
Cincin Nadi Warisan: Surya Sang Pewaris Kekayaan
sugaonta|Bersambung
- Jumlah kata
- 54.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 3
- Jumlah kata
- 54.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 3
Sinopsis
Surya Ajmaja, 21 tahun, hidup dalam tekanan utang, pekerjaan yang tidak stabil, dan tanggung jawab merawat ibunya. Ia sudah lelah bekerja tanpa pernah benar-benar maju, sampai Pak Andi meninggalkan sebuah cincin hitam yang ternyata menjadi kunci menuju harta warisan keluarga yang tersebar di berbagai tempat. Dengan bantuan cincin itu, Surya mulai menemukan gudang rahasia, rekening lama, tanah bernilai tinggi, serta perusahaan yang selama puluhan tahun disembunyikan. Kekayaannya tumbuh, orang-orang yang dahulu meremehkannya mulai berbalik sikap, dan perempuan-perempuan cantik dari kalangan elite mulai tertarik pada dirinya. Namun, warisan tersebut bukan hadiah tanpa risiko. Banyak pihak memburu cincin itu, sementara setiap aset menyimpan rahasia dan konflik baru. Surya harus memilih: menggunakan kekayaan serta pesonanya untuk membalas semua penghinaan, atau menjaga amanah Pak Andi sebelum warisan itu menghancurkan dirinya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Harga untuk Bertahan
Pukul dua lewat tiga belas menit ketika Surya Ajmaja akhirnya mengaku bahwa ia sudah tidak sanggup.
Bukan kepada atasannya. Bukan kepada pemilik kos. Bukan juga kepada ibunya yang sejak tadi mengirim pesan suara pendek-pendek dari kampung.
Ia mengaku kepada layar ponsel yang retak di sudut kanan.
Saldo rekening: Rp37.400.
Surya menatap angka itu sampai matanya terasa panas. Ia sudah menghitungnya berkali-kali sejak sore, tetapi angka tersebut tidak pernah berubah menjadi lebih besar hanya karena dipandangi dengan harapan.
Tagihan kos jatuh tempo besok pagi. Angsuran motor tiga hari lagi. Upah lembur bulan lalu belum dibayar, dan supervisor gudang hanya meninggalkan satu kalimat di grup kerja sebelum menghilang: perusahaan sedang melakukan penyesuaian.
Penyesuaian.
Kata itu biasanya berarti ada orang yang harus menanggung kerugian orang lain.
Surya meletakkan ponsel di atas meja plastik. Kamar kosnya hanya memiliki satu meja, satu kasur, dan kipas kecil yang berputar dengan suara seperti orang tua sedang mengeluh. Cat dinding mengelupas di dekat jendela. Ember biru menampung air hujan yang merembes dari sudut atap, jatuh setetes demi setetes dengan irama yang lebih teratur daripada hidupnya.
Besok ia akan kehilangan kamar jika tidak membayar. Jika kehilangan kamar, ia tidak bisa mengambil motor yang sedang dijadikan jaminan kepada pemilik kos. Jika tidak bisa mengambil motor, ia tidak bisa mencari pekerjaan berikutnya.
Tiga masalah yang saling menggigit ekor.
Ia membuka aplikasi perbankan lagi. Bukan karena berharap jumlahnya berubah, melainkan karena manusia yang terdesak sering melakukan hal-hal yang tidak masuk akal hanya untuk menunda menerima kenyataan.
Rp37.400.
Dengan jumlah itu, ia bisa membeli dua bungkus nasi sederhana, atau bensin setengah liter, atau obat lambung ibunya ketika persediaan di rumah habis. Tidak cukup untuk semuanya. Bahkan tidak cukup untuk membuat satu pilihan terasa benar.
Surya menekan tombol putar pada pesan ibunya.
“Ya, kalau belum bisa kirim uang, jangan dipaksakan. Ibu masih bisa pinjam dulu ke Bu Marni. Yang penting kamu makan.”
Suara itu terdengar pelan, seperti ibunya sengaja menjauh dari orang-orang di sekitar agar Surya tidak mendengar bahwa ia sedang berusaha terdengar baik-baik saja.
