
Si Penjual Kopi Jenius
Kang Muhamad Wisnu|Bersambung
- Jumlah kata
- 55.2K
- Popular
- 274
- Subscribe
- 108
- Jumlah kata
- 55.2K
- Popular
- 274
- Subscribe
- 108
Sinopsis
Raka, pemuda berusia 24 tahun yang sehari-harinya ia habiskan untuk berjualan kopi keliling. Ia bukan berasal dari keluarga kelas atas, mau tak mau harus merasakan kerasnya kehidupan. Namun di balik penampilannya yang sederhana, ia menyimpan kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain. Kejeniusan nya benar-benar di atas rata-rata orang pada umumnya...
Ulasan
1 ulasan
Kang Muhamad Wisnu
17/9/26 14:14
Selamat membaca teman-teman... karya terbaru saya, bercerita tentang perjalanan hidup seorang penjual kopi keliling...
Bab 1 Cobaan Yang Bertubi-tubi
Pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB, Raka dengan motornya berhenti di depan area perkantoran.
Di belakang motornya, sebuah gerobak kecil bertuliskan kopi keliling langsung membuat beberapa orang langsung menghampirinya.
"Mas, saya kopi hitam satu..."
"Saya kopi susu ya, mas..."
"Saya kayak biasanya, kopi gula aren nya satu, mas..."
Raka pun seketika langsung tersenyum kecil ke arah para pembeli itu. "Iya iya, ditunggu ya, mas, mbak."
Dengan cekatan, Raka pun langsung membuat beberapa kopi sesuai yang di pesan beberapa pelanggan nya itu.
Dalam sekejap saja, akhirnya semua kopi pun telah siap diberikan.
"Nah, ini kopi hitam punya mas nya." ujar Raka sambil memberikan satu cup kopi hitam.
"Ini kopi susunya, mas."
"Dan ini kopi gula aren pesanannya mbak nya."
Para pembeli itu pun langsung menerima kopi pesanan mereka sambil tersenyum ramah.
"Makasih, mas..." ujar ketiganya sambil bersamaan.
Raka pun menganggukkan kepalanya sebagai respon. "Iya, sama-sama..."
Sambil menunggu pembeli yang lain, Raka terlihat langsung mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chatting berwarna hijau.
Raka hanya sekedar mengecek apakah ada chat yang masuk atau tidak.
Lalu tak lama setelah itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam terlihat berhenti tepat di depan motor Raka.
Seorang pria yang usianya tak jauh dengan Raka pun langsung turun dari mobilnya itu.
Dia adalah Rendy, putra dari salah satu pengusaha yang cukup terkenal di kota Jakarta.
Rendy pun langsung menghampiri Raka...
Sesampainya ia di dekat Raka, pandangannya terlihat menatap gerobak kopi Raka dengan tatapan meremehkan.
"Masih tetap ngeyel jualan di sini?"
Raka pun langsung menundukkan kepalanya. Mau bagaimana pun, ia harus menghormati sosok dihadapannya itu.
Apalagi Raka bisa jualan di area kantor milik keluarga Adhitama.
"Maaf, mas Rendy... tapi saya sudah mendapat izin dari pak Adhitama, ayah mas Rendy."
Mendengarnya, Rendy pun langsung tersenyum sinis.
"Itu kebijakan lama, Raka... dan sekarang, saya yang memimpin perusahaan ini." ujar Rendy.
Setelah itu, ia langsung menunjuk motor Raka. "Sekarang saya gak mau tahu, pokoknya dilarang ada penjual di area kantor!"
Suara Rendy terdengar begitu keras, bahkan beberapa karyawan yang melintas ada yang melirik ke arah nya dan saling berbisik.
"Ternyata pak Rendy gak kayak ayahnya," bisik salah satu karyawan yang melintas.
"Iya bener, pak Adhitama orang nya baik banget. Beda jauh sama anaknya," balas yang lainnya.
Raka terdiam beberapa detik, ia tak menjawab lagi ucapan Rendy. Ia rasa percuma saja ia kembali berbicara karena orang yang ada dihadapannya saat ini memang keras kepala.
Setelah itu, Raka pun akhirnya menganggukkan kepalanya. "Ya udah, mas. Saya akan pergi dari sini."
"Ya, bagus kalau begitu..." setelah mengatakan itu, Rendy pun berbalik dan langsung masuk ke dalam kantor.
"Huhh..." Raka hanya bisa menghembuskan nafasnya, sebelum ia akhirnya naik ke atas motornya.
Namun sebelum Raka menyalakan mesin motornya, Doni yang baru saja tiba pun langsung menghampiri Raka.
"Lo jangan diem aja, Rak..." ujar Doni.
Mendengar suara sahabatnya, Raka pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, lo baru datang, Don? Tumben amat," ujar Raka.
"Haha..." Doni seketika langsung terkekeh kecil sambil menggaruk kepalanya yang bagian belakang.
"Gue kesiangan, Rak... semalam habis berdagang ngerjain berkas buat laporan," lanjut Doni.
"Ah, lo kebiasaan, Don. Kalau buka sepupunya mas Rendy, pasti udah kena omel lo, Don."
Doni yang mendengarnya pun langsung tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Lo gak tahu aja kalau gue sering kena omel, ya walaupun bapak gue adiknya om Adhitama," respon Doni.
"Eh iya, balik lagi ke omongan gue yang tadi. Lo harusnya ngelawan dong, Rak. Bukan malah nurut aja sama kemauan mas Rendy," lanjut Doni.
Sebelum menjawab nya, Raka terlebih dahulu menarik nafasnya panjang.
"Udah lah biarin, Don. Kebijakan baru juga kan dari kantor?" respon Raka, ia hanya bisa pasrah menuruti perintah Rendy.
"Kebijakan apaan kayak gitu?! Orang om Adhitama sendiri udah wanti-wanti jangan sampe ngusir pedagang," ujar Doni.
Raka terdiam sejenak, kedua matanya terlihat memandangi pintu masuk kantor yang beberapa saat lalu dilewati oleh Rendy.
Lalu ia pun kembali menatap Doni.
"Ya udah kalau gitu, gue duluan ya, Don. Lo juga harus masuk ke dalam sekarang, kan? Masa udah telat malah terus diluar kayak gini," ujar Raka.
Lalu, Doni pun langsung mengacungkan jempolnya. "Siap, Rak! Gue doain supaya kopi lo laku keras."
"Aamiin..." respon Raka saat mendengarnya.
Setelah itu, keduanya pun berpisah. Doni segera masuk ke dalam kantor, sedangkan Raka langsung meninggalkan area kantor dan mencari tempat yang cocok untuk berjualan.
Sambil terus fokus menyetir motornya, Raka terus berpikir bagaimana caranya kopinya laku keras setelah kehilangan tempat berjualan yang biasanya menjadi tempat paling laris diantara tempat-tempat lainnya yang selalu ia kunjungi.
"Gimana caranya ya kalau kayak gini?" batin Raka sambi terus memperhatikan sekeliling jalanan.
Seketika, ia pun teringat dengan kejadian Doni yang telat masuk kantor.
Pikirannya mulai mengingat jam orang-orang bekerja dan di jam berapa saja orang-orang kantoran membeli kopinya.
"Oh iya..." gumam Raka saat ia mengingat sesuatu.
"Orang-orang kantor kebanyakan beli kopi gue jam sembilan sampai jam dua belas siang, pas banget saat kadar hormon kortisol menurun," lanjutnya setelah mengingat sesuatu.
Setelah mendapatkan ide, Raka tak berhenti berpikir. Ia masih terus berpikir keras supaya kopinya benar-benar bisa laku keras dan melebihi penjualannya selama ini.
Lima menit kemudian setelah itu, Raka pun akhirnya kembali menemukan ide.
"Beberapa orang beli kopi gue jam dua siang juga kan kalau gak salah?" gumamnya. "Pas banget karena jam segitu emang orang-orang pada ngantuk berat."
Raka akhirnya memutuskan untuk berjualan di terminal yang biasanya ia kunjungi.
"Urusan jualan untuk orang-orang kantor nanti aja lah gue pikirin," gumam Raka. "Sekarang yang penting gue habisin dulu kopi yang gue bawa."
Tak membutuhkan waktu yang lama, Raka pun tiba di terminal itu. Ia seketika langsung memarkirkan motornya.
"Huhh... semoga aja laku kopi gue hari ini," ujar Raka.
Belum juga genap lima menit, beberapa orang yang sedang berada di sekitar terminal pun langsung menghampiri nya.
"Mas, saya pesen satu..."
"Saya juga, mas..."
"Saya dua cup kopinya, mas..."
Raka pun langsung tersenyum saat melihat orang-orang yang menghampirinya.
"Siap! Ditunggu sebentar ya, pak, bu..."
Dengan gerakan tangannya yang cekatan, Raka pun mulai menyiapkan semua pesanannya.
Satu per satu kopi pun mulai dibuat, dan tak membutuhkan waktu yang lama, semua pesanan pun sudah berhasil ia siapkan.
"Nah, ini punya bapak..."
"Ini yang Aren punya ibu..."
"Nah, ini yang dua cup kopi hitam..."
Para pembeli itu pun langsung menerima kopi mereka masing-masing.
Raka benar-benar merasa lega walaupun ia harus kehilangan satu tempat yang biasanya paling ramai pembeli.
Namun dari kejauhan... beberapa penjual kopi yang datang lebih dulu pun kompak menatap Raka dengan tatapan yang tak suka.
"Tuh orang kenapa sih jualan jam segini?" ujar salah satu dari mereka.
"Gak tahu juga gue, biasanya agak siangan kalau ke sini."
"Iya, sekarang malah datang jam segini. Lah jadinya kan kopi kita yang gak serame biasanya."
Salah satu diantara mereka yang bernama Raka pun terlihat meletakkan gelas kopi yang sedang ia minum.
"Udah... cukup!" ujarnya dengan tatapan yang masih tertuju ke arah Raka.
Lalu, Jaka pun langsung bangkit dari posisi duduknya di atas motor.
"Kita kasih pelajaran tuh anak!"
Beberapa penjual yang lainnya pun langsung mengikuti Jaka, mereka langsung berdiri dan mulai berjalan mengikuti Jaka.
"Woyy!" teriak Jaka setelah jaraknya dengan Raka semakin mendekat.
Raka mendengarnya, lalu ia pun langsung menoleh tanpa mengatakan sesuatu. Ia mengira kalau panggilan itu buka untuk nya.
"Ke gue atau siapa, sih?" batin Raka.
Jaka dan yang lainnya pun semakin mendekat, lalu mereka berhenti saat berada tepat di depan Raka.
"Lo gak bisa lihat situasi apa gimana, sih?!" ujar Jaka sambil menunjuk gerobak Jaka.
"Maksud abang?"
"Jangan pura-pura gak tahu, lo!" bentak Jaka.
Daftar bab
49 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








