
Suami Bayaran
Kemuning Senja|Bersambung
- Jumlah kata
- 100.2K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 170
- Jumlah kata
- 100.2K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 170
Sinopsis
Rian seorang pria yang dikhianati istrinya, yang memilih bangkit setelah perceraian. Kehidupannya berubah total setelah ia menyetujui pernikahan kontrak dengan seorang pengusaha sukses yang dingin, Shela. Yang terancam kehilangan harta warisannya kalau ia tidak cepat menikah. Ditengah hubungan rumah tangga yang dingin dan tanpa cinta tersebut, pesona dan ketampanan Rian memikat seorang wanita kaya, Clara. Relasi sang istri. Rian terbuai dalam pesona dan godaan Clara. Namun, Perusahaan shela dilanda masalah. Saat kemelut melanda perusahaan sang istri. Rian memilih untuk menyelamatkan bisnis istrinya, sang istri akhirnya luluh dan menyerahkan hatinya. Kini ia terjebak dalam dominasi, hasrat dan cinta diantara dua wanita. "Rian, kita belum selesai!" Ancam Shela dengan napas naik turun."Bagi saya sejak kamu menginjak harga diri saya, kita sudah selesai." Balas Rian dingin. apa yang menanti Rian dikehidupan selanjutnya.
Ulasan
2 ulasan
Morning Girl
14/8/26 15:49
Rian dari seorang pria biasa, pekerja pabrik hingga menjadi seorang Direktur Pelaksana. Dari yang mempunyai istri selingkuh hingga meraih cinta wanita-wanita cantik. ceritanya seru
Spring Summer
14/8/26 15:45
ceritanya menarik, jalan cerita Rian dari seorang pria yang diselingkuhi istrinya menjadi pria yang dominan. Dan berhasil meraih cinta.
Bab 1
Bab 1
Siang itu panasnya terik luar biasa, Rian menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Ia tidak mau celaka, saat mengendarai motor kesayangannya dengan ugal-ugalan.
Rumah sederhana diujung jalan adalah tujuannya, sedari keluar dari pabrik dia sudah ingin cepat berada dirumah. Merasakan kesejukan kipas angin dan mencicipi masakan istri tercinta.
Sepi...rumah tumben terasa sepi.
Rian berjalan memasuki rumah, terdengar suara seperti orang mengerang dan mendesah. Dengan rasa penasaran ia mengikuti arah suara, suaranya bersasal dar kamarnya. Ia membuka pintu kamar. Dan .. pemandangan didepannya sungguh biadab, dan membuat emosi sampai ke ubun-ubun.
Dihadapannya, istrinya tanpa husana sedang berada dibawah, ditindih oleh seorang pria. Rasa amarah yang menbuatnya gelap mata, ditariknya pria yang sedang berada diatas badan istrinya. Ditonjok nya sekuat tenaga, dia sudah gak perduli kalau pria itu masih telanjang. Ditonjok nya berkali-kali, hingga pria itu jatuh ke bawah ranjang.
Istrinya berteriak melihat pria mesum selingkuhannya di tonjokin oleh suaminya.
"Sudah mas, sudah...bisa mati nanti. Panjul..bangun ..ayo bangun."
"Astaghfirullah ...kamu kebangetan. Wati! Kamu jadi istri, apa yang ada di otakmu.!" Serunya geram.
Ia pulang dari pabrik, mendapati sang istri yang tengah bercumbu mesra dengan pria lain. Pria yang tanpa busana, sedang asik mencumbui istrinya.
Bukan hanya istrinya yang terkejut melihat kepulangan nya, yang tadi katanya mau kerja tambahan lagi, agar bisa dengan cepat mengganti motor mereka yang sudah tua.
"Sialan, kenapa mas Rian bisa pulang di jam segini sih." Wati menggerutu pelan. Diwajahnya tidak ada penyesalan sama sekali. Seakan hal ini sudah biasa dilakukan.
Pria yang tadi ditonjok oleh Rian bangkit berdiri, memandang nanar ke wajah Rian.
"B4ngs4t kamu Rian, kamu merusak dan mengganggu kesenangan ku."
Rian terkesiap melihat siapa yang ada di depannya, mandor pabrik di tempatnya bekerja. Kepalanya terasa pusing, tangannya mengepal kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kamu!"
"Kamu berani sama saya Rian?"
"Harusnya kamu tau diri Panjul! Aku lembur sesuai keinginanmu, tapi ternyata kamu main kuda-kudaan dengan istriku. Kebangetan kamu! Aku gak perduli kamu siapa Panjul!"
Tonjokan dan tendangan kembali mendarat di tubuh Panjul.
"Kamu lembur terus! Aku dirumah sendirian, kesepian!" Teriak Wati, istrinya, sambil melerai dan menghalangi Rian.
"Aku lembur juga untuk kita. Kamu tau itu!"
Wati sudah selesai memakai bajunya, sementara Panjul kabur saat ada kesempatan, sambil mengambil bajunya. Wati pergi keluar dari kamar.
"Cobaan apalagi ini yah Tuhan? Setelah kematian ibu ku, apakah cobaannya masih kurang?" Rian mengeluh dalam hati, tangannya mengacak-acak rambutnya.
"Mau tanya apalagi mas?" Tanya Wati, ketika Rian mengejarnya ke ruang makan. Sementara Panjul sudah lari keluar, dengan wajah biru lebam, bengkak.
Wati terkejut ketika Rian memukul meja dengan kencang.
