
Perjalanan Misteri Andra
pury Alliens|Bersambung
- Jumlah kata
- 67.1K
- Popular
- 118
- Subscribe
- 42
- Jumlah kata
- 67.1K
- Popular
- 118
- Subscribe
- 42
Sinopsis
Berkisah tentang seorang pemuda bernama Andra yang mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya, namun beruntungnya ia masih bisa lolos dari maut. Namun setelah kejadian itu ia mulai bisa melihat para sosok tak kasat mata. Dan dari sana kisah Andra dimulai. Pertemuan dengan setiap makhluk astral yang ia temui memberinya pengalaman serta pelajaran yang mampu merubah pola fikirnya dalam mengartikan sebuah makna kehidupan
Ulasan
5 ulasan
Ocha Ruby
11/9/26 09:05
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐ bertabur bintang. kisahnya seru, bagus dan sayang kalau dilewatin. Andra sepertinya mendapatkan kesempatan kedua dengan kemampuan yang baru didapatnya juga.
Feerista
10/9/26 11:25
keren kak cerita nya, Andra dapet banget syok nya pas dia tau matanya bisa liat yang tak terlihat lanjut semangat terus nulisnya kak💪💪
Kecelakaan
Malam itu Andra dan kawan-kawannya berkumpul di jalanan kota yang sudah mulai lenggang dari para pengguna jalan. Seperti biasa kumpulan pemuda itu bersiap untuk adu kecepatan di jalanan. Andra sudah duduk membungkuk kan punggung di atas jok motor ninja berwarna merah dengan kedua tangan mencengkram gas motor. Suara deru bising knalpot itu mulai beradu menandakan akan segera dimulainya pertandingan. Kibasan bendera merah berkibar dan seketika itu barisan motor itu melesat bak anak panah yang melesat kencang. Kawanan pemuda itu bersaing ketat Zig Zag di jalanan yang mereka jadikan sirkuit dadakan. Dengan keamanan yang minim mereka memacu kencang kereta besi masing-masing tanpa memperhatikan keamanan berkendara. Bagaimana tidak, mereka kebanyakan tak mengenakan helm di kepala. Termasuk Andra. Rekan-rekan pemuda yang sedang beradu kecepatan itu saling berteriak memberikan dukungan untuk para kawan mereka. Dan dalam barisan itu berdiri sepasang sekawan yang tersenyum smirk menatap persaingan sengit di depan mata keduanya.
Tak lama sepasang mata itu beradu dan saling melempar senyum seakan melempar kode.
Egi dan Bara adalah rekan Dimas yang sedang bertanding melawan Andra. Dimas dan Andra merupakan musuh bebuyutan. Dan pertandingan kali ini menyisakan Andra dan Dimas di barisan urutan paling depan yang memimpin jalannya pertandingan malam itu.
"Apa kau sudah melakukan yang ketua pinta?" bisik Egi pada Bara yang mendekat dan langsung melingkarkan tangannya ke leher kawan di sampingnya.
"Beres!"
"Lihat saja tak lama lagi ketua pasti jadi pemenangnya. Motor itu tak ada rem sekarang," balas Bara sembari tersenyum kecut seakan bisa memprediksi peristiwa yang akan terjadi sebentar lagi.
Dan benar saja tepat di area selepas tikungan, Andra tampak panik pasalnya rem motor yang ia kendarai tak lagi berfungsi. Wajah pemuda itu mulai pucat, jari jemarinya terus menarik rem begitu juga kakinya yang ia gunakan menekan pedal rem namun semua sia-sia. Kendaraan itu tetap melesat dan kecepatan kendaraan itu sama sekali tak menurun.
Keringat dingin mulai mengucur membasahi kening pemuda itu. Bibirnya tertutup rapat, netra Andra berusaha fokus pada medan jalur aspal di hadapannya.
Dan....
Sepasang mata Andra menyipit kala cahaya yang begitu terang dari kendaraan besar di depannya itu berada di jarak yang sangat deka hingga membuatnya silau. Bisa dirasakan jantung pemuda itu berdebar kencang. Ia bisa membayangkan peristiwa yang akan segera menimpanya. Dan akhirnya benturan keras antar kedua kendaraan itu tak bisa dihindari. Tubuh Andra terpental ke udara terlempar dari atas motor, kendaraan itupun terseret tanpa tuan hingga ringsek parah dengan roda yang terus berputar karena kecepatan yang sangat tinggi.
Pandangan Andra seketika itu menjadi gelap gulita. Peristiwa yang begitu cepat tersebut membuat pemuda itu mendarat di aspal tengkurap dengan cairan merah segar menggenangi badan aspal. Teriakan histeris dan derap langkah yang berlarian mendekat sayup-sayup terdengar.
Namun anehnya mata Andra terasa amat berat untuk terbuka.
Sirine mobil ambulans memecah keheningan malam. Rio sahabat Andra membuntuti mobil yang membawa kawannya itu dengan wajah pucat dan tubuh yang masih tremor nyaris tak bertenaga melihat cairan merah keluar dari badan sang sahabat.
