
MILIADER RONGSOKAN: SISTEM TRANSFORMASI MATERI.
Radzaky|Bersambung
- Jumlah kata
- 88.3K
- Popular
- 508
- Subscribe
- 97
- Jumlah kata
- 88.3K
- Popular
- 508
- Subscribe
- 97
Sinopsis
Bagi Ammar (22), hidup hanya seharga beberapa kilogram rongsokan yang ia kumpulkan setiap hari di bawah rintik hujan dan tatapan sepi tetangga. Namun, takdirnya berubah total saat jemarinya menyentuh kaleng berkarat yang tiba-tiba berpendar biru, mengaktifkan sebuah sistem misterius di kepalanya. Hanya dengan satu sentuhan, sampah di tangannya bertransformasi menjadi koin emas kuno, kristal langka, hingga teknologi canggih bernilai miliaran. Dalam semalam, Ammar menjelma menjadi miliarder baru. Utang lunas, rumah direnovasi, dan bisnis raksasa mulai ia bangun. Sayangnya, kekayaan instan itu memicu kecurigaan. Tetangga mulai bergunjing, pihak berwajib mengendus asal-usul asetnya, dan yang paling berbahaya: sebuah sindikat bawah tanah mulai memburunya demi merebut sistem tersebut. Kini Ammar sadar, keajaiban ini tidak gratis. Setiap konversi ternyata mengikis sisa umur dan energi vitalnya. Di tengah kepungan musuh dan waktu yang terus berdetak, Ammar harus memilih: terus menumpuk harta hingga ajal menjemput, atau menggunakan sisa kekuatannya untuk melawan sebelum nyawanya sendiri yang dikonversi menjadi abu?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Kilogram yang Menghina
Hujan mengguyur kawasan kumuh pinggiran Jakarta dengan brutal malam itu. Di dalam sebuah gubuk beratap seng bocor, Ammar Akmal (22) menatap nanar beberapa lembar uang ribuan yang basah di atas meja kayu yang sudah lapuk.
Dua puluh delapan ribu rupiah.
Itulah harga keringatnya seharian ini. Berkeliling sejauh belasan kilometer di bawah terik matahari yang menyengat, lalu diterjang badai sejak sore, hanya untuk mendapati timbangan milik Pak juragan rongsokan mendadak "rusak" saat menimbang kardus dan botol plastik yang ia kumpulkan. Ammar tahu dia dicurangi. Semua pemulung di permukiman ini tahu. Tapi siapa yang berani protes pada satu-satunya orang yang mau membeli rongsokan mereka?
"Ammar… uhuk… kamu sudah pulang, Le?" sebuah suara serak memecah keheningan, diikuti suara batuk yang kering dan menyakitkan dari balik tirai kain lusuh yang menjadi pembatas kamar.
Ammar buru-buru menyembunyikan kekesalan di wajahnya. Ia melangkah masuk, mendapati ibunya terbaring lemah di atas kasur tipis yang mulai lembap karena tampias air hujan dari dinding papan yang renggang.
"Sudah, Bu. Ini Ammar bawa uang," bisik Ammar, berusaha tersenyum sekaku mungkin agar air matanya tidak tumpah. Ia mengusap kening ibunya yang terasa panas. Demamnya tidak kunjung turun sejak tiga hari lalu. "Besok pagi-pagi sekali Ammar belikan obat di apotek depan gang, ya? Ibu istirahat saja dulu."
Sang ibu hanya mengangguk lemah, matanya yang cekung menatap Ammar dengan rasa bersalah yang mendalam. "Maafkan Ibu ya, Mar. Malah merepotkan kamu. Kuliahmu jadi putus, sekarang kamu harus…"
"Bu, jangan bicara begitu," potong Ammar lembut, meski hatinya terasa seperti diiris sembilu. "Ini sudah kewajiban Ammar. Ibu tidur ya."
Setelah memastikan ibunya memejamkan mata, Ammar kembali ke ruang depan. Rasa sesak di dadanya kian bergemuruh ketika pandangannya tertuju pada selembar kertas merah di dekat pintu. Surat peringatan ketiga dari pemilik kontrakan.
