

"Ngghhh..... Mas...." Ucap Nabila lirih.
Suara desahan tertahan menggema di balik pintu kayu yang sudah setengah lapuk. Joko meneguk ludahnya dengan kasar.
Napasnya memburu, sama sekali tidak beraturan di tengah udara malam yang pengap. Di bawah remang lampu bohlam kuning, pemandangan di depannya benar-benar merusak konsentrasi.
Kain handuk tipis yang melilit tubuh mulus itu hampir melorot sepenuhnya.
Nabila, mahasiswi seni semester akhir yang menjadi salah satu penghuni lama di sini, menatapnya dengan mata sayu.
Ada kilatan gairah dan keputusasaan yang bercampur aduk di sana.
"Mas Joko... kumohon, bantu aku," bisik Nabila dengan suara bergetar.
Air sisa keramas menetes perlahan dari ujung rambutnya yang basah.
Tetesan itu jatuh melewati leher jenjang, menelusuri lekuk tulang selangka, hingga hilang di balik belahan dada yang terekspos jelas.
Joko merasakan darahnya berdesir hebat. Otak rasionalnya mendadak lumpuh total.
Dalam posisi terduduk di atas lantai kamar mandi yang basah, Nabila menarik tangan Joko. Sentuhan kulit yang bersentuhan langsung membuat Joko terperanjat.
Tanpa bisa dikontrol lagi, tangan kasar Joko merayap naik. Menyentuh pinggang ramping gadis itu dengan cengkeraman erat.
Nabila mendesah nikmat saat tubuh mereka semakin terkunci tanpa jarak. Aroma sabun bercampur keringat malam menciptakan sensasi memabukkan.
"Kau tahu risiko bermain-main denganku, Nabila?" bisik Joko tepat di telinganya.
Suaranya serak, sarat akan hasrat tertahan yang sudah menumpuk berbulan-bulan.
"Aku tidak peduli..." jawab Nabila sambil melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Joko.
Tekanan tubuh mereka semakin menghadirkan rasa panas yang membakar.
Bibir mereka akhirnya bertemu dalam ciuman yang liar dan menuntut. Tidak ada lagi batasan antara pemilik kos baru dan penghuni sewaan.
Yang tersisa hanya dengkutan napas berat dan erangan tertahan di ruangan sempit itu.
Joko merebahkan tubuh Nabila ke atas kasur lipat tipis di sudut kamar. Matanya menatap tajam ke arah mata sayu gadis di bawahnya.
Pakaian yang sejak tadi merepotkan mulai disingkirkan satu per satu. Sentuhan-sentuhan liar dan panas langsung mendominasi detik-detik berikutnya. Keringat bercucuran di pelipis keduanya.
Suara gesekan kain dan desahan yang lolos dari bibir Nabila membuat suasana semakin liar.
Joko benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia menghujani tubuh putih mulus itu dengan ciuman penuh gairah tanpa henti.
Nabila mencengkeram sprei kasur dengan kuat. Setiap gerakan Joko memberikan gelombang kenikmatan yang belum pernah ia merasakan sebelumnya.
"Ah... Mas Joko... pelan-pelan..." racau Nabila di sela ciuman mereka.
Namun Joko tidak memedulikannya. Hasrat yang terkurung beban hidup mendadak meledak malam ini. Rumah kos tua warisan sang paman yang berantakan seolah lenyap dari ingatan.
Yang ada di kepala Joko hanyalah kenikmatan tanpa batas di depan matanya. Suara decakan basah memenuhi ruangan kecil tersebut.
Gairah dua insan muda itu mencapai titik didih yang nyaris meledak.
Tepat saat Joko hendak mendorong batas permainannya ke babak yang lebih panas...
Brak!
Suara gebrakan keras tiba-tiba terdengar dari pintu depan rumah kos.
"Mas Joko! Mas Joko ada di dalam tidak?!" teriak suara seorang pria paruh baya dari luar.
Nabila langsung membelalakkan matanya ngeri. Ia segera mendorong dada Joko dengan sisa tenaga yang ada.
"Sialan... siapa itu?!" bisik Nabila panik sambil merapatkan selimut.
Joko menghentikan gerakannya dengan napas memburu dan dada naik-turun. Wajahnya menyeringai kesal sekaligus tegang. Itu adalah suara Pak RT yang biasa menagih iuran keamanan lingkungan malam-menerima tamu.
"Sabar, jangan berisik," desis Joko sambil merapikan pakaiannya yang berantakan dengan terburu-buru.
