

Hujan turun sejak sore ketika keluarga Dimas tiba di rumah tua yang baru saja mereka beli. Langit sudah gelap, jalanan di depan rumah terlihat sepi, dan hanya suara air hujan yang terdengar di antara pepohonan. Rumah itu berdiri agak jauh dari rumah warga lainnya. Cat dindingnya sudah kusam, beberapa jendela tampak tua, dan halaman belakang dipenuhi rumput liar. Dimas mematikan mesin mobil lalu memandang rumah tersebut dari balik kaca. “Akhirnya sampai juga,” katanya pelan. Di sampingnya, istrinya, Mira, menarik napas panjang sebelum turun dari mobil. Anak mereka, Raka, langsung berlari ke teras sambil membawa tas kecil. “Ayah, rumahnya besar sekali!” serunya. Dimas tersenyum. “Makanya kita pindah ke sini. Kamu punya kamar sendiri.” Raka terlihat senang, tetapi Mira justru berdiri diam di depan pintu. Entah mengapa, sejak pertama kali melihat rumah itu, perasaannya tidak nyaman. “Kamu kenapa?” tanya Dimas. Mira menggeleng. “Tidak apa-apa. Mungkin karena rumahnya sudah lama kosong.” Dimas mengangguk dan membuka pintu dengan kunci yang diberikan pemilik sebelumnya. Pintu itu mengeluarkan suara panjang ketika didorong. Udara dingin langsung menyambut mereka. Di dalam rumah terdapat ruang tamu besar, dapur, dua kamar di lantai bawah, dan tangga menuju lantai atas. Debu masih menempel di beberapa perabot yang ditinggalkan pemilik lama. Mereka tidak menemukan banyak barang, hanya beberapa lemari tua dan sebuah jam dinding yang sudah berhenti. Dimas melihat jam tersebut. Jarumnya berhenti tepat di angka tiga. Ia mencoba memperbaikinya, tetapi jarum jam tidak bergerak. “Nanti saja,” katanya. Mereka mulai membawa barang-barang masuk. Menjelang malam, sebagian besar barang sudah berada di ruang masing-masing. Raka memilih kamar di lantai atas yang menghadap halaman depan. Dimas dan Mira mengambil kamar di sebelahnya. Namun ada satu kamar di ujung lorong yang tidak mereka gunakan. Pintu kamar itu tertutup rapat. Dimas mencoba membukanya, tetapi gagangnya tidak bergerak. “Mungkin terkunci,” katanya. Mira berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Kita tidak perlu membukanya malam ini.” Dimas mengangguk. “Besok kita cek.” Tidak ada yang mempermasalahkannya lagi.
Malam semakin larut. Hujan berhenti, tetapi udara menjadi semakin dingin. Setelah makan malam sederhana, Raka masuk ke kamarnya. Dimas dan Mira membereskan dapur sebelum akhirnya naik ke lantai atas. Rumah itu terasa jauh lebih sunyi dibandingkan sore tadi. Setiap langkah kaki terdengar jelas di sepanjang lorong. Ketika melewati kamar kosong di ujung lorong, Mira kembali melihat pintunya. “Mas,” katanya. “Hmm?” Dimas menoleh. “Kamar itu memang kosong dari dulu?” Dimas mengangkat bahu. “Kata pemilik sebelumnya, rumah ini sudah lama tidak ditempati. Mungkin kamar itu cuma gudang.” Mira tidak menjawab. Ia hanya mempercepat langkah menuju kamar mereka. Beberapa menit kemudian lampu kamar dimatikan. Dimas langsung tertidur karena kelelahan. Mira masih terjaga sambil mendengarkan suara angin dari luar jendela. Rumah itu benar-benar sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada suara orang berbicara, bahkan suara serangga pun hampir tidak terdengar. Mira menutup matanya. Beberapa saat kemudian, ia mendengar sesuatu. Suaranya sangat pelan. Seperti seseorang sedang menangis. Mira membuka mata. Ia menahan napas dan mendengarkan. Tangisan itu terdengar lagi. Pelan, panjang, dan seperti berasal dari seseorang yang berusaha menahan suaranya. Mira membangunkan Dimas. “Mas…” Dimas menggumam tanpa membuka mata. “Kenapa?” “Kamu dengar itu?” Dimas terdiam. Tangisan kembali terdengar. Kali ini lebih jelas. Dimas langsung membuka mata. Mereka saling memandang. “Dari mana?” tanya Dimas. Mira menunjuk pintu kamar. “Dari luar.” Dimas bangkit dan membuka pintu perlahan. Lorong gelap terbentang di depan mereka. Lampu kecil di ujung tangga masih menyala. Tidak ada siapa-siapa. “Raka?” panggil Dimas. Tidak ada jawaban. Ia berjalan ke kamar anaknya dan membuka pintu. Raka masih tertidur. Dimas kembali ke lorong. Tangisan itu terdengar lagi. Sekarang mereka tahu sumbernya. Suara itu berasal dari kamar kosong di ujung lorong.
