
- Jumlah kata
- 104.5K
- Popular
- 278
- Subscribe
- 49
Sinopsis
Ethan Ashford hanyalah yatim piatu yang bekerja menjadi petugas kebersihan di Aetherion Academy, akademi sihir paling bergengsi yang dihuni para penyihir berbakat, bangsawan, hingga keturunan makhluk legendaris. Di balik hidupnya yang dipandang rendah, Ethan menyimpan rahasia yang bahkan dirinya sendiri tidak ketahui. Ada darah garis keturunan tertinggi—pewaris sah takhta para dewa yang telah menghilang ribuan tahun lalu yang mengalir dalam tubuhnya. Nama dan kekuatannya sengaja dilupakan demi melindunginya dari perang yang pernah mengguncang langit. Ketika segel itu mulai retak, para dewa, iblis, dan penyihir terkuat di dunia menyadari satu kenyataan yang selama ini mereka takuti: sang penguasa langit yang dianggap telah musnah ternyata masih hidup. Kini, Ethan harus menerima takdirnya sebagai sosok yang mampu menentukan nasib dunia manusia, dunia sihir, dan alam para dewa. Karena terkadang, sosok yang paling diremehkan adalah mereka yang memiliki kekuatan untuk membuat seluruh langit berlutut.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 Langkah Pertama
Hujan turun perlahan membasahi halaman sebuah panti asuhan tua di pinggiran Kota Eldoria. Atap seng yang mulai berkarat meneteskan air di beberapa sudut bangunan. Dindingnya kusam, catnya mengelupas dimakan usia, tetapi tempat itu telah menjadi rumah bagi puluhan anak yang tak lagi memiliki keluarga.
Di salah satu kamar sederhana, seorang pemuda sedang memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam sebuah tas ransel yang sudah usang. Isinya tidak banyak; beberapa potong pakaian, sepasang sepatu tua, sebuah buku catatan kosong, dan sebuah liontin perak berbentuk matahari yang sejak bayi selalu tergantung di lehernya.
Namanya Ethan Ashford.
Hari itu usianya genap sembilan belas tahun.
Ia berdiri memandangi kamar yang telah menemaninya selama bertahun-tahun. Tempat tidur kayu, meja kecil yang salah satu kakinya patah, serta jendela yang menghadap ke halaman belakang akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
"Ethan, kau sudah siap?" tanya seorang wanita tua dengan suara lembut.
Ethan tersenyum tipis sebelum membuka pintu.
Di hadapannya berdiri Margaret, pengurus panti yang telah merawatnya sejak kecil. Rambutnya telah memutih, wajahnya dipenuhi kerutan, tetapi sorot matanya masih memancarkan kasih sayang yang hangat.
"Aku sudah siap, Bu Margaret."
Wanita itu menatap Ethan cukup lama. Ada rasa bangga, tetapi juga kekhawatiran yang sulit disembunyikan.
"Aku tidak pernah menyangka anak kecil yang dulu sering bersembunyi di balik selimut karena takut petir sekarang sudah sebesar ini."
Ethan tertawa kecil.
"Aku juga tidak menyangka."
Margaret mengulurkan sebuah amplop cokelat.
"Ini tabunganmu."
Ethan langsung menggeleng.
"Aku tidak bisa menerimanya."
"Kau harus menerimanya."
"Tapi panti lebih membutuhkannya."
Margaret tersenyum.
"Semua anak yang keluar dari sini selalu berkata begitu."
Ia menggenggam tangan Ethan lalu memaksakan amplop itu masuk ke dalam tasnya.
"Itu hasil kerja kerasmu selama bertahun-tahun membantu di dapur, memperbaiki pagar, dan mengangkat barang. Itu milikmu."
Ethan hanya mampu mengangguk pelan.
Mereka berjalan keluar menuju halaman.
Beberapa anak kecil segera berlari menghampiri.
"Kak Ethan!"
