Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Menguasai Seluruh Dunia dengan Sistem Kekayaan Melimpah

Menguasai Seluruh Dunia dengan Sistem Kekayaan Melimpah

Eliza Naga | Bersambung
Jumlah kata
99.5K
Popular
2.4K
Subscribe
285
Novel / Menguasai Seluruh Dunia dengan Sistem Kekayaan Melimpah
Menguasai Seluruh Dunia dengan Sistem Kekayaan Melimpah

Menguasai Seluruh Dunia dengan Sistem Kekayaan Melimpah

Eliza Naga| Bersambung
Jumlah Kata
99.5K
Popular
2.4K
Subscribe
285
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremSistemZero To Hero
Victor dikhianati kekasihnya karena sang kekasih tidak mau hidup sederhana bersama Victor. Tapi justru saat itulah Victor mendapatkan sistem kekayaan melimpah yang langsung memberinya uang ratusan triliun.
1 Sistem Kekayaan Melimpah

Malam ini hujan turun dengan derasnya. Victor duduk di kursi kayu di depan meja resepsionis kos kosan murah tempatnya bekerja sambilan.

Jemarinya sibuk menghitung ulang uang tip yang baru saja ia dapatkan dari penghuni kos yang datang membayar sewa.

Jumlahnya tidak banyak, hanya cukup untuk makan beberapa hari ke depan dan mungkin membeli buku bekas untuk kuliahnya besok.

Pintu depan kos terbuka dengan suara berderit. Victor mendongak, siap menyapa penghuni kos yang mungkin baru datang untuk memesan kamar. Namun yang muncul di ambang pintu membuat seluruh tubuhnya menegang. Alingsi, kekasihnya, berdiri di sana.

Rambut Alingsi basah terkena hujan, namun ia tidak sendiri. Di sampingnya, seorang pemuda sombong melangkah masuk dengan senyum puas di wajahnya.

Pria itu mengenakan kemeja mahal dan jam tangan berkilau yang mungkin harganya setara dengan uang kuliah Victor selama satu semester penuh. Tangannya melingkar di pinggang Alingsi dengan posesif.

"Victor," suara Alingsi terdengar dingin, sama sekali berbeda dari nada manja yang biasa ia gunakan. "Aku perlu bicara."

Victor bangkit dari kursinya. Matanya beralih dari wajah Alingsi ke pria di sebelahnya, lalu kembali lagi. "Apa maksudnya ini, Lingsi? Dan kenapa dia memegangmu seperti itu?"

Pria itu tertawa kecil, suaranya berat dan penuh ejekan. "Victor? Si penjaga kos? Kamu sungguh pekerja keras. Kamu bekerja saat mahasiswa yang lain sedang bersantai." Ia melangkah maju, mengeluarkan dompet tebal dari saku celananya. "Victor, aku butuh satu kamar untuk malam ini. Yang terbaik yang kau punya. Aku dan wanita ini akan menggunakannya. Dan tenang saja, kamu bisa mendengar suara erangan kami dari luar kamar. Hehehe."

Darah Victor mendidih. Ia mengepalkan tangannya. "Kos harian sudah penuh. Silakan pergi."

"Jangan bohong," potong Alingsi cepat. "Victor, dengarkan. Aku datang ke sini bukan untuk bertengkar. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa hubungan kita selesai. Aku tidak bisa lagi berpura-pura bahagia denganmu. Kamu bahkan tidak bisa mengajakku makan di tempat yang layak. Setiap kali aku minta sesuatu, jawabanmu selalu 'nanti' atau 'belum ada uang'. Aku capek, Victor."

Setiap kata yang keluar dari mulut Alingsi terasa seperti pukulan bertubi-tubi ke ulu hati Victor. Wanita yang selama dua tahun terakhir selalu ia prioritaskan, wanita yang selalu ia bela di depan teman temannya yang meragukan kesetiaannya, kini berdiri di hadapannya sambil meminta kamar untuk tidur dengan pria lain.

"Lingsi, kau serius? Setelah semua yang kita lalui bersama, kau tega melakukan ini padaku?"

Pria yang dipanggil Aldo itu melangkah maju, menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke dada Victor. "Sudah, jangan banyak drama. Ambil uang ini, berikan kuncinya, dan minggirlah. Anggap saja ini uang sakit hati. Kau bisa beli apa pun yang kau mau, mungkin baju baru supaya tidak terlihat seperti gelandangan."

Victor menampar uang itu hingga jatuh berserakan ke lantai. "Aku tidak butuh uangmu. Dan kau," ia menatap Alingsi dengan mata berkaca kaca, "kau sungguh tega. Selama ini kau selalu bilang cinta tidak diukur dari uang. Kau bilang kau akan setia menungguku sampai aku berhasil. Ternyata semua itu dusta."