Dimas berdiri beberapa meter dari pintu tersebut. Mira memegang lengannya. “Jangan dibuka.” Dimas menatap pintu itu. “Mungkin ada kucing atau sesuatu di dalam.” Tangisan terdengar lagi. Kali ini terdengar seperti suara perempuan. “Tolong…” Mira langsung menggenggam lengan Dimas lebih kuat. “Itu suara orang.” Dimas menelan ludah. Ia mengambil senter dari meja kecil di dekat tangga. Kemudian berjalan mendekati pintu. Tangisan berhenti. Lorong kembali sunyi. Dimas mengarahkan senter ke pintu. Debu terlihat menempel di gagang pintu. “Tidak ada siapa-siapa,” katanya. Ia mencoba memutar gagangnya sekali lagi. Kali ini gagang pintu bergerak. Pintu terbuka sedikit dengan suara berderit. Udara dingin keluar dari dalam kamar. Dimas mengangkat senter dan melihat ruangan gelap yang hampir kosong. Hanya ada sebuah kursi kayu di tengah ruangan. Tidak ada orang. Tidak ada barang lain. “Lihat?” katanya kepada Mira. “Kosong.” Mira tidak bergerak. Matanya tertuju pada kursi itu. “Mas…” Dimas menoleh. “Apa?” “Kursinya tadi ada di situ?” Dimas diam. Ia tidak ingat. Namun yang lebih aneh, kursi itu terlihat seperti baru saja digunakan. Salah satu sisi dudukannya masih sedikit bergerak. Dimas melangkah masuk. “Mungkin pemilik lama meninggalkannya.” Tiba-tiba terdengar suara kecil dari belakang mereka. “Ayah?” Dimas dan Mira berbalik. Raka berdiri di ujung lorong dengan mata setengah terbuka. “Kenapa belum tidur?” tanya Dimas. Raka menunjuk kamar kosong. “Ada tante di dalam.” Wajah Mira langsung pucat. Dimas menatap anaknya. “Tante siapa?” Raka menggeleng. “Aku tidak tahu. Dia menangis.” Dimas berusaha tersenyum. “Tidak ada siapa-siapa di dalam.” Raka menatap pintu kamar itu beberapa detik. Kemudian berkata pelan, “Tapi tadi dia bilang namanya Rani.”
Dimas membeku. Mira menatapnya. Nama itu terasa asing, tetapi entah mengapa membuat suasana di lorong berubah. Angin dingin tiba-tiba berembus dari kamar kosong. Pintu yang terbuka perlahan bergerak sendiri hingga hampir tertutup. Dimas segera menarik Raka mendekat. “Masuk kamar sekarang,” katanya. Raka menurut. Mira mengikuti sambil terus melihat ke arah kamar tersebut. Sebelum pintunya tertutup sepenuhnya, mereka mendengar suara tangisan sekali lagi. Kali ini sangat dekat. Seolah-olah seseorang sedang berdiri tepat di belakang pintu. Dimas menutup pintu kamar mereka dan menguncinya. Mereka bertiga diam beberapa saat. “Besok kita pergi dari sini,” kata Mira. Dimas tidak menjawab. Ia hanya duduk di tepi tempat tidur sambil memikirkan nama yang baru saja disebut Raka. Rani. Nama yang tidak pernah mereka dengar dari pemilik rumah. Beberapa menit kemudian, rumah kembali sunyi. Dimas mulai berpikir semuanya hanya kesalahpahaman. Sampai terdengar tiga ketukan dari kamar kosong. Tok. Tok. Tok. Mereka bertiga menoleh ke arah pintu kamar. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Lalu terdengar suara perempuan dari balik dinding, sangat pelan namun jelas. “Akhirnya… kalian datang juga.”