

Dingin. Hanya itu yang aku rasakan merayapi pori-pori kulitku.
Aku terbatuk hebat, memuntahkan gumpalan darah hitam ke atas lantai bebatuan gua yang lembap. Aroma anyir berkarat langsung memenuhi udara pengap, bercampur dengan bau lumut busuk. Tanganku bergetar tak terkendali saat mencoba menekan luka robek yang menganga lebar di perutku.
Sakit. Sangat sakit hingga pandanganku mulai berbayang abu-abu.
Apakah ini akhir dari segalanya? Mati membusuk di dasar jurang kotor ini, sendirian, menjadi makan malam bagi monster liar?
Baru pagi ini, aku masih bergelar seorang Bangsawan dari Kerajaan Swarnabumi. Kerajaan besar tempatku lahir, bernapas, dan memberikan seluruh loyalitasku. Namun, semua itu hancur hanya karena satu alasan yang sangat klise di dunia ini.
Aku, Aksa, lahir tanpa setetes pun energi Prana di dalam tubuhku.
Di dunia yang memuja kekuatan mutlak, di mana seorang anak kecil saja bisa menghancurkan batu dengan tangan kosong, kondisiku adalah sebuah kutukan. Aku hanyalah seonggok sampah yang mempermalukan silsilah keluarga.
"Bawa sampah ini ke Hutan Terlarang. Biarkan seleksi alam yang menghapus aib dari Kerajaan kita!"
Suara dingin sang Raja, ayah dari wanita yang seharusnya menjadi tunanganku, masih terngiang jelas menusuk telingaku. Aku ingat tatapan jijik para bangsawan di ruang tahta. Aku ingat senyum mengejek dari adik tiriku yang merebut posisiku. Mereka membuangku seperti binatang cacat.
Suara geraman rendah dan basah tiba-tiba membuyarkan lamunan pahitku. Bulu kudukku seketika berdiri tegak.
Di ujung kegelapan gua, sepasang mata merah menyala menatapku. Tatapan itu penuh dengan rasa lapar yang buas dan murni. Perlahan, bayangan itu melangkah maju dari kegelapan, memperlihatkan wujud aslinya.
Itu adalah Serigala Malam. Monster tingkat rendah yang sering diburu oleh prajurit pemula. Namun, bagi manusia biasa tanpa Prana sepertiku, monster ini setara dengan malaikat maut.
Aku bisa mendengar suara air liur kentalnya yang menetes jatuh ke bebatuan. Menetes. Menetes. Suaranya bergema di dinding gua, terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sisa detik kehidupanku.
Monster itu merendahkan postur tubuhnya, otot-otot kakinya menegang. Ia bersiap menerkam.
Aku memejamkan mata dengan dada bergemuruh. Ototku terlalu lemah untuk sekadar merangkak mundur. Keputusasaan menelan jiwaku bulat-bulat. Aku bahkan tidak punya tenaga untuk mengutuk nasib.
[Detak jantung inang melemah. Kondisi kritis terdeteksi.]
Sebuah suara mekanis tanpa emosi tiba-tiba bergema keras di dalam tengkorakku.
Aku tersentak membuka mata. Tepat di depan wajahku, sebuah layar biru transparan bercahaya melayang di udara, menerangi wajahku yang pucat pasi di tengah kegelapan gua.
[Sistem Penguasa Waktu diaktifkan. Inisialisasi awal dimulai.]
[Mengunduh paket pemula... Selesai.]
[Selamat, Aksa. Anda telah diakui dan membuka akses ke Hukum Waktu.]
Aku terbelalak ngeri sekaligus bingung. Sistem? Hukum waktu? Apa ini halusinasi dari otakku yang kekurangan darah sebelum kematian?
[Mendeteksi ancaman fatal. Mengaktifkan skill pasif: Penglihatan Masa Depan (3 Detik).]
Tiba-tiba, pandanganku berkedip satu kali. Suara geraman Serigala Malam itu menghilang. Dunia di sekitarku memudar, berubah warna menjadi abu-abu monoton.
Di mataku, aku melihat pemandangan yang mengerikan. Aku melihat bayangan Serigala Malam itu menerjang maju bagai anak panah. Rahangnya terbuka sangat lebar, mengarah tepat ke leherku. Aku melihat dengan detail yang menyakitkan bagaimana taring kotor itu merobek urat leherku, memuntahkan darah panas ke udara.
Lalu, visi abu-abu itu berakhir dalam sekejap. Dunia kembali berwarna normal dan suara geraman monster itu kembali terdengar.
Namun, detik berikutnya, Serigala Malam itu benar-benar menerjang!
Persis seperti yang kulihat! Gerakannya, sudut lompatannya, bahkan ayunan ekornya, semuanya sama persis tak ada yang meleset satu milimeter pun!
