

Narendra mencengkeram pilar kayu aula dengan jari-jari yang memutih menahan sakit.
Setiap tarikan napasnya terasa seperti udara tidak lagi cukup untuk dia hirup. Di dalam rongga dadanya, meridiannya yang sudah cacat terasa terbakar. Narendra batuk hebat, lalu memuntahkan segumpal darah kental ke lantai, kemudian menyeka sudut bibirnya menggunakan saputangan sutranya yang sudah basah dan koyak.
‘Meridianku semakin rusak saja,’ pikir Narenda.
Dunia luar mengira dia sekarat karena penyakit bawaan sejak lahir, sejak usia remaja dia sengaja meminum ramuan racun pelumpuh syaraf setiap hari. Hanya dengan cara ekstrem itulah dia bisa menyembunyikan sisa-sisa energi spiritual rahasianya, agar tidak dideteksi dan dihancurkan oleh para tetua klan yang korup.
Rasa sakit yang menyiksa adalah harga yang harus dibayar agar tetap bernapas.
Sementara di tengah aula yang mewah, terdengar sorak-sorai memuji Jantara. Kakak tirinya itu berdiri tegak bak pedang dewa, jubah emasnya berkilau, memancarkan aura pendekar lurus yang agung.
"Jantara benar-benar naga di antara manusia!" puji tetua klan sambil membungkuk sopan.
“Selamat kepada Tuan Muda Jantara! Di usia muda, Anda telah menembus Ranah Pemurnian energi spiritual tingkat ketujuh. Masa depan klan Naga Emas benar-benar cemerlang berada di tanganmu,” ucap ketua klan Sabit Perak.
“Tidak heran, bakat luar biasa seperti itu memang pantas untuk menjadi penerus klan Naga Emas,” celetuk gurunya Jantara.
Jantara turun dari tempat kehormatan, tersenyum ramah dan mengangguk sopan, lalu memberi hormat kepada tiga lelaki yang memujinya.
“Anda sekalian terlalu memuji, ini adalah berkah dari leluhur dan juga bimbingan guru yang luar biasa. Aku hanya sebilah pedang yang diasah saja,” ucap Jantara sopan.
“Hahaha, lihatlah anak muda ini, begitu rendah hati, mulutnya manis sekali,” cakap gurunya Jantara dengan bangga.
“Kau benar, tidak seperti seseorang. Sejak kecil tubuhnya lemah, menjadi beban. Haih, sial sekali klan Naga Emas memiliki putra bungsu yang menjadi sampah,” ejek tetua Klan Naga Emas.
Segera saja pandangan empat lelaki itu beralih ke sudut aula, sorot mata Jantara yang tadinya hangat, mendadak berubah menjadi dingin saat melihat Narendra yang tampak begitu rapuh.
Jantara melangkah dengan wibawa pendekar besar menghampiri adik tirinya.
"Narendra, adikku yang malang. Tubuhmu lemah, mengapa kau paksakan hadir di perayaan ini? Aku akan menjengukmu ke kamar dan kita bisa minum bersama seperti biasa,” ucap Jantara dengan suara terdengar begitu lembut di telinga para pendekar lain.
"Tubuhmu semakin lemah. Sini, biar Kakak membantumu." Jantara mengulurkan tangan dengan senyum ramah.
Narendra tidak punya pilihan selain menerima uluran tangan itu di depan orang. Kalau tidak … dia akan dipukuli tanpa ampun di kamarnya, tugasnya muncul di aula mewah ini adalah membangun reputasi baik Jantara di depan semua tamu undangan. Namun, begitu telapak tangan mereka bersentuhan, senyum Jantara berubah menjadi seringai kejam yang tidak terlihat orang lain.
Jantara sengaja menyalurkan energi spiritual Es Pembeku Meridian tingkat tinggi langsung ke pergelangan tangan Narendra.
Krak!
Narendra bisa mendengar bunyi retakan halus dari tulang pergelangan tangannya sendiri. Rasa dingin yang menusuk langsung menghantam jantungnya, menghentikan aliran darahnya sejenak.
Wajah Narendra semakin pucat seperti mayat. Keringat dingin membanjiri dahinya, Narendra ingin berteriak, tetapi energi spiritual Jantara mengunci tenggorokannya. Narendra benar-benar tidak berdaya secara fisik, tubuhnya terasa lumpuh di bawah tekanan energi spiritual kakak tirinya.
"Sakit, adikku?" bisik Jantara.