"Kamu istri tidak beradab, tidak punya ahlak. Bisa-bisanya tenang setelah melakukan kesalahan!" Rian sangat geram.
"Jadi mau Mas apa? Kalau mau bercerai, ayo. Aku tidak takut sama sekali" cibir istrinya.
"Astaghfirullah, Wati kenapa sekarang kamu berubah, Mas tidak nyangka. Kamu tidak seperti dulu, padahal sehari sebelumnya juga kamu bersikap baik dan sopan pada suami. Kamu kenal dimana sama si Panjul? Kenapa bisa melakukan perbuatan bejat begitu?"
Rentetan pertanyaan Rian pada istrinya, diluar ekspektasi bukannya insyaf dan minta maaf, istrinya malah mencibir sinis. Seolah apa yang dikatakan oleh Rian tidak berarti sama sekali.
"Dia kekasihku, sudah dua bulan ini kami saling kenal. Uang yang dia berikan jauh lebih banyak dari pemberian mu. Dan aku sudah muak dengan kemiskinan. Lagipula Panjul bersedia menikahi ku, kalau aku bercerai darimu, Mas."
"Astaghfirullah...nyebut Wati... nyebut. Panjul itu sudah berkeluarga, dia itu suami orang, dan Bapak dari dua orang anak." Rian mengelus dada, menyebut nama Allah. Ia tidak menyangka bahwa istrinya mempunyai sisi negatif seperti itu
"Aku mau kita bercerai, Mas. Jadi tidak usah kebanyakan bacot!"
"Baiklah, itu jauh lebih baik. Kita cerai," emosiku tersulut dan akhirnya kata cerai itu keluar dari mulutku.
"Kalau emang kita bercerai, berarti mas keluar dari rumah ini!"cibir Wati.
"Kenapa aku yang harus keluar?!"
"Mas lupa, ini rumah ku?"
"Tapi...aku yang bayar cicilan rumah ini. Bukankah harusnya dibagi dua?"
"Mas lupa, Kalau rumah ini atas namaku? Sekarang silahkan bikin surat cerai, akan aku tanda tangani. Dan jangan lupa motor tua itu juga tinggalin, karena belinya atas namaku."
"Baiklah, kalau itu maumu. Apa yang kamu lakukan tadi sudah cukup untuk ku mengambil keputusan. Ayo, kita bercerai!." Rian ingin sekali memaki, tapi dengan terpaksa ia menahannya.
Rian tau siapa Panjul. Di pabrik ia sudah terkenal sering gonta-ganti pasangan. Berbicara dengan Wati akan sia-sia, gak akan dipercaya. Emosinyapun telah tersulut.
Rian bangkit berdiri, dan berjalan masuk kedalam kamar. Hatinya teramat sakit, ia tidak menyangka sama sekali kalau istrinya tega melakukan perbuatan bejat seperti itu.
Ia masuk ke kamar mandi, mengambil wudhu. Sebelum keluar dari rumah, ia ingin menunaikan kewajibannya, berdoa dan mengadu pada Allah. Karena hanya padanya tempat ia mengadu dan memohon ampun.
Tidak lama kemudian ia sudah rapih, tidak banyak yang bisa ia bawa. Hanya baju beberapa helai dan sebuah surat dari ibunya dulu sebelum beliau wafat.
"Mau kemana kamu Mas?"
"Aku mau pamit ke orang tuamu dulu."
"Untuk apa? Percuma. Orang tua ku sudah tau siapa Panjul. Lebih baik kamu langsung pergi."
Rian terhuyung ke belakang kaget setengah mati, mertua yang dihormati seperti orang tuanya sendiri ternyata sudah mengetahui semua perbuatan anaknya.
"Baiklah, semua surat yang aku butuhkan sudah siap. Aku bisa memasukannya ke pengadilan, untuk mengajukan gugatan cerai ku," batinnya.
Ia melangkah keluar, tanpa bicara lagi. Ia akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Hari ini ia bermaksud ke rumah orangtuanya, ayah yang dulu menentang pernikahannya dengan mengatakan bahwa Wati bukan calon istri yang baik. Ternyata sekarang terbukti.
Sepeninggal suaminya, Wati terduduk diam. Benarkah ini yang ia inginkan? Bercerai dari Rian yang selama ini sudah sangat baik padanya dari sejak mereka berpacaran.
Tiba-tiba perutnya terasa mual, ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya, kepalanya terasa pusing. Ia masuk ke dalam kamar, kamar terasa sepi. Biasanya ada suaminya yang duduk di depan meja kecil yang ada dikamar, menulis. Entah apa yang ditulis, yang ia tau hanya suaminya rajin mengirim cerita naskahnya keberbagai media. Hanya sebatas itu.
Direbahkan badannya, agar pusingnya berkurang. Kalau sakitnya masih berlanjut, besok ia akan ke Puskesmas. Teringat olehnya kejadian-kejadian yang mereka berdua rasakan, sejak mereka berpacaran sampai menikah. Rian tidak pernah turun tangan padanya, ia sangat mencintainya. Hampir semua pekerjaan rumah dibantuin. Bahkan kalau ia mengeluh pusing sedikit saja, maka Rian akan repot mengerjakan semua pekerjaan dan ia sendiri tidak boleh turun dari tempat tidur, takut jatuh katanya. Tanpa terasa bibirnya menyunggingkan senyuman, mengingat semua itu.
Daftar bab
91 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








