

Suasana pagi di halaman rumah panggung sederhana itu terasa begitu pekat oleh aroma rempah jamu tradisional dan dinginnya kabut pegunungan Jawa Tengah. Ibnu berdiri mematung di dekat pintu, mengenakan jaket kain katun lusuh yang warnanya telah memudar dimakan usia.
Di hadapannya, sang ibu duduk di kursi kayu rotan sambil terbatuk-batuk kecil, mencoba menahan rasa sakit di dadanya yang kerap kambuh belakangan ini. Udara dingin pegunungan seakan makin menusuk hingga ke tulang, menambah keheningan yang menyelimuti perpisahan mereka pagi itu.
"Ibu benar-benar tidak apa-apa kalau Ibnu tinggal berangkat ke Jakarta sekarang?" suara Ibnu bergetar pelan, sarat akan keraguan yang teramat dalam. Tangannya menggenggam erat tali ransel hitam yang sudah mulai mengelupas di bagian sudutnya. Hatinya sangat berat meninggalkan satu-satunya orang tua yang membesarkannya dengan penuh pengorbanan.
Ibu tersenyum tipis, meski guratan lelah dan usia lanjut tampak jelas menghiasi wajah tuanya. Tangan keriputnya meraih jemari Ibnu, mengelusnya lembut untuk menyalurkan ketenangan.
"Sudah, jangan pikirkan Ibu terus, Nak. Berangkatlah. Kamu sudah mendapat kesempatan emas diterima kuliah S2 Psikologi lewat jalur beasiswa penuh di kampus bergengsi ibu kota. Jangan sia-siakan mimpi ayahmu dulu yang ingin melihatmu sukses."
Rina, gadis desa sederhana berwajah ayu yang telah menjadi tunangannya selama dua tahun terakhir, melangkah mendekat dari arah dapur.
Ia membawa sebuah termos kecil berisi air hangat dan sebungkus makanan ringan buatan sendiri untuk bekal perjalanan. Matanya tampak berkaca-kaca, berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan sang kekasih yang sebentar lagi akan pergi jauh.
"Mas Ibnu harus janji sama Rina," ujar Rina dengan suara parau yang tertahan. "Janji kalau Mas akan jaga kesehatan di sana, jangan telat makan, dan fokus selesaikan kuliah S2-nya dengan cepat. Soal Ibu dan rumah ini, biarkan Rina yang urus setiap hari. Rina bakal sering bolak-balik ke sini buat nemenin Ibu."
Ibnu menatap kedua wanita yang paling dicintainya di dunia ini dengan tatapan penuh haru. "Terima kasih, Rina. Terima kasih banyak, Bu. Ibnu janji akan belajar bersungguh-sungguh dan segera pulang membawa gelar pascasarjana demi membanggakan kalian."
Setelah berpamitan dan mencium tangan sang ibu serta menerima pelukan hangat dari Rina, Ibnu melangkah mantap menuju jalan raya desa tempat bus antarkota biasa menunggu.
Di sepanjang perjalanan menuju perhentian bus, ia berkali-kali menoleh ke belakang, memastikan senyum ibu dan Rina adalah pemandangan terakhir yang ia ingat sebelum menginjakkan kaki di perantauan.
Perjalanan darat yang memakan waktu belasan jam itu akhirnya membawanya tiba di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Deru mesin bus menyemburkan asap hitam pekat saat berhenti di tepi terminal yang riuh dan penuh sesak.
Ibnu melangkah turun sembari merapikan tas ranselnya yang terasa makin berat. Udara Jakarta yang panas, berdebu, dan lengket langsung menyapa kulitnya, sangat berbeda jauh dengan udara sejuk tempat kelahirannya di lereng gunung.
Bagi pemuda berusia dua puluh lima tahun itu, Jakarta bukan sekadar kota impian untuk mengejar cita-cita tinggi, melainkan sebuah medan pertempuran baru yang teramat keras.
Berhasil menembus program magister Psikologi melalui jalur beasiswa penuh adalah tiket emasnya, tetapi tiket itu tidak serta-merta menghapus beban finansial yang menumpuk di pundaknya. Biaya hidup sehari-hari di ibu kota ternyata jauh lebih tinggi dari bayangannya semula.
Ibnu merogoh saku celana jinsnya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar berlayar retak yang sudah menemaninya sejak awal kuliah sarjana. Ada satu pesan singkat dari Rina yang baru saja masuk ke aplikasi pesan instan.
"Mas Ibnu sudah sampai Jakarta dengan selamat? Jangan lupa sholatnya ya, Mas. Tadi pagi Ibu sempat batuk lagi sedikit, tapi sudah Rina urus dan kasih obat dari puskesmas. Semangat ya, Mahasiswanya!"
Ibnu menghela napas panjang. Senyum tipis terukir di bibirnya membaca kepedulian Rina, namun matanya tetap memancarkan kecemasan mendalam. Bayangan tagihan obat bulanan sang ibu terus membayangi pikirannya.
"Oi, Ibnu! Di sini, Bro! Jangan bengong mulu kayak anak hilang!"
Sebuah teriakan lantang memecah lamunan Ibnu. Dari atas sepeda motor matic keluaran terbaru, tampak seorang pemuda melambaikan tangan ke arahnya. Itu Rendy, teman seangkatan sewaktu smp dulu sekaligus rekan satu kontrakan yang sudah lebih dulu menetap di Jakarta untuk bekerja sebagai staf pemasaran dan sambil kuliah juga.
"Lama banget lu di jalan, Nu. Gua kira lu mabuk darat di bus," cerocos Rendy saat Ibnu mendekat dan menghampiri motornya di area parkir terminal.
