainkan aroma minyak cendana super tajam bercampur wangi gosong seperti jelaga dupa yang terbakar habis dalam sekejap.
"Saka, makanlah sedikit. Sejak sore kamu belum menyentuh nasi," ujar Mbok Nah, wanita tua yang telah puluhan tahun menjadi batur kakeknya, menyodorkan piring berisi nasi hangat dan tahu goreng. Udara dingin malam itu membuat uap nasi dengan cepat menghilang.
Saka menggeleng pelan. "Mboten, Mbok. Nanti saja."
Suaranya serak. Pemuda berusia dua puluh satu tahun itu masih berusaha memproses apa yang terjadi. Kakek Mangkusastro adalah satu-satunya keluarga inti yang ia miliki sejak kedua orang tuanya hilang tanpa kabar dalam sebuah ekspedisi arkeologi sepuluh tahun silam. Kakek adalah sosok yang pendiam, misterius, tetapi selalu memberikan rasa aman yang kokoh. Kakek sering menghabiskan malam di kamar belakang, mengoleksi barang-barang antik, wayang kulit tua, serta keris pusaka. Saka selalu menganggap kakeknya hanya seorang kolektor budaya Jawa yang fanatik.
Namun, kejadian malam ini meruntuhkan anggapan sederhana itu.
Sebelum ambulans dan petugas medis datang untuk menyatakan kematian secara formal, Mbok Nah sempat berbisik kepada Saka dengan tubuh gemetar. Ia bersumpah bahwa beberapa menit sebelum kakek mengembuskan napas terakhir, ia mendengar suara gemeretak kayu yang hebat dari dalam kamar, disertai suara bisikan ribuan orang yang berbicara bersamaan dalam bahasa kuno yang tak dipahami. Ketika Mbok Nah memberanikan diri mengintip lewat celah pintu, ia melihat bayangan hitam besar berwujud menyerupai gunungan wayang yang bergoyang hebat di dinding kamar, padahal tidak ada sumber cahaya bergerak di dalamnya.
"Mas Saka," panggil seorang pria paruh baya berkemeja batik gelap. Itu adalah Pak Purnomo, pengacara keluarga yang selama ini mengurus berkas-berkas legal milik Kakek Mangkusastro.
Saka menengadah. "Ya, Pak?"
"Sesuai surat wasiat tertulis dari Almarhum Kakekmu yang ditandatangani dua bulan lalu, ada satu amanat khusus yang harus disampaikan kepadamu malam ini juga. Persis di malam beliau berpulang, sebelum jenazah dimandikan besok pagi." Pak Purnomo meletakkan sebuah tas kulit tebal di atas meja kayu.
Dari dalam tas tersebut, Pak Purnomo mengeluarkan sebuah objek yang dibungkus kain kain mori putih berikat benang lawe merah. Ukurannya tidak terlalu besar, kira-kira sebesar kotak perhiasan sedang.
"Kakekmu menegaskan bahwa barang ini tidak boleh dipegang oleh siapa pun selain kamu, Saka. Bahkan saya sendiri tidak pernah melihat apa isinya," kata Pak Purnomo dengan raut wajah serius.
"Beliau berpesan: 'Bila waktuku telah habis di Selasa Kliwon, serahkan kotak ini pada Saka. Jangan biarkan ia membukanya di luar kamar tengah."
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Saka menerima bungkusan kain mori itu. Sensasi dingin langsung menjalar dari permukaan kain ke telapak tangannya, seolah ia sedang memegang sebongkah es yang dibungkus rapat. Setelah para pelayat perlahan menyurut dan menyisakan beberapa kerabat yang bertadarus di ruang depan, Saka membawa bungkusan itu masuk ke kamar tidurnya. Kamar itu beraroma kayu tua dan kertas lapuk. Saka duduk di tepi ranjang kayu ukir, meletakkan bungkusan mori di atas pangkuannya.