Bibirnya mendekat ke telinga Narendra sementara tangan mereka masih menjabat erat, berpura-pura seperti kakak yang penuh perhatian dan kasih sayang.
"Kau pikir racun sampahmu itu bisa menghentikanku? Kau hanya lalat penyakitan. Di luar klan ini, aku mengendalikan peredaran pil hitam persilatan. Aku bisa melenyapkanmu kapan saja tanpa ada yang peduli," ucap Jantara setengah berbisik.
“Arrgh.” Narendra mengernyit sambil memegang dada kirinya.
“Berani bersuara, kuhancurkan meridian mu sekarang juga,” ancam Jantara.
Pupil Mata Narendra membesar, lalu menggigit bibir hingga berdarah, demi menahan rasa sakit yang luar biasa tanpa mengeluarkan suara.
Matanya yang memerah menatap Jantara penuh kebencian, air mata mengalir di sudut mata menahan rasa sakit yang luar biasa.
“Adik, aku tau kau terharu. Jangan seperti ini, kau membuat orang menjadi iri.” Jantara menyeka air mata Narendra.
Menggunakan sisa tenaga terakhirnya, Narendra sengaja membiarkan aliran energi spiritual es Jantara menusuk titik syarafnya yang paling berbahaya, tindakan itu membuatnya muntah darah yang sengaja diarahkan ke jubah emas kebanggaan milik Jantara.
Bruk!
Tubuh Narendra ambruk ke lantai aula, napasnya terengah-engah bak ikan yang kehabisan air, dengan darah segar yang keluar dari hidungnya membasahi lantai.
Jantara terkejut melihat jubah mahalnya kotor oleh darah hitam yang berbau anyir racun.
‘Narenda sialan, berani sekali mengotori jubah kebangganku. Lihat saja bagaimana nanti aku membereskanmu,’ pikir Jantara marah.
Kilatan murka tampak di wajah Jantara, lalu dengan cepat dia mengubah ekspresinya menjadi pura-pura panik demi menjaga citranya.
"Penjaga! Cepat bawa adikku ke ruang medis! Penyakitnya kambuh lagi!" teriak Jantara panik sambil memangku kepala adiknya.
“Dasar sampah tidak berguna, kupastikan kau mati malam ini,” bisik Jantara geram.
Jantara menyerang Narenda diam-diam tanpa ketara, menggunakan tenaga dalam yang sengaja dia samarkan melalui gerakan memangku kepala Narendra.
“Nyawa busukmu ini tidak setimpal dengan jubah mahalku, brengsek,” ucap Jantara.
“Pelayan, cepat datang! Seret Narendra, mengotori pemandangan saja. Merusak suasana, cepat!” perintah tetua klan.
Dua orang pelayan tiba, lalu menyeret tubuh Narendra yang lemas di atas lantai dingin. Sama sekali tidak menaruh rasa hormat kepada Tuan Muda klan tersebut, bahkan kedua pelayan tersebut menggerutu.
“Huh, kenapa Tuan Muda Narenda tidak mati saja, merepotkan sekali mengurus sampah tidak berguna,” gerutu pelayan pertama.
“Benar, menjadi beban saja. Mati lebih baik,” imbuh rekannya.
Narendra menatap Jantara dari sudut matanya, pandangannya mulai kabur. Lelaki itu memang kalah telak secara fisik saat ini, tubuhnya lemah dan meridiannya nyaris hancur. Namun dalam hati, dia merasa senang. Narendra tersenyum tersenyum tipis, darah yang dia muntahkan ke jubah Jantara telah dicampur dengan bibit racun Ulat Mayat yang mematikan.
“Dasar sampah, sebaiknya kau mati saja malam ini, cuih.” Salah satu pelayan meludahi Narendra.
Kedua pelayan mengangkat tubuh Narendra seperti karung, lalu tubuh Narenda dilempar begitu saja, hingga kepalanya membentur pilar besar di kamarnya. Lelaki itu batuk parah, menyeret tubuhnya agar bisa dalam posisi duduk tegak.
Narendra dengan tangan gemetaran mengambil sebuah pil dari balik pakaiannya, lalu menelannya dengan susah payah.
“Kau bisa menghancurkan tubuhku ini, Jantara, tapi racun itu akan menggerogoti kultivasimu perlahan tanpa kau ketahui, sampai hari di mana kita berdua saling menyeret ke neraka,” bisik Narendra sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.