Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Rumah Tua Warisan Nenek

Rumah Tua Warisan Nenek

Bp. Juenk | Tamat
Jumlah kata
199.4K
Popular
2.3K
Subscribe
459
Novel / Rumah Tua Warisan Nenek
Rumah Tua Warisan Nenek

Rumah Tua Warisan Nenek

Bp. Juenk| Tamat
Jumlah Kata
199.4K
Popular
2.3K
Subscribe
459
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeDarah Muda21+
Indra Permadi seorang pemuda pengangguran yang tiba-tiba mewarisi rumah tua dari neneknya yang sudah meninggal. Semenjak indra berada dirumah itu apapun yang diinginkannya tercapai. kehidupannya berubah 180°. Harap Bijak Area 21+
1. Surat Wasiat

Pukul setengah sebelas pagi, Indra Permadi masih terbaring di kasur sempit kontrakannya di kawasan Krendang, Jakarta Barat. Kipas angin berputar lambat, hanya mengaduk udara panas tanpa memberi kesejukan berarti.

Udara di dalam ruangan terasa seperti sedang dikukus—lembab, lengket, dan bau apek keringat bercampur parfum murahan yang sudah menguap sejak subuh.

Di samping kasur, sepuluh botol minuman energi kosong berjejer rapi. Tapi yang lebih mencolok, tepat di sebelah kanannya, berbaring sesosok perempuan. Tubuh montok dengan riasan tebal yang kini sudah luntur, tertutup kain seprai kasur di sebagian area.

Rambut panjangnya kusut, satu tangannya masih memeluk bantal. Perempuan itu adalah pesanan Indra semalam dari aplikasi Ma-Chat—aplikasi kencan berbayar yang menjadi pelariannya setiap dua minggu sekali, setiap uang kasnya menipis di antara dua waktu pengangguran.

Indra memicingkan mata. Lampu neon 5 watt di sudut ruangan masih menyala redup sejak semalam. Ia bisa melihat lekuk tubuh perempuan itu. Darahnya kembali panas.

Melihat tubuh montok dengan riasan tebal yang tertutup kain seprai sebagian area membuat Indra menginginkannya lagi.

Tangannya mulai bergerak—meraba pinggang, naik ke punggung, lalu membelai pelan.

Di saat Indra mulai beraksi dengan tangan dan ciumannya—bibirnya menyusuri leher perempuan itu—sang perempuan terjaga.

Matanya masih sayu, tapi ekspresinya langsung berubah menjadi kesal.

"Udah, Mas." Suaranya serak, seperti orang yang baru bangun dan langsung ditagih utang. "Bayarannya semalam aja kurang, masih mau nambah?"

Indra menghentikan gerakannya. Ia balik badan, menghadap ke tembok yang lembab. Malu. Bukan malu karena ditolak—tapi malu karena sadar dompetnya benar-benar kosong.

Perempuan itu bangkit dengan malas. Mengumpulkan bra, rok mini, dan cardigan tipis dari lantai. Ketika sudah berpakaian rapi, ia berdiri di depan cermin retak yang menempel di pintu lemari, merapikan rambutnya.

"Kalau sudah ada uang, hubungi aku lagi, Mas." Ia melirik Indra sekilas. Tatapannya bukan benci, juga bukan iba. Hanya lelah—lelah yang sama seperti yang Indra lihat di wajahnya sendiri setiap pagi.

Pintu ditutup. Tidak dibanting, hanya ditutup pelan. Dan Indra kembali sendirian di ruangan 3x4 yang menyesakkan.

Tak lama berselang, ponselnya bergetar.

"Ada surat penting atas nama Indra Permadi. Mohon tanda tangan penerimaan."

Indra mengucek mata. Surat? Siapa yang masih pakai surat di tahun begini? Tagihan listrik? Atau mungkin panggilan kerja?

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Sudah satu setengah tahun ia lulus kuliah. Gelar Sarjana Manajemen dari Universitas Borobudur menggantung di dinding kontrakan, bingkai murahan mulai berjamur di sudut-sudutnya.

Belum ada satu pun panggilan kerja yang membuahkan hasil.

Lamarannya sudah tersebar ke seratus empat puluh tujuh perusahaan—ia menghitungnya, karena itu satu-satunya pencapaian yang bisa ia ukur dengan pasti.

Seratus empat puluh tujuh penolakan, atau setidaknya seratus empat puluh tujuh ketidakpedulian. Karena kebanyakan tidak pernah membalas.

"Bentar, gue ke luar," jawabnya serak.

Ia bangkit dari kasur yang masih hangat. Meraih kaos oblong kusut di ujung kasur—yang sama sejak tiga hari lalu—lalu mengendus ketiaknya sendiri.

Masih lumayan. Tidak terlalu amis. Dipakainya. Celana pendek yang sama sejak kemarin juga dianggapnya cukup. Sendal jepit sudah menunggu di depan pintu.