Surya menutup mata.
Kalimat itu seharusnya menenangkan. Justru membuat dadanya lebih berat. Ibunya selalu berkata jangan dipaksakan, seolah hidup memberi pilihan kepada orang-orang seperti mereka. Seolah Surya bisa menaruh semua masalah di lantai, berjalan keluar, lalu menemukan jalan lain yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
Ia membuka pesan suara berikutnya.
“Kalau besok kamu belum dapat kerja, pulang saja dulu. Rumah masih ada. Ibu bisa tidur di ruang depan.”
Surya langsung menghentikan rekaman.
Rumah masih ada. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ia tahu kenyataannya. Atap rumah mereka bocor sejak musim hujan lalu. Dinding belakang retak. Ibunya sudah menjual gelang peninggalan nenek untuk membayar biaya berobat dua bulan sebelumnya. Pulang bukan berarti pulang ke tempat yang aman. Pulang berarti menambah satu tubuh di ruangan yang sudah terlalu sempit dan satu beban pada perempuan yang selama ini berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.
Di layar, satu notifikasi baru muncul.
Pemberitahuan pemutusan hubungan kerja.
Surya membacanya dua kali. Tidak ada pesangon yang jelas. Tidak ada tanggal pembayaran upah. Hanya ucapan terima kasih atas pengabdian dan nomor layanan yang tidak pernah menjawab.
Ia tertawa pendek.
Dua puluh satu tahun. Punggung sudah sering nyeri. Tangan pecah-pecah karena kardus. Waktu habis di jalan, di gudang, dan di depan aplikasi pinjaman yang selalu menawarkan solusi dengan bunga yang lebih besar daripada masalah.
Ia bahkan belum sempat menyelesaikan kuliahnya. Bukan karena tidak mampu memahami pelajaran, melainkan karena biaya semester berikutnya menunggu seperti tembok. Ia mengambil cuti, berjanji kepada dirinya sendiri bahwa itu hanya sementara, lalu melihat bulan-bulan berlalu tanpa pernah benar-benar mendekat kepada rencana awal.
Namun, tidak ada satu pun yang memberinya hak untuk merasa lelah.
Setiap kali Surya pulang kampung, ibunya bertanya apakah ia sudah makan. Tidak pernah bertanya apakah ia baik-baik saja. Mungkin karena perempuan itu tahu jawaban sebenarnya. Mungkin karena orang miskin tidak punya kemewahan untuk menanyakan pertanyaan yang jawabannya tidak bisa diperbaiki.
Surya meraih dompet. Di dalamnya hanya ada kartu identitas, dua lembar struk, dan foto kecil ibunya yang mulai pudar. Foto itu diambil bertahun-tahun lalu di depan warung makan. Ibunya tersenyum tanpa gigi palsu, rambutnya belum banyak memutih, dan tangan kirinya masih bebas dari bengkak yang sekarang sering muncul ketika malam terlalu dingin.
Ia menyelipkan foto itu kembali.
Malam semakin larut. Pemilik kos mungkin sudah tidur, tetapi besok pagi lelaki itu akan mengetuk pintu dengan wajah yang sama sekali tidak jahat. Itulah bagian yang paling melelahkan dari kemiskinan: tidak semua orang yang menagih adalah monster. Sebagian hanya orang biasa yang juga membutuhkan uangnya sendiri.
Surya berdiri, mengambil jaket tipis, lalu memasukkan ponsel dan dompet ke saku. Ia harus keluar. Mungkin mencari pinjaman dari teman lama. Mungkin mendatangi warung tempat ia pernah bekerja. Mungkin berjalan tanpa tujuan sampai pikirannya menemukan alasan untuk tidak menyerah.
Tangannya baru menyentuh gagang pintu ketika terdengar bunyi benda jatuh dari atas lemari.
Ting.
Surya menoleh.
Sebuah kotak kayu kecil bergeser di lantai, lalu berhenti di dekat kaki meja. Kotak itu tidak besar. Panjangnya kira-kira sejengkal, dilapisi debu yang tidak merata. Salah satu sudutnya tampak baru saja terbentur.