"Kapan kakak pulang?"
"Jangan lupa kirim surat!"
Seorang anak perempuan kecil memeluk pinggang Ethan erat-erat.
"Kakak pasti jadi orang hebat."
Ethan mengusap rambutnya sambil tersenyum.
"Aku hanya ingin hidup tenang."
Anak-anak itu tertawa.
Bagi mereka, Ethan adalah kakak yang selalu membantu mengerjakan tugas, memperbaiki mainan rusak, bahkan rela tidak makan jika persediaan makanan di panti menipis.
Ia memang bukan orang yang luar biasa. Setidaknya, begitulah yang selalu ia yakini.
Beberapa jam kemudian, Ethan melangkah meninggalkan gerbang panti.
Ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar sendirian.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada tempat untuk kembali.
Yang ia miliki hanyalah tas di punggung, sedikit uang, dan harapan bahwa dunia masih memiliki tempat bagi seseorang seperti dirinya.
"Ayah... Ibu... entah siapa kalian..."
Ia memegang liontin di lehernya.
"...aku akan baik-baik saja."
Tanpa disadari, liontin itu memancarkan cahaya keemasan yang sangat redup.
Hanya berlangsung beberapa detik.
Kemudian kembali seperti semula.
Ethan sama sekali tidak menyadarinya.
Namun, jauh di tempat lain...
Di sebuah kuil tua yang telah berdiri sejak ribuan tahun lalu, sebuah lonceng raksasa berbunyi dengan sendirinya.
Dentang...
Dentang...
Dentang...
Seorang lelaki berjubah putih yang sedang bermeditasi perlahan membuka matanya.
"Itu..."
Wajahnya berubah pucat.
"Mustahil."
Ia berdiri begitu cepat hingga kursinya terjatuh.
"Segel itu... mulai beresonansi."
Hari-hari berikutnya tidak berjalan mudah.
Ethan mencari pekerjaan ke mana-mana.
Ia ditolak di toko roti karena tidak memiliki pengalaman.
Ditolak di restoran karena dianggap terlalu kurus.
Ditolak menjadi pelayan gudang karena tidak cukup kuat.
Tabungan yang diberikan Margaret semakin menipis.
Selama hampir dua minggu, Ethan hanya mampu menyewa kamar kecil di sebuah penginapan murah.
Suatu pagi, ketika berjalan menyusuri pusat Kota Eldoria, pandangannya tertuju pada sebuah papan pengumuman.
LOWONGAN PEKERJAAN
Aetherion Academy membutuhkan petugas kebersihan.
Disediakan tempat tinggal dan makan.
Tidak memerlukan kemampuan sihir.
Ethan membaca pengumuman itu dua kali.
Akademi sihir?
Ia pernah mendengar namanya.
Tempat itu adalah sekolah paling bergengsi di seluruh benua, tempat berkumpulnya para penyihir berbakat dari berbagai kerajaan.
"Tukang bersih-bersih..." gumamnya pelan.
Ia tersenyum.
"Aku bisa melakukan itu."
Tanpa ragu, Ethan merobek lembar informasi tersebut dan memasukkannya ke dalam saku.
Kabut tipis masih menyelimuti jalanan Kota Eldoria ketika Ethan melangkah mengikuti petunjuk pada lembar lowongan yang tersimpan di sakunya.
Semakin jauh ia berjalan, bangunan-bangunan sederhana perlahan berganti dengan jalan berbatu yang bersih, taman-taman yang tertata rapi, dan patung-patung penyihir legendaris yang berdiri megah di setiap persimpangan.
Di kejauhan, sebuah menara menjulang tinggi menembus awan.
"Itukah... Aetherion Academy?" gumam Ethan.