Ia melepas ikatan benang lawe merah dengan hati-hati. Ketika kain mori tersingkap, tampaklah sebuah kotak kayu jati berukir rumit. Ukirannya menggambarkan motif lung-lungan sulur-sulur tumbuhan yang saling melilit tetapi jika diperhatikan lebih dekat, sulur-sulur itu membentuk figur wujud ghaib menyerupai raksasa dengan mata meloncat dan naga yang saling mengigit ekor. Di bagian depan kotak, tidak ada gembok atau kuncian logam. Hanya ada sebuah relief lingkaran kecil berbahan kuningan di bagian tengah lidah kotak. Saka menyentuh relief itu. Ajaibnya, saat ujung jarinya menekan permukaan kuningan yang dingin, terdengar suara klek yang halus. Tutup kotak jati itu terbuka dengan sendirinya, terangkat perlahan beberapa sentimeter.
Seketika, aroma minyak cendana tua yang sangat pekat menyeruak memenuhi kamar, sama persis dengan aroma misterius yang tercium di kamar kakeknya saat ditemukan meninggal. Di dalam kotak yang dilapisi kain beludru merah marun yang sudah pudar, terbaring sebuah arloji saku kuno. Arloji itu berukuran cukup besar, berbahan kuningan tua yang telah berubah warna menjadi kekuningan gelap berpatina hijau tipis di beberapa sisinya. Bagian penutup depan arloji dihiasi ukiran timbul berbentuk motif wayang kulit yang sangat detail sosok Semar yang sedang duduk bersila di bawah naungan pohon hayat.
Saka merengkuh arloji itu ke telapak tangannya. Bobotnya mengejutkan; terasa jauh lebih berat daripada arloji saku biasa, seolah komponen di dalamnya terbuat dari timbal atau logam padat yang tak dikenal. Dengan ibu jarinya, Saka menekan tombol pemutar di bagian atas arloji. Penutup kuningan itu terbuka dengan dentang nyaring yang berdenting panjang, menggema abnormal di dalam kamar yang sunyi. Saka menahan napas saat menatap plat dial arloji tersebut.
Plat jam itu tidak menggunakan angka Arab maupun angka Romawi biasa. Angka-angkanya diukir menggunakan aksara Jawa kuno (Hanacaraka). Namun, yang membuat jantung Saka berdegup kencang bukanlah penulisan aksaranya, melainkan struktur jarum di dalamnya. Arloji normal hanya memiliki dua atau tiga jarum: jam, menit, dan detik. Tetapi arloji kuno milik kakeknya ini memiliki lima buah jarum. Jarum utama yang paling besar terbuat dari logam hitam berujung tajam seperti mata tombak. Dua jarum sedang berwarna perak kusam, dan dua jarum kecil sisanya terbuat dari serat tembaga tipis yang amat halus.
Klek.. Trik... Trik... Trik...
Suara detak arloji itu tidak nyaring, melainkan berat dan bergema, seolah detakannya tidak berasal dari dalam mesin arloji, melainkan bersumber dari bawah lantai rumah joglo ini. Saka mendekatkan wajahnya untuk memperhatikan pergeSakan mesin di balik kaca cembung yang jernih. Mata Saka membelalak. Ada ketidakwajaran yang sangat nyata. Jarum utama berwarna hitam bergerak maju seperti biasa, mengindikasikan detik demi detik. Namun, dua jarum kecil berbahan tembaga justru bergerak berputar berlawanan arah jarum jam. Gerakannya tidak konstan; kadang meloncat cepat dua langkah, lalu melambat, kemudian berputar mundur kembali dengan ritme yang ganjil. Sementara itu, dua jarum perak sisanya bergetar hebat di tempat, seolah-olah terkunci oleh medan magnet yang sangat kuat.
"Ini... arloji rusak?" gumam Saka heran.
Sebagai mahasiswa yang terbiasa dengan logika dan hal-hal rasional, Saka mengira komponen roda gigi di dalam arloji ini sudah aus atau patah akibat usia. Mana mungkin sebuah jam mekanis memiliki jarum yang berputar ke dua arah yang berbeda secara bersamaan tanpa merusak gigi-gigi mesinnya. Saka memutar arloji itu ke bagian belakang. Casing belakangnya berupa kaca transparan, memperlihatkan rumitnya mesin mekanis di dalam. Roda-roda gigi tembaga dan kuningan berputar interaktif. Namun, di tengah-tengah kerumunan roda gigi itu, Saka tidak menemukan pegas utama seperti jam saku kuno pada umumnya.
