
Kurir Pewaris Cincin Raja
Sri Noir|Bersambung
- Jumlah kata
- 145.2K
- Popular
- 715
- Subscribe
- 304
- Jumlah kata
- 145.2K
- Popular
- 715
- Subscribe
- 304
Sinopsis
Jomantara hanya seorang kurir biasa sampai sebuah paket tanpa nama pengirim meninggalkan cincin kuno yang tidak bisa dilepas dari jarinya. Sejak itu, orang-orang mulai memburunya, keluarganya menyembunyikan masa lalu, dan suara seorang raja mati terus berbisik di kepalanya. Namun, misteri terbesar bukanlah siapa yang mengirim cincin itu. Melainkan mengapa Jomantara sudah tercatat sebagai penerimanya sejak lahir. Siapa sebenarnya dirinya, dan apa yang akan terjadi jika cincin itu berhasil mengambil alih tubuhnya?
Ulasan
1 ulasan
Kingdenie
3/10/26 10:24
Kocak bet judulnya. Mengapa sih kudu kurir, kenapa nggak penulis maxnovel aja yang jadi pewaris Baca dulu, siapa tau suka
Penghinaan di Depan Gerbang Cluster
“Kalau belum dibayar, jangan dibawa masuk, Pak.”
Kalimat Jomantara Wisesa membuat tangan pria berkemeja putih itu berhenti di udara.
Di depan gerbang Cluster Arunika Hills, siang Bandung terasa lengket. Aspal masih menyimpan panas, langit menggantung kelabu, dan motor tua Jomantara berdiri miring di dekat pos satpam dengan boks paket penuh debu jalanan.
Jomantara memakai jaket kurir gelap yang warnanya sudah kalah oleh matahari. Helmnya penuh goresan. Sepatu ketsnya mulai terbuka di ujung. Di tangannya ada paket COD berlapis plastik bening, tertulis nama penerima: Raka Pradipta.
Pria di depannya menatap paket itu, lalu menatap Jomantara seperti melihat noda di lantai rumahnya.
“Saya cuma mau cek barang,” kata Raka. “Masa nggak boleh?”
“Boleh setelah dibayar, Pak.”
Raka tertawa tipis. Dia menoleh ke satpam di pos. “Kang Asep, dengar sendiri, ya. Kurir sekarang galak-galak. Padahal cuma ngantar barang.”
Asep, satpam cluster yang sejak tadi berdiri ragu, hanya tersenyum canggung.
Jomantara menahan napas pelan. Masih ada sembilan paket di tasnya. Dua harus ke kos mahasiswa, satu ke toko kecil di Antapani, sisanya COD yang kemungkinan sama ribetnya.
“Totalnya satu juta dua ratus delapan puluh ribu, Pak,” ujar Jomantara. “Pembayaran tunai atau lewat metode yang ada di aplikasi.”
Raka menyipitkan mata. “Saya transfer nanti. Barangnya tinggalin dulu.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa tidak bisa?”
“Karena ini COD.”
“Kamu kira saya baru pertama kali belanja online? Saya biasa transaksi puluhan juta, kurir lain santai aja tuh waktu saya minta cek barang."
Jomantara menatap sebentar kacamata hitam di wajah Raka. Hari tidak terlalu terang, tapi pria itu tetap memakainya seolah matahari pun harus meminta izin sebelum menyentuh wajahnya.
“Kalau Bapak tahu, berarti Bapak juga tahu barang baru boleh diserahkan setelah pembayaran.”
Raka maju setengah langkah. Aroma parfum mahal langsung menabrak bau bensin dari jaket Jomantara.
“Kamu tahu saya siapa?”
“Penerima paket nomor resi JX-7782.”
Asep menunduk cepat. Bahunya bergerak sedikit, menahan tawa.
Wajah Raka berubah kaku.
“Lucu kamu?”
“Tidak, Pak. Saya cuma baca data.”
“Dengar, ya.” Raka menunjuk dada Jomantara, tidak sampai menyentuh, tapi cukup dekat untuk merendahkan. “Saya tinggal di sini. Saya biasa belanja puluhan juta. Kurir-kurir lain juga nurut kalau saya minta cek barang dulu.”
“Mungkin kurir lain punya kebijakan sendiri. Saya tidak.”
“Berarti kamu yang paling ribet.”
“Kalau aturan disebut ribet, saya ribet, Pak.”
Dua penghuni cluster yang baru turun dari mobil mulai melirik. Seorang ibu muda membawa anjing kecil berhenti di dekat taman. Dari balkon rumah seberang, seseorang membuka tirai.
Raka melihat orang-orang mulai memperhatikan. Bukannya menahan diri, dia justru mengangkat dagu.
“Kang Asep, catat nama kurir ini. Kalau begini caranya, besok-besok jangan asal izinkan masuk. Orang kayak dia bikin suasana cluster nggak nyaman.”
Asep gelisah. “Mungkin diselesaikan baik-baik saja, Pak.”
“Saya sudah baik-baik dari tadi.” Raka kembali menatap Jomantara. “Kamu kerja di ekspedisi apa? Saya kenal orang pusat. Sekali saya komplain, rating kamu hancur.”
Jomantara menggenggam paket lebih kuat. Bukan karena takut barang direbut, tapi karena ada sesuatu di dalam dadanya yang mulai panas.
Dia sudah sering dihina. Oleh pelanggan, oleh atasan, oleh orang yang merasa uang bisa membuat suaranya lebih tinggi. Biasanya dia memilih diam. Bukan karena kalah, tapi karena perut di rumah tidak bisa diisi dengan ego.
Tapi kali ini, cara Raka bicara membuat pos satpam, pagar tinggi, dan jalan bersih cluster itu terasa seperti panggung kecil untuk menginjak orang.
“Silakan komplain kalau saya salah,” kata Jomantara.
Raka tersenyum miring. “Oh, nantang?”
“Saya cuma minta Bapak bayar sesuai aplikasi.”
Raka tiba-tiba meraih paket.
Gerakannya cepat, tapi Jomantara lebih dulu menarik paket ke belakang. Tidak kasar, tidak panik. Hanya cukup untuk membuat tangan Raka menangkap udara kosong.
Mata Raka melebar. “Kamu berani narik barang saya?”
“Belum jadi barang Bapak.”
“Ini alamat saya!”
“Betul. Tapi belum dibayar.”
Beberapa orang yang menonton mulai berbisik. Raka menoleh sekilas ke arah mereka. Wajahnya berubah. Dia mengambil ponsel dari saku celana.
“Oke. Saya rekam. Biar viral sekalian. Kurir menolak pelanggan cek barang.”
Jomantara diam.
Raka mengarahkan kamera ke wajah Jomantara. “Nama kamu siapa?”
“Jomantara Wisesa.”
“Bagus. Jomantara Wisesa, kurir yang mempersulit pelanggan. Lihat, ya, mukanya.”
Jomantara menatap kamera itu tanpa senyum.
Ada orang yang rumahnya tinggi, tapi hatinya lebih sempit dari gang habis hujan.
Kalimat itu lewat di kepalanya. Pahit, tapi membuat napasnya lebih teratur.
“Pak,” kata Jomantara, “kalau Bapak mau rekam, rekam dari awal.”
Dia membuka ponselnya sendiri. Jarinya bergerak ke aplikasi pengiriman, lalu membuka halaman detail.
“Ini riwayat percobaan hubungi penerima. Saya telepon Bapak tiga kali dari depan gerbang. Tidak diangkat. Saya kirim pesan. Belum dibaca. Saya lapor ke admin cabang, lalu diminta menunggu sepuluh menit. Setelah itu baru Bapak keluar.”
Raka menurunkan ponselnya sedikit.
Jomantara mengangkat layar agar Asep dan dua penghuni cluster bisa melihat.
“Ini foto saya di depan pos satpam saat tiba. Ini catatan Kang Asep waktu saya masuk. Jadi bukan saya menghilang, bukan saya lempar paket, dan bukan saya menolak menyerahkan barang tanpa alasan.”
Asep mengangguk pelan. “Iya, tadi Mas Jom memang nunggu di sini. Saya juga sempat telepon rumah Bapak, tapi nggak ada yang angkat.”
Raka menatap Asep tajam. “Kamu kerja sama siapa?”
Asep langsung diam.
Jomantara menggeser layar lagi. “Ini catatan dari toko. Untuk pesanan COD bernilai di atas satu juta, paket tidak boleh dibuka sebelum pembayaran. Kalau penerima menolak bayar, kurir wajib retur.”
Ibu muda yang membawa anjing kecil berbisik, “Lah, berarti memang aturannya begitu.”
Raka mendengarnya. Rahangnya mengeras.
“Jangan sok pintar,” katanya pada Jomantara. “Kamu cuma kurir.”
“Betul, Pak. Karena saya kurir, saya tahu paket mana yang sudah boleh diserahkan dan mana yang belum.”
“Orang kayak kamu itu jangan kebanyakan gaya. Tugasmu cuma angkat kardus.”
Jomantara menatap sepatu Raka yang mengilap. Lalu melihat sepatunya sendiri yang hampir jebol.
Dia tidak malu.
Sepatu itu jelek, tapi tidak pernah dipakai menginjak harga diri orang lain.
“Angkat kardus juga pekerjaan halal, Pak.”
Raka tertawa pendek. “Halal, tapi tetap saja rendah.”
Kalimat itu membuat suasana depan gerbang mendadak senyap.
Asep menatap Raka dengan wajah tidak nyaman. Ibu muda tadi menurunkan anjingnya dari gendongan. Dua penghuni lain berhenti bicara.
Jomantara tidak langsung menjawab. Dia hanya membuka satu halaman lagi di aplikasinya.
“Pak Raka,” katanya pelan, “saya sebenarnya tidak mau memperpanjang. Tapi karena Bapak dari tadi merekam saya, saya juga perlu jelaskan satu hal.”
Raka menyipitkan mata.
Jomantara membuka detail pengiriman. Sebuah peringatan otomatis muncul di bawah alamat Raka.
ALAMAT DALAM PENGAWASAN TOKO.
PAKET COD TIDAK BOLEH DIBUKA SEBELUM PEMBAYARAN.
“Sistem memberi peringatan karena alamat ini pernah bermasalah,” kata Jomantara. “Saya wajib mengikuti peringatan ini.”
Wajah Raka berubah.
Jomantara memperlihatkan catatan pengiriman dari toko yang sama. Nama penerimanya memang berbeda, tapi nomor rumah dan nomor ponselnya cocok.
Ibu muda itu langsung menatap Raka. “Pak, itu bukannya bulan lalu juga ada kurir sepatu yang ribut di sini?”
“Jangan ikut campur,” bentak Raka.
Asep ikut melihat layar Jomantara. “Nomornya sama, Pak.”
“Diam kamu!”
Sekarang yang terlihat panik bukan lagi Jomantara.
Raka memasukkan ponselnya ke saku. “Oke, berapa tadi?”
“Satu juta dua ratus delapan puluh ribu.”
Raka mengeluarkan dompet, mengambil beberapa lembar uang, lalu menjejalkannya ke arah Jomantara.
Jomantara menghitung.
“Kurang delapan puluh ribu, Pak.”
Mata Raka membesar. “Serius kamu?”
“Totalnya satu juta dua ratus delapan puluh ribu.”
Raka mengambil uang tambahan dan melemparkannya ke atas paket.
Uang itu meluncur ke bawah, jatuh di dekat sepatu Jomantara.
Jomantara tidak mengambilnya.
Dia menatap Raka.
“Pembayaran diterima dari tangan penerima paket, Pak.”
“Ambil saja!”
“Kalau uang jatuh, nanti Bapak bisa bilang saya pungut tanpa izin.”
Beberapa orang menahan senyum.
Wajah Raka memerah. Perlahan, dengan gerakan kaku, dia membungkuk, mengambil uang itu, lalu menyerahkannya langsung ke tangan Jomantara.
Jomantara menghitung sekali lagi, mencatat pembayaran, lalu menyerahkan paket dengan dua tangan.
“Terima kasih. Semoga barangnya sesuai.”
Raka merebut paket itu. Tidak ada lagi rekaman. Tidak ada lagi ancaman. Hanya wajah pria kaya yang dipaksa menelan malu di depan gerbang rumahnya sendiri.
Jomantara berbalik menuju motor.
Asep mendekat pelan. “Mas Jom, maaf tadi saya nggak bisa bantu.”
Jomantara memasang helm. “Nggak apa-apa, Kang. Kadang pagar tinggi bikin suara orang kecil ikut mengecil.”
Asep terdiam.
Jomantara menyalakan ponsel untuk melihat rute berikutnya. Dia mengira muncul alamat kos atau toko kelontong seperti biasa.
Namun layar aplikasi ekspedisi tiba-tiba berubah hitam beberapa detik, lalu menampilkan notifikasi baru.
Paket khusus ditemukan.
Pengirim: tidak tersedia.
Penerima: tidak tersedia.
Lokasi pengambilan: Gudang Cabang Bandung Timur.
Catatan sistem: Menunggu kurir Jomantara Wisesa sejak 24 tahun lalu.
Jomantara menatap layar tanpa berkedip.
Di bawah catatan itu, muncul satu kalimat lagi.
Status paket: sudah mengenal penerimanya.
Daftar bab
132 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
132 bab