Surya mengernyit.
Ia tidak pernah melihat kotak itu sebelumnya.
Lemari tersebut memang sudah ada sebelum ia menyewa kamar. Pemilik kos mengatakan barang-barang di dalamnya hanyalah peninggalan penghuni lama. Sebagian besar sudah dikosongkan, tetapi ia tidak pernah membongkar bagian paling atas karena terlalu tinggi dan tidak ada alasan untuk melakukannya.
Kamar ini pernah ditempati pamannya, Pak Andi, sebelum lelaki itu dikabarkan meninggal dalam kecelakaan laut sebelas tahun lalu.
Surya masih mengingatnya dalam potongan-potongan kecil: suara berat yang sering berubah menjadi tawa, tangan besar berbau tembakau, dan kebiasaan menyelipkan uang ke saku celana Surya setiap kali ibunya lengah. Pak Andi tidak pernah tinggal lama. Ia datang seperti orang yang selalu dikejar waktu, membawa oleh-oleh aneh dari kota pelabuhan, lalu pergi sebelum Surya sempat bertanya terlalu banyak.
Satu malam, ketika Surya baru berusia sepuluh tahun, Pak Andi berjongkok di depannya dan berkata, “Kalau suatu hari ada orang bertanya tentang keluarga kita, jangan jawab apa pun sebelum kamu tahu siapa yang menyuruhnya.”
Saat itu Surya hanya tertawa karena mengira pamannya sedang bercanda.
Beberapa bulan kemudian, Pak Andi pergi melaut dan tidak pernah kembali.
Setidaknya, itulah yang selalu dikatakan keluarganya.
Surya berjongkok dan mengangkat kotak tersebut. Kayunya dingin, lebih berat daripada yang terlihat. Ia mengguncangnya pelan. Tidak terdengar suara benda bergerak di dalam.
Tidak ada kunci. Hanya selembar kertas tua yang diselipkan di bawah tutupnya.
Surya menarik kertas itu.
Untuk Surya.
Buka ketika semua pintu terlihat tertutup.
Napasnya berhenti sesaat.
Tulisan tangan itu miring sedikit ke kanan. Huruf S pada namanya memiliki garis panjang yang melengkung ke bawah. Surya mengenalinya. Ia pernah melihat tulisan yang sama di belakang kartu pos, pada catatan belanja, dan di secarik kertas yang dulu ditempel Pak Andi di pintu kulkas rumah mereka.
Ia membalik kertas itu. Tidak ada pesan lain.
Surya memandang pintu kamarnya, lalu kembali menatap kotak di tangannya. Dalam keadaan biasa, ia mungkin akan membawanya kepada pemilik kos. Dalam keadaan biasa, ia mungkin akan menganggap ini barang lama yang tertinggal dan tidak perlu disentuh.
Tetapi malam itu tidak ada yang biasa. Ia membuka kotak.
Di atas kain hitam terletak sebuah cincin logam gelap. Bentuknya sederhana, tanpa batu besar atau ukiran yang mencolok. Bagian luarnya hampir hitam seluruhnya, sementara garis keemasan di sisi dalam berdenyut samar seperti bara yang belum mati.
Surya tidak langsung menyentuhnya.
Cincin itu tampak terlalu bersih untuk benda yang disimpan selama bertahun-tahun. Tidak ada karat. Tidak ada debu di sela-selanya. Ketika ia mendekatkan jari, kulitnya merasakan hangat yang tipis.
Ponselnya bergetar.
Satu pesan dari nomor tidak dikenal.
Jangan pakai cincin itu jika kau belum siap kehilangan hidupmu yang sekarang.
Surya menatap pesan tersebut cukup lama hingga layar meredup. Ia menyalakan layar lagi. Pesan itu tetap ada. Jempolnya bergerak membuka kolom balasan.
Siapa ini?
Ia belum sempat mengirimnya ketika pesan kedua muncul. Pak Andi tidak meninggal dalam kecelakaan.
