Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pewaris Mustika Pedang Naga

Pewaris Mustika Pedang Naga

Molina | Bersambung
Jumlah kata
48.5K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / Pewaris Mustika Pedang Naga
Pewaris Mustika Pedang Naga

Pewaris Mustika Pedang Naga

Molina| Bersambung
Jumlah Kata
48.5K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
FantasiFantasi TimurSilatPertualanganBela Diri
Ayahnya dimutliasi, ibunya pernah diperkosa, dan adiknya meninggal karena penyakit langka. Ia dihina, dipermalukan, bahkan dibuang oleh semua orang. Saat ingin berjuang, takdir memvonisnya sebagai pemuda yang tidak memiliki bakat sama sekali dalam dunia persilatan. Tak ada yang menyangka, bahwa dirinya adalah anak dalam ramalan, sosok yang kelak mewarisi Mustika Merah Pedang Naga. Dari sinilah petualangan Mahesa dimulai.
Bab 1 Dendam Tanah Djanadipa

Di sebuah desa terpencil daerah Timur Djanadipa, sebuah kabar mengejutkan terdengar. Ada pembunuhan, korbannya seorang lelaki setengah baya dengan kondisi mengenaskan. Kepala, tangan, dan kakinya terpisah dari badan.

Beberapa jam sebelumnya, seorang remaja nampak pulang dengan wajah ceria sambil membawa bubuk kopi. Namanya Mahesa, seorang pemuda tampan murah senyum yang disenangi orang-orang desa.

Tanpa disadari, itu adalah gelas kopi terakhir yang dibuatkan Mahesa.

“Bapak mau pamit dulu, Le,” ujar bapak Mahesa pelan sekali.

Sesudah menghabiskan kopinya, bapak pun berangkat menuju hutan. Tak lama, bapak kembali lagi dan tiba-tiba mengecup kening Mahesa, lalu memeluknya agak lama.

Ini tentu aneh, bapak tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Terakhir kali saat adik kandung Mahesa meninggal karena penyakit langka. Mungkin inilah pertanda.

Bapak sempat menangis dalam pelukan Mahesa, beberapa detik, lalu diusapnya agar Mahesa tidak khawatir. Dengan membawa cangkul dan celurit untuk memotong rumput, bapak pun memberi pesan sebelum dia berangkat masuk hutan.

“Jaga diri baik-baik ya, Nak, Bapak minta maaf kalau banyak salah. Bapak harap kamu bisa jadi pendekar dengan hati suci, bisa menolong orang-orang lemah dan membutuhkan.”

Usai mengucapkan kalimat itu, bapak pergi masuk ke hutan membawa cangkul dan celurit.

Saat siang sudah sangat terik, semua keceriaan yang ada pada diri Mahesa musnah tanpa sisa, terutama saat sahabatnya bernama Joko tiba-tiba mendobrak pintu gubuknya.

“He-Hesa... Ba-bapakmu, hutan, di dalam sana,” ucap Joko terbata-bata.

“Ada apa dengan bapak?”

“Ba-bapakmu...”

“Kenapa, Jok, katakan! Apa yang terjadi pada bapakku?”

“Cepat ikut aku dan lihat sendiri apa yang terjadi!”

Hati Mahesa hancur mendengar berita yang dibawakan Joko. Ibu-ibu desa memandanginya dengan isak tangis. Kedatangan Joko sepertinya membawa kabar duka.

“Di mana bapakku, Jok?” tanya Mahesa dengan perasaan tidak karuan.

“Ada di dalam hutan, dekat tempat pemotongan rumput.”

“Siapa yang pertama kali menemukan Bapak?”

“Sudah, ikut saja dulu ke hutan.”

Mahesa berlari mengiringi langkah Joko, teman sekaligus sahabatnya sejak kecil. Setibanya di hutan, Mahesa tidak bisa berkata apapun. Kondisi bapaknya sungguh tragis. Tidak hanya kepala yang dipenggal, tapi tangan dan kakinya juga.

Siang itu merupakan hari terburuk bagi Mahesa.

Melihat jasad bapaknya yang tergeletak dengan kepala, kaki, dan tangan berceceran adalah kenangan terburuknya. Ada satu golok berlumuran darah yang tergeletak di samping tubuh bapak.

Para tetangga dan warga desa yakin kalau bapaknya Mahesa dibunuh oleh seseorang misterius.

Kini, keluarganya sudah habis tak tersisa. Ibunya meninggal saat dia bayi, dan adik kandungnya meninggal karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Padahal Bapak selalu menebar kebaikan di desa, tapi kenapa bapak harus mati mengenaskan?

“Bapak nggak mungkin punya musuh, Jok... pasti ada yang dendam sama Bapak!” Mahesa mengepalkan tangan, lalu memukulkannya ke batang pohon beringin hingga berdarah.

“Kau tahu sendiri kan, Jok, Bapak itu sangat baik pada orang-orang, selalu membantu ketika ada yang minta tolong, tidak pernah pelit dan suka berbagi, tapi kenapa harus seperti ini? Kenapaaa? Katakan padaku mengapa!”

“Mahesa, tenangkan dirimu dulu, duduklah, ini minum air putih.”