Sebagai gantinya, di pusat mesin arloji, tertanam sebuah batu kristal hitam kecil berukuran sebesar biji jagung. Batu itu tidak berkilau, melainkan menyerap cahaya di sekitarnya. Dan yang membuat bulu ketiak dan tengkuk Saka meremang, batu hitam itu... berdenyut. Ya, berdenyut secara halus namun pasti, persis seperti detak jantung manusia.
Thump... thump... thump...
Denyutan batu hitam itu selaras dengan suara detik trik... trik... trik... dari arloji. Tiba-tiba, rasa dingin yang membekukan melesat dari arloji kuningan itu, menjalar cepat lewat telapak tangan Saka, menyusuri lengan hingga bermuara di dada kirinya. Saka tersentak dan memekik pelan. Ia berusaha melepaskan arloji itu dari genggamannya, tetapi jemarinya seolah kaku, tercengkeram oleh gaya tarik misterius dari badan arloji.
Di saat yang bersamaan, lampu bohlam kuning di langit-langit kamar Saka berkedip-kedip hebat. Angin dingin yang entah datang dari mana berembus kencang, membuat tirai jendela tersingkap kasar meski jendela kayu dalam keadaan tertutup rapat dan terkunci. Di dalam kaca cembung arloji, dua jarum kecil yang berputar berlawanan arah jam tiba-tiba bergerak semakin cepat. Berputar mundur dengan kecepatan tinggi!
Srrrt...
Suara desis halus terdengar di telinga Saka. Penglihatannya mendadak kabur. Warna-warna di dalam kamarnya meluntur, menyisa warna hitam, putih, dan abu-abu jelaga. Bayangan-bayangan perabot kamar terpantul di dinding dengan bentuk yang terdistorsi, memanjang dan meliuk-liuk seperti tarian wayang beber. Saka mencoba berteriak memanggil Mbok Nah, tetapi tenggorokannya terasa tersumbat pasir.
Melalui permukaan kaca cembung arloji yang kini memantulkan cahaya aneh, Saka tidak lagi melihat pantulan wajahnya sendiri. Di dalam pantulan kaca arloji itu, ia melihat bayangan sebuah gerbang batu candi yang sangat besar membelah dua pegunungan tinggi yang diselimuti petir merah. Dan di depan gerbang itu, berdiri sesosok bayangan manusia berkerudung hoodie hitam yang memegang arloji yang sama... sementara di belakangnya, terbayang sosok pria berbusana beskap kerajaan Jawa tua yang menatap Saka dengan mata menyala keemasan.
"Jarum telah berpaling, Pengawal Segel..."
Sebuah suara bisikan berat, bergema langsung di dalam kepala Saka, bukan lewat telinganya. Suara itu terasa sangat tua, berwibawa, namun sarat dengan ancaman yang pekat.
"Jagad Kelir telah teruji. Ketika detak kelima berhenti... pintu tak lagi terkunci."
PRAK!
Lampu kamar mendadak mati total. Kegelapan gulita menyergap. Saka terengah-engah, terduduk di lantai kamar dengan jantung berdebar kencang seperti mau meledak. Arloji kuno itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas karpet. Suasana kembali hening. Angin misterius itu lenyap. Lampu bohlam di langit-langit berkedip sekali, lalu menyala kembali dengan cahaya kuning samar yang tenang.
Saka berlutut di lantai, napasnya naik turun memburu. Peluh dingin membasahi dahinya. Ia menatap arloji kuningan yang kini tergeletak bisu di atas karpet. Jarum-jarum di dalamnya masih berputar empat jarum berputar tenang, sementara satu jarum kecil berbahan tembaga terus memutar mundur, berlawanan dengan arah waktu dunia nyata. Saka akhirnya menyadari satu hal yang mengerikan. Arloji ini tidak rusak. Arloji ini tidak sedang mengukur detik, menit, atau jam manusia. Arloji ini sedang menghitung mundur sesuatu. Dan setiap kali jarum kecil itu berputar berlawanan arah, ada batas dunia yang perlahan-lahan sedang terkelupas.
81 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.