Kamar yang sempit itu mendadak terasa lebih dingin.
Surya membaca kalimat tersebut berulang-ulang. Selama sebelas tahun, ia menerima cerita yang sama: kapal kecil yang rusak, badai malam, tubuh yang tidak ditemukan. Ibunya selalu menangis jika nama Pak Andi disebut, tetapi tidak pernah mengatakan bahwa ada hal yang janggal.
Ia ingin menelepon ibunya.
Tangannya sudah menyentuh nama kontak itu sebelum ia berhenti. Jika pesan tersebut benar, mengapa ibunya tidak pernah mengatakan apa-apa? Jika pesan itu bohong, mengapa seseorang mengetahui nama Pak Andi dan tahu cincin itu berada di kamar tersebut?
Pesan ketiga masuk.
Kalau ingin tahu mengapa keluargamu dibuat miskin, datang sendirian sebelum fajar.
Di bawahnya muncul sebuah alamat.
Gudang 17, Jalan Pelabuhan.
Surya mengenal tempat itu. Ia pernah mengantar barang ke sana ketika masih bekerja di gudang lama. Bangunannya sudah kosong bertahun-tahun, dengan pagar berkarat dan papan nama yang hampir tidak terbaca. Tidak ada yang berani mendekat setelah pemiliknya ditemukan tewas di dalam ruangan kantor.
Orang-orang bilang gudang itu membawa sial.
Surya selama ini menganggap cerita itu hanya cara warga menakut-nakuti anak-anak agar tidak bermain di sekitar pelabuhan. Namun, malam ini, alamat tersebut muncul bersama nama Pak Andi dan sebuah cincin yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya.
Hujan menghantam seng atap semakin keras.
Surya menatap cincin itu.
Ia bisa menutup kotak, mengembalikannya ke atas lemari, lalu menelepon ibunya. Ia bisa berpura-pura tidak pernah membaca pesan apa pun. Besok ia mungkin tetap kehilangan kamar, tetapi setidaknya ia tidak perlu memasuki gudang kosong dan mencari jawaban dari orang yang mungkin sudah mati sebelas tahun lalu.
Pilihan itu masuk akal. Pilihan itu juga tidak akan mengubah apa pun.
Surya menekan tombol panggil. Nomor tidak dikenal tersebut langsung tidak aktif. Ia mencoba lagi. Hasilnya sama.
“Kalau mau menakut-nakuti orang, setidaknya pakai nomor yang bisa dihubungi,” gumamnya.
Suara sendiri terdengar asing di kamar itu. Ia mengambil cincin dari kotak.
Logamnya hangat. Bukan hangat seperti benda yang lama terkena tubuh, melainkan seperti memiliki suhu sendiri. Garis keemasan di bagian dalam menyala lebih terang ketika menyentuh kulitnya.
Surya memasukkan cincin itu ke jari telunjuk. Pada detik pertama, tidak terjadi apa-apa. Pada detik kedua, rasa panas menjalar dari jarinya ke pergelangan tangan. Pada detik ketiga, cahaya tipis membentuk garis di udara.
Surya mundur hingga punggungnya membentur dinding.
Garis-garis itu berputar, menyusun diri menjadi peta kota. Jalan, sungai, dan garis pantai muncul dalam warna kebiruan. Tiga titik merah menyala di lokasi yang berbeda. Salah satunya berkedip paling terang, tepat di kawasan pelabuhan.
Di bawah peta, muncul tulisan yang tidak berasal dari ponselnya.
AKSES PERTAMA: GUDANG 17, JALAN PELABUHAN.
Surya membaca alamat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Peta tersebut memudar, tetapi titik merah di jarinya masih berdenyut selama beberapa detik sebelum ikut menghilang.
Ia mencabut cincin.
Cahaya lenyap.
Surya memasangnya kembali.
Peta muncul lagi. Kali ini, di sudut bawah, ada baris baru.
PEWARIS TERIDENTIFIKASI.