Alingsi memalingkan wajahnya. "Aku bosan menunggu, Victor. Kau terlalu lambat. Sementara kau sibuk menghitung uang receh di kos kosan ini, Aldo bisa memberiku apa pun yang aku mau dalam sekejap. Aku tidak mau menunggu lagi."

Tawa getir keluar dari mulut Victor. "Jadi kau menjual dirimu demi uang? Demi pria yang jelas jelas sudah punya banyak wanita lain?"

Wajah Alingsi memerah. Sebelum ia sempat menjawab, Aldo sudah lebih dulu bereaksi. Tinjunya melayang dan mendarat tepat di rahang Victor. Pukulan itu begitu keras hingga Victor terhuyung dan jatuh ke lantai. "Jaga mulutmu, bocah miskin. Kau pikir kau bisa seenaknya menghina wanitaku?"

Victor langsung membalas dengan sebuah tendangan yang mengena telak di dada Aldo.

Tapi Aldo ternyata tidak sendirian. Dua orang temannya yang sejak tadi menunggu di luar, kini masuk dan ikut menghajar Victor tanpa ampun.

Darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya Victor. Tulang rusuknya terasa seperti diremukkan.

Aldo tidak berhenti di situ. Ia menendang perut Victor, lalu mengangkat tubuhnya dan membantingnya ke meja resepsionis. Kayu meja itu retak dan pecah terkena benturan.

Victor mencoba melawan. Ia bukan tipe orang yang mudah menyerah. Tapi tubuhnya sudah terlalu lelah setelah seharian bekerja dan pikirannya terlalu kacau oleh penghianatan yang baru saja ia alami.

Setelah itu, pukulan demi pukulan terus mendarat di tubuhnya.

"Ingat ini, bocah. Jangan pernah berani menghina orang yang lebih kaya darimu. Kau bukan siapa siapa. Kau hanya penjaga kos miskin yang tidak akan pernah bisa memiliki apa pun dalam hidupmu." Aldo meludah ke lantai dekat tubuh Victor yang sudah tidak bisa bergerak. Ia meraih tangan Alingsi. "Ayo, kita cari hotel saja. Tempat ini terlalu jorok untuk kita."

Alingsi menatap Victor untuk terakhir kalinya. Tidak ada penyesalan di matanya. Hanya ada rasa jijik. "Selamat tinggal, Victor. Jangan coba coba menghubungiku lagi." Ia berbalik dan berjalan keluar bersama Aldo, meninggalkan Victor terkapar di lantai dengan darah yang mulai menggenang di sekitar kepalanya.

Kegelapan menyelimuti Victor. Ia merasa tubuhnya melayang di ruang hampa, tanpa suara, tanpa cahaya, tanpa rasa sakit. Mungkin ini adalah kematian. Mungkin lebih baik mati daripada harus menanggung malu dan sakit seperti ini.

Tapi kemudian, sebuah suara bergema di dalam kegelapan itu. Suara yang jernih, tegas, dan tidak berasal dari dirinya sendiri.

'Sistem Kekayaan telah menemukan inang yang cocok. Memulai proses pengikatan.'

Victor tersentak. Matanya terbuka, dan ia mendapati dirinya masih berada di lantai kos kosan yang berantakan.

Hujan di luar masih turun, tapi suaranya terdengar begitu jauh. Kepalanya terasa berat, namun rasa sakit di tubuhnya perlahan mulai menghilang, seolah ada sesuatu yang memperbaiki luka lukanya dari dalam.

'Selamat, Tuan Victor. Sistem Kekayaan Melimpah telah berhasil terhubung dengan Anda. Mulai hari ini, takdir Anda akan berubah total. Saya akan membuat Anda menjadi pria paling kaya dan paling berkuasa di dunia.'

Victor mengerjapkan matanya, bingung. Ia mencoba bangkit, dan tubuhnya terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. "Apa ini? Apa yang terjadi padaku? Apa aku mimpi?" tanyanya pada udara kosong.

'Anda tidak sedang berhalusinasi, Tuan Victor. Sistem Kekayaan adalah entitas yang kini telah terintegrasi penuh dengan kesadaran Anda. Semua rasa sakit yang baru saja Anda alami akan menjadi fondasi bagi kebangkitan Anda. Semua penghinaan akan terbayar lunas. Semua yang meremehkan Anda akan berlutut di hadapan Anda.'

Victor tertawa kecil, tapi tawanya lebih mirip erangan. "Aku pasti sudah gila. Mungkin kepalaku terbentur terlalu keras sampai mulai mendengar suara suara aneh."

Lanjut membaca
Lanjut membaca