
Cincin Warisan Tabib Terhebat
Iridesen|Bersambung
- Jumlah kata
- 49.7K
- Popular
- 770
- Subscribe
- 123
- Jumlah kata
- 49.7K
- Popular
- 770
- Subscribe
- 123
Sinopsis
Harsa Daniswara, seorang mahasiswa kedokteran di universitas terbaik di Kota Parama yang berasal dari keluarga miskin. Terdesak dengan biaya pengobatan sang ibu, dia rela merekayasa kecelakaan lalu lintas demi uang kompensasi. Alih-alih hanya pura-pura tertabrak, Harsa justru menjadi korban kecelakaan yang membawanya bertemu dengan seorang Kakek misterius. Pertemuan itu membuat Harsa memiliki ilmu medis dan ilmu bela diri yang belum dia kuasai sebelumnya berbekal ingatan-ingatan yang asing. Namun, dengan ingatan tersebut namanya dapat dikenal oleh banyak orang dan berhasil bangkit dari keterpurukan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1
“Pasien harus segera menjalani operasi. Jika tidak, maka nyawanya akan sulit untuk diselamatkan,” ucap Dokter Dion, dokter yang merawat ibu Harsa.
Harsa berjalan tak tentu arah menyusuri trotoar. Laki-laki itu terus berpikir, apa yang bisa ia lakukan untuk membayar biaya operasi ibunya secepat mungkin.
Matanya menatap jalanan yang ramai lalu lalang kendaraan dengan kecepatan tinggi. Dalam keadaan seperti ini, ide licik tiba-tiba terlintas di pikiran Harsa yang nyaris buntu.
“Apa harus dengan cara seperti itu?” Helaan napas Harsa kali ini terdengar lebih berat. “Tapi, mau bagaimana lagi? Aku juga tidak bisa lagi meminjam uang ke mana-mana karena utangku sebelumnya masih belum lunas.”
Kaki Harsa mulai menuruni pembatas antara trotoar dan jalan raya. Matanya mulai memperhatikan beberapa mobil yang melintas. Di sana, ada satu yang berbeda. Sebuah mobil putih yang melaju cukup lambat dan tersendat-sendat.
“Sepertinya pemilik mobil itu cukup kaya, aku bisa mendapatkan uang ganti rugi dengan pura-pura tertabrak,” pikir Harsa.
“Ibu, maafkan aku. Aku tidak punya cara lain, ini satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk membayar biaya operasi Ibu,” ujarnya dengan lemah.
Harsa membuang semua rasa takut dalam dirinya dan mulai melangkah ke tengah jalan, tepatnya di mana sebuah mobil mewah berwarna putih akan melintas. Detak jantungnya berdetak tak karuan, dia rela mempertaruhkan nyawanya demi sang ibu.
Dari ujung matanya, terlihat jika mobil mewah yang menjadi incarannya semakin bergerak mendekat.
Di sisi lain, Eva Harjasa merasa begitu bersemangat. Untuk pertama kalinya dia dapat mengendarai mobil tanpa sopir. Suara merdunya mengalun seiring dengan lagu yang diputar. Hingga tanpa sadar, ada seorang pria yang berdiri di depannya.
“Jangan berdiri di sana!” teriak Eva.
“Aduh, remnya yang mana sih ini?” Dengan panik, kaki Eva buru-buru menginjak pedal secara sembarangan.
Mobil yang dikemudikan Eva tiba-tiba bergerak dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Mobil itu semakin mendekat, membuat Harsa tidak bisa lari untuk menghindarinya. Kelopak matanya tertutup rapat dan kedua tangannya saling mengepal.
Sebuah suara dentuman yang sangat keras terdengar. Harsa merasakan tubuhnya melayang di udara. Mobil putih itu berhasil menghantam tubuhnya dengan sangat keras. Hingga tubuh itu terlempar cukup jauh dari tempatnya berdiri.
Eva turun dengan wajah terkejut dan buru-buru menghampiri Harsa.