"Macet parah tadi di daerah Indramayu sama ruas jalan tol Cikampek, Ren," jawab Ibnu singkat sembari naik ke boncengan dan merapikan posisi tasnya.
Sepanjang perjalanan menembus kemacetan Jakarta menuju tempat kontrakan, Rendy tidak berhenti mengoceh. Rendy adalah tipe pemuda metropolitan sejati yang karakternya berbanding terbalik dengan Ibnu yang tenang, pendiam, dan religius.
Gaya bicaranya selalu blak-blakan, penampilannya selalu mengikuti tren mode terkini, dan hobinya adalah bergaul di kafe-kafe hits serta bergonta-ganti pasangan.
"Lu beruntung banget bisa dapat kontrakan murah bareng gua, Nu. Lokasinya lumayan strategis dekat halte busway dan stasiun kereta. Tapi ingat ya, kalau akhir pekan lu kudu ngalah kalau gua mau bawa gebetan ke kamar," ujar Rendy tertawa terkekeh-kekeh dari balik helmnya.
"Terserah lu dah, Ren. Yang penting gua bisa tidur tenang, dekat kampus, dan bisa fokus kuliah S2 tanpa gangguan," sahut Ibnu pelan, berusaha tidak ambil pusing dengan gaya hidup sahabatnya itu.
"Ah, kaku banget lu jadi cowok, Nu!" balas Rendy sambil melirik dari kaca spion motor. "Lu tuh sebenarnya ganteng, perawakan tinggi jangkung, muka manis khas cowok desa yang bikin penasaran. Kalau lu mau ikut gaya gua dikit aja, cewek-cewek kampus juga pasti pada antre minta kenalan. Lagian tunangan lu kan jauh ribuan kilometer di kampung, enggak bakal tahu ini, Bro."
Ibnu menggelengkan kepala dengan tegas. "Gua datang ke Jakarta bukan buat main-main, bergaya, atau cari sensasi, Ren. Gua ke sini buat menuntut ilmu setinggi-tingginya dan cari uang tambahan buat kirim biaya pengobatan Ibu di kampung."
"Iya, iya, si paling anak alim dan berbakti!" tukas Rendy sembari tertawa lepas meledek keseriusan temannya.
-----
Tiba di kontrakan sederhana berukuran tiga kali empat meter di kawasan permukiman padat gang sempit itu, Ibnu langsung menghempaskan tubuhnya yang pegal ke atas kasur busa tipis di lantai.
Rasa lelah fisik akibat perjalanan jauh dan beban pikiran seolah menindih dadanya secara bersamaan. Ibu butuh biaya berobat rutin setiap bulannya, sementara sisa tabungan tunai miliknya di dompet sudah semakin menipis.
Rendy yang melihat raut wajah sahabatnya mendadak kusut langsung melempar sebuah botol air mineral dingin dari dalam kulkas kecil ke arah Ibnu. "Lu lagi pusing mikirin biaya hidup di Jakarta ya, Nu? Kelihatan banget muka lu kusut kayak cucian belum disetrika tiga hari."
Ibnu menangkap botol itu lalu meneguknya perlahan untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering. "Uang beasiswa S2 dari kampus kan sistemnya cair tiap tiga bulan sekali, Ren. Gua kudu cari pekerjaan paruh waktu secepatnya buat nutupin biaya kos harian dan pengobatan Ibu di kampung yang tidak ditanggung beasiswa."
Rendy menyeringai lebar, lalu berputar duduk di atas kursi plastik dekat meja belajar kecil di sudut ruangan. "Gua punya info bagus banget buat, kebetulan baru tadi siang dapet kabarnya. Kakak dari temen kantor gua lagi nyariin sopir pribadi buat tantenya yang tinggal di kawasan perumahan elite.
Kerjanya santai kok, cuma antar-jemput kalau si tante mau pergi belanja bulanan, salon, atau acara arisan sosialita. Gaji bulanannya lumayan gede lho, jam kerjanya juga fleksibel banget bisa diatur sama jadwal kuliah lu."
Ibnu langsung terduduk tegak dan menatap Rendy dengan mata berbinar penuh harap. "Pekerjaan sopir pribadi? Boleh juga tuh, Ren. Gua kan sudah punya SIM A resmi dari tahun lalu sebelum merantau. Tapi emangnya lokasi rumah majikannya itu jauh dari kontrakan kita?"
"Enggak terlalu jauh kok, lokasinya ada di kawasan perumahan mewah daerah Jakarta Selatan. Namanya Tante Karen," jawab Rendy sembari mengedipkan sebelah matanya penuh arti misterius.
"Suaminya adalah seorang pengusaha sukses kaya raya yang sering banget terbang ke luar negeri buat urusan bisnis berhari-hari. Jadi, si Tante ini sering sendirian tinggal di rumah mewahnya yang besar itu. Gimana, lu berminat ambil tawaran pekerjaan ini, Nu?"
Ibnu sama sekali tidak memikirkan maksud terselubung ataupun nada bicara Rendy yang terdengar menggoda. Yang berputar di kepala Ibnu saat ini hanyalah bayangan wajah ibunya yang sedang sakit-sakitan dan senyuman tulus Rina yang setia menunggunya kembali di desa.
"Mau banget aku, Ren. Tolong bantu aturkan jadwal wawancaranya secepat mungkin ya," pinta Ibnu dengan nada penuh kesungguhan dan harapan besar.
"Siap, komandan! Besok pagi langsung gua hubungi orangnya biar lu bisa langsung dipanggil interview sore harinya," jawab Rendy mantap.