
Pak Sugeng, Aku Nagih!
Mr.Kitsune|Bersambung
- Jumlah kata
- 68.8K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 500
- Jumlah kata
- 68.8K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 500
Sinopsis
(Warning! Area 21+) Pak Sugeng seorang pedagang tahu campur, dengan gerobak tua peninggalan ayahnya, yang hidup memprihatinkan. Ia hidup dalam kemiskinan, istrinya meninggalkannya karena tidak tahan hidup miskin, serta ia juga terlilit utang dan hampir bangkrut. Suatu malam Sugeng menemukan sebuah buku tua bersampul cokelat, dan dihalaman pertamanya hanya berisi satu kalimat. "Jangan pernah memasak untuk uang semata. Orang akan lupa harga, tetapi tidak akan lupa rasa yang menghangatkan hatinya." Malam itu, Sugeng tidak tahu bahwa buku tua tersebut akan mengubah nasib seorang pedagang tahu campur yang bahkan sering tidak mampu membeli beras untuk dirinya sendiri, menjadi orang yang kaya raya, bahkan para wanita mulai pada nagih. Tetapi ada satu misteri yang Sugeng belum ketahui dari buku itu...
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Khayalan Liar
"Ahhh... Pak Sugeng... Enak banget, Pak..." desah Amel sambil mengalungkan kedua tangan nya ke leher Sugeng.
Sementara Sugeng terus fokus menciumi seluruh tubuh Amel, tangannya memainkan kedua gunung besar miliknya. Setelah puas menciumi tubuh Amel, ia menatap wajah Amel sekilas. Lalu tanpa aba-aba ia langsung melumat ganas bibir Amel, lidah mereka juga saling beradu, membuat suasana makin panas.
Amel terus mendesah, tanpa sadar tangannya kini mengarah ke celana milik Sugeng, yang terlihat menonjol karena pusaka besar didalamnya memberontak seakan ingin keluar dari sarangnya.
Amel mulai membuka sabuk yang terikat pada celana Sugeng. Saat ia ingin memasukkan tangan, dan memainkan pusaka besar milik Sugeng. Tiba-tiba...
"HEM... EHEMM!"
Suara dehaman keras itu membuyarkan lamunan Sugeng. Suara itu berasal dari seorang pedagang yang dikenal Sugeng dengan nama Warto. Mereka sudah berteman selama dua tahun sejak Sugeng berjualan tahu campur dan lapaknya bersebelahan dengan dagangan milik Warto.
"Ngelamun aja lu, Geng. Ati-ati kesambet setan lu nanti. Hahahahah," ejek Warto yang memperhatikan Sugeng terus melihat ke arah pembelinya.
Ternyata dari tadi Sugeng hanya berimajinasi melakukan adegan panas dengan gadis yang sedang duduk ditempat Warto, sibuk bermain handphone menunggu pesanannya jadi.
"Ah... Nggak ada To, gua cuma iri aja sama lu, dagangan lu masih mending ada yang beli, lah punya gua dari pagi sepi pembeli," ujar Sugeng yang mencari alasan agar tidak dicurigai oleh Warto.
Warto menggelengkan kepala nya, sambil tersenyum tipis, "Yaelah Geng... Sugeng. Namanya juga jualan wajar aja yang namanya rame, sepi. Kaya baru jualan aja lu," balas Warto sambil fokus membuatkan pesanan mie ayam untuk Amel.
Sugeng hanya terdiam mendengar jawaban dari Warto. Memang tidak ada yang salah dengan perkataannya, tetapi ini bukan satu dua kali dagangan nya sepi pembeli. Ia sudah berjualan tahu campur sejak ayahnya meninggal, warisan satu-satunya hanyalah gerobak tua untuk berjualan tahu campur, serta rumah yang sederhana.
Sebelum ayahnya meninggal, ada pesan yang disampaikan ke Sugeng. Yaitu untuk terus berjualan tahu campur, alasannya karena ini sudah turun temurun. Keturunan-keturunan sebelumnya juga selalu diminta untuk meneruskan jualan ini.
"Neng, pesenan nya udah jadi ya," ujar Warto kepada Amel yang sedang sibuk bermain handphone.
Amel yang mendengar itu langsung melempar pandangannya ke arah Warto dan beranjak dari kursi yang ia duduki, "Ohh iya Pak, jadi berapa ya semuanya."
"Dua ya... Jadi dua puluh ribu neng. Tapi kalau buat neng Amel mah jadi lima belas ribu aja," goda Warto kepada gadis itu.
Amel hanya tertawa kecil, "Ahh... Pak Warto bisa aja, nggak ahh... Ini saya bayar full aja," ujar Amel sembari mengeluarkan uang lima puluh ribu.
Saat Warto hendak memberi kembalian. Tiba-tiba Amel berkata, "Nggak usah, Pak. Kembaliannya buat Pak Warto aja."
Warto langsung terkejut mendengar hal itu. "Neng yang bener? Padahal saya yang mau bikin ringan Neng Amel, dengan bayar setengah aja, tapi malah dibalikin. Kan sekarang saya yang keenakan, Hahahhaha."
"Iya Pak, gapapa ambil aja, saya pamit dulu ya. Mari Pak Warto, mari Pak Sugeng," balas Amel dengan sopan terhadap kedua pedagang itu.
Sugeng terus memperhatikan langkah Amel yang mulai menjauh, yang ada dipikirannya hanya satu. Bagaimana bisa ada orang yang sesempurna itu? Mulai dari wajahnya yang cantik, tubuhnya yang seksi, cara bicara nya yang halus, sampai sikapnya yang sopan, membuat Sugeng tergila-gila dengan wanita itu. Tetapi ia juga tersadar tidak mungkin bisa mendapatkan Amel. Mana mungkin ada wanita yang mau kepada orang yang miskin, dan tidak punya apa-apa.
"Udah kali natap nya, gua tau neng Amel emang cakep, montok, suaranya bikin pusaka tegak lagi," ujar Warto sekali lagi memergoki Sugeng yang terus menatap Amel.
Sugeng menatap Warto dengan malas, "Yaelah to, lu ganggu imajinasi gua mulu, padahal enak-enak natap bidadari," balas Sugeng.
Setelah mengatakan itu, ia mulai membereskan barang-barang yang dibuat untuk berjualan tahu campur, dan bersiap akan pulang. Walaupun terasa sangat sayang, karena bahan-bahan seperti tahu, mie kuning, lontong, kuah, dan lain lain masih sangat banyak, tetapi sudah terlihat bahwa tidak ada yang tertarik untuk membelinya.
"Heh... Mau kemana lu?" tanya Warto yang melihat Sugeng mendorong gerobak nya. "Gua ngerti Geng, mungkin sekarang tahu campur lu sepi, tapi kita kan ga tau kedepannya gimana," kata Warto menyemangati Sugeng.
Sugeng yang mendengar itu seketika terdiam, gerobak yang di dorongnya juga ia letakan sejenak. Kemudian ia menoleh ke arah Warto, dan menjawab perkataannya dengan nada sinis, "Lu enak to, tinggal ngomong doang. Fakta nya kan emang tahu campur gua sepi, dan mie ayam lu yang sering rame pembeli, walaupun memang kita udah lama ngelewatin sepi-rame nya jualan, tapi gua emang sadar kok."
Sugeng terdiam sejenak mengatur napas nya, lalu ia melanjutkan, "Gua sadar to, kalau tahu campur memang bukan makanan yang sering dicari orang. Kalau lu tanya gua kenapa ga ganti jualan lain? Alasan satu-satunya karena gua mau nurutin permintaan terakhir ayah gue, yaitu nerusin jualan ini." ucap Sugeng dengan mata berkaca-kaca.
Setelah mengatakan itu ia langsung balik badan, membelakangi Warto yang terus menatapnya, lalu mulai mendorong gerobak nya kembali untuk segera pulang.
Malam mulai turun ketika Sugeng mendorong gerobak tahu campurnya melewati jalan kecil di pinggir kota. Suara roda gerobak yang berderit menjadi satu-satunya teman dalam perjalanan pulangnya. Lampu warung satu-persatu mulai padam, menyisakan jalanan yang semakin sepi.
Hari itu dagangannya kembali tidak habis. Beberapa potong tahu dan bahan makanan tersisa terpaksa ia bawa pulang. Sugeng menghela napas panjang sambil menatap gerobak tuanya. "Besok harus lebih banyak yang laku..." gumamnya pelan.
Namun langkahnya terhenti karena dua orang pria berdiri ditengah jalan. Tubuh mereka besar, otot-otot nya juga kekar, serta mengenakan pakaian gelap dengan tatapan tajam.
Sugeng langsung mengenali mereka. Mereka adalah orang-orang yang selama ini menagih utangnya.
"Pak Sugeng," ujar salah satu pria sambil melipat tangannya. "Sudah berapa minggu kami menunggu pembayaran?"
Wajah Sugeng langsung pucat. Ia menundukkan kepala dan berkata dengan lirih, "Maaf... saya belum punya uang. Dagangan saya sedang sepi. Tolong beri saya waktu beberapa hari lagi, pasti saya bayar."
Pria itu tertawa kecil. "Waktu terus kamu minta. Tapi utang tetap utang."
"Saya mohon... jangan sekarang. Saya akan mencari cara, beri saya kesempatan terakhir," ucapnya meyakinkan.
Namun permintaannya tidak membuat mereka iba. Salah satu pria mendorong tubuh Sugeng hingga ia terjatuh dan mengenai gerobaknya. "Kesempatan sudah terlalu banyak kami kasih."
Sugeng hanya bisa menahan rasa sakit sambil melindungi dirinya, "Maaf... saya salah... tapi saya benar-benar akan membayar. Jangan ganggu gerobak saya, ini satu-satunya sumber penghasilan saya."
Mereka berhenti setelah beberapa saat. Pria itu menatap Sugeng dengan dingin. "Dengar baik-baik, Pak Sugeng. Kami beri kamu waktu sedikit lagi. Tapi kalau tetap tidak bayar, kamu akan tahu resikonya."
Setelah kedua pria itu pergi, Sugeng perlahan bangkit. Ia melihat gerobaknya yang hampir rusak karena tertimpa badannya. Malam itu, untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar di ujung hidupnya.
Daftar bab
61 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