Ketegangan seksual yang luar biasa panas tadi mendadak berubah menjadi rasa jantung copot.
Nabila meringkuk di balik selimut tipis, menggigit bibirnya karena kesal sekaligus lega karena tidak tepergok telak.
Inilah hari pertama Joko mengambil alih kos-kosan warisan pamannya. Sebuah awal yang penuh kekacauan, utang, dan tentu saja... wanita-wanita seksi.
Joko menarik napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya. Ia berjalan mengendap-endap menuju pintu depan sambil membenahi kerah bajunya.
Sesampainya di ruang tamu utama yang berdebu, Joko membuka sedikit pintu kayu bercat hijau pudar itu.
Wajah Pak RT yang bermisum tebal langsung menyambut dengan tatapan curiga.
"Ada apa malam-malam begini, Pak RT?" tanya Joko dengan suara yang diusahakan senormal mungkin.
"Lho, kamu ini bagaimana! Air di lantai dua bocor parah sampai merembes ke kamar bawah! Cepat periksa!" hardik Pak RT tanpa basa-basi.
Joko hanya bisa mengangguk kaku sambil tersenyum terpaksa.
"Baik, Pak. Nanti saya cek sekarang."
Setelah Pak RT berlalu pergi dengan omelan kecil, Joko menutup kembali pintu itu rapat-rapat.
Ia menyandarkan punggungnya ke daun pintu sambil mengusap wajahnya yang basah oleh keringat.
Sial!!
Momen panasnya bersama Nabila terpaksa harus tertunda gara-gara pipa air sialan. Joko menghela napas panjang, merenungkan bagaimana ia bisa terjebak di tempat ini.
Semua bermula sebulan lalu ketika pamannya, Pakde Manto, meninggal dunia secara mendadak.
Sebagai satu-satunya keponakan yang dianggap paling dekat, Joko yang saat itu baru saja di-PHK dari pabrik garmen dan terlilit utang pinjol puluhan juta, mendapat sebuah "surat warisan wasiat".
Isinya singkat: sebuah rumah kos tiga lantai di kawasan kampus elit yang sudah bangkrut, reyot, dan menyisakan setumpuk tagihan pajak serta utang renovasi.
Joko awalnya berniat menjual tanah dan bangunan itu secepatnya. Namun, agen properti menolak karena sertifikatnya dijaminkan di bank.
Satu-satunya jalan keluar agar ia tidak diusir penagih utang adalah dengan tinggal di sini, mengelolanya sendiri, dan melunasi cicilannya dari hasil sewa kamar.
Masalahnya, kondisi bangunan ini sungguh mengenaskan.
Catnya mengelupas, gentengnya bocor di mana-mana, dan penghuninya tinggal tersisa empat orang mahasiswi yang sering protes karena fasilitasnya buruk.
Namun, di balik semua kehancuran itu, Joko melihat sebuah peluang emas.
Peluang untuk mengubah nasibnya dari seorang buruh kantoran miskin yang di-PHK, menjadi seorang penguasa properti.
Terlebih lagi, para penghuni kos di sini adalah gadis-gadis muda berparas cantik yang kesepian.
Sebutan "Mas Joko" yang awalnya diucapkan dengan nada meremehkan oleh para mahasiswi karena mengira dirinya hanya penjaga kos baru, kini mulai berubah makna.
Terutama setelah kejadian malam ini dengan Nabila.
Joko berjalan kembali menuju kamar Nabila dengan senyum miring tersungging di bibirnya.
Pintu kamar itu terbuka sedikit. Nabila sudah mengenakan kembali pakaiannya, meski wajahnya masih memerah akibat kejadian barusan.
"Sudah pergi orangnya, Mas?" tanya Nabila dengan suara ketus namun menyembunyikan rasa penasaran.
"Sudah. Mau lanjut atau kita urusi pipa bocor dulu, Hm?" tanya Joko dengan nada menggoda.
Nabila mendengus pelan, lalu melempar bantal kecil ke arah Joko.
"Urusi dulu pipa kamar mandiku yang bocor, baru kita bicara lagi, Mas Joko mesum!" tukas Nabila meski senyum tipis terukir di bibirnya.
Joko menangkap bantal itu dan tertawa kecil. Perjalanan hidupnya baru saja dimulai.
Dari sebuah kos-kosan tua yang hampir runtuh, Joko bersumpah akan membangun kerajaannya sendiri.
Dan para wanita di tempat ini, dimulai dari Nabila, akan menjadi saksi kebangkitannya.
….