Karena aku sudah tahu apa yang akan terjadi sedetik sebelumnya, insting bertahan hidup memaksaku memutar tubuh ke samping dengan sisa tenaga terakhir yang kumiliki.
Brak!
Serigala itu meleset tipis, cakar depannya hanya merobek kemejaku sebelum tubuh besarnya menghantam dinding gua di belakangku. Batu-batu kecil berjatuhan akibat benturan itu.
Napasku memburu hebat. Jantungku berdetak seakan ingin melompat keluar dari rongga dada. Aku menghindari kematian! Kemampuan ini nyata!
Tapi kegembiraan itu tidak bertahan lama. Monster itu kembali berbalik. Matanya semakin merah menyala, merasa terhina karena mangsanya berhasil menghindar.
[Peringatan. Stamina inang di bawah 5%. Anda tidak memiliki kecepatan yang cukup untuk menghindari serangan berikutnya.]
Sialan! Percuma saja aku bisa melihat masa depan 3 detik kalau tubuh rongsokan ini terlalu lambat untuk bereaksi!
Serigala itu menerjang lagi. Kali ini jauh lebih cepat. Aku mencoba melempar tubuhku ke arah lain, tapi kakiku tersandung batu bergerigi.
Crass!
Cakar beracunnya berhasil merobek dadaku. Rasa sakit yang luar biasa meledak di sistem sarafku. Aku menjerit tertahan saat tubuhku terpental keras dan menghantam tanah. Darah segar membanjiri dadaku. Kegelapan mulai mengambil alih kesadaranku. Ini benar-benar akhirnya.
[Luka fatal terdeteksi. Kematian di ambang batas.]
[Mengaktifkan skill aktif: Pembalikan Waktu (5 Detik).]
Seketika, dunia berhenti bergerak.
Lalu, sebuah keajaiban yang melawan hukum alam terjadi. Semuanya bergerak mundur!
Darah panas yang mengalir membasahi tanah tiba-tiba kembali naik dan masuk ke dalam pori-poriku. Rasa sakit luar biasa yang merobek dadaku lenyap seketika, tergantikan oleh sensasi dingin. Tubuhku yang terpental di udara kembali ditarik paksa ke posisi semula bagai pita kaset yang diputar terbalik. Serigala yang ada di depanku tertarik mundur ke titik awal sebelum ia melompat.
Wush!
Waktu kembali berjalan normal.
Aku berdiri di posisi yang sama persis seperti 5 detik yang lalu. Aku menunduk menatap dadaku dengan tangan gemetar. Utuh. Tidak ada luka robek. Tidak ada darah.
Otakku bekerja dengan kecepatan gila. Ini bukan sihir penyembuhan. Ini bukan ilusi. Aku benar-benar memutar balikkan waktu! Aku menguasai dunia ini!
Serigala itu kembali mengambil ancang-ancang, mengulangi lompatan mematikannya untuk yang kesekian kali. Tapi kali ini, aku tersenyum sinis. Aku tidak berniat menghindar. Aku tahu persis ke mana, kapan, dan di sudut mana dia akan mendarat.
Aku meraih sebuah stalagmit patah yang sangat tajam di dekat kakiku, menggenggamnya erat dengan kedua tangan, dan mengarahkannya tepat ke titik pendaratan monster itu.
Serigala itu melompat dengan buas.
Jleb!
Suara daging robek menggema di dalam gua. Bukan aku yang tertusuk. Monster buas itu sendirilah yang menabrakkan mata kanannya tepat ke ujung stalagmit yang kupegang tegak.
Batu tajam itu menembus bola matanya dalam-dalam dan langsung merobek otaknya. Serigala itu melolong sangat panjang dan menyayat hati, tubuh besarnya kejang-kejang sesaat, memuntahkan darah hitam, sebelum akhirnya ambruk menimpaku.
Aku mendorong bangkai berbau busuk seberat puluhan kilogram itu dengan jijik. Nafasku terengah-engah. Dada ini naik turun dengan kasar. Aku selamat. Tanpa Prana sedikitpun, aku berhasil membunuh monster.
[Ancaman berhasil dieliminasi.]
[Poin Waktu +10.]
Layar biru sistem itu kembali muncul di hadapanku.
"Sistem... apa sebenarnya kau ini?" gumamku, suaraku terdengar serak dan kering. "Bagaimana cara aku bisa menjadi lebih kuat? Apakah aku harus membunuh ratusan monster lagi untuk memperpanjang durasi waktuku?"
Pikiranku mulai liar. Jika aku bisa memperkuat manipulasi waktu ini, bukan hanya 5 detik, tapi 5 menit, atau bahkan 5 jam... aku bisa kembali ke Kerajaan Swarnabumi dan menghancurkan semua bangsawan sombong yang membuangku bagai anjing kurap!
