
AWANG SANG PETUALANG
Inisial RH|Bersambung
- Jumlah kata
- 84.8K
- Popular
- 107
- Subscribe
- 41
- Jumlah kata
- 84.8K
- Popular
- 107
- Subscribe
- 41
Sinopsis
SINOPSIS : "AWANG SANG PETUALANG" 5 Anak. 1 Ramalan. 1 Dunia Yang Mau Mati. Selama 3 tahun Awang bermimpi. Dua pohon pinus U di kaki Sinabung Gua tersembunyi. Kolam pelangi 3 meter. Cincin Naga Tujuh Titik melayang di tengahnya. Setiap bangun, jarinya ada bekas merah. Setiap bangun, suara itu berbisik: "PENJAGA TERAKHIR. LIMA BINTANG AKAN JATUH." Seminggu sebelum pendakian, ramalan emas muncul: "Ketika Arga, Awang, Rio, Sembada, dan Rini menginjak Puncak Sinabung, Gerbang U akan terbuka. Ambil Cincin Naga. Patahkan kutuk Martino." Mereka pikir liburan. Yang mereka temukan: PORTAL. Langsung tembus ke NEGERI RATATA dunia paralel. Dunia yang dikuasai MARTINO. KEPALA BERUANG. 3 METER. 100 tahun berkuasa. Pasukannya manusia mutan dan hewan buas. Rakyatnya menjerit. Manusia diperbudak. Untuk membebaskannya, 5 orang ini harus: Ambil Cincin Naga Tujuh Titik. Tapi tiap titik yang menyala merupakan 1 pengorbanan. Tiap langkah ke istana membuat 1 dari mereka bisa hilang. Awang adalah Penjaga. Arga, Rio, Sembada, Rini adalah 4 pilar ramalan Mereka tidak dipilih karena kuat. Mereka dipilih karena... Merekalah yang tersisa. PILIHAN Masuk Gerbang U dan perang. Atau pulang, dan tunggu kegelapan dari Ratata merembet ke dunia kita. AWANG SANG PETUALANG Ketika 5 anak biasa diseret jadi harapan terakhir 2 dunia.
Ulasan
6 ulasan
Krownhill
12/9/26 07:49
perpaduan latar lokal dengan dunia pararel memberikan nuansa high-fantasy atau prtal-fantasy yang sangat kuat dan unik..
Genta Peristiwa
11/9/26 08:43
mantab novelnya. alurnya keren enak dibaca dan bikin penasaran. tambah lagi babnya kak penasaran kelanjutannya gimana
BAB 1
Pukul 14.23. Teras rumah ini tidak pernah bohong soal panas.
Seng di atas berderak peluit memuai. Kipas angin di dalam berputar dengan suara kretek... kretek... kretek... seperti sendi tua yang dipaksa kerja lembur. Di luar, langit Medan bukan biru. Putih. Putih susu yang mendidih. Aspal di depan memantulkan silau sampai mata perih. Bahkan cicak di dinding memilih diam, tidak mau buang tenaga.
Di pangkuanku dua lembar kertas yang beratnya melebihi carrier 60 liter.
Lembar pertama sudah lecek di ujungnya karena kukepal terlalu sering. Surat kelulusan. SMA Negeri 2. Rata-rata 82. Tulisan kepala sekolah tegas, stempel basah, tanda tangan. Cukup. Kata itu yang paling menusuk. Tidak jelek, tidak membanggakan. Cukup untuk bikin Emak bisa jawab tetangga kalau ditanya, tapi tidak cukup untuk bikin Emak berhenti membandingkan aku dengan anak Bu RT yang tembus USU lewat jalur prestasi.
Lembar kedua lebih tipis, lebih kejam. Formulir pendaftaran kuliah. Putih bersih. Kosong melompong. Kolom nama, NIK, pilihan jurusan, tanda tangan orang tua, semuanya menatapku seperti lubang sumur yang menunggu aku jatuh.
Namaku Awang. Delapan belas tahun. Tiga hari lalu namaku dipanggil ke podium, disalami guru, difoto. Resmi lulus. Harusnya lega. Harusnya aku teriak. Nyatanya sejak tiga hari itu rumah ini terasa lebih panas dari matahari di luar. Panas yang tidak bisa diusir kipas angin.
"Awang!!"
Suara itu merobek tirai bambu.
Aku tidak menjawab. Bukan karena tidak dengar. Karena kalau aku jawab sekarang, suaraku akan pecah.
"Awang!! Sini kau!!"
Aku menarik napas panjang, bau keringatku sendiri bercampur debu teras. Aku berdiri pelan. Sendi lututku bunyi. Dua lembar itu kuletakkan di kursi plastik, kutindih pakai batu bata biar tidak diterbangkan angin. Lalu masuk.
Dapur adalah neraka kecil di rumah ini. Uap nasi, minyak panas, bawang. Emak berdiri di sana, pisau di tangan, bawang merah setengah tercincang. Matanya merah. Bukan karena bawang. Aku hafal merah mata Emak kalau bawang dan kalau menahan tangis, bedanya tipis tapi aku hafal. Yang ini merah yang kedua.
Dia tidak menoleh waktu aku masuk. Tangannya berhenti mengiris. Dia menunjuk meja seng dengan ujung pisau.
"Ini apa?"
Di meja, formulir yang tadi kutindih batu bata sudah ada. Entah kapan Emak mengambilnya. Angin tidak secepat tangan Emak.
"Sudah tiga hari kau lulus. Kenapa belum daftar? Kau tunggu formulir ini beranak?" Suaranya rendah dulu, lalu naik. "Kawan-kawanmu udah pada daftar semua! Riko udah ke Politeknik. Si Leni udah daftar kebidanan. Kau? Kau masih duduk di teras kayak kucing sakit!"
Aku diam. Menunduk. Lantai semen dapur retak, aku hitung retakannya. Satu, dua, tiga.
"Jawab!!" Pisau itu berdentam ke talenan. "Mau jadi apa kau? Mau jadi pemandu gunung seumur hidup? Gendong bule-bule itu naik turun Bukit Lawang? Hitam, kurus, nanti mati kedinginan di atas, siapa yang mengurus jenazahmu?"
Kalimat itu nusuk. Tepat di ulu hati. Karena Emak tidak asal ngomong. Dua bulan lalu ada berita pemandu hilang di Leuser. Emak nonton sampai habis, volume televisi dikeraskan sengaja.
"Aku belum tau mau kuliah apa, Mak," kataku akhirnya. Suaraku pelan sampai hampir ditelan suara kretek kipas angin.
"Belum tau?!" Emak tertawa pendek, tajam. "Kau tuh 18 tahun! Bapakmu dulu umur segitu udah banting tulang di bengkel orang, tidur di bawah kolong mobil! Kau enak! Lulus tinggal main gunung! Main gunung! Main gunung! Otakmu isinya gunung semua!"
Aku tetap menunduk. Karena memang benar. Otakku isinya gunung. Bukan karena aku bodoh. Karena sejak umur 15 tahun, setelah Bapak pertama kali memaksa menarik tanganku yang malas ke jalur Sibayak, aku kena racun yang tidak ada penawarnya. Bukan candu narkoba. Lebih parah. Bau tanah basah setelah hujan. Dinginnya kabut yang masuk sampai ke tulang sumsum tapi bikin hidup. Sakitnya betis yang mau putus waktu nanjak, dan lega yang meledak di dada waktu sampai di puncak, seolah seluruh Medan yang pengap itu kecil dan bisa kugenggam. Itu candu. Sekali kau hirup puncak, kau akan benci lembah selamanya.