“Kalau besok pagi belum bayar tunggakan tiga bulan, angkat kaki dari sini!”
Kalimat yang ditulis dengan spidol besar itu terasa seperti vonis mati. Jatuh temponya adalah besok pagi. Dan Ammar hanya punya dua puluh delapan ribu rupiah di kantongnya. Untuk membeli obat ibu saja kurang, apalagi membayar sewa kontrakan yang mencapai ratusan ribu.
Ammar meremas rambutnya frustrasi.
Keputusasaan perlahan merayap, membisikkan pikiran-pikiran gelap yang hampir membuatnya gila. Apakah ia harus mencuri? Menjambret? Menjadi bagian dari bajingan-bajingan jalanan yang sering ia hindari?
"Nggak, Mar. Jangan jadi pengecut," makinya pada diri sendiri.
Ia menatap keluar jendela. Hujan masih deras ia melirik karung goni kosong di sudut ruangan, Ammar memantapkan tekad. Menyerah bukan pilihan. Jika besok pagi mereka diusir, ibunya yang sedang sakit keras bisa mati kedinginan di jalanan. Ia harus mencari rongsokan lagi malam ini. Apa saja. Besi tua, tembaga bekas, atau apa pun yang bernilai lebih tinggi dari sekadar botol plastik.
Dengan mengenakan jaket kain yang sudah robek di bagian siku dan berbekal sebuah senter kecil yang sinarnya mulai meredup, Ammar menerobos kegelapan malam.
Suhu udara malam itu sangat dingin, menusuk hingga ke tulang sumsumnya. Ammar berjalan menyusuri selokan besar di dekat area proyek pembangunan yang terbengkalai. Matanya bergerak lincah, menyenter setiap tumpukan sampah, berharap ada keajaiban berupa kabel bekas atau potongan besi yang tertinggal oleh para pekerja.
Nihil. Hanya ada sampah rumah tangga yang membusuk dan pecahan kaca yang beberapa kali nyaris merobek sandal jepitnya yang tipis.
Hingga langkahnya terhenti di dekat sebuah pohon tua yang tumbang di tepi area proyek. Senter kecilnya menangkap sesuatu yang tidak biasa di antara puing-puing beton. Ada sebuah benda berbentuk kubus kecil yang terjepit di antara akar pohon dan tanah yang tergerus air hujan. Ammar mendekat, lalu berjongkok.
Itu hanya sebuah kotak kaleng bekas. Ukurannya tidak lebih besar dari dua kepalan tangan. Permukaannya dipenuhi karat tebal, penyok di beberapa bagian, dan tampak seperti sampah tak berguna yang sudah terkubur puluhan tahun. Ammar menghela napas kecewa. Kaleng seperti ini tidak akan laku dilempar ke timbangan Pak juragan.
Namun, saat ia hendak melemparkannya kembali ke dalam kubangan air, jemarinya secara tidak sengaja menyentuh bagian tengah tutup kaleng yang memiliki ukiran aneh, sebuah pola geometris yang terlalu rapi untuk ukuran kaleng rongsokan biasa.
BZZZZT!
Sensasi seperti tersengat aliran listrik mendadak menjalar dari ujung jari Ammar, melesat cepat ke lengan, hingga menghantam otaknya. Ammar terperanjat. Ia mencoba melepaskan kaleng itu, tetapi tangannya seolah menempel erat, terkunci oleh daya magnet yang luar biasa kuat.
Detik berikutnya, seluruh permukaan kaleng berkarat itu memancarkan cahaya biru neon yang sangat terang, membelah kegelapan malam dan menyinari wajah Ammar yang membeku karena syok. Cahaya itu tidak panas, melainkan terasa dingin dan berdenyut, seirama dengan detak jantungnya.
Sebelum Ammar sempat berteriak meminta tolong, sebuah suara digital yang datar, dingin, namun menggema dengan kejelasan yang menakutkan terdengar langsung di dalam kepalanya.