“Astaga, bagaimana ini? Bertahanlah sebentar. Aku akan menelepon ambulans,” ujarnya.
Pandangan mata Harsa mulai buram. Merasakan kepalanya yang semakin berat dan sesuatu yang panas mengalir dari kepala dan tangannya. Wajah seorang perempuan yang tengah panik adalah ingatan terakhir sebelum kesadaran Harsa sepenuhnya menghilang.
Tak lama kemudian, orang-orang yang sedang berjalan di trotoar atau melintas di jalan tersebut langsung mendatangi tubuh tak berdaya Harsa.
Di tengah kepanikan orang-orang, darah yang mengalir di sepanjang tangan Harsa mengenai cincin kuno pemberian sang ibu. Dari banyaknya darah yang mengotori tubuh laki-laki itu, hanya bagian tangannya yang bersih dari noda merah pekat. Seakan cincin itu menyerap semua darahnya.
Harsa Daniswara adalah anak yang dibesarkan oleh Ratna Mirasih, tanpa tahu siapa orang tua kandungnya. Dan cincin kuno yang selalu dia pakai… adalah satu-satunya harta yang ditinggalkan untuknya.
***
“Bagaimana kondisinya, Dokter?” tanya Eva dengan perasaan yang campur aduk.
Dokter dengan lembut menjelaskan kondisi Harsa yang saat ini berbaring di ranjang rumah sakit. Eva mendekat agar dapat mendengarkan lebih jelas dengan tangan yang dingin dan masih gemetaran.
“Benturan yang menghantam kepalanya cukup keras, meski begitu, kondisi pasien saat ini sudah melewati masa kritis, kita hanya harus menunggu pasien sadar.”
“Baik, Dokter. Terima kasih banyak.” Eva mengangguk mengerti atas penjelasan sang dokter.
Dokter bersama dua perawat pun keluar dari ruangan dan meninggalkan Eva berdua dengan Harsa.
Dalam ketidaksadarannya, Harsa dapat merasakan tubuhnya yang sangat ringan. Hingga sebuah suara yang sangat pelan memanggil namanya.
Seorang kakek tua dengan rambut putih yang sangat panjang dan jenggot yang menjuntai ke bawah muncul di hadapannya.
Kini suaranya dapat terdengar jelas, Kakek itu berkata, “Akhirnya aku temukan dirimu sebagai pewarisku. Harsa, terimalah seluruh kekuatan yang sudah kukumpulkan dari Akademi Pawitra Usada.”
Harsa tidak mengerti apa yang dikatakan oleh kakek tua itu. Dia memilih diam dan menatap sang kakek tua.
“Aku adalah Byakta Cakra yang berasal dari Akademi Pawitra Usada. Setelah kau menerima seluruh warisan kekuatan ini, kau harus menggunakannya untuk kebaikan selama kau hidup di dunia.”
Kemudian, sebuah cahaya yang sangat terang muncul membentuk banyak ingatan. Ingatan itu berupa ilmu bela diri, ilmu medis, serta banyak ilmu yang masuk ke dalam dirinya tanpa bisa ditolak.
Ingatan itu membentuk jiwa Harsa yang baru. Sebuah jiwa yang lebih berani dan kuat. Semua kekuatan yang dia terima mengalir dalam darahnya, meresap hingga ke dalam tulangnya. Menjadikan tubuh yang semula lemah tak berdaya, kini perlahan memberikan kekuatan yang tak dapat dilihat. Seolah Harsa telah terlahir kembali.
Harsa merasa sangat nyaman. Rasa sakit yang sempat dia rasakan, kini tak tersisa sedikit pun. Hingga matanya terbuka perlahan-lahan. Sebuah cahaya putih sangat terang menyambut netranya.
“Akh!” Harsa mengerang saat merasakan tubuhnya yang sedikit kaku.
Di saat yang bersamaan, pintu ruang rawat terbuka. Tampak seorang perempuan dengan paras yang begitu cantik berjalan menghampirinya. Eva.
“Kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit? Oh, sebentar kupanggilkan dokter dulu,” kata Eva tanpa jeda.
Saat Eva akan pergi, tangannya lebih dulu ditahan oleh Harsa. “Tidak perlu. Aku baik-baik saja.”
“Kenapa aku bisa ada di sini?” tanya Harsa, pandangannya menyapu seluruh ruangan.
“Tentu saja karena mobilku menabrakmu. Kepalamu tadi terbentur aspal, tubuhmu mengeluarkan banyak darah. Aku heran bagaimana kamu bisa baik-baik saja setelah kejadian itu?”
Eva duduk di kursi samping ranjang agar lebih dekat dengan Harsa.
“Maaf ya, aku tidak sengaja menabrakmu. Aku baru saja mendapatkan SIM pagi ini. Aku tadi panik karena kamu tiba-tiba berdiri di depanku, jadi aku tidak bisa membedakan mana pedal gas dan mana rem. Aku sungguh-sungguh minta maaf.” Eva menjelaskan kronologi yang terjadi pada Harsa dengan penuh penyesalan.
Baru Harsa akan membuka mulutnya, Eva kembali berkata, “Namaku Eva Harjasa. Tenang saja, aku akan membayar semua biaya rumah sakit dan pengobatanmu. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab.”
Harsa menghela napasnya, “Rumah sakit mana ini?”
“Rumah Sakit Kota,” jawab Eva. Lalu kembali berujar, “Dokter bilang kamu berhasil melewati masa kritis dengan cepat, tapi kamu tidak kunjung sadar. Aku heran, kenapa betah sekali tidur selama setengah hari setelah kritis. Apa kamu bermimpi?”
Harsa membelalakkan matanya. “Aku kritis? Setengah hari?”
Perempuan itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Harsa.
“Gawat!” Harsa dengan buru-buru membuka selimut dan bergegas pergi, tetapi ditahan oleh Eva.
“Mau ke mana kamu? Kamu baru saja sadar, harus istirahat du…”
Harsa langsung memotong, “Aku baik-baik saja. Sekarang aku harus menemui ibuku.”
Harsa berlari meninggalkan rumah sakit. Mengabaikan teriakan Eva yang terus memanggilnya untuk berhenti. Ia berlari melewati gedung-gedung tinggi menuju Rumah Sakit Luhur, rumah sakit di mana ibunya dirawat.
Tiba-tiba, langkah kakinya berhenti tanpa sebab. Satu ingatan yang asing melintas dalam benaknya. “Set jarum perak?”
Entah apa maksud dari set jarum perak itu, Harsa merasakan bahwa dia akan membutuhkannya nanti. Tak jauh dari tempat dia berdiri, ada sebuah toko pengobatan tradisional. Dengan sisa uang di sakunya, Harsa pergi membeli set jarum perak.
Setibanya di Rumah Sakit Luhur, Dokter Dion berkata pada perawat Mira, “Catat tanggal dan jam kematiannya, serta segera urus akta kematiannya.”
“Baik, Dokter,” jawab sang perawat.
Namun, Harsa yang baru saja datang langsung berteriak, “Tidak! Ibuku belum meninggal. Ibuku masih hidup.”
Dokter Dion menghampiri Harsa, menepuk pundaknya pelan. “Saya sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan nyawa ibumu. Andaikan saja ibumu dapat dioperasi secepatnya, mungkin saat ini ibumu masih ada.”
Harsa melangkah mendekat ke arah jasad sang ibu, tangannya menyentuh kulit ibunya yang masih hangat.
“Tidak. Kalian salah. Ibuku masih hidup.”
Setelah itu Harsa mengeluarkan jarum perak di dalam saku yang sudah dia beli. Tangannya bergerak mengikuti insting dan pengetahuan yang terus menancap dalam ingatannya. Walaupun Harsa sendiri tidak tahu persis mengenai ingatan itu.
“Hentikan! Apa yang kau lakukan?” tanya perawat Mira panik.
Daftar bab
47 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