“Siapa yang memusuhi Bapak, Jok, siapaa... katakan padaku, akan kubunuh orang itu!” Mahesa masih belum terima dengan kematian bapaknya.

Awalnya Mahesa tidak tahu maksud ucapan bapak. Pasalnya, bapak sering mengucap hal tersebut sebelum pergi berdagang di kota atau mencari barang-barang antik dari pedagang luar negeri.

Tapi kini Mahesa sadar, itu pesan terakhir yang dititpkan bapak padanya.

Di balik semak, ada dua orang membawa belati dan golok besar sedang bersembunyi. Mereka menutup muka dengan kain hitam agar tidak diketahui. Ketika para warga kembali ke desa, barulah mereka keluar dan kabur entah ke mana.

***

Tiga hari setelah pemakaman, Mahesa hanya bisa termenung. Ketika dia keluar dan melihat padi yang ditanamnya, semuanya sudah mati. Dari ladang tercium bau racun hama yang sengaja ditebarkan pada malam hari.

Para warga menyayangkan hal tersebut. Pasalnya, padi Mahesa adalah satu-satunya padi terbaik yang bisa dijual kepada orang-orang ibukota.

Beberapa dari tetangga mencemooh Mahesa karena tidak becus mengurus padi.

“Sudah berapa tahun hidup di desa masih tidak paham gunanya racun hama? Otakmu itu ditaruh mana, sih, apa perlu kita yang mengajarimu cara bercocok tanam?”

“Itulah, Pak, masa ditinggal bapaknya mati dia jadi bodoh begini!”

“Tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari dia. Sudah, kita pulang saja, ngapain buang waktu kasihan sama orang miskin yang tidak punya apa-apa lagi!”

Bukan ucapan belasungkawa yang Mahesa dapat setelah kepergian bapaknya, tapi cemooh dan cacian tetangganya yang memiliki hati busuk. Kemanapun dia pergi, para tetangga terus mencacinya habis-habisan.

Tidak hanya tetangga, bahkan seluruh warga desa terus mengoloknya. Puncaknya saat Mahesa akan pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Kepalanya dipukul seseorang dari belakang.

“Kau sudah tidak dihargai lagi di sini, mending pergi saja!”

Cpak! Buk!

Dua pria desa menghadang langkah Mahesa yang akan pergi ke hutan. Mereka mendaratkan beberapa pukulan dan tendangan. Dua gigi geraham Mahesa tanggal dan mulutnya penuh darah.

“Sampah sepertimu tidak pantas hidup di desa kami! Sesudah bapakmu mati kau hanyalah beban, dasar tidak berguna!”

Jbuk!

Satu tendangan lagi-lagi mendarat di perut Mahesa. Lelaki itu terhuyung beberapa langkah ke belakang sambil memegangi perutnya.

Malam itu Mahesa tidak tidur. Dia berjalan menuju makam bapak yang letaknya di dekat pintu masuk hutan. Nyeri di sekujur tubuhnya belum hilang akibat dipukuli dua pemuda desa, tapi itu bukanlah halangan.

Mendung terkumpul malam itu dan hujan mengguyur desa. Di bawah guyuran hujan, Mahesa mendongakkan kepalanya ke atas, tidak peduli sakit wajah yang dideritanya akibat tetesan hujan, lalu mengepalkan tangannya tinggi-tinggi.

“Pak, Mahesa janji akan membalas dendam pada siapapun yang memusuhi Bapak! Mereka harus kubunuh dan mati lebih mengenaskan dari kematian bapak!”

Petir seketika menyambar dan bunyinya sangat keras. Joko yang mendapat jadwal ronda mendengar teriakan Mahesa lalu berlari menghampiri sahabatnya.

“Ayo pulang, Mahesa, ini hujan lebat, kamu bisa sakit kalau terus seperti ini.”

“Aku rindu Bapak, aku belum puas berduaan sama Bapak!” Mahesa masih berontak.

“Tapi bukan gini caranya. Bapak pun akan sedih melihatmu melukai diri sendiri. Ayo pulang sebelum kamu jatuh sakit.”

Mahesa menatap mata Joko dengan nanar. Tangisnya sudah bercampur dengan air hujan, tapi warna merah dan sembab di matanya tidak bisa ditutupi. Joko mengulurkan tangannya pada Mahesa.

Belum sempat Mahesa berdiri, tubuhnya ambruk dan bibirnya membiru.

Saat siuman, Mahesa sudah berada di dalam gubuknya. Tidak ada satupun yang menemani kecuali Joko. Teh panas dicampur dengan daun mint dan kamiri disiapkan.

Hari sudah pagi, dan Joko pamit pulang karena harus bekerja.

Samar-samar, Mahesa mendengar percakapan yang terjadi antara Joko dan salah satu tetangga di depan gubuknya. Ada yang aneh pasti.

“Bapaknya sudah mati, tinggal membunuh anaknya. Kapan kita eksekusi lelaki itu?”

“Besok malam, sesuai perintah juragan.”

“Baiklah, waktu sudah ditentukan.”

Samar-samar Mahesa mendengar percakapan itu, tapi tidak bisa mendengar seluruhnya. Yang terdengar jelas hanya kalimat terakhir saat Joko menjawab tetangganya. Waktu sudah ditentukan, waktu apa itu?

Lanjut membaca
Lanjut membaca