Meskipun masih berada cukup jauh, kemegahan akademi itu sudah membuatnya terpaku. Menara-menara batu putih berdiri mengelilingi sebuah kastel raksasa dengan kubah berlapis kristal biru yang memantulkan cahaya matahari pagi. Burung-burung putih beterbangan mengitari puncaknya, sementara kilatan cahaya aneh sesekali melintas di langit seperti bintang yang bergerak.
Saat akhirnya tiba di depan gerbang utama, Ethan kembali terdiam.
Gerbang besi hitam setinggi hampir lima belas meter dihiasi ukiran naga, burung phoenix, dan simbol-simbol kuno yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Di atas lengkungan gerbang, terukir tulisan berwarna emas.
AETHERION ACADEMY
Di depan gerbang berdiri dua penjaga berjubah biru tua dengan tongkat sihir di tangan.
Salah seorang dari mereka melangkah maju.
"Keperluan?"
Ethan sedikit gugup.
"Saya... saya datang untuk melamar pekerjaan."
Penjaga itu mengamati Ethan dari ujung kepala hingga kaki. Pakaiannya sederhana, sepatunya mulai usang, dan tas yang dibawanya tampak sudah digunakan bertahun-tahun.
"Penyihir?"
"Bukan."
"Bisa menggunakan sihir?"
Ethan menggeleng.
"Tidak."
Penjaga lainnya menghela napas pelan.
"Petugas kebersihan baru, ya?"
Ethan mengangguk.
Penjaga pertama mengambil secarik kertas dari tangannya, membaca sebentar, lalu membuka gerbang dengan menggerakkan tongkat sihir.
Gerbang besi raksasa itu terbuka perlahan tanpa disentuh.
Ethan tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya.
"Sihir benar-benar ada..." bisiknya.
"Jangan berdiri di tengah jalan," kata salah satu penjaga. "Masuklah. Bagian administrasi ada di gedung sebelah timur."
"Terima kasih."
Ethan membungkukkan badan dengan sopan sebelum melangkah masuk.
Begitu melewati gerbang, dunia yang dilihatnya seakan berubah.
Hamparan taman luas dipenuhi bunga-bunga yang memancarkan cahaya lembut.
Air mancur di tengah halaman tidak mengalir ke bawah, melainkan berputar ke atas membentuk lingkaran-lingkaran air yang melayang di udara.
Beberapa siswa terlihat berjalan sambil mengendarai sapu terbang.
Di sisi lain, sekelompok murid sedang berlatih mengendalikan bola api yang melayang di atas telapak tangan mereka.
Ethan hanya bisa menatap dengan mata membulat.
"Hebat sekali..."
Ia merasa seperti orang desa yang baru pertama kali melihat ibu kota.
Namun kekagumannya terhenti ketika terdengar suara tawa dari belakang.
"Lihat itu."
"Bukankah dia manusia biasa?"
"Serius? Akademi menerima orang tanpa sihir?"
Beberapa siswa menatap Ethan dengan pandangan meremehkan.
Seragam mereka tampak mahal dengan lambang keluarga bangsawan yang disulam menggunakan benang emas.
Salah seorang di antaranya, seorang pemuda berambut pirang, menyeringai.
"Hei."
Ethan menoleh.
"Kau tersesat?"
"Tidak. Aku datang untuk bekerja."
"Bekerja?"
"Tukang bersih-bersih."
Mendengar jawaban itu, mereka langsung tertawa.
"Jadi benar."
"Aku kira dia calon murid."
"Mana mungkin? Aura sihirnya bahkan tidak ada."
Ethan hanya tersenyum tipis.
Ia sudah terbiasa diremehkan.
Ucapan orang lain tidak pernah terlalu ia pikirkan.
Selama ia bisa bekerja dengan jujur, itu sudah cukup.
Tanpa membalas sepatah kata pun, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju gedung administrasi.
Sikap tenangnya justru membuat beberapa siswa merasa kesal.
"Aneh."
"Kalau aku jadi dia, pasti sudah malu."
Namun Ethan tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Daftar bab
88 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








