
- Jumlah kata
- 102.4K

Sehari setelah kelahirannya, pangeran pewaris takhta kerajaan bawah laut dinyatakan meninggal dunia. Kelahirannya seharusnya menjadi sebuah kebahagiaan besar bagi seluruh kerajaan. Namun, tubuh kecil sang pewaris ternyata belum siap menerima beban yang melekat pada darah kerajaan. Sebagai calon penguasa lautan, ada kekuatan dan ikatan kuno yang sejak lahir telah melekat pada dirinya. Tubuhnya tidak mampu menanggung semuanya. Ketika sang pangeran mengembuskan napas terakhirnya, seluruh istana percaya bahwa harapan kerajaan telah berakhir. Hingga seorang penasehat tua mengungkap sebuah rahasia yang selama ini hanya diketahui oleh segelintir orang. Sang pangeran masih dapat diselamatkan. Namun, ia harus kembali melewati fase yang seharusnya telah dilewatinya. Masa kandungan. Tidak ada cara untuk mengembalikan seorang anak yang telah lahir ke dalam kandungan. Satu-satunya kemungkinan adalah menggunakan tubuh manusia sebagai tempat bagi jiwa sang pangeran untuk tumbuh kembali. Maka jasad kecil Pangeran Saga dilepaskan ke permukaan. Begitu menyentuh udara, tubuhnya berubah menjadi sebuah sisik. Sisik itu bukan sekadar peninggalan sang pangeran. Ia adalah perantara yang membawa jiwa Pangeran Saga menuju kehidupan keduanya. Sembilan bulan kemudian, seorang anak laki-laki lahir dari seorang manusia. Ia diberi nama Harit Sagara. Harit tumbuh sebagai anak manusia biasa. Ia memiliki keluarga yang menyayanginya dan tidak pernah diberi tahu mengenai rahasia kelahirannya. Bahkan orang tuanya sendiri tidak mengetahui seluruh kebenaran tentang dirinya. Namun sejak kecil, tubuh Harit selalu menunjukkan sesuatu yang berbeda. Ia dapat bertahan terlalu lama di dalam air. Ia tidak mudah merasa kedinginan meskipun berada di laut. Luka-luka kecil di tubuhnya sembuh dengan cara yang tidak biasa. Ketika sedang berada di dekat laut, indranya menjadi jauh lebih peka, seolah-olah ia dapat mendengar sesuatu yang tidak dapat didengar manusia lain. Ada kalanya kulitnya memantulkan kilau samar seperti sisik ketika terkena cahaya tertentu. Dan yang paling aneh, setiap kali Harit berada di dalam air, ia merasa seperti sedang berada di tempat yang seharusnya ia kenal. Ia sering bermimpi tentang sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kunjungi. Namun setiap kali Harit menceritakan keanehan tersebut, orang tuanya selalu memberikan jawaban yang sama. Itu hanyalah kelebihan yang Tuhan berikan. Harit pun mempercayainya. Sementara itu, jauh di bawah permukaan laut, sebuah kerajaan masih menyimpan rahasia kelahiran seorang pangeran yang telah dinyatakan mati bertahun-tahun lalu. Mereka tidak pernah benar-benar berhenti menunggu. Karena bagi mereka, Pangeran Saga tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya sedang menjalani kehidupan keduanya. Dan ketika tanda-tanda keberadaannya kembali muncul, kerajaan bawah laut mulai menyadari bahwa sang pewaris telah tumbuh. Pangeran Saga masih hidup. Hanya saja, ia tidak lagi mengenal dirinya sebagai seorang pangeran.
Hari itu, jauh di bawah permukaan laut, di tempat yang bahkan tidak pernah tersentuh oleh peradaban manusia, dunia bawah laut sedang dilanda kekacauan.
Arus laut yang biasanya tenang berubah liar.
Gelombang besar bergerak tanpa arah, pusaran air muncul di berbagai penjuru, dan dari permukaan terdengar gemuruh badai yang menggetarkan hingga ke dasar lautan.
Para penghuni laut gelisah.
Mereka tahu, kekacauan itu bukan sekadar badai biasa.
Sesuatu sedang terjadi di dalam istana kerajaan.
Di tengah kerajaan bawah laut berdiri sebuah istana duyung yang megah. Dinding-dindingnya terbuat dari batu karang putih yang berkilauan, dihiasi mutiara dan kristal laut yang memancarkan cahaya lembut.
Namun hari itu, tidak ada satu pun penghuni istana yang mampu menikmati keindahannya.
Semua perhatian tertuju pada satu tempat.
Kamar persalinan sang ratu.
Sudah tiga hari.
Selama tiga hari penuh, Ratu Marina berada dalam kondisi bersalin.
Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun bagi sang raja.
Raja berdiri di luar kamar persalinan dengan wajah pucat. Tangannya mengepal kuat, sementara pandangannya tidak pernah lepas dari pintu yang sejak tiga hari lalu menjadi batas antara dirinya dan istri tercintanya.
Dari balik pintu, sesekali terdengar jeritan Marina.
Setiap kali suara itu terdengar, dada sang raja terasa semakin sesak.
"Bagaimana keadaan Ratu?"
Seorang pelayan yang baru keluar dari kamar langsung menundukkan kepala.
"Yang Mulia..." Suaranya bergetar.
"Ratu semakin lemah."
Raja menutup matanya.
Sudah begitu banyak cara dilakukan. Ramuan-ramuan sakti telah diberikan. Para tabib terbaik dari seluruh kerajaan telah dipanggil. Bahkan ritual kuno yang hanya dilakukan ketika kehidupan seorang anggota keluarga kerajaan berada di ujung tanduk telah dilaksanakan. Namun tidak ada satu pun yang berhasil.
Bayi itu tetap berada di dalam kandungan.
Kandungan Marina bahkan telah memasuki bulan kedua belas. Sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi. Para ahli pengobatan yang dikumpulkan kerajaan akhirnya menyampaikan kesimpulan yang sama. Pangeran terlalu lemah untuk dilahirkan secara normal.
Tidak ada dorongan dari dalam. Tidak ada gerakan yang cukup kuat. Tidak ada tanda bahwa sang bayi berusaha keluar. Seolah-olah.. sang pangeran tidak ingin dilahirkan.
"Yang Mulia." Seorang tabib tua mendekat dengan kepala tertunduk. "Kami telah melakukan semua yang kami bisa."
Raja menatapnya. "Belum cukup, Lakukan lebih banyak."
"Yang Mulia..."
"Kerahkan siapa pun yang masih bisa dipanggil. Cari tabib dari kerajaan mana pun. Cari penyihir laut. Cari pemilik ramuan kuno. Aku tidak peduli berapa harga yang harus aku bayar." Suara raja mulai bergetar. "Anakku harus lahir."
Tabib itu menunduk semakin dalam. "Yang Mulia... jika kita terus memaksakan kelahiran ini, nyawa Ratu Marina juga akan semakin terancam."
Kalimat itu membuat raja terdiam. Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain gemuruh badai dari kejauhan.
Kemudian pintu kamar persalinan terbuka. Seorang penasehat istana keluar dengan wajah serius.
"Yang Mulia."
Raja segera menghampirinya. "Bagaimana?"
Penasehat itu tidak langsung menjawab. Dan diamnya sudah cukup untuk membuat hati raja semakin hancur.
"Ratu hampir kehilangan seluruh tenaganya."
Raja menatap pintu kamar. "Anakku?"
"Masih belum menunjukkan keinginan untuk keluar."
Raja menarik napas panjang.
Setelah tiga hari itu, ia menyadari bahwa mungkin dirinya sedang berhadapan dengan pilihan yang tidak memiliki jawaban benar.
Ia bisa mempertahankan anaknya. Namun mungkin harus kehilangan istrinya.
Atau...
menyelamatkan istrinya dan kehilangan anak yang bahkan belum sempat ia peluk.
Raja menundukkan kepala. "Apa yang harus kulakukan?"
Penasehat istana terdiam sejenak. Kemudian berkata dengan suara berat, "Yang Mulia harus memilih."
Raja menatapnya.
"Jika Pangeran tidak dapat diselamatkan..."
Penasehat itu berhenti.
"...setidaknya selamatkan Ratu."
Raja mengepalkan tangannya. "Tidak."
"Yang Mulia."
"Aku tidak akan memilih siapa pun untuk mati."
"Namun jika tidak ada pilihan lain?"
Raja tidak menjawab.
Penasehat itu kemudian melanjutkan dengan hati-hati. "Yang Mulia masih dapat memiliki anak dari Permaisuri. Jika Ratu selamat, masih ada kesempatan untuk memberikan pewaris lain kepada kerajaan."
"Tapi jika Ratu meninggal..." Penasehat itu menundukkan kepala. "...keadaan istana akan menjadi jauh lebih sulit. Para bangsawan akan mulai memperebutkan pengaruh. Harem kerajaan dapat menjadi kacau. Kerajaan membutuhkan seorang ratu yang hidup."
Raja memejamkan mata.
Ia tahu semua itu benar. Tetapi sebagai seorang suami, ia tidak sanggup menerima keputusan tersebut. Sebagai seorang ayah, ia juga tidak sanggup menyerahkan anaknya.
Akhirnya, setelah beberapa saat yang terasa begitu panjang, raja mengambil keputusan. "Selamatkan Marina."
Penasehat istana menundukkan kepala. "Baik, Yang Mulia."
Ramuan terakhir disiapkan.
Ramuan yang sangat kuat.
Ramuan yang dirancang untuk memaksa tubuh mengakhiri kehamilan ketika tidak ada cara lain untuk mengeluarkan bayi.
Dengan kata lain... ramuan yang menyerupai pemicu keguguran.
Marina diberi tahu mengenai keputusan itu. Dan tentu saja, ia menolak. "Tidak..."
Napasnya terdengar berat. "Anakku harus hidup."
"Yang Mulia Ratu..."
"Dia masih bernapas. Aku bisa merasakannya." Marina menggenggam perutnya. "Aku tidak akan membiarkan kalian membunuhnya."
Raja masuk ke dalam kamar dan berlutut di samping tempat tidur. Ia menggenggam tangan istrinya. "Marina..."
"Aku bisa melakukannya."
"Kau sudah bertahan selama tiga hari."
"Aku akan bertahan tiga hari lagi."
"Kalau kau terus memaksakan diri..." Raja tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Marina menatapnya. Keduanya tahu apa yang mungkin terjadi. Namun pada akhirnya, Marina tetap mengangguk.
Bukan karena ia menyerah.
Tetapi karena ia ingin memberikan kesempatan terakhir kepada anaknya.
Ramuan itu diminum.
Tidak lama kemudian, tubuh Marina mulai berkontraksi. Lebih kuat. Lebih hebat.
Ratu menjerit.
"AAA!!!."
Seluruh istana seolah ikut bergetar mendengar jeritannya.
Raja berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya erat.
"Marina!"
"AAAH!"
Kontraksi berikutnya datang. Lebih menyakitkan. Lebih berat.
Dan setelah perjuangan panjang yang seolah tidak berakhir... akhirnya terdengar suara dari dalam kamar.
"Sudah lahir!"
Semua orang terdiam. Raja membeku.
Putranya telah lahir.
Namun tidak ada tangisan bayi. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.
Raja segera mendekat.
Di atas tempat tidur, seorang tabib sedang mengangkat tubuh kecil sang pangeran. Tubuhnya sempurna. Kulitnya halus. Rambutnya lembut. Dan ekornya berwarna biru mengilap, memantulkan cahaya kristal laut seperti permata.
Di keningnya terdapat dua tanduk kecil yang baru tumbuh. Ia begitu indah. Begitu sempurna.
Namun tubuh kecil itu tidak bergerak.
"Anakku..." Raja mendekat dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa dia tidak menangis?"
Tabib memeriksa tubuh sang bayi. Kemudian meletakkan tangannya di dada kecil itu. "Yang Mulia..."
Raja menahan napas.
"Dia masih bernapas."
Seketika harapan muncul di mata raja. "Jadi dia hidup?"
"Ya." Namun tabib tidak tersenyum. "Sayangnya..."
Ia menatap bayi itu dengan wajah penuh kekhawatiran. "Pangeran sangat lemah."
Napas sang bayi begitu tipis, hampir tidak terdengar, bahkan gerakan dadanya pun nyaris tidak terlihat.
Raja menatap tubuh kecil yang berada dalam gendongan tabib itu, untuk sesaat, ia bahkan takut untuk menyentuhnya.
Bayi itu begitu kecil. Begitu rapuh. Seolah-olah sedikit saja tekanan dapat membuat napasnya berhenti.
"Berapa lama?" Suara raja nyaris tidak terdengar.
Tabib yang berdiri paling dekat menundukkan kepala, tidak ada seorang pun yang ingin menjadi orang yang menyampaikan jawaban itu.
Namun akhirnya seorang tabib tua berkata, "Jika tidak terjadi keajaiban..." Ia menarik napas panjang. "Pangeran mungkin hanya akan bertahan sampai fajar."
Raja terdiam. Satu tetes air mata jatuh dari sudut matanya. Kemudian satu lagi. Ia tidak menghapusnya.
Perlahan, pandangannya beralih kepada Marina.
Sang ratu kini terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga setelah tiga hari berjuang.
Raja kembali menatap putranya. Baru saja ia lahir. Namun mereka sudah berbicara tentang berapa lama ia akan bertahan.
"Benarkah tidak ada cara lain?" Suara raja bergetar. "Benar-benar tidak ada?"
Para tabib saling berpandangan. Kemudian mereka menundukkan kepala. "Maafkan kami, Yang Mulia."
Raja memejamkan mata.
"Semua tabib terbaik kerajaan ada di sini."
Ia menghela napas panjang.
"Ramuan sudah dicoba. Ritual sudah dilakukan. Bahkan kami memaksa kelahiran ini."
Tangannya mengepal. "Tapi tetap saja... waktunya hanya sampai fajar?"
Tidak seorang pun menjawab. Hening memenuhi ruangan. Penasehat istana yang sejak tadi berdiri di sisi raja kemudian mengambil tubuh kecil sang pangeran dari tangan tabib.
Ia menggendongnya dengan sangat hati-hati. Matanya mengamati wajah mungil itu. Kemudian berkata, "Yang Mulia."
Raja menoleh.
"Mungkin kita seharusnya tidak hanya mencari cara untuk menyelamatkan pangeran."
"Apa maksudmu?"
Penasehat itu menatap Marina yang masih tidak sadarkan diri. "Kita perlu mencari tahu mengapa Ratu mengalami kesulitan melahirkan."
Raja mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Jika suatu hari nanti Yang Mulia Ratu kembali mengandung..." Penasehat itu berhenti sejenak. "...kita tidak boleh membiarkan hal seperti ini terulang."
Raja terdiam. Ia memahami maksudnya. Namun pandangannya kembali jatuh pada bayi kecil dalam pelukan penasehat. "Dan apa hubungannya dengan anakku?"
Penasehat itu mengangkat wajah. "Mungkin ada."
"Mungkin?"
"Karena kita belum tahu mengapa Pangeran tidak mampu lahir." Ia menatap bayi itu sekali lagi. "Dan selama dia masih bernapas, masih ada satu tempat yang mungkin dapat memberikan jawabannya."
Raja mengerutkan kening. "Tempat apa?"
Penasehat menjawab dengan suara pelan. "Althar Takdir."
Raja langsung terdiam. Beberapa tabib yang mendengar nama itu ikut menundukkan kepala.
Althar Takdir.
Tempat suci yang bahkan tidak boleh didatangi sembarangan.
Sebuah tempat kuno yang dipercaya mampu membaca jalur kehidupan makhluk hidup dan memperlihatkan kemungkinan takdir yang tersembunyi.
Bukan tempat untuk mencari jawaban atas rasa penasaran. Apalagi untuk dijadikan tempat percobaan.
"Althar Takdir..." Raja mengulang nama itu perlahan. "Kau menyarankan kita membawa seorang bayi yang baru lahir ke sana?"
"Ya."
"Itu tempat bukan tempat sembarangan."
"Saya tahu, Yang Mulia."
"Althar Takdir bukan tempat untuk melakukan percobaan."
"Saya juga tahu."
Raja menatap penasehatnya dengan tatapan penuh keraguan. "Kalau begitu, mengapa kau mengusulkannya?"
Penasehat itu mendekap tubuh kecil sang pangeran sedikit lebih erat. "Karena keberlangsungan hidup seorang pewaris juga merupakan sesuatu yang tidak kalah sucinya."
Raja terdiam. Kata-kata itu menggantung di antara mereka.
Penasehat melanjutkan, "Kita tidak meminta Althar Takdir menyembuhkan Pangeran."
"Kalau begitu?"
"Kita hanya meminta tempat itu menunjukkan takdirnya."
Raja menatap wajah putranya. Sang bayi masih bernapas. Sangat pelan. Begitu pelan hingga raja harus benar-benar memperhatikan gerakan dadanya untuk memastikan bahwa putranya masih hidup.
"Bagaimana jika Althar Takdir tidak menunjukkan apa pun?"
Penasehat menjawab, "Setidaknya kita akan tahu bahwa kita sudah mencoba."
Raja masih diam.
Kemudian penasehat berkata lagi, "Yang Mulia..."
Tatapannya menjadi lebih serius. "Kita harus pergi sekarang."
"Kenapa terburu-buru?"
"Karena Althar Takdir hanya dapat membaca takdir mereka yang masih hidup."
Raja membeku.
Penasehat menatap bayi itu. "Jika Pangeran sudah mati ketika kita sampai di sana..." Ia menggeleng perlahan. "...Althar Takdir tidak akan mampu membaca takdir orang mati."
Raja menatap putranya.
Fajar.
Ia hanya memiliki waktu sampai fajar. Dan mungkin bahkan tidak selama itu. Akhirnya, raja menghela napas panjang.
"Siapkan pengawal."
Penasehat menundukkan kepala. "Baik, Yang Mulia."
"Kita pergi ke Althar Takdir."
Penasehat mengangguk.
Raja kemudian berjalan mendekati putranya. Ia menyentuh pipi kecil sang pangeran dengan ujung jarinya. Begitu lembut. Begitu hati-hati.
"Kalau benar tidak ada kesempatan untukmu..."
Air mata kembali jatuh dari matanya. "...aku ingin mengetahuinya sendiri."
Ia menatap wajah kecil itu. "Setidaknya sebelum kau pergi."
Raja mengangkat wajah.
"Dan jika masih ada satu kemungkinan..." Tatapannya berubah. "...sekecil apa pun itu."
Tangannya mengepal. "Aku akan menemukannya."
Di luar istana, badai masih mengamuk.
Namun tanpa seorang pun menyadarinya, di balik kegelapan laut yang begitu dalam, sesuatu mulai bergerak mengikuti arus.
Seolah-olah lautan sendiri sedang menunggu perjalanan pertama sang pewaris menuju tempat yang akan mengubah takdirnya.
--*)Lb(*--
76 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.