Sesampainya di rumah sakit, Rio berdiri di depan ruang UGD. Pemuda itu mondar-mandir bak setrikaan karena tak punya hati masuk ke dalam ruangan.
Dan tak selang beberapa menit kemudian orang tua Andra tiba di depan ruang UGD rumah sakit tersebut.
"Rio...!" Sapa Ayah Andra
Rio tertunduk, kaki pemuda itu seakan tinggal kulit tanpa tulang yang tak kuasa menahan beban tubuhnya kala mengingat cairan merah yang tak kunjung keluar dari badan kawan baiknya.
Rio langsung memeluk badan tegap pria paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri. Persahabatan Rio dan Andra memang sudah seperti saudara kandung. Mereka berteman sejak kecil, mereka tumbuh besar bersama hingga bangku universitas pun mereka masih sama-sama.
"Maaf Om, aku nggak bisa jagain Andra," sesal Rio.
Dirga ayah Andra menepuk punggung pemuda di hadapannya.
"Bukan salah kamu. Om sudah sering ingatkan balap liar itu berbahaya, resikonya nyawa. Tapi si Andra tak mau dengar, Om sudah ingatkan kalian semua. Apalagi keamanan diri juga nggak kalian perhatikan, kalian naik motor tanpa helm dan pengaman yang jelas. Lalu kalian memacu kendaraan dengan kecepatan sekencang itu, kalau sudah begini ya nggak ada yang bisa disalahin. Semua itu resiko keputusan yang kalian ambil. Om juga nggak mau nyalahin siapapun disini, karena hari apes nggak ada di kalender. Mungkin ini udah apesnya si Andra. Om hanya minta kejadian hari ini tolong kamu jadikan pelajaran. Stop balap liar, lakukan kegiatan yang lebih positif. Kalian anak muda masih banyak yang bisa kalian lakukan, masih banyak peluang untuk kalian berkembang. Jangan kalian membuang waktu!"
"Sekarang Om minta doanya saja, moga si Andra baik-baik aja dan bisa balik di tengah kita semua. Terus tadi mobil lawannya si Andra gimana?" tanya Dirga ayah dari Andra.
"Pengemudinya langsung dibawah ke pihak berwajib Om," jawab Rio.
Ibunda Andra terus meneteskan air mata menatap kondisi sang putra semata wayangnya.
"Om masuk ke dalam dulu, lihat kondisi Andra. Kamu tenangin diri dulu," pamit Dirga yang lantas masuk ke dalam ruangan UGD menyusul sang istri yang lebih dulu masuk ke dalam.
Pria paruh baya itu terlihat sangat tegar, meski sesekali beliau mengambil nafas dalam , setelah beberapa saat Andra pun dipindahkan menuju ruang operasi.
Di dalam ruangan yang dingin itu Andra terbangun. Anehnya ia merasa lebih tinggi, bahkan kepalanya nyaris menyentuh langit-langit. Dan saat pandangan pemuda itu kebawah ia pun tersentak mendapati tubuhnya terbaring dikelilingi para petugas medis yang sedang menjalankan tugasnya.
"Aku kenapa?"
"Kenapa aku bisa melihat tubuhku?"
Pemuda itu bertanya-tanya dengan apa yang dialaminya.
Ia pun berusaha mengingat-ingat kejadian yang baru ia alami.
"Aku kecelakaan?"
"Lantas kenapa aku bisa keluar dari badanku?"
"Apa aku sudah mati?"
"Nggak aku nggak mau mati!"
"Ada apa ini?"
Andra tampak histeris, rasa takut menyelimuti benak pemuda itu.
Dan tiba-tiba ia merasakan sesuatu menarik menyedot dirinya masuk ke dalam badannya kembali. Namun netra pemuda itu terasa sangat berat untuk terbuka. Sampai akhirnya ia merasa sedang berdiri di satu tempat asing yang gelap.
Tak ada cahaya sedikit pun yang dapat tertangkap olehnya.
"Ini dimana?"
"Kenapa gelap sekali?" batin pemuda tersebut.
Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara yang memanggil nama pemuda itu. Suara serak kakek-kakek yang ia kenal yang tak lain adalah Kakek dari Andra yang sudah berpulang sebulan yang lalu.
"Ndra....gimana kabar ayah ibumu?" tanya suara itu.
Namun tak ada bayangan hanya suara yang terdengar tanpa raga yang berhasil membuat bulu kuduk Andra berdiri.
Pemuda itu memutar badan menyapukan pandanganya di tengah kegelapan. Hingga suara itu bertambah dan semua adalah suara sosok dari mereka yang sudah meninggal yang Andra kenal yang semakin membuat Andra kebingungan.
"Bukankah kalian semua sudah meninggal?"
"Kenapa aku ada di tempat ini?"
Daftar bab
60 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