Surya melepaskan cincin itu dengan kasar. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Ia tidak percaya pada benda gaib. Ia percaya pada upah, angka, kontrak, dan orang-orang yang mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain. Dunia tidak pernah memberinya alasan untuk percaya pada keajaiban.
Namun, benda itu baru saja memproyeksikan peta dari udara. Ia berdiri lama tanpa bergerak. Kemudian pandangannya jatuh pada layar ponsel.
Saldo rekeningnya masih Rp37.400.
Notifikasi pemutusan kerja masih ada.
Pesan ibunya masih menunggu jawaban.
Di luar, pagi tinggal beberapa jam lagi. Pemilik kos akan mengetuk pintu. Perusahaan akan tetap menahan upahnya. Ibunya akan tetap berusaha meminjam uang dari tetangga. Tidak ada satu pun masalah yang selesai hanya karena sebuah cincin muncul dari atas lemari.
Tetapi sekarang ada satu hal baru. Sebuah pintu.
Mungkin jebakan. Mungkin warisan. Mungkin jalan menuju masalah yang lebih besar daripada semua utang yang selama ini ia kenal.
Surya memasukkan cincin itu kembali ke jarinya.
Ia membuka pesan terakhir dari nomor asing dan mengetik balasan.
Kalau saya datang, apa yang akan saya temukan?
Kali ini, jawaban muncul hampir seketika.
Kebenaran pertama. Dan mungkin kesempatan terakhir untuk menyelamatkan ibumu.
Surya membeku.
Ia tidak pernah menyebut ibunya kepada siapa pun dalam percakapan ini.
Rasa takut akhirnya datang, bukan sebagai ledakan, melainkan sebagai dingin yang merayap perlahan dari tengkuk menuju tulang belakang.
Ia menatap foto kecil ibunya di dalam dompet. Wajah perempuan itu tampak kabur di bawah cahaya lampu kamar yang kekuningan.
Selama ini Surya mengira kemiskinan adalah nasib. Sesuatu yang diwarisi, diterima, lalu dipikul sampai punggung patah.
Malam itu, untuk pertama kalinya, kemiskinan terasa seperti sesuatu yang sengaja diberikan kepadanya.
Ia memasukkan ponsel ke saku jaket, memeriksa kunci motor, lalu mengambil helm yang tergeletak di bawah meja. Tangki motor hampir kosong. Ia tidak tahu apakah bensin yang tersisa cukup untuk mencapai pelabuhan.
Kalau tidak cukup, ia akan berjalan.
Surya mematikan kipas, memeriksa pintu sekali lagi, lalu berhenti di ambang kamar.
Di belakangnya, kotak kayu masih terbuka. Kain hitamnya tampak kosong. Cincin itu kini berada di jarinya, melekat seperti keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.
Ia seharusnya takut. Ia memang takut.
Tetapi ketakutan tidak pernah membayar tagihan. Ketakutan tidak pernah mengirim obat kepada ibunya. Ketakutan juga tidak pernah membuka pintu bagi orang yang terlalu lama hidup di luarnya.
Surya mengunci kamar kos.
Di ujung lorong, lampu berkedip dua kali. Lalu ponselnya bergetar sekali lagi.
Bukan pesan.
Sebuah koordinat baru muncul di layar, disertai hitungan mundur tiga jam empat puluh satu menit.
Di bawah koordinat itu tertulis:
JANGAN DATANG TERLAMBAT. MEREKA SUDAH TAHU CINCIN ITU AKTIF.
Surya menggenggam tangan bercincin sampai buku jarinya memutih.
Ia tidak tahu siapa yang dimaksud dengan mereka. Ia tidak tahu siapa yang mengirim pesan. Ia bahkan belum tahu apakah Pak Andi benar-benar hidup.
Namun, satu hal ia tahu. Ia sudah terlalu lama hidup dengan pintu-pintu yang selalu tertutup. Kali ini, ia akan mendobraknya.
Dan jika ada seseorang berdiri di balik pintu itu, Surya akan menuntut jawaban sebelum ia mengizinkan siapa pun menutupnya kembali.
Daftar bab
24 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








