

Bagas Aditya menyesuaikan tali ransel di pundaknya saat ia melangkahkan kaki masuk ke gerbang SMA. Udara pagi masih terasa sejuk, dan sinar matahari mulai menyelinap di antara sela-sela pohon di halaman sekolah. Hari ini adalah hari pertamanya sebagai siswa kelas 11. Ia berharap semuanya berjalan biasa saja, tenang, dan tidak ada hal aneh yang terjadi. Bagas selalu menyukai kenyamanan dalam rutinitas. Ia bukan tipe anak yang mencari perhatian atau ingin dikenal banyak orang. Cukup datang, belajar, pulang, dan menjalani hari tanpa masalah. Itu semua yang ia inginkan.
Lorong menuju ruang kelas terlihat ramai dengan siswa lain yang saling menyapa dan tertawa. Bagas berjalan dengan langkah hati-hati, matanya menunduk, mencoba menghindari benturan dengan orang-orang yang berlalu lalang. Ia sudah terbiasa menjadi bayangan di mana pun ia berada. Di SMP dulu, ia dikenal sebagai anak pendiam yang tidak pernah terlibat keributan. Beberapa teman menganggapnya terlalu baik atau bahkan terlalu lemah, tetapi Bagas tidak peduli. Ia lebih memilih menghindari konflik daripada menghabiskan energi untuk hal yang tidak perlu.
Saat ia berjalan melewati koridor utama, suasana tiba-tiba berubah. Keramaian yang tadi terdengar mulai meredam, seperti ada sesuatu yang menarik perhatian semua orang. Bagas mengangkat kepalanya sedikit dan melihat sekelompok siswa berdiri di ujung koridor. Di tengah kelompok itu, ada seorang pemuda bertubuh tegap dengan ekspresi wajah yang dingin dan angkuh. Ia lebih tinggi dari kebanyakan siswa lain, dan cara ia berdiri menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang terbiasa diperhatikan.
Bagas tidak tahu siapa orang itu, tetapi ia bisa merasakan ketegangan di udara. Ia mencoba mempercepat langkahnya, berharap bisa melewati area itu tanpa menarik perhatian. Namun nasib berkata lain. Tepat saat ia hampir melewati kelompok tersebut, pemuda tegap itu melangkah ke arahnya dan menghalangi jalannya.
Bagas berhenti. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. "Permisi," ucapnya pelan, mencoba bersikap sopan.
Pemuda itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Bagas dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sesuatu di matanya, campuran antara rasa bosan dan kebencian yang tidak beralasan. Beberapa siswa di sekitar mulai berbisik, tetapi tidak ada yang berani bersuara keras.
"Kamu anak baru?" tanya pemuda itu akhirnya. Suaranya dalam dan tenang, tetapi ada nada merendahkan di dalamnya.
Bagas mengangguk pelan. "Iya, saya pindahan. Kelas sebelas."
Pemuda itu tersenyum, tetapi senyumnya tidak ramah. "Oh, kelas sebelas. Berarti kamu sekarang di bawah saya. Saya Rendy. Kelas dua belas." Ia mengulurkan tangan seolah ingin berjabat, tetapi saat Bagas mengulurkan tangannya untuk membalas, Rendy menarik tangannya kembali dengan cepat. Bagas hanya terdiam, sedikit bingung.
"Kamu tahu siapa saya?" tanya Rendy lagi.
Bagas menggeleng. "Belum tahu."
Rendy tertawa kecil, dan beberapa anak di belakangnya ikut tertawa. "Kamu harus tahu. Di sekolah ini, saya yang menentukan siapa yang bisa jalan dengan tenang dan siapa yang tidak." Ia melangkah lebih dekat, dan Bagas secara refleks mundur setengah langkah. "Kamu terlihat seperti anak baik-baik. Saya tidak suka anak baik-baik."
Sebelum Bagas bisa merespons, Rendy mengangkat tangannya dan meninju wajah Bagas dengan keras. Pukulan itu mengenai bibir bawah Bagas, dan rasa sakit yang tajam segera menjalar ke seluruh rahangnya. Bagas terhuyung mundur, tangannya menutupi mulutnya yang mulai mengeluarkan darah. Beberapa siswa di sekitar menarik napas, tetapi tidak ada satu pun yang bergerak untuk membantu. Mereka hanya diam, menatap dengan mata membulat.
Bagas berdiri di sana, membeku. Otaknya berputar mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Ia tidak melakukan apa pun untuk memicu kekerasan itu. Ia hanya menjawab pertanyaan Rendy. Namun tampaknya alasan tidak diperlukan bagi seseorang seperti Rendy. Yang penting hanyalah kekuasaan dan rasa takut yang bisa ia ciptakan.
Rendy menatap Bagas dengan puas. "Itu pelajaran pertama. Lain kali, kalau lihat saya, menunduk dan pergi. Jangan banyak bicara." Ia lalu berbalik dan berjalan pergi bersama kelompoknya, meninggalkan Bagas di tengah koridor dengan bibir berdarah dan perasaan yang sulit ia gambarkan.
Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, Bagas akhirnya bergerak. Ia tidak berteriak, tidak mengejar Rendy, dan tidak meminta bantuan. Ia hanya menundukkan kepalanya dan melangkah pergi dari koridor tersebut, meninggalkan genangan darah kecil di ubin lantai. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi, tetapi ia tahu ia tidak ingin tetap di tempat itu.
Bagas masuk ke toilet dan mencuci wajahnya. Air keran bercampur merah saat ia membasuh lukanya. Di cermin, ia melihat pantulan dirinya. Matanya tampak kosong. Ia tidak menangis, tetapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sebuah pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
Mengapa semua orang hanya diam? Mengapa tidak ada yang membantunya? Mengapa orang seperti Rendy bisa bertindak seenaknya dan tidak ada yang berani menghentikannya?
Ia mengusap bibirnya yang bengkak dan menelan rasa sakit yang masih tersisa. Pikiran untuk melapor ke guru sempat terlintas, tetapi ia langsung mengabaikannya. Jika semua orang di koridor tadi diam, mungkin melapor tidak akan mengubah apa pun. Mungkin ia hanya akan dianggap lemah atau bahkan mendapat masalah yang lebih besar. Bagas tidak ingin menjadi pusat perhatian. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh.
Ia mengambil tisu dari sakunya dan menekannya ke bibirnya untuk menghentikan pendarahan. Saat ia keluar dari toilet, langkahnya terasa berat. Sekolah yang pagi ini ia harapkan menjadi tempat yang damai kini terasa seperti medan yang penuh bahaya. Ia tidak tahu siapa lagi yang seperti Rendy, dan berapa banyak siswa lain yang harus menjadi korban.
Bagas kembali berjalan menuju ruang kelas. Ia bisa merasakan tatapan beberapa siswa di sepanjang lorong. Mereka melihatnya, melihat luka di bibirnya, dan kemudian dengan cepat mengalihkan pandangan. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang mendekat. Setiap orang memilih untuk sibuk dengan urusannya masing-masing, dan Bagas mengerti bahwa di sinilah ia akan tinggal untuk satu tahun ke depan. Di tempat di mana keheningan adalah senjata yang paling ampuh.
Ia masuk ke kelas dan duduk di bangku paling belakang tanpa suara. Di dalam hatinya, pertanyaan yang sama terus berputar. Apakah diam adalah pilihan yang benar? Selama ini ia selalu percaya bahwa menghindari masalah adalah cara terbaik. Namun kini, untuk pertama kalinya, ia mulai meragukan keyakinan itu. Bibirnya masih berdenyut sakit, dan rasa sakit itu terus mengingatkannya bahwa ada sesuatu yang salah. Bukan hanya tentang pukulan yang ia terima, tetapi tentang semua orang yang memilih tutup mata.
Bagas menatap keluar jendela dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuat masalah. Namun di sudut pikirannya yang lain, suara kecil terus bertanya. Sampai kapan ia harus diam?