[Menjawab Inang. Sistem ini bukanlah sistem pertarungan barbar atau kultivasi biasa. Hukum Waktu adalah hukum tertinggi di alam semesta.]
[Membunuh monster tingkat rendah hanya memberikan Poin Waktu sisa yang tidak berguna untuk menaikkan level kemampuan Inang.]
Aku mengerutkan kening dalam-dalam. "Lalu? Bagaimana caraku membuka segel waktu yang lebih besar?"
[Sistem Penguasa Waktu terikat mutlak pada Energi Yin murni. Untuk membuka segel kekuatan waktu, menaikkan level, dan mendapatkan kemampuan baru yang tak terkalahkan, Inang wajib menyerap Energi Yin dari wanita-wanita terpilih di dunia ini.]
[Metode penyerapan: Kontak fisik, membangun ikatan emosional, romansa, sentuhan intim, hingga pertukaran cairan tubuh.]
Tunggu. Apa?
Aku terdiam kaku. Otakku seperti berhenti berfungsi selama beberapa detik.
"Maksudmu... aku harus... menggoda wanita agar kekuatanku bertambah?!" pekikku tertahan, separuh tidak percaya dengan apa yang baru saja kubaca.
[Benar. Semakin kuat ikatan, semakin tinggi status sang wanita, dan semakin intim sentuhan Inang dengannya, maka akan semakin besar kendali Inang atas Waktu dan Masa Depan.]
Aku mengusap wajahku yang masih terciprat darah serigala. Ini gila. Sangat gila. Di saat aku baru saja diusir, direndahkan, dan nyaris mati konyol, sekarang aku mendapat sebuah cheat setingkat dewa yang syarat utamanya adalah... membangun sebuah harem?
Duarrr!
Sebelum aku sempat memproses kegilaan dari sistem cabul ini lebih jauh, sebuah ledakan dahsyat terdengar merobek udara dari luar gua.
Langit-langit gua batu tempatku berlindung bergetar hebat. Bebatuan besar berjatuhan. Suara benturan senjata dan ledakan sihir terdengar samar dari atas gunung.
Tiba-tiba, dari celah lubang di atas gua yang retak akibat ledakan, sesosok tubuh meluncur jatuh menembus kegelapan dan menghantam tanah berdebu tepat beberapa meter di depanku.
Debu perlahan menipis, terbawa angin malam yang masuk melalui lubang di atas.
Napasku tercekat di tenggorokan.
Tubuh yang jatuh itu adalah seorang wanita.
Rambutnya seputih salju murni, terurai berantakan menutupi sebagian wajahnya yang memiliki kecantikan luar biasa, melampaui wanita manapun yang pernah kulihat di istana. Kulitnya pucat dan mulus seperti porselen, sangat kontras dengan gaun peraknya yang kini robek di beberapa bagian strategis, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna dan menggoda.
Namun, ada noda darah kehitaman di sudut bibirnya. Hawa dingin yang sangat ekstrem, seolah mampu membekukan jiwa, memancar kuat dari tubuhnya yang kini terkapar tidak sadarkan diri.
Dia bukan wanita sembarangan. Auranya saja, meski dalam kondisi sekarat, membuatku merasa tercekik.
[Peringatan Mutlak! Terdeteksi Tubuh Es Surgawi (Kualitas Yin: SSS).]
[Misi Darurat Diaktifkan: 'Sentuhan Penyelamat sang Penguasa'.]
[Target sedang sekarat karena racun api yang mengamuk di jantungnya. Lakukan sentuhan kulit ke kulit dan berikan ciuman pernapasan buatan untuk menyerap racun serta menstabilkan Energi Yin target.]
[Hadiah Keberhasilan: Membuka Skill Baru (Waktu Berhenti: 1 Detik) & Poin Waktu +500.]
[Hukuman Kegagalan: Target mati meledak dalam 60 detik karena racun, menghancurkan seluruh radius gunung ini bersamamu menjadi debu.]
Aku menelan ludah dengan sangat kasar. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipisku.
Enam puluh detik?! Mati meledak bersama gunung ini?!
Mata wanita cantik yang sedingin es abadi itu tiba-tiba terbuka perlahan. Tatapannya buram karena rasa sakit, tapi insting membunuhnya langsung mengunci leherku. Jika aku mendekat dan menyentuh bibirnya sembarangan, dengan sisa tenaganya dia pasti akan memenggal kepalaku dalam sekejap.
Tapi jika aku diam saja... kami berdua akan mati meledak!
Pilihan gila macam apa ini?!
END OF CHAPTER.