Emak paling benci kalau aku pulang bawa carrier. Bau keringat, lumpur di sepatu, lecet di bahu. "Anak orang belajar, buka buku, putih bersih. Kau? Hitam kayak arang habis bakar! Kapan mau sukses? Sukses itu di ruangan ber-AC, bukan di hutan lintah!"
"Emak, aku bisa kuliah sambil..." Aku mencoba merangkai kalimat penyelamat.
"TIDAK!!" Potongan Emak seperti golok. "Kuliah itu fokus! Bukan sambil! Bapakmu aja udah nyiapin uang, setengah mati dia ngumpulin. Jurusan Manajemen. Biar nanti bisa kerja di kantor. Duduk AC. Gaji tetap. Kau pikir uang itu tumbuh di pohon toba?"
Aku tidak jawab. Karena aku tau kalau aku keceplosan bilang aku mau ambil Kehutanan atau Ekowisata atau Pariwisata Alam, wajan yang lagi nongkrong di atas kompor itu bisa terbang ke kepalaku. Emak bukan tipe yang lempar wajan beneran, tapi tatapannya bisa bikin wajan itu terasa sudah mendarat.
Pintu depan terbuka dengan decitan panjang.
Bapak pulang. Kemeja bengkelnya basah, keringat melingkar di punggung dan ketiak, bau oli dan bensin. Tangannya hitam, kukunya pecah-pecah. Di tangannya plastik bening berisi tempe goreng, lauk malam kami.
Bapak berhenti di ambang dapur. Dia lihat aku. Lihat Emak. Lihat formulir di meja yang sudah agak lecek karena diremas Emak. Dia sudah hafal drama ini. Sudah tiga hari diputar dengan dialog yang sama.
Bapak tidak langsung menengahi. Dia jalan ke ember, cuci tangan, ambil air putih dari teko, teguk sampai habis. Nafasnya berat.
"Udah makan?" tanyanya ke Emak. Santai. Seperti tidak ada yang terjadi. Ini jurus Bapak. Kalau rumah panas, dia jadi air.
"Belum! Mikirin anak ini aja udah kenyang! Kenyang emosi!" jawab Emak, tapi nada nya turun dua oktaf karena Bapak sudah di rumah.
Bapak duduk di kursi kayu yang kakinya sudah diganjal kardus. Dia menatapku.
"Gimana, Wang?" tanya Bapak ke aku. Matanya teduh, tidak menghakimi. "Udah kepikiran mau kuliah di mana?"
Aku geleng. Pelan. Jujur.
Emak langsung menyambar. "Tuh kan! Gak ada niat! Otaknya di gunung terus! Nanti kalau jatuh ke jurang, jangan panggil Emak!"
Bapak tidak marah. Dia malah senyum. Senyum yang bikin keriput di ujung matanya makin dalam.
"Dulu aku juga gitu, Bu," kata Bapak pelan.
Emak menoleh cepat. "Apa maksudmu? Kau bela dia?"
"Aku dulu," kata Bapak, suaranya seperti mendongeng tapi tidak dibuat-buat, "umur 18 juga bingung. Mau kerja biar bisa beli beras. Tapi pengen ikut Pecinta Alam juga. Pengen naik Sinabung, Sibayak, sampai mimpi."
Emak diam. Pisau di tangannya sudah diletakkan.
"Aku inget," lanjut Bapak. "Dulu aku pernah bawa kau ke Tangkahan. Kau bilang capek, panas, banyak lintah. Aku bilang, 'tahan sebentar, Bu, puncaknya indah'. Kau marah, ngomel sepanjang jalan. Tapi pas sampai di atas bukit itu, kau yang paling lama foto-foto. Kau yang gak mau turun."
Emak membuang muka. Tapi aku lihat pipinya agak merah. Bukan merah marah. Merah ditampar kenangan.
"Awang itu nurun aku," kata Bapak. "Suka alam. Suka jalan. Darahnya sama."
"Jalan gak bikin kenyang!" bentak Emak, tapi suaranya sudah pecah. "Kau dulu kenapa berhenti ikut Pecinta Alam? Karena butuh uang! Karena butuh kerja! Karena cinta aja gak bisa buat beli susu anak!"
Bapak mengangguk. Tidak membantah. "Iya. Dan aku nyesel."
Satu kata itu bikin dapur yang tadinya mendidih langsung beku.
Aku yang kaget. "Nyesel?" tanyaku. Suaraku hampir tidak keluar.
Bapak menatapku. Lama. Mata Bapak yang biasanya teduh itu sekarang seperti danau dalam. "Nyesel karena berhenti. Bukan nyesel nikahi Emakmu. Bukan nyesel kerja jadi mekanik. Tapi nyesel karena gak pernah ngelanjutin hobi itu. Padahal itu yang bikin aku hidup. Kerja bikin aku makan. Tapi naik gunung dulu yang bikin aku ngerasa aku manusia, bukan cuma mesin."
Emak melempar sendok ke baskom. "Lebay!"
Tapi suaranya lebih pelan dari sebelumnya. Dan dia tidak membantah lagi. Dia berbalik, mengiris bawang lagi, tapi irisan nya jadi berantakan.
Bapak berdiri. Dia jalan ke kamar, yang pintunya catnya sudah mengelupas. Dua menit kemudian dia keluar bawa sesuatu yang dibungkus plastik.
Sebuah foto. Sudah agak kuning, ujungnya melengkung karena lembab.
Foto Bapak umur 20an. Kurus, gondrong, pakai kaos Pecinta Alam warna hijau lumut yang tulisannya sudah pudar. Di belakangnya Gunung Sinabung, gagah, belum meletus seganas sekarang. Bapak senyum lebar, gigi putih, di pundaknya ada carrier besar, di tangannya ada bendera kecil. Di foto itu Bapak terlihat tidak capek. Terlihat hidup.
Foto itu masih di tanganku. Hangat. Padahal kertasnya sudah kuning.
Bapak tepuk bahuku sekali, lalu kembali ke dapur. Emak sudah tidak mengiris. Dia berdiri membelakangi kami, bahunya naik turun. Bapak rangkul dari belakang. Emak tidak menepis.
Aku balik ke kamar. Tutup pintu. Taruh foto Bapak di atas buku catatan hitamku yang lusuh itu.
Baru mau rebah, HP ku getar.
Grup ARJUNA.
Rini: Wang, besok jam 5 subuh titik kumpul Simpang Selayang. Jangan telat. Jalur Bukit Lawang yang baru udah kebuka.
Rio: Jangan lupa bawa jas hujan. BMKG bilang bakal hujan badai.
Sembada: @Awang, kau bawa buku catatan mimpimu itu ya. Ada yang mau kutunjukkan. Batu yang kau gambar... aku pernah lihat aslinya.
Darahku berhenti sepersekian detik.
Batu itu. Yang ada cincin di atasnya. Yang selama tiga tahun cuma ada di dalam kepalaku. Sembada bilang dia pernah lihat aslinya?
Aku belum sempat balas. Layar HP ku tiba-tiba mati sendiri. Padahal baterai 67%.
Dan di kaca jendela kamarku yang gelap, yang memantulkan lampu kuning 5 watt, aku tidak melihat pantulan ku sendiri.
Aku melihat pantulan gunung dengan langit ungu. Dan di puncak itu, Rini berdiri dengan wajah penuh darah, menatapku dari balik kaca, bibirnya bergerak tanpa suara:
"Jangan datang besok."
Detik berikutnya pantulan itu hilang. Yang tersisa hanya wajahku, pucat. Dan di atas meja, formulir kuliah kosong yang tadi siang putih bersih, sekarang di kolom PILIHAN JURUSAN sudah terisi sendiri dengan tulisan tangan yang bukan tulisanku, tinta merah masih basah:
PENJAGA GERBANG
—----------------
Daftar bab
69 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