[Memindai gelombang otak subjek… Kecocokan 99,8%.]
[Sistem Transformasi Pulungan Berhasil Diaktifkan.]
Ammar terbelalak. Senter di tangan kirinya jatuh ke lumpur. "Su-suara siapa itu?!" serunya panik, menoleh ke sekeliling dengan liar. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya sendiri dan suara deru hujan.
[Sistem terintegrasi dengan kesadaran subjek. Memulai fungsi dasar: Konversi Materi Terdegradasi.]
[Mendeteksi objek dasar: Kaleng Seng Teroksidasi (Rongsokan).]
[Opsi Konversi Tersedia: Logam Mulia tingkat murni.]
[Syarat Eksekusi: Sentuh objek, fokuskan pikiran, dan konfirmasi.]
Ammar menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengira dia mulai gila karena kelaparan dan stres berat. "Aku berhalusinasi. Ya Tuhan, aku pasti sudah gila," bisiknya dengan napas memburu.
Namun, teks fana berwarna biru transparan tiba-tiba muncul mengambang tepat di depan matanya, bergerak ke mana pun arah matanya memandang. Di sana tertulis instruksi yang sama. Kaleng di genggaman kanannya masih berpendar lembut, seolah mendesaknya untuk mengikuti perintah suara gaib tersebut.
Mengingat kondisi ibunya yang sekarat di rumah, mengingat ancaman pengusiran yang hanya tinggal hitungan jam, keputusasaan Ammar mendadak berubah menjadi nekat. Jika ini adalah kegilaan terakhirnya sebelum mati, maka biarlah terjadi.
Ammar memejamkan mata. Ia menggenggam erat kaleng berkarat itu dengan kedua tangannya, menarik napas dalam-dalam, dan memfokuskan seluruh pikirannya pada satu kata: Konversi.
“Ubah benda ini jadi sesuatu yang berharga…” batinnya menjerit penuh harap.
[Perintah diterima. Memulai Konversi Materi…]
Seketika itu juga, Ammar merasakan gelombang hawa dingin menjalar keluar dari dadanya, mengalir menuju telapak tangannya. Kaleng berkarat di genggamannya mendadak melunak, teksturnya berubah drastis dalam hitungan detik. Karat-karat kasar yang tadinya melukai kulit jarinya meluruh begitu saja, digantikan oleh permukaan yang sangat halus, padat, dan terasa sangat berat.
Cahaya biru itu meredup perlahan, menyisakan kegelapan malam yang kembali pekat.
Ammar membuka matanya dengan gemetar. Ia mengarahkan senter yang tergeletak di tanah ke arah telapak tangannya. Demi melihat benda yang kini ada di genggamannya, napas Ammar mendadak tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga telinganya berdenging.
Kaleng berkarat itu telah lenyap.
Di atas telapak tangan Ammar yang kotor penuh lumpur, kini terletak sebuah batangan logam tebal berbentuk persegi panjang dengan warna kuning berkilau yang sangat pekat. Di permukimannya yang kumuh, Ammar belum pernah melihat benda seperti ini secara langsung, tapi ia sering melihatnya di televisi.
Itu adalah emas batangan. Dan dari beratnya yang menekan telapak tangannya, ukurannya tidak kurang dari seratus gram.
Mata Ammar menatap benda berkilau di tangannya dengan pandangan tidak percaya. Keajaiban nyata baru saja terjadi di tengah tumpukan sampah. Namun, kegembiraan Ammar tidak bertahan lama. Detik berikutnya, rasa lelah yang ekstrem mendadak menyerang seluruh tubuhnya, membuat kepalanya berputar hebat.
Tepat sebelum kesadarannya kabur, sebuah bar indikator kecil berwarna hijau di sudut kanan bawah pandangannya berkedip, menampilkan sebuah teks peringatan:
[Konversi Selesai. Energi Vital Subjek: 98% (Berkurang 2% sebagai biaya konversi materi).]
Daftar bab
83 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