Kurir di luar berdiri dengan ekspresi datar. Pria paruh baya dengan tas selempang coklat tua yang sudah usang. Ia menyerahkan amplop coklat tebal dengan segel lilin merah—aneh, siapa yang masih pakai segel lilin di era digital? Amplop itu terasa berat, seperti berisi sesuatu yang penting, atau setidaknya ingin terlihat penting.

"Tanda tangan di sini, Mas."

Indra menandatangani dengan tulisan semaunya. Begitu kurir pergi—melenggang ke motor bebeknya yang terparkir di bawah pohon—ia membuka amplop itu sambil bersandar di pintu, masih setengah mengantuk.

Isinya: selembar surat wasiat.

Di atas kop surat notaris dengan kepala singa bermahkota, tertulis rapi:

Dengan ini dinyatakan bahwa almarhumah:

Tira Soedarmo, alamat Jalan Manggis IV No. 14, Jakarta Pusat,

Telah mewariskan properti berupa satu unit rumah tinggal seluas 400 meter persegi kepada:

Indra Permadi, cucu kandung satu-satunya.

Indra membaca ulang tiga kali.

Empat ratus meter persegi. Jakarta Pusat. Jalan Manggis—daerah yang ia tahu persis mahalnya. Satu meter saja bisa puluhan juta. Kalau dihitung-hitung...

Matanya melebar.

"Nenek gue... punya rumah?" bisiknya.

Ia tidak pernah tahu. Nenek Tira adalah figur yang samar dalam hidupnya. Ibunya, Sari, meninggal ketika Indra kelas 3 SD—kecelakaan motor di Jalan Panjang, ditabrak truk kontainer yang kabur.

Ayahnya? Tidak pernah ada. Hanya nama di akta kelahiran yang tidak pernah ia hafal. Sejak ibunya tiada, hubungan dengan keluarga dari pihak ibu hampir putus total.

Neneknya sesekali muncul di acara tahun baru, membawa kue lumpur dan amplop kecil berisi uang, lalu menghilang lagi entah ke mana. Indra mengira neneknya tinggal di panti jompo, atau mungkin sudah meninggal bertahun-tahun lalu.

Ternyata masih ada. Ternyata baru meninggal. Dan tidak ada yang memberi tahu.

"Kenapa nggak ada yang ngasih tahu gue?" pikirnya. Tapi pertanyaan itu tenggelam oleh pertanyaan lain yang lebih besar: "Rumah? Rumah gede di pusat kota? Warisan buat gue?"

Di lembar kedua surat itu, ada tulisan tangan neneknya—masih jelas, meski sedikit gemetar, seperti tangan orang tua yang sudah kehilangan kekuatan tapi masih berusaha tegas:

"Untuk Indra, cucu satu-satunya.

Rumah ini adalah satu-satunya harta yang kumiliki. Jaga rumah ini, Nak. Di dalamnya ada banyak hal yang tidak bisa kujelaskan lewat surat. Kau akan mengerti nanti.

Maafkan Nenek yang jarang datang.

—Tira"

Indra meremas surat itu. Tangannya gemetar—bukan karena haru, tapi karena campuran marah, bingung, dan sesuatu yang mirip dengan harapan.

"Jaga rumah?" ulangnya dalam hati. "Gue aja nggak bisa jaga diri sendiri. Rumah gede gitu buat gue apa?"

“Belum harus ngurusin bayar listriknya, buangin sampah. kalau rumah tua berarti bakal ada atap yang bocor dikala hujan.”

Tapi di sudut hatinya yang paling kelam—di tempat ia menyimpan semua mimpi yang sudah mati—terbersit harapan: rumah di Jakarta Pusat. Empat ratus meter persegi. Lokasi strategis. Bisa dijual puluhan miliar. Mungkin bahkan lebih.

Ponselnya bergetar lagi. Kali itu notifikasi dari aplikasi bank: sisa uang di rekening tinggal Rp127.500.

Indra menatap angka itu lama. Cukup untuk makan lima hari jika ia hanya makan nasi dan telur. Atau cukup untuk sekali pesan wanita malam lagi, tapi tanpa celup celup dan tanpa uang transport pulang.

Ia menggenggam surat wasiat itu erat-erat.

"Besok gue ke sana," gumamnya.

Memikirkan memegang uang miliaran rupiah yang bisa di pakai buat apa aja, mendapatkan banyak wanita tipe aja. Indra tersenyum Mesum.

Di luar, matahari Jakarta mulai meninggi. Panas menyengat masuk melalui jendela yang tidak pernah ia tutup rapat. Di kejauhan, suara azan Zuhur terdengar samar, tenggelam oleh deru kendaraan di Jalan Krendang Raya.

Indra masih berdiri di ambang pintu, memegang amplop coklat itu, untuk pertama kalinya dalam satu setengah tahun merasa ada sesuatu yang mungkin—hanya mungkin—bisa mengubah